MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
TARUHAN



"Tapi apa...? takut kebebasan kamu terenggut karena kehamilan kamu? takut aku jadi over protective padamu dan anak kita? begitu?" bentak Varo, yang membuat nyali Vienna menciut.


Niat hati membuat kejutan malah mendapat kan kemarahan dari suami galaknya.


"Kamu itu seorang perempuan, bahkan kamu seorang yang pandai dan perfect dalam segala hal, tapi mengapa hanya masalah tentang kehamilan kamu sendiri tidak kamu perhatikan. Bagaimana kamu akan mengurus aku dan anakmu nanti?" Varo sangat marah dengan kecerobohan Vienna yang super super dablek dan seakan-akan cuek dengan kehamilannya.


"Maaf, tapi aku kan baru pertama kali hamil, jadi belum tahu bagaimana aku hamil?"


"Vienna ! kamu pikir aku juga pernah memiliki seorang istri sebelumnya, sehingga aku bisa tahu perubahan kamu dan selalu memperhatikan keganjilan yang terjadi padamu? tidak Vienna, tapi aku selalu mencari tahu, tentang perubahan dan perkembangan seorang perempuan yang hamil." hati Vienna seakan-akan tercubit, mendengar perkataan Varo, memang benar, dirinya belum siap untuk memiliki anak, Karena masih ingin fokus dengan keluarga barunya.


"Atau kamu tidak menginginkan seorang anak dariku?" tanya Varo penuh amarah.


"Bukan seperti itu, akunya aja yang memang tidak pernah memperhatikan diriku sendiri, aku terlalu asik dalam buaian kamu, sehingga melupakan hal-hal kecil yang terjadi dalam diriku." ucap Vienna membela diri.


"Kamu boleh terbuai dengan kasih sayang yang aku berikan padamu, tapi kamu juga harus sudah siap menerima resiko bila menikah dengan diriku." ucap Varo tegas.


" Maafkan aku." Vienna menangis sejadi-jadinya.


"Kemarilah... " Varo merentangkan kedua tangannya.


"Maafkan aku, aku terlalu sibuk menikmati hidup penuh cinta darimu."


"Terima kasih, jaga selalu buah cinta kita sayang."


"Iya, akan Vienna jaga selalu, maafkan aku sayang." Vienna memeluk tubuh suaminya yang memang sangat dirindukan nya.


"Sudah aku maafkan, kamu gak tanya dari mana aku tahu kamu hamil?" tanya Varo.


"Oh iya, sampai lupa, dari mana mas tahu Vienna hamil?"


"Kamu itu ya, sudah hampir seminggu ini moodnya berubah-ubah, dan selama kita menikah, belum pernah deh kamu datang bulan, padahal pernikahan kita sudah jalan dua bulan lo sayang, jadi semenjak satu Minggu yang lalu, aku selalu Googling tentang tanda-tanda kehamilan pada ibu muda, seperti kamu, yang ndablek dan gak perhatian pada diri sendiri, bahkan lebih parahnya kamu gak ingat tentang menstruasi kamu, gila banget kamu sayang." cerocos Varo.


"Jadi kamu sudah curiga sayang? kalau aku hamil, dan semenjak itu, semua keinginan aku juga selalu kamu penuhi?"


"Pastinya, kan aku gak mau anak kita jadi ileran Lo sayang, masak anak nya Varo Abraham ileran, gak level dong."


"Aku gak percaya deh sayang, kayaknya itu hanya mitos belaka, yang ada yang pengen itu si ibunya, bukan anaknya." ucap Vienna yang tidak percaya dengan ngidam.


"Awas ya, kalau malam-malam minta sesuatu, gak aku turuti jangan nangis ya, karena kamu gak percaya dengan hal seperti it." ucap Varo.


" Oke... kita lihat saja, aku kan anaknya mandiri, gak perlu bantuan orang lain, pengen apa-apa juga masih ada ayu dan Sofia." Terang Vienna.


"kalau begitu, kita taruhan, kalau dalam satu Minggu ini kamu tidak menangis minta di belikan apa saja kepadaku atau kepada orang lain, dan tidak boleh ada siapapun yang memberikan atau membuat sesuatu untuk kamu, seminggu saja."


"Oke... siapa takut, ayo... deal ya..." Vienna menautkan jari kelingking nya pada jari kelingking milik Varo.


"Oke... dan sekali lagi aku tekankan, tidak boleh meminta bantuan pada siapapun, dalam bentuk apapun itu."


"iya, siap pak bos." ucap Vienna percaya diri.


Dengan langkah lunglai, Vienna menengok ke jendela, dan menelan salivanya, ketika ada orang yang lalu lalang membeli rujak di sebrang kantor Varo.


Varo yang mengerti keinginan sang istri pun bertingkah seakan-akan tidak mengerti dan tidak mau mengerti keinginan Vienna, namun belum ada lima belas menit, Vienna menangis di depan jendela ruangan Varo.


Varo masih berpura-pura tidak melihat kejadian itu, namun lama-lama mendengar kekasih hatinya menangis pun Varo dengan sigap menutup jendela ruangannya.


Dipeluknya Vienna yang sedang menangis, terlihat sangat menyayat hati, melihat istrinya yang sedang hamil muda, harus menahan keinginannya, karena keegoisan nya mengatakan kalau dirinya menginginkan sesuatu.


"Sayang... jangan menangis, ada yang kamu inginkan dari sana?" tanya Varo dengan penuh kelembutan.


"Aku sudah kalah... ternyata egois itu menyakitkan,dan sekarang aku percaya, kalau menginginkan sesuatu tidak terpenuhi, rasanya dunia ini tidak adil padaku, bahkan semua orang seakan-akan mengejekku, maafkan aku." tutur Vienna.


"Sudah ku maafkan. Sekarang kamu pengen apa? pengen rujak mangga muda dari toko di bawah? mau aku yang belikan atau OB?" tanya Varo dengan tersenyum kemenangan.


"Kamu yang beli ya, jangan pedes, sedang sedang aja, dan satu lagi, mangga sama kedondong yang belum di kupas, dua biji aja, buat nanti di rumah." pinta Vienna pada Varo, smbari menahan malu. Varo yang melihat istrinya malu pun langsung memeluk Vienna dengan penuh kasih sayang.


"Oke... kamu tungulah di sini, jangan kemana-mana." titah Varo pada Vienna.


"Iya, makasih sayang ku, I love you." tutur Vienna.


"I love you to." jawab Varo.


Varo meninggalkan ruangan nya menuju kelantai dasar, dan segera membeli keinginan sang nyonya dan baby nya.


Varo berjalan meninggalkan ruangan miliknya, menuruni lantai 12 dengan tergesa-gesa da penuh senyuman di wajahnya. Bagi semua karyawan yang melihat senyuman selalu mengembang di bibir Varo pun merasa terheran-heran. Ada apa gerangan Big Bos yang super jutek bisa tersenyum seperti sekarang ini.


Sesampainya di lantai bawah, Varo berlari kecil menyebrang jalan, sang resepsionis tampak terkejut, seumur hidupnya bekerja di kantor milik Varo, dirinya beum pernah sekalipun melihat Big Bos nya itu berjalan menyebrang jaan seperti saat ini.


"Rin, kamu nggak bertanya-tanya, tumben banget Big Bos turun ke bawah dan akan menyebrang jalan." tanya Risa kepada Santi.


"Bener banget, tapi jangan membicarakan beliau, nanti kita di pecat." Jawab Santi.


"Bener banget, jangan kepo an ah, nanti kita kena imbas, udah yuk, kita kerjakan tugas kita saja, maaf sudah ngajak kamu mengghibah." Tutur Risa.


"Tidak apa-apa Santi."


Sementara Varo yang samai didepan Kantor merasa kebingungan, karena seumur hidupnya menjadi CEO dirinya ta pernah menyebrang jalan d3ngan berjalan kaki, melihat Big Bos berjalan mendekat ke pos Satpam, tanpa basa-basi, pak Rozaq menghampiri sang Big Bos, dari raut wajah Big Bos tergambar kebingungan, entah apa yang Big Bos pikirkan.


"Selamat siang pak? ada yang bisa saya bantu?" Tanya ak Rozaq.


"Aku lagi bingung pak, bagaimana caranya menyebrang jalan ke depan sana?"jawab Varo.


"Kalau boleh tahu bapak mau beli apa?


tumben bapak turun kebawah, kan bisa meminta saya, OB atau resepsionis yang membelinya pak."Tanya pak Rozaq merasa tak enak.


"Tidak apa-apa pak, saya pengen beli sendiri, boleh minta pak Rozak membantu saya menyebrang jalan ?"ungka Varo pada pak Rozaq.