
Sebenarnya Vienna ingin menawarkan pernikahan ini dengan pernikahan kontrak, tapi semuanya berubah,karena memang Varo tidak pernah bercanda dalam memutuskan sesuatu, sehingga Vienna pun sedikit banyak faham dengan karakter dari Varo.
Varo membuyarkan lamunan Vienna, dengan sentuhan lembut di tangan Vienna.
Dengan reflek Vienna menatap Varo dan mengangguk anggukkan kepalanya.
" Yes i Will" ucap Elea, membuat Varo tersenyum.
Dengan satu tepukan, petugas dari Kantor Urusan Agama pun datang, dan beberapa orang saksi telah hadir, bahkan ada beberapa Dokter dari Rumah Sakit pun ikut menjadi saksi pernikahan mereka berdua, tak lupa Leo dan Tiger, serta beberapa supir Varo pun ikut menjadi saksi pada malam ini.
Meja dan kursi untuk ijab dan qobul sudah tertata rapi, beberapa kursi yang akan di duduki para tamu undangan pun telah siap.
Bu Anggi sahabat sejati Alvaro juga tampak hadir malam ini, bersama putri kecilnya, dan sang suami yang merupakan seniornya di kampus dahulu.
Terlihat beberapa orang datang membawa mas kawin yang akan Varo berikan pada Vienna.
Vienna sendiri terkagum kagum melihat big Bos nya yang sangat perfeksionis, bahkan dalam waktu sehari saja, bisa membuat kejutan yang sangat istimewa.
Sebelum acara akad nikah di mulai, pak Kyai yang akad mengikat kabul Varo berbincang dengan Ayah Vienna, terdengar disana, bahwa Ayah menyerahkan pak kyai untuk menjadi walinya, karena keadaan Ayah Vienna yang tidak memungkinkan untuk duduk di kursi untuk menjadi wali Vienna.
Setelah dirasa cukup, pak kyai pun memanggil kedua mempelai, dan juga dua orang saksi, dari pihak laki dan perempuan. Dari pihak laki-laki, kakek lah yang menjadi saksinya, sedang dari pihak perempuan, dokter Hasan lah yang menjadi saksinya.
" Bagaiman calon pengantin dan para saksi sudah siap?" tanya pak Kyai kepada semuanya.
"Saya nikahkan engkau ananda Alvaro bin Ahmad Ridlo, dengan Vienna Oktaviani binti Muhammad Syamsuddin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 1, 5 M, dan seperangakat berlian dibayar tunai." Ucap pak Kyai dengan menghentakkan tangannya yang langsung di balas dengan kabul yang di ucapkan oleh Varo
"Saya terima nikahnya Vienna Oktaviani binti Muhammad Syamsuddin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.""ucap Varo dengan lantang.
" Bagaimana saksi? SAH...?"
Sah
Sah
Sah
Semua yang menjadi saksi pernikahan pun mengatakan SAAAAAH.
Doa pun di bacakan oleh bapak Kyai,
**Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”
Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya**.
Berbagai wejangan dan petuah pun di ucapkan oleh bapak Kyai, nasehat dan saran dari bapak Kyai, tentang bagaimana cara mengatasi masalah dalam berumah tangga pun tak luput dari pendengaran pengantin baru.
"Mas Varo sekarang pasangkan cincin di jari istrimu, dan begitu pula sebaliknya, setelah itu mas Varo ciumlah ubun-ubun mbak Vienna, dan mbak Vienna, ciumlah tangan mas varo," Tutur pak kyai.
Varo pun melakukan sesuai dengan arahan yang di bacakan oleh bapak Kyai, dan saat Varo mencium ubun-ubun Vienna, Varo berdoa "Ya Allah, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku. Berkahilah keluargaku dalam permasalahanku. Berilah mereka rizki dariku, dan berilah aku rizki dari mereka. Satukan kami selama dalam kebaikan, dan pisahkan kami selama dalam kebaikan. Berilah masing-masing dari kami kebaikan dalam permasalahan pasangan.”
Belum hilang perasaan terkejutnya saat mendengar maskawin yang disebutkan oleh bapak Kyai, sekarang Vienna mendengar doa dari suaminya dengan tulus dan ikhlas pun, tak mampu menahan air matanya, perasaan haru dan bahagia, walau dirinya sendiri tak tahu kebahagiaan apa? dan bagaimana dengan nasib pernikahannya, Semuanya Vienna hanya pasrah kan kepada Allah Maha Pencipta, dan prioritas utama Vienna sekarang adalah kesembuhan Ayah nya, dan kebahagiaan mereka berdua.
Ingin rasanya Varo merengkuh tubuh Vienna kedalam pelukannya, namun ia sadar, Vienna bukan gadis yang mudah dipermainkan, Varo tahu seperti apa hatinya, bingung, kaget dan kejadian yang sangat tiba-tiba, bahkan dalam waktu sehari saja, perubahan drastis, dari persyaratan yang dia sendiri ajukan pada Vienna, dari rencana hanya lamaran, berubah menjadi pernikahan, serta waktu yang sangat mendesak, Varo menyadari, tak mudah bagi Vienna untuk menerima semuanya.
Terdengar suara bapak Kyai mendoakan pengantin baru, dan tak luput pula nasehat yang terbaik bagi pengantin baru.
"Saya doakan semoga pengantin baru ini,menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, langgeng sampai ajal memisahkan, dan cepat di berikan momongan. Dan harapan saya, janganlah menunda kehamilan, karena anak itu adalah Rizqi dari Allah SWT, banyak di luaran sana yang menantikan kehadiran sang jabang bayi, bahkan bertahun-tahun lamanya, dan janganlah malu, toh ada suami yang bertanggung jawab, jadi nasihat saya, sedikasih yang Kuasa saja, bagaimana nak Varo?"
Pak Kyai menggoda Varo yang sedang mencerna kalimat demi kalimat dari pak Kyai. Varo hanya mengangguk dan tersenyum, saja.
Acara pernikahan pun berakhir, dilanjutkan dengan makan malam bersama, yang ditempatkan di ruangan sebelah, karena tidak ingin mengganggu ketenangan Ayah yang sedang dirawat.
Vienna dan varo saat ini sedang sungkem kepada Ayah dan ibu Vienna.
"Varo dan Vienna... Ayah harap, kalian bahagia bersama keluarga barumu, jadilah istri yang bertanggung jawab, setelah menikah, ada hak dan kewajiban bagi seorang istri dan sebagai seorang suami. Adapun Kewajiban suami kepada istri adalah mempergaulinya secara ma’ruf, memberinya nafkah, lahir dan batin, mendidik istri, dan menjaga kehormatan istri dan keluarga, sedangkan kewajiban istri kepada suami, adalah taat kepada suami, menjaga amanat sebagai istri/ibu dari anak-anak, rabbatu al-bayt atau manajer rumahtangga, menjaga kehormatan dan harta suami dan meminta izin kepada suami ketika hendak bepergian dan puasa sunnah, jadi Ayah mohon jadilah keluarga yang saling menyayangi, dan menjalankan semua kewajiban dengan ikhlas, dan tentunya akan menerima hak yang wajib kalian berdua terima." Nasehat ayah dengan menyatukan kedua tangan anak dan menantunya.
Terlihat Varo dan Vienna tersenyum dan mengangguk, setelah itu mereka menuju ke tempat kakek dan nenek dari Varo, tak terdengar satu katapun dari mulut sang nenek, hanya tangisan haru dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah nya.
"Varo, tanggung jawabmu sekarang bukan hanya masalah Perusahaan, namun tanggung jawab terbesar kamu saat ini adalah istri mu, kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban mu di akhirat nanti. Dan jadikanlah Vienna tempat pulang mu, rumah mu, dan sekaligus istri mu" Nasehat kakek pada Varo.
"Untukmu cucuku Vienna.....