
" Ok, makasih ya kak, kakak yang terbaik pokoknya." sembari memeluk sahabatnya Nelly.
Akhirnya mereka berdua pun berjalan menuju ruangan Mawar yang di sebutkan oleh sahabatnya tersebut. Dalam pikiran Vienna, dari mana uang sebanyak itu bisa dia dapatkan, dalam kurun waktu kurang dari dua minggu juga, Vienna semakin pusing, antara takut kehilangan dan pasrah.
Vienna mempercepat langkahnya, ketika sudah dekat dengan ruangan yang ayahnya tempati, terlihat disana sang ayah sedang berbicara dengan ibu, entah takut dan bahagia, yang Vienna rasakan sekarang ini, hanya air mata yang keluar dari sudut matanya, bibirnya tersenyum, namun menahan gejolak di hatinya, entah apa yang harus dikatakan pad kedua orangtuanya.
" Vi, kok lama banget,ayahmu sudah dari tadi Lo nungguin kamu." sembari mengelus rambut Vienna.
" Maaf Bu, tadi Vi baru saja dari toilet, dan ketemu sama mbak Nelly, kalau nggak, mungkin Vi gak tahu di ruang mana ayah di pindahkan." sambil memeluk ibunya.
" Makasih ya dek Nelly, sudah bantu kami, dan sudah jagain Vienna." tutur ibu pada Nelly.
" Biasa saja Bu, kami memang seperti ini, saling membantu, jangan sungkan Bu."
" Ayah apa kabar? apanya yang sakit yah? nanti Vi pijitin." Vienna menggoda sang ayah.
" Ayah kan kuat Vi, paling besok juga pulang, ya nggak bune?" ayah memaksakan untuk tersenyum.
" Iya, gak usah terlalu khawatir, bapakmu ini jagoan, Yo nduk, pulanglah, besok kamu harus bekerja. jangan sia siakan kesempatan emas kamu bekerja di perusahaan besar."
"Vi mau disini saja jagain bapak, aku gak bisa ninggalin kalian, kalau ada apa apa bagaimana? ibu kan tahu, kos kosan Vivi sangat jauh dari sini, aku mau disini bu." Vienna membujuk ibunya agar diperbolehkan tidur di Rumah Sakit.
" Ibu tahu, Vivi pasti tidak ingin kan jauh dari ayah, tapi saat ini Vivi juga harus berpikir dewasa, ayah sama ibu, hanya bisa bergantung padamu nak, kamu harus bekerja, memenuhi kebutuhan kami, ada ibu disini, besok kalau kamu datang, ibu akan istirahat, bagaimana nak?" sesaat terlihat Vienna sedang berpikir, betul kata ibunya, semua kebutuhan dialah yang akan memikulnya, jadi lebih baik aku pulang dan istirahat, toh ibunya pasti akan merawat ayahnya dengan baik.
" Baiklah Bu, tapi ibu harus berjanji, ibu harus menelpon Vivi setiap satu jam sekali, ok bu?"Vienna menggenggam tangan ibu dan ayahnya.
" Iya Vi, ibumu pasti akan merawat ayah dengan baik, oh ya... nak Nelly, saya titip Vienna ya, sekarang sudah malam, cepat pulang, nanti susah Lo cari taxinya, kalau kemalaman." bujuk sang ayah pada Vienna.
" Ok ayah, tapi Aku belikan makan malam dan cemilan dulu buat ibu." Vienna hendak berdiri, namun di tahan oleh Nelly sahabatnya.
" Nggak usah Vi, tadi sudah akau belikan makan malam dan cemilan, sekalian jalannya kesini."
" Makasih banyak ya kak Nelly, aku gak bisa balas apa apa, oh ya ibu, besok pagi aku kesini, aku bawakan pakaian dan juga sarapan buat ibu." tutur Vienna sembari bersalaman kepada ayah dan ibunya.
" Iya Bu, pak, Vienna pamit dulu, Assalamualaikum."
" Saya juga pamit ya ayah, ibu, assalamualaikum." Nelly pun berjalan menyusul Vienna.
" Waalaikum salam..." jawab ayah dan ibu serempak.
Vienna dan Nelly pun meninggalkan Rumah Sakit.Sesampainya di kamar kosannya, mereka berdua duduk bersama, tanpa sepatah katapun keluar dari mulut Vienna, namun hanya air mata yang mengalir di pipi chubby nya, Vienna sesenggukan, membuat Nelly tak kuasa melihatnya, diapun memeluk Venna dan mengusap rambut kepalanya, Nelly mencoba menghibur sahabatnya saat ini, hampir lima belas menit mereka berpelukan, dirasa tangisan Vienna sudah sedikit reda, Nelly mencoba untuk bertanya, kegundahan apakah yang di alami oleh sahabatnya itu.
" Vi, kalau kamu mau bercerita, dan berkeluh kesah, kakak mau dengaerin kok, kakak harap jangan pernah menyembunyikan sesuatu hal dari kakak, kita hadapi sama sama, oke?" hanya di jawab dengan anggukan oleh Vienna.
Akhirnya Vienna pun menceritakan segala hal, tentang ayahnya, Vienna tak tahu harus bagaimana, dan harus kemana, bekerja juga baru dua bulan, apa mungkin perusahaan akan memberikan pinjaman sebanyak itu? Vienna meminta solusi kepada Nelly, sahabatnya, dan Nelly pun mengusulkan, apa salahnya kalau mencoba mengajukan pinjaman di kantor, dan semuanya juga bisa di cek dirumah sakit tersebut, mungkin dengan begini caranya, perusahaan bisa melihat kebenaran yang terjadi.
" Biar besok kakak yang akan menjadi penanggung jawab pinjaman kamu, dan apapun keputusan yang di berikan, yang penting kita berusaha dahulu, dan kalau kamu tidak bisa mendapatkan pinjaman, nanti kakak yang akan meminjamnya, gaji kakak kan lebih banyak dari kamu,hahahaha."Nelly pun tertawa.
" Terima kasih kakak, bagaimana Vivi bisa membalas kebaikan kakak pada kami." Vienna memeluk Nelly dengan erat.
" Vi, belum juga dapat pinjamanya, besok aja kita lihat, apa yang akan terjadi, oke? makan malam sudah aku pesankan, sebentar lagi akan datang, setelah itu tidurlah, biar besok kita pikirkan apa yang akan kita lakukan, jangan begadang, kedua orangtuamu sangat membutuhkan kamu, Ok." Vienna mengangguk.
Vienna masuk ke kamar, dan duduk di depan cermin, dia menatap kedaan dirinya saat ini, sisa sisa makeup setelah wisuda sangat berantakan dan belepotan, sesaat dia tertawa dan tersenyum, namun senyuman itupun berubah, kala teringat kejadian tabrak lari pada ayahnya hari ini, seluruh predikat mahasiswa terbaik dan coumload yang dia dapat pun hilang dan lenyap seketika. Berganti dengan kesedihan dan kepedihan.
Karena terlalu banyak menangis, malam ini Vienna sangat cepat tertidur pulas, bahkan makan malam yang sudah di pesankan kak Nelly pun harus masuk kedalam almari es.
Tepat pukul empat pagi Vienna terbangun dari tidurnya, setelah melakukan solat subuh, Vienna bergegas menyiapkan sarapan untuk ibunya, dan tak lupa pakaian yang untuk mereka, pukul 6 pagi Vienna sudah rapi dan langsung memesan taxi, agar tak terlambat kekantor, hanya butuh waktu 10 menit saja, Vienna sudah sampai di rumah sakit ABRAHAM, karena letak yang strategis buat Vienna, memudahkan gerak nya dalam merawat ayahnya dan juga pekerjaannya.
Hanya dalam waktu 15 menit saja, Vienna menemani kedua orangtuanya, setelah itu, Vienna pamit untuk pergi kekantor. Sedikit jauh memang Rumah Sakit dengan kantor Vienna, namun belum juga jam tujuh lebih, dengan begitu, Vienna sedikit lebih lega, karena tidak tergesa-gesa.
Sesampainya di kantor, Vienna mengabsen dengan finger print, kemudian masuk menuju ruang sekertaris, yang disana terdapat tiga buah meja, untuk dirinya, dan kedua sekertaris pribadi bos Vero, bernama Tiger dan Leon.
Setelah 5 menit Vienna terduduk, akhirnya Vienna memberanikan diri masuk ke ruangan Bu Anggi, sebagai ketua Divisi HRD.