
Jantung Vienna berdetak lebih cepat dari biasanya, Vienna terpaku, saat Varo mencium pipinya berkali-kali, disibakknya rambut Vienna, sehingga terpampang kulit putih leher Vienna, Varo mencium leher Vienna, dan naik keatas ke telinga Vienna, sungguh Vienna tak bisa bergerak, seluruh tubuhnya meremang, rasanya panas dan penuh gelenyar aneh. Varo mencoba berbisik pada Vienna.
"Sayang.... ada yang kamu sembunyikan dariku? kamu kan tahu, aku tidak suka di bohongi." telak Varo pada Vienna.
"Maksud bos apa? saya tidak pernah berbohong pada anda." Vienna yang takut kebohongannya terbongkar pun masih saja ngotot.
"Mau aku yang bicara, apa kamu yang ngomong, jangan bohong padaku, aku sudah tahu semuanya." Vienna yang sudah tahu arah pembicaraan Varo pun akhirnya mengangguk.
"Saya yang akan bicara... tapi jangan marah... aku mohon, bukan tanpa alasan bila saya membohongi anda." terang Vienna pada Varo.
"Baiklah aku akan mendengarkan kamu, tapi aku sudah capek, kita berbaring saja di atas ranjang, biar tubuhku sedikit relax." Varo menuntun Vienna untuk rebahan di atas ranjang besar mereka.
" Bos... sebenarnya... saya sudah tidak kedatangan tamu, sejak dua hari lalu, tapi... saya masih bingung, karena masih kalut dengan keadaan ayah, sehingga belum kepikiran ke sana, dan akhirnya saya berpura-pura... ahhh..."
Varo tak mengira, ternyata Vienna juga menginginkannya, sungguh bak gayung bersambut bagi Varo, tanpa harus memaksa, Vienna juga menikmati sentuhan lembut darinya.
Varo menghentikan aktivitasnya, dan berbaring di sebelah Vienna, nafasnya yang tersengal-sengal, di redakannya dengan tarik nafas dalam-dalam, dia tersenyum sendiri, Vienna yang sudah kalut, dan belum mendapatkan yang di inginkan pun menutup tubuhnya dengan selimut, sungguh memalukan. Mulutnya berbeda dengan tubuhnya, mulut berkata tidak, tapi tubuh berkata yes, sungguh Vienna merasa tidak memiliki harga diri lagi di depan Varo, bahkan Varo menghentikan kegiatan mereka saat sedang panas-panasnya.
" Apa benar kamu sudah siap Vienna, karena aku takut kamu tidak bisa berjalan besok, aku sudah bersusah payah menidurkan nya, malah kamu bangunkan lagi, kamu tahu, sebelum tertidur, aku tidak akan bisa berhenti, karena ini adalah hukuman kamu yang sudah membohongi ku, jadi.. apakah kamu sudah siap?" tanya Varo tegas
Vienna yang malu dan sudah tak mampu menahan hasratnya pun hanya sanggup memeluk Varo, Varo pun tak mau melepaskan kesempatan emas ini, sungguh malam ini mereka menghabiskan dengan kegiatan pendakian dan berburu, naik-naik keatas gunung, dan mendaki gunung dan lewati lembah, sungguh malam ini terasa singkat, saat mereka mendengar adzan subuh berkumandang, sesaat mereka menghentikan kegiatan mereka, dan melanjutkan hingga per perburuan, perburuan yang berkali-kali pun tak membuat mereka puas, bahkan semakin memabukkan, bahkan sudah menjadi candu bagi mereka berdua.
Drama menangis dimalam pertama tak ada bagi mereka berdua, yang ada kenikmatan, walau keduanya baru pertama kali merasakannya, namun tak menuntut mereka menikmati apa yang mereka lakukan.