
VIENNA OKTAVIANI
Gadis cantik berusia 21 tahun, yang sangat cerdas, otak nya yang encer dipergunakanya untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan kuliah serta kariernya.
Bahkan sebelum lulus S1 Gadis yang sering di panggil Vienna ini, sudah menjadi pegawai sebuah perusahaan yang sangat besar dan terkenal, di perusahaan Vienna menjabat sebagai sekertaris pribadi CEO yang terkenal dingin dan sangat arogan.
VERO ABRAHAM
Pewaris satu satunya perusahaan ABRAHAM CORP, yang menjabat sebagai CEO yang sangat kejam, dan tanpa balas kasihan, rela melakukan apapun demi kejayaan dan kekayaannya.
Wanita baginya hanyalah penghalang bagi kariernya, bahkan dia sangat anti dengan yang namanya pacaran, bahkan tak pernah dihatinya terbersit kata cinta.
Kekerasan dan kedisiplinan yang di dapatkan dari kakek dan neneknya, mencetak dirinya menjadi pribadi yang tangguh, dan sangat tertutup, arogan, bahkan dingin.
Namun semuanya tidak berlaku, ketika pertama kali dia melihat gadis cantik yang akan magang di perusahaanya. Dialah Vienna.
NELLY
Sahabat Vienna dalam satu kamar ditempat kos mereka, dan juga teman sekantornya.
Pertemuan mereka berawal saat Vienna magang, karena seringnya terlambat masuk, akhirnya Nelly menyarankan untuk tinggal bersama di kos kosan, karena letak yang cukup dekat kantor,sehingga memudahkan Vienna untuk berangkat bekerja, sebenarnya kosan tersebut agak jauh dari kampus, namun tak menyurutkan Vienna untuk beraktifitas menjadi mahasiswa sebagaimana mestinya.l
Kebahagiaan berubah kesedihan
Seiring berjalanya waktu, saat Vienna magang pada perusahaaan terbesar di kota, ABRAHAM CORP, Vienna mendapatkan penawaran untuk menjadi pegawai tetap di perusahaan tersebut, berbekal ilmu dan penguasaan 5 bahasa, Vienna mampu membuat CEO perusahaan itu mengagumi Vienna, dalam waktu kurang dari satu bulan. Bahkan seluruh perusahaan tahu dedikasi Vienna dalam bekerja.
Tanpa berfikir panjang, Vienna menyetujui penawaran yang di berikan oleh CEO tersebut, tentunya suatu Kebanggan tersendiri bagi Vienna, mendapatkan kesempatan emas ini.
Apapun akan Vienna lakukan, demi menggapai semua impian dan cita citanya, dan ingin membuat kedua orang tuanya bangga dengan prestasinya saat ini.
Setelah 2 bulan bekerja sebagai pegawai tetap, hari ini adalah hari dimana Vienna akan mengahiri perdikat nya sebagai mahasiswa, ya... hari ini hari wisudanya Vienna
Pagi itu, Vienna nampak bahagia, dengan kehadiran ayah dan ibunya di hari wisudanya, membuat kebahagiaan yang tak ternilai untuk Vienna.
Vienna sangat bersyukur, di usianya yang baru 21 tahun ini, Vienna sudah menyelesaikan S1nya dalam waktu 3 tahun saja, berbekal kecerdasan dan ketangkasanya, Vienna mampu membiayai kuliah dan kehidupan sehari harinya, dengan hasil jerih payahnya sebagai seorang pekerja paruh waktu di awal kuliahnya, dan di akhir masa kuliahnya bahkan dia sudah menjadi pegawai tetap perusahaan ternama.
Rangakaian acara wisuda yang dimulai sejak pukul sembilan pagi, pun berakhir saat pukul dua siang.
Kebahagiaan tampak diwajah tua kedua orang tuanya, di usianya yang senja ini, Vienna sangat ingin memboyong kedua orang tuanya untuk tinggal di kota, sehingga memudahkan Vienna untuk selalu bersama dengan mereka.
Namun impian Vienna tak mungkin terwujud, karena kedua orang tuanya tidak mau Meninggalkan kampung halamanya.
Namun kebahagiaan Vienna tak berlangsung lama, baru saja mereka turun dari angkutan umum, ayah Vienna menjadi korban tabrak lari sebuah mobil, karena tempat yang sepi membuat mereka mudah melarikan diri.
Dengan menggunakan Angkot yang tadi Vienna tumpangi, Vienna membawa orang tuanya ke rumah sakit.
Baju wisuda yang masih melekat, toga dan ijazah yang masih dalam genggaman, Vienna mengekori brankar yang membawa ayahnya masuk karuangan IGD.
Nampak kesdihan di wajah tua sang ibu dan juga Vienna, mengapa dia harus merasakan kebahagiaan hanya sesaat, dan berganti dengan kepedihan, yang sangat mendalam.
" Dokter, Bagaimana keadaan ayah saya dok?" Vienna berlari mendekat.
" Maaf anda putrinya?" Dokter melihat keadaan dan kondisi Vienna saat ini.
" Iya dok, saya putrinya, apa ayah saya baik baik saja dok?" Vienna memberondong pertanyaan pada dokter.
" Mari ikut ke kantor saya, dan ibu boleh menjenguk bapak di dalam."
Vienna mendekati ibunya, dan menyuruhnya menemani ayahnya, sedangkan dirinya sendiri mengikuti Dokter tersebut menuju ruang kerjanya.
Setelah Vienna duduk, sang Dokter memberikan sebotol minuman dingin kepadanya, melihat keadaan yang sangat berantakan, sang Dokter mengucapkan kata selamat pada Vienna.
" Sebelumnya, saya ucapkan selamat kepada adek, atas wisudanya hari ini, semoga bermanfaat." Dokter menyalami Vienna.
" Terima kasih Dokter, kabahgiaanku adalah kedua orang tuaku, tapi hilang seketika, ketika bapak menjadi korban tabrak lari." Vienna sangat terpukul dengan kejadian ini.
" Maaf, kalau boleh tahi adek siapa namanya?biar mudah saya memanggilnya." Dokter sediiit mengalihkan kesedihan yang Vienna rasakan.
" Nama saya Vienna pak Dokter, biasa di panggil Vivi."
" Ok, untuk ayah dek Vivi Alhamdulillah semuanya baik baik saja, hanya saja, karena benturan yang keras di kepala nya, di takutkan akan adanya penyumbatan pembuluh darah, sebaiknya di lakukan oprasi, kalau bisa secepatnya."
" Kira kira berapa biaya operasi tersebut Dokter?"
" Sekitar 50 juta an, belum juga biaya ruangan, serta obat obatan, bisa mencapai 100 jutaan dek."
" Berapa jangka waktu harus dilakukan operasi Dok? terus terang saya tidak memiliki uang sebanyak itu, tapi akan saya usahakan, demi ayah saya."
" jangka waktunya jangan lebih dari dua minggu, karena semakin lama akan membuat pasien koma, kalau begitu, bila nanti adek sudah siap bisa hubungi saya di nomer ini, dan saya sarankan, untuk meminta keringanan, di ruangan 150, katakan padanya minta diskon, bilang dari dokter Andre. Dan serahkan surat ini sewaktu waktu kamu akan membayarnya, Ok." sambil memberikan surat keringanan berstempel dan di bubuhi tanda tangan darinya.
"Baiklah Dok, terima kasih, dan saya permisi dulu Dokter. Assalamualaikum." Vienna membungkuk dan berlalu keluar dari ruangan Dokter Andre.
" Waalaikum salam." jawab Dokter Andre pada Vienna.
Vienna keluar dari ruangan Dokter Andre, menuju keuangan IGD, ditengah jalan, sahabatnya satu kamar Nelly, memanggilnya.
" Vi.... Vivi... ayahmu sudah di pindah keruang Mawar" Mendengar ada yang memanggil, Vienna pun menoleh, saat yang dilihatnya adalah sahabatnya, Vienna langsung mengerhambur kedalam pelukan sahabat nya Nelly.
" Kak, ayahku kak, aku harus bagaimana?tabunganku belum cukup untuk membayar operasi ayah, aku takut kak." Karena umur yang terpaut empat tahun, membuat Vienna memanggilnya kakak.
" Kita pikirkan bersama ya, yang tenang, rileks, jangan takut, aku akan membantumu, sekarang kita ke kamar ayah dulu ya, jangan buat mereka terbebani, katakan bahwa tidak ada apa apa, terutama pada ayah, ok?"
Nelly menasehati Vienna, agar lebih tenang
" Ok, makasih ya kak, kakak yang terbaik pokoknya." sembari memeluk sahabatnya Nelly.
Akhirnya mereka berdua pun berjalan menuju ruangan Mawar yang di sebutkan oleh sahabatnya tersebut. Dalam pikiran Vienna, dari mana uang sebanyak itu bisa dia dapatkan, dalam kurun waktu kurang dari dua minggu, Vienna semakin pusing, antara takut kehilangan dan pasrah.