MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
6. BERUBAH 180 DERAJAT



" Saya dari divisi keuangan pak." sembari menundukkan kepalanya.


" Vie, apa kamu sudah bercerita kepada Nelly?"Vienna yang merasa bersalah pun hanya mampu mengangguk anggukkan kepalanya.


" Apa kamu gak bisa ngomong Vie? kenapa hanya mengangguk saja, nanti kepalamu sakit Lo." Vero memegang kepala Vienna dengan lembut.


Pandangan mereka berdua bertemu, Vienna semakin menunduk, Vienna tak mampu menahan gejolak di dadanya, ingin sekali memeluk tubuh yang ada di depan matanya, namun malu, benar-benar bukan Big Bos yang seperti orang-orang katakan, sangat hangat dan penuh kasih sayang, bahkan sorot matanya menyiratkan cinta yang mendalam.


" Baru saja nenek dan kakek menelpon, Ayah dan ibu, sudah menerima lamaran ku untukmu, kalau kamu tak percaya, aku akan video call untukmu."


Tanpa menunggu lama, Vero menelpon neneknya, saat itu juga, telepon nenek Vero di angkat, dan nampak di sana wajah kakek, dan nenek Vero, yang memang wajahnya dapat Vienna kenali, disana juga nampak jelas, wajah kedua orangtua Vienna yang sedang duduk dengan mereka.


Nampak ayah dan ibu sangat bahagia, entah jalan apa yang Allah berikan kepada Vienna, kehidupan yang keras ini, membawanya masuk kedalam keluarga yang kaya raya, bahkan milyader, yang harta kekayaan nya saja tidak akan habis sampai 7 turunan.


" Vi, jangan khawatir, ibu akan menerima lamaran dari bos kamu, apa kamu mencintai Bos mu itu?" Goda ibu Vienna.


" Ibu, jangan seperti itu, nanti aku marah Lo." Vienna mengerucut kan bibirnya.


" Aduh cantiknya cucu mantuku, jangan ngambek dong, nanti cantiknya hilang Lo." nenek tertawa diseberang.


" Ada nak Nelly ya di sana, Makasih ya nak Nelly, sudah mau menjaga Vienna, makasih atas dukungannya." Ibu menakupkan kedua tangannya.


" Ah nggak apa-apa Tante, biasa sesama teman harus saling membantu." Nelly semakin terharu.


" Vienna, nggak usah tidur di Rumah Sakit, sudah ada yang menjaga, dan nikmati malam ini bersama calon suami kamu." Ucap ibu Vienna, yang membuat Vienna semakin malu.


" Iya nek, ya sudah kami pamit dulu ya, Assalamualaikum... " Vero memencet tombol merah dan memasukkan telpon nya kedalam saku jasnya.


Nelly yang melihat kehangatan dan cinta di mata Big Bos nya itu, seakan-akan tidak percaya, kalau seorang Vero, yang dingin dan Arogan itu, luluh di depan Vienna, hanya dalam waktu dua bulan saja.


" Nelly... kamu tidak apa-apa?" Vero mengayunkan tangannya ke kanan dan ke kiri


Leo yang melihat Nelly shock, mencoba menepuk pundak nya, dan Nelly pun terlonjak kaget.


" Maaf pak, saya tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu pak, sudah harus masuk kantor."


Nelly berdiri dan membungkuk kan badannya, lalu berjalan.


" Tunggu saya kak..." Vienna berdiri dan akan menyambar Sling bag nya, namun dengan secepat kilat, Vero memegang tangan Vienna.


" Temani aku makan, aku belum makan, kamu mau kan menemani aku makan?" Vero memandang wajah Vienna penuh harap.


" Pak kalau saya terlambat bagaimana? kan tidak enak dengan yang lain." Vienna takut dengan hukuman bagi karyawan yang terlambat.


" Lihat, orang yang suka menghukum juga masih di sini, aku masih ingin duduk berdua sama kamu Vie, biar Leo yang mengatakan pada Nelly untuk mengijinkan kamu." Vienna akhirnya luluh dan mengangguk dengan pandangan mata Vero yang penuh kasih sayang.


Vienna sangat bingung dengan perubahan sikap Big Bos nya, entah kesurupan hantu dari mana, sikap nya bisa berubah 180 derajat.


Vienna menatap wajah didepannya, sedikit demi sedikit, bila Vienna perhatikan, wajah dan senyuman itu, tak asing lagi bagi nya, tapi entah kapan pertemuan ini terjadi, Vienna tak pernah mengingatnya.