MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
JANGAN CUEK LAGI



Sementara Varo yang sampai didepan Kantor merasa kebingungan, karena seumur hidupnya menjadi CEO dirinya ta pernah menyebrang jalan dengan berjalan kaki, melihat Big Bos berjalan mendekat ke pos Satpam, tanpa basa-basi, pak Rozaq menghampiri sang Big Bos, Pak Rozaq daat meihat dari raut wajah Big Bos tergambar kebingungan, entah apa yang sedang Big Bos pikirkan.


"Selamat siang pak? ada yang bisa saya bantu?" Tanya pak Rozaq.


"Aku lagi bingung pak, bagaimana caranya menyebrang jalan ke depan sana?"jawab Varo.


"Kalau boleh tahu bapak mau beli apa?


tumben bapak turun kebawah, kan bisa meminta saya, OB atau resepsionis yang membelinya pak."Tanya pak Rozaq merasa tak enak.


"Tidak apa-apa pak, saya pengen beli sendiri, boleh minta pak Rozak membantu saya menyebrang jalan ?"ungkap Varo pada pak Rozaq.


"Dengan senang hati pak,mari saya antar pak." ucap pak Rozak.


Pak Rozaq menghampiri pos Satpam, sebelum pergi beliau mengalihkan tugsjya pada sahabatnya yang bertugas saat ini. "Don, titip Satpam sebentar, mau antar Big Bos ke seberang."


"Baik pak, tumben Big Bos turun ke bawah ak, aku kaget banget, gak biasanya beliau kesini jalan kaki." Uca Doni yang keheranan melihat sang CEO turun ke jalan.


"Udah jangan kepo, nanti kena marah baru tahu kamu. Yuk ah aku antar pak Varo sebentar." jawab pak Rozaq memutus pertanyaan lebih panjang dari Doni.


Pak Rozaq menghampiri Big Bos, dan mengajak Varo untuk menyamakan langkahnya dengan Pak Rozaq. Hanya butuh waktu 5 menit, Varo dan pak Rozaq sudah menyebrang jalan dan berdiri di depan penjual Rujak.


Tanpa basa-basi Varo memesan apa yang di inginkan oleh Vienna. Pak Rozaq meminta untu lebih awal, karena melihat pengunjung yang terkesima dengan kehadiran orang penting saat ini.


"Maaf pak Ahmad, boleh minta lebih awal punya Bos saya?" pinta pak Rozaq.


"Baik pak, s3bentar saya buatkan." Jawab pak Ahmad dengan terbata-bata.


15 menit Varo menjadi tontonan para pengunjung di kedai Rujak tersebut, namun tak di sangka, Varo yang baru kali ini ceroboh, lupa kaau dirinya tidak membawa uang cash, sehingga dengan berat hati meminjam dari pak Rozaq terlebih dahulu.


"Pak semuanya 25 ribu rupiah." Ucap Pak Ahmad pada Varo seraya memberikan bingkisan pesanan nya.


Varo yang kebingungan karena dompetnya ketinggalan pun merasa malu. Dengan berat hati Varo meminjam pada pak Rozaq.


"Maaf pak Rozaq punya uang Cash? Dompet saya ketinggalan di kantor." ucap Varo merasa malu di depan orang bayak.


"Ada kok pak, s3bentar saya ambil." ungka pak Rozaq pada Big Bos nya.


"Silahkan pak Ahmad, uangnya 100 ya." ucap pak Rozak.


"Ambil saja kembaliannya pak Ahmad, mari pak Rozaq." Ajak Varo pada pak Rozaq.


Setelah menerima apa yang dipesan oleh sang istri tercinta, Varo kembali ke ruang anya dengan senyuman yang mengembang, tak lupa memberikan perintah kepada sang asisten untuk mengembalikan uang pak Rozaq dan memberikan bonus juga.


Varo membuka pintu ruangannya dengan tersenyum, dirinya memberikan bingkisan yang dibelinya pada sang istri yang sedang menunggu dirinya.


"Sayang.. ini pesanan kamu, dimakan ya... jangan sampai bikin aku marah karena usahaku membelikan pesanan kamu." Ucap Varo sembari membelai pipi istri cantiknya.


"Beneran ini kaku yang beli sayang? bukan orang lain?"tanya Vienna penuh selidik.


"Ya elah sayang... aku tu tak pernah berbohong, buat apa coba, kan aku tidak mau anak aku suka bohong, jadi aku juga harus memberikan contoh kepada nya walau masih dalam kandungan, mereka belajar sejak dalam kandungan sayang." Terang Varo pada Istrinya. "Kok aku merasa yang lebih paham tentang kehamilan si, sedangkan kamu gk peka banget, bahkan pengetahuan kamu tentang kehamilan masih nol sayang."Seloroh Varo sembari memeluk Vienna.


Vienna yang malu pun menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, apa yang di ucapkan sang suami benar adanya, dirinya terlalu cuek bahkan sangt tidak peka dengan kehamilannya, karena menurut dirinya, hanya keinginan yang aneh aneh saja yang dia rasakan, bukan mual ataupun pusing dan lemas yang biasa dirasakan wanita hamil pada umumnya.


"Kenapa? sayang... walau aku tahu kamu tak merasakan morning sickness seperti ibu hamil yang lain, aku mohon, berhati-hati lah, jagalah apa yang sekarang ini menjadi miik kita, karena Allah sekarang memberikan kita amanah, kalau kita tidak menjaganya dengan baik, Alah akan mengambil nya dari kita, apa kamu mau merasakan seperti itu?" ungkap Varo dengan sedikit penekanan.


Vienna hanya menggeleng saja, dia tak mau mengalami keguguran, karena janin di tubuhnya sekarang ini masih tri semester pertama, yang masih rentan dan harus selalu di jaga, Vienna pun tak ingin mengecewakan suami yang sngat menyayangi dan mencintainya.


"Kamu mau tahu sayang, teman aku menikah dan langsung di karuniai kehamilan dalam jangka waktu belum ada satu bulan, namun karena sang istri merasa kehamilanya tida rewel sama sekali, dia lupa, bahkan naik turun tangga kampus tanpa dia hiraukan, sebwl6um genap 3 bulan istrinya keguguran, dan selama 4 tahun sekarang ini, mereka belum diberikan kehamilan." Ceramah Varo pada istrinya.


"Kenapa tidak ke Dokter sayang?" ungkap Vienna menggurui.


"Sudah, bahkan segala cara yang mereka dengar dari orang, mereka lakukan, namun belum hamil juga, makanya ingat sayang, bahwa di dalam perut kamu ada darah daging kita, yang harus kita jaga dan kita sayangi, jangan cuek dan egois, ok sayang?" tanya Varo pada Vienna.


"Baiklah, aku tidak akan cuek lagi."Jawab Vienna sembari membuka bungkusan yang Varo beli.


"Sayang... mulai besok ganti sepatumu, jangan pakai high heels lagi, nanti aku suruh Jo untuk membelinya." Vienna hanya mengangguk saja mendengar perintah dari Big Bos sekaligus suaminya itu. Mau di jawab juga tidak ada gunanya, karena kalau sudah perintah darinya itu adalah ha yang wajib bagi dirinya, dan juga kebaikan untuk dirinya serta jabang bayi dalqm kandungan nya.


Varo mendekat dan duduk bersimpuh di sebelah Vienna, tanpa aba-aba dia menusa perut Vienna yang masih rata. Mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari Varo membuat Vienna berhenti makan.


Baby nya Dad and Mom, jangan bikin Mommy lemas ya, anak Dad kan jagoan ,pintar dan juga sehat, jaga Mommy ya, biar makan dan tetap kuat menjaga baby samai lahir nanti.


"Sayang... kamu bikin kaget saja, geli ah." Ucap Vienna karena merasa kegelian.


"Coba lihat Mommy kamu lucu banget, kalau sedang makan, jangan lupa makan juga ya sayang, nanti biar cepet gede." Varo mengadu pada Baby melihat istrinya yang menggemaskan ketika makan rujak keinginannya.


Vienna hanya bisa pasrah, masih sebesar biji aja anaknya sudah di monopoly oelh suaminya, bagaimana kalau sudah lahir nanti, pasti dirinya akan kalah dengan sikap qnaknya yang sama persis seperti suaminya.