MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
ULAR COBRA MENCARI CELAH SEMPIT



Dunia hitam dalam bisnis memang tidak Vienna ketahui, bahkan rahasia keluarga besar ABRAHAM pun Vienna tidak dia pahami, karena memang sang ayah yang selalu menutup rapat keluarga besar mereka, namun Varo sendiri tak akan menutupi keberadaan Vienna yang memang ahli waris yang memiliki saham paling banyak di seluruh perusahaan ABRAHAM, karena memang uncle Sam sudah menyerahkan seluruh kekayaan nya pada Vienna.


Bahkan beberapa butik terkenal dan perusahaan Aunty Silvia yang ada, semuanya sudah berganti nama Vienna sejak Vienna berumur 5 tahun.


Sungguh rahasia besar apa yang sebenarnya terjadi, sedikit demi sedikit akan terkuak, sesuai dengan keinginan Varo, yang memang ingin menceritakan semuanya setelah mereka saling mencintai, sehingga tak ada alasan Vienna untuk meninggalkan Varo dalam keadaan apapun.


Setelah selesai dengan acara pemakaman Uncle Sam KW, Varo kembali pulang ke Mension milik nya, saat pertama yang Varo tanyakan saat ini, adalah... tentang istrinya yang berada di rumah.


"Pak Wahyu... apakah istriku melihat televisi hari ini?" tanya Varo pada pak Wahyu.


"Sesuai perintah anda tuan muda, nyonya muda tidak kami perbolehkan melihat televisi dan juga media sosial, beliau sekarang sedang beristirahat di dalam kamar."


" Oke, aku akan ke kamar sekarang, dan matikan CCTV didalam kamar utama ku, jangan sekali kali menyalakannya sebelum aku menyuruhnya." ucap Varo tegas.


"Baik tuan, sekarang juga saya matikan," pak Wahyu meninggalkan Varo menuju ruang pengendalian CCTV,dan mematikan CCTV dari kontrol utama, sehingga tak ada seorangpun yang mampu meretas perbincangan Varo dengan sang istri.


Varo yang baru saja masuk kedalam kamarnya, mendapati Vienna sedang tertidur pulas, wajahnya yang cantik sedikit pucat, karena pergulatan mereka semalaman. Varo bergegas mandi sebelum sang kekasih hati terbangun dari tidurnya.


15 menit sudah Varo menyelesaikan mandinya, dan berjalan ke lemari pakaian, yang harus melewati ranjang besar miliknya, Vienna yang setengah sadar dengan kehadiran Varo pun sedikit memicingkan matanya, dirinya yang polos bila setiap hari melihat pemandangan yang sangat indah pun akan berubah menjadi mesum.


Varo yang mengetahui Vienna sudah bangun, hanya tersenyum, di biarkan istrinya itu melihat tubuh polosnya, Nadia yang melihat adegan mesum suaminya, langsung menutup seluruh tubuhnya, dengan pipi merah, karena malu.


"Sayang... gak mau bangun ni, suami baru datang dari kerja, gak di sambut si, apa masih mau lagi ha...?" goda Varo pada Vienna.


"Iiih... siapa yang mau lagi coba, kan aku gak tahu suamiku sudah pulang, dan lagi... aku malu jalan keluar, kayak pinguin bunting, gak bisa jalan."


"Kamu tahu sayang... obatnya adalah kita main dan main lagi, nanti juga terbiasa, bagaimana?" Varo menggoda Vienna.


"Nggak mau ah, kamu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan." gerutu Vienna pada Varo.


"Aku malu... jangan seperti itu." Vienna menutup wajahnya dengan bantal sofa.


Varo memeluk tubuh kecil istrinya, kebahagian ini ingin selalu Varo berikan pada Vienna, walau jalan terjal pasti akan datang menerpa kehidupan keluarga kecilnya nanti.


"Sayang, kamu sudah tahu kan kalau ayah sedang berobat, dan tolong, ikuti saja permainannya, jangan membangkang, biar semua masalah terselesaikan." Varo memandang istri kecilnya dengan lekat.


"Iya, lagipula ayah sudah berbicara padaku semalam, dan sudah memberitahu Semuanya, dan satu permintaan ku padamu suamiku, jangan tinggalkan aku, walau apapun yang terjadi nanti."Vienna menggenggam tangan Varo.


"Tidak akan sayang, aku akan selalu berada disisi mu, dan satu lagi, kemesraan kita hanya bisa kita realisasikan saat di dalam kamar ini, selain itu, kita tak bisa mengumbar kemesraan dan kebahagiaan kita di depan orang, tentunya di depan publik." Varo mencubit hidung Vienna.


"Iya , ayah juga sudah berpesan seperti itu, dan apakah aku masih boleh bekerja, bagaimana aku bisa memenuhi kebutuhan ku, kalau aku tidak bekerja?" pinta Vienna pada suaminya.


"Kamu itu sudah menjadi istriku, jadi semua kebutuhan kamu adalah tanggung jawab ku." Varo memeluk Vienna dengan mesra.


Vienna... kekayaan kamu lebih banyak dari kekayaan ku, namun kamu tak pernah tahu, bahkan walau kamu tak bekerja, sampai tujuh turunan pun kekayaan mu tak akan pernah habis. Gumam Varo dalam hati.


"Nggak nggak, aku nggak mau ya, bergantung kepada suamiku, aku kan masih bisa beraktivitas, jadi boleh ya, aku bekerja lagi." Vienna meminta dengan wajah memelas.


"Boleh, tapi sebelum kamu hamil, jika sudah hamil, aku tak ingin kamu keluar dari rumah kecuali bersamaku." ucap Varo tegas.


"Sayang... kan aku di kantor juga bersamamu, dan lagipula aku kan bisa melihat mu setiap hari dan setiap detik, bagaimana kalau anak kamu yang pengen melihat Daddy nya setiap hari?" sebenarnya Vienna mau saja duduk di rumah, namun dirinya sedikit memiliki kecurigaan kepada seseorang, sehingga dengan terpaksa Vienna meminta suaminya untuk bekerja, sampai dia benar-benar menemukan bukti yang kuat dengan feeling nya.


"Baiklah, asal jangan membahayakan dirimu saja, kalau kau yang celaka, aku masih bisa menikah lagi, nah kalau anakku yang celaka, susah kan cari anak lagi, ya kalau kamunya selamat, bisa bikin lagi, kalau kamunya juga gak selamat, mau cari kamu dan anak kita di mana coba?" Varo menggoda Vienna dengan sedikit gombalan receh.


"Dasar... gombal nya garing pak bos, jadi doain aku ni, kalau hamil gak selamat? begitu maksud nya?"


"Dasar telmi, ah susah ngomong sama kamu, cari tahu aja sendiri." Varo berjalan menuju lemari besi yang ada di balik rak buku di sebelah ranjang besar miliknya.