MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
POSITIF



Vienna duduk di sofa ruang Bu Anggi, disana Bu Anggi yang sudah tidak sabar pun menghampiri Vienna.


"Vi... bagaimana hasilnya?" tanya Bu Anggi pehuh antusias.


"Positif mbak, kemungkinan aku mau resign, sudah beberapa hari ini, aku sering pusing mbak, dan kadang jatuh gak mengenal tempat, seperti tadi pagi." ucap Vienna dengan lesu.


"Ajukan cuti aja selama kehamilan tri semester pertama, paling beberapa bulan, soalnya susah kalau mau masuk kembali ke kantor, harus melalui proses yang lebih rumit, karena akan di curigai menjadi mata-mata dari luar." ucap Bu Anggi.


" Kalau aku mengajukan cuti hamil tri semester pertama, nanti gak di kasih cuti melahirkan dong mbak?" tanya Vienna pada Bu Anggi.


"Kalau kamu kan pengecualian, lagi pula, siapa yang berani mengusik istri Mr Varo Abraham." goda Bu Anggi pad Vienna.


"Pernikahan kami belum go publik mbak, takut sesuatu terjadi kepadaku." ucap Vienna.


"Susahnya jadi anak dan istri seorang milyader, gak bisa bergerak bebas, mau kemana-mana harus di kawal, kalua tidak nyawa bisa jadi taruhannya." ucap Bu Anggi.


"Kalua boleh memilih mbak, Vienna ingin menjadi anak dari orang biasa, karena bisa bebas pergi kemanapun." terang Vienna.


"Bukankah dulu kamu bebas Vi? sekarang juga kamu masih bebas, jadi gunakan kesempatan terbaik kamu, untuk memanfaatkan waktu yang akan terbuang nantinya." ucap Bu Anggi.


"Bos mu itu mbak, posesif nya minta ampun, gak boleh ini dan itu,apalagi kalau tahu aku hamil, pasti gak boleh apa-apa." bela Vienna.


"Nikmati aja, lagian dia sudah lama menunggu mu, bahkan setiap wanita yang datang menawarkan dirinya, tak pernah di lihatnya, bahkan melirik pun tidak, hatinya hanya satu untukmu." terang Bu Anggi.


"Iya, seharusnya aku bahagia, mendapatkan cinta dari seorang VARO ABRAHAM." kekeh Vienna.


"Hati hati saja dengan kolega kolega cantik yang ada di sekitarnya, biasanya mereka memakai trik yang mematikan." pesan Bu Anggi pada Vienna.


"Mbak sering di ajak si Bos ke pesta atau pertemuan?" tanya Vienna.


"Sering, makanya semua kolega mengira kalau aku adalah istri dari Varo, tak sedikit yang mengorek kehidupan pribadi ku, bahkan ada yang sampai menyewa detektif, hanya untuk mencari tahu siapa aku." terang Bu Anggi.


"Gila bener, terus bagaimana dengan aku mbak?"


"Jalani saja kehidupan kamu sebagai sekertaris pribadinya, setelah pernikahan kamu dengan si JUTEK di umumkan, barulah kamu menampilkan dirimu sebagai istri dan putri Sam Abraham." saran Bu Anggi.


" Baiklah, terima kasih atas sarannya,dan aku akan kembali keruangan ku, nanti si jutek marah-marah lagi." ucap Vienna.


"Selalu marah, tampil saja pakai respect itu,biar diam dan tak berkutik, apalagi dia sudah mengharapkan kehadirannya." tutur Bu Anggi.


"Wow... makasih sarannya mbak, nanti kalau dia jutek jutek lagi, aku marahi balik aja, hahahah."


" Sudah sana, nanti aku yang di marahi, ngerumpi atau apalah."


Sungguh hari yang membahagiakan bagi Vienna, karena tebakannya selama ini benar, bahwa dirinya telah berbadan dua.


Vienna memasuki ruang kerjanya, sebelum itu, Vienna menggantung pakaian kotornya di capslock di belakang pintu ruangannya, belum sempat Vienna duduk di atas kursi kerjanya, telepon dari sang penguasa sudah berdering.


"Halo selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Vienna sopan dan lemah lembut.


"Datang keruangan ku dan tidak pakai lama." titah Big Bos nya.


"Baik pak." Vienna menutup telepon dan berjalan keluar ruangan, menuju ruangan big Bos nya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk..." ucap Varo pada Vienna.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Vienna sopan, karena memang disana terdapat Leo, Tiger dan seorang laki-laki yang berumur diatas 40 tahunan, siapapun itu, Vienna tidak ambil pusing.


" Leo, tolong kau siapkan meja untuk Vienna di dalam ruanganku, dan untuk kamu Sony, meja Vienna akan menjadi meja kerjamu. kalau sudah paham, sekarang keluarlah." perintah Varo pada ketiga pria di depan nya.


"Baik pak, kami permisi dulu..." ketiga pria yang penuh kharisma pun keluar ruangan.


" Kunci pintu nya." perintah Varo pada Vienna.


Dengan tergesa-gesa Vienna mengunci pintu dari dalam, dan kembali menghadap Big Bos yang terlihat sedang marah-marah.


"Ada yang kamu sembunyikan dariku sayang...?" tanya Varo dengan tegas menarik tubuh Vienna ke atas pangkuan nya.


"Tidak ada, memang ada yang bisa Aku sembunyikan dari kamu sayang?" tanya Vienna yang sebenarnya sangat terkejut dengan pertanyaan Varo.


"Lalu... apa yang kau sembunyikan di dalam saku jaket mu?" tanya Varo tegas.


"Ah... itu... " dengan terpaksa Vienna mengeluarkan tespect yang bergaris dua.


"Kamu mau menyembunyikan kehamilan kamu dariku?" bentak Varo pada Vienna.


"Bukan seperti itu maksudku, tapi..."Vienna menggantung perkataan nya.


"Tapi apa...? takut kebebasan kamu terenggut karena kehamilan kamu? takut aku jadi over protective padamu dan anak kita? begitu?" bentak Varo, yang membuat nyali Vienna menciut.


Niat hati membuat kejutan malah mendapat kan kemarahan dari suami galaknya.