MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
ANEH BANGET KAMU SAYANG.



Hari-hari berlalu, Minggu berlalu dan bulan pun terlewatkan, kini Vienna lebih menerima tentang keadaan yang sebenarnya, bahkan yang Varo takutkan, tidak terjadi pada Vienna, entah mengapa, Varo melihat bahwa emosi Vienna tidak seperti pada wanita seumurannya, yang meledak-ledak ketika mendapat kan kekecewaan dan rasa sakit, tapi tidak dengan Vienna, bahkan dia bermain apik dalam drama keluarga nya.


Vienna yang masih tetap bekerja sebagai sekertaris Varo, sedangkan Ibu Vienna, sesekali datang ke kantor, bila merasakan kerinduan yang mendalam kepada putri semata wayangnya.


Sementara Uncle Sam sendiri, selama 3 bulan ini pun kesehatan nya berangsur angsur membaik, bahkan bisa di katakan sembuh total.


Pagi ini adalah hari Senin, dimana semua karyawan kantor Abrahams Groups, harus berangkat lebih pagi dari biasanya, karena breefing pagi sebelum bekerja selama seminggu, harus di laksanakan, bagi para petinggi kantor, sesuai dengan devisi masing-masing.


Biasanya setiap solat subuh berjamaah dengan Varo, Vienna akan selalu segar bugar dan memasak sendiri sarapan pagi untuknya dan suaminya.


Namun tidak dengan hari ini, Vienna lebih nyaman untuk terlelap kembali di samping suaminya, Mata yang berat dan badan yang sedikit menggigil, membuat dirinya enggan meninggalkan tempat paling ternyaman.


pukul 7.30 Vienna terbangun, sesaat setelah melihat jam di nakas, Vienna terbangun dengan malas-malasan, berdiri dan masuk ke kamar mandi, hanya sepuluh menit saja, Vienna melaksanakan ritual mandinya, bahkan Vienna terkesan takut melihat air.


Varo yang memandang Vienna semenjak bangun pun hanya diam saja, dirinya pun penasaran, apa yang menyebabkan istrinya yang cantik, rajin dan sangat perfect ini berubah. Namun tak Varo ingin pertengkaran pagi-pagi, hanya mampu terdiam, dalam pikiran Varo, mungkin Vienna lagi dapet, sehingga hormonnya berubah ubah, rasa mengantuk dan seluruh badan berat, itu yang selalu Vienna katakan ketika akan datang bulan.


Dengan santai, Vienna mengganti pakaiannya dengan pakaian kantoran, sesuai dengan warna yang Varo pakai hati ini.


Pukul 7,50 Vienna sudah siap dengan dandanan yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Vienna hanya mengoleskan lip balm pada bibir nya, karena Vienna merasa mual ketika bau bedak dan lipstik yang dia miliki.


" Sayang... kamu sakit ya?" tanya Varo pada Vienna.


"Nggak kok sayang... hanya saja memang Akau gak dandan hari ini, jadi aku kelihatan pucet banget ya?" ujar Vienna.


"Nggak juga, cuma sedikit berbeda saja. Ya sudah Ayuk kita sarapan, biar kamu tambah kuat bekerja seharian, di samping aku." Varo menggandeng istrinya turun.


"Sebenarnya aku males banget lo sarapan, biar pak Wahyu bilang pada koki di belakang, aku mau roti panggang isi coklat, dan mau aku bawa ke kantor, 6 potong sayang, aku males turun ya, aku mau langsung berangkat." ucap Vienna.


"Nggak mau sarapan di bawah? tumben banget si yang, nggak biasanya kamu gak sarapan, nanti kamu sakit perut sayang..." Varo beralasan, agr Vienna sarapan pagi.


"Maaf untuk hari ini saja, aku mau makan di kantor, seperti yang aku mau, jadi jangan marah oke sayang.." rayu Vienna pada suaminya.


"Oke ... biar aku telepon pak Wahyu dulu."


"Ingat sayang 6 potong, selai coklatnya pakai Nutella, bukan yang lain." pinta Vienna yang masih asik memandang laptop miliknya.


"Bener juga, dalam waktu kurang dari sepuluh menit sarapan yang Vienna minta sudah tersedia di dalam box makanan, seperti yang di inginkan Vienna.


Varo masih sarapan di bawah, ketika Sofia dan Ayu berlari ke atas, berarti Vienna sudah siap berangkat ke kantor. Seperti biasanya, sebelum berangkat kerja, Vienna selalu berpamitan terlebih dahulu, agar kisah drama keluarga Abraham terwujud.


"Sayang... aku berangkat ke kantor dahulu ya, maaf gak bisa temani kamu sarapan, lagi males banget." ucap Vienna sembari bergelayut manja di lengan suaminya, dan tak lupa mencium pipi dan bibir Varo yang sedang mengunyah makanan.


"Hei... sayang... kamu beneran gak mau sarapan?"


"Iya, nanti saja di kantor aku makanya." ungkap Vienna.


"Aneh banget kamu sayang, Ya sudah hati-hati di jalan ya, jangan tergesa-gesa." pesan Varo.


"Iya sayang... assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


Sungguh Vienna hari ini berbeda, dia langsung memakan sandwich yang di buat oleh koki, di dalam mobil, dua potong sudah sandwich yang Vienna makan, namun dengan cara makan yang sedikit berbeda dari biasanya.


Baju yang Vienna pakai sedikit terkena noda coklat, dan membuat dirinya panik bukan main. Dengan secepat kilat, Vienna menelpon ayu, untuk menyiapkan pakaian ganti untuk dirinya, dan menginginkan Varo sendiri yang membawa dan memilih kan untuk dirinya.


Sementara Varo sendiri sudah berdiri dari sarapannya, saat akan melangkah, Sofia meminta Varo untuk membawakan pakaian ganti untuk istrinya,dan menginginkan Varo sendiri yang memilihkan untuknya.


"Maaf tuan muda, nona muda meminta di bawakan baju ganti, bersama dengan anda." ucap Sofia.


"Oke... aku tunggu di dalam mobil." titah Varo.


"Maaf tuan muda, nona muda meminta tuan sendiri yang memilihkan pakaian yang nyonya inginkan." jawab Sofia.


"Ha... oke, saya keatas dulu, akan saya ambilkan." Varo pun berjalan naik ke kamar mereka, dan memilihkan pakaian yang Varo suaka, setelah itu, Sofia membungkusnya dengan tas khusus pakaian, lalu memberikan pada tuan muda nya untuk membawa sendiri pakaian Vienna.


"Maaf tuan, nona muda meminta anda yang membawa nya dari rumah, bukan orang lain." ucap Sofia.