MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
UNCLE JIMMY



Vienna menatap wajah Vero yang ada didepannya, sedikit demi sedikit, bila Vienna perhatikan, wajah dan senyuman itu, tak asing lagi bagi nya, tapi entah kapan pertemuan ini terjadi, Vienna tak pernah mengingatnya.


Angan-angan Vienna sekarang melayang, bagaimana mungkin ayah dan ibunya bisa se akrab itu dengan nenek dan kakeknya Big Bos nya, padahal mereka baru saja bertemu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka, bahkan ibunya sangat bahagia, rencana apa gerangan di balik semuanya, bahkan Vienna sendiri merasa tidak asing dengan semua orang yang ada di sekitar Vero.


Vienna masih memandang Big Bos nya dengan penasaran, seluruh gerak dan intonasi kata yang terucap oleh Vero seperti pernah dia dengar sebelumnya, tapi kapan Vienna sendiri tak ingat.


Vero sendiri menyadari, setiap gerkan yang di lakukan oleh dirinya, mendapatkan perhatian oleh Vienna, bahkan Vero pun tahu, dalam hati Vienna tersimpan beribu-ribu pertanyaan untuk ya.


Namun Vero sangat menyadari, Vienna yang ada di depan Vero sekarang ini bukanlah Vienna yang mudah di tebak, sifatnya yang lembut dan halus, menutupi jati dirinya yang sangat pintar dalam membaca body language seseorang yang ada di depan nya.


Bahkan Vero juga tahu, kalau Vienna bukanlah Vienna 15 tahun yang lalu. Dia Vienna yang sudah terlatih, luar dan dalam, melihat latar belakang sang Ayah, adalah seorang master of the world dalam dunia silat 15 tahun lalu.


Vero sendiri merasa sedikit kaku, berhadapan dengan Vienna saat ini, sungguh gadis yang sulit di mengerti bagi Vero.


Setelah selesai makan, Vero yang mengerti semua perhatian Vienna padanya pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


" Aku ganteng kan Vie? aku perhatikan sejak kepergian Nelly, kamu tak pernah melepaskan pandanganmu dariku. Jangan lama-lama liat nya, nanti jatuh cinta Lo." Vero mencoba mencairkan suasana yang penuh dengan kecanggungan, bahkan bisa di bilang, suasananya berubah menjadi horor.


" Eh... maaf, saya hanya kagum sama bapak saja." Vienna yang salah tingkah karena sejak tadi memperhatikan Big Bos nya pun menunduk, dalam hati Vienna merutuki sang Big Bos yang sangat Narsis itu, Sebenarnya Vienna ingin mengungkapkan rasa penasaran nya dengan keluarga Big Bos nya, bagaimana mungkin mereka tahu dengan keberadaan kedua orangtua Vienna saat ini


" Kagum sama saya? Saya tahu isi dalam kepala kamu Vienna, pasti kamu memiliki pertanyaan, dari mana kakek dan nenek tahu keluarga kamu di rumah sakit? betul tidak?" Vienna yang ketahuan berpikir seperti yang dikatakan oleh Big Bos nya itu, hanya mampu mengangguk anggukkan kepalanya, bahkan Vienna semakin menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah dan sangat malu.


" Bukankah kamu ingin meminjam uang perusahaan dengan tujuan untuk operasi kepala ayah kamu? pastinya saya sudah mencari informasi tentang kebenaran, yang kamu ucapkan, agar saya tidak merugi, bahkan sampai sekecil apapun tentang kamu aku tahu." Vero menajamkan matanya menatap Vienna, Varo masih ingin melihat seberapa besar rasa penasaran Vienna kepada keluarga nya.


" Eh... iya, maafkan saya pak, sepertinya saya yang salah paham." Vienna mencari pembelaan untuk dirinya.


Vero yang tidak ingin berdebat dengan Vienna, pun hanya menyueuh Vienna kembali ke kantor.


"Sudah selesai pertanyaan nya nona Vienna? Jangan lupa, nanti malam asisten Leo akan datang menjemput mu, kembalilah ke kantor, jam makan siang sudah habis." Vienna masih bingung dengan kelembutan yang Big Bos nya lakukan sejak tadi, namun beberapa detik kemudian kembali seperti hantu yang menyeramkan.


Vienna hanya sanggup menelan salivanya, tak mampu berkata-kata, dengan cepat kilat, Vienna berdiri, kemudian membungkuk kan badannya, dan pamit undur diri dari bos angkuhnya itu.


" Kalau begitu saya pamit undur diri pak, semoga hari anda menyenangkan, selamat siang." Vienna berlari keluar dari ruang VVIP no 12.


Varo yang melihat Vienna sedikit ketakutan pun tertawa, ternyata begini rasanya menggoda gadis cantik yang selama ini dia cari, ada perasaan bahagia, namun juga kecewa, sebenarnya Varo sangatlah gugup berhadapan dengan Vienna, setelah sahabat Vienna meninggalkan mereka berdua, Varo tak mampu menahan gejolak jantung nya yang berdetak kencang bila hanya berdua dengan Vienna.


Sehingga apa yang dia ucapkan tak sama dengan apa yang di rasakan, menyembunyikan perasaannya yang bahagia dan senang, entah mengapa semenjak bertemu dengan Vienna, kebahagiaan Varo semakin bertambah, waktu yang di tunggu-tunggu selama 15 tahun, akhirnya telah tiba.


Namun Varo sangat menyayangkan, pertemuan dengan gadis kecil yang selalu memanggilnya kakak, sudah tak mengingat bahkan tak mengenal dirinya lagi, mungkinkah gadis kecil yang dirindukannya selama ini akan mengingatnya kembali, bahkan Varo sendiri meragukan kisah cintanya akan berakhir seperti ini.


Setelah kepergian Vienna, Vero mengikuti langkah Vienna, yang tergesa-gesa, bahkan langkah nya seperti berlari, dengan secepat kilat Varo dapat menyamakan langkahnya dengan langkah Vienna.


Vienna yang merasa seseorang sedang menyamakan langkah nya pun terkejut, bahwa Big Bos nya lah yang ada di sebelahnya, hingga membuat dia berhenti berjalan.


" Kenapa berhenti, bukankah kamu sedang berlari, ayok jalan, atau mau aku gendong?" Vero sangat bahagia melihat raut wajah Vienna yang sedang kesal padanya, bahkan seketika Varo pun ikut berhenti, menatap gadis cantiknya yang sedang mengerucutkan bibirnya.


"Andaikan kau tau sayang, aku sangat merindukanmu, sudah lama aku menunggumu, maka jangan pernah lagi kamu pergi dariku, dulu aku bisa saja membawamu kembali, namun kakek dan nenek mencegahku, andai aku tahu kamu akan menjadi gadis yang lucu, tak akan kubiarkan paman membawamu pergi dariku." Varo masih saja menatap Vienna.


Vienna yang merasa tatapan Big Bos nya sangat berbeda, merasa sedikit bingung, tatapan seperti apakah itu, namun keheningan itu terpecahkan oleh suara handphone milik Varo.


" Selamat siang, Uncle Jimmy, apa kabar? " Varo mengangkat telepon dengan berjalan meninggalkan Vienna yang bengong.


" Selamat siang Varo, kabar Uncle baik-baik saja, bagaimana dengan pertemuan kalian, aku dengar dia sudah bekerja di kantor kamu?" Uncle Jimmy yang berada di Amerika pun terkekeh.


" Uncle, sepertinya sudah masuk dalam jebakan, uncle Sam sekarang berada di rumah sakit, besok beliau akan operasi, Oma sama Opa sudah berada di sana." Varo menjelaskan duduk masalah denga Uncle Jimmy.


"Benarkah? kenapa bisa? Apa yang terjadi dengan Kakak? Apa mungkin kedatangan nya ke kota sudah terdengar oleh kelompok Garuda?" Selidik Uncle Jimmy.