
"Hahahaha, kamu masih ingat juga, saat pertama kali kamu datang Vi? Kamu benar benar cewek pertama yang di perhatikan oleh Bos langsung, bahkan si bos sendiri yang meminta HRD untuk merekrut kamu menjadi sekertaris nya, aku salut sama kamu, kamu tahu gak Vi? Si Bos itu gak pernah yang namanya melihat wanita, bahkan melirik pun tak pernah, percaya padaku, kamu cewek satu-satunya yang bisa membuat si Bos jatuh cinta."
"Kakak benar banget, mungkin aku saja yang egois, tidak mau sedikit peka, padahal sejak pertama bertemu, aku sudah merasakan ada hawa tersembunyi, tatapan matanya, bikin aku makin cinta, tapi mau gimana lagi? aku hanya karyawan baru, ditambah lagi pak Leo sama pak Tiger, bikin degdegan terus, mereka berdua sebelas dua belas sama si Bos." Hahaha, Vienna terkekeh, mengingat satu ruangan dengan asisten pribadi Big Bos,dan sekertaris yang serba bisa.
" Vi, kamu gak takut apa, nanti pak Leo lapor sama suami kamu? Aku takut kalau di pecat dari kantor." Ujar Nelly was-was.
"Kaka berarti belum kenal siapa suamiku, tanpa mereka ngomong pun, suamiku saat ini sedang melihat aksi kita, jadi santai saja, kalau dia memecat kamu, aku akan pecat dia jadi suamiku." jawab Vienna.
"Janji ya Vi? jangan habis manis sepah di buang dong, sama temen harus ingat." Ungkap Nelly pada Vienna.
"Iya... nanti aku yang ngomong, jangan khawatir, si bos baik kok, gak kaku banget. " Vienna membelai punggung tangan sahabatnya.
"Kaka kok aku jadi penasaran deh, masak orang kaya dan ganteng seperti dia gak pernah pacaran?padahql kan relasi beliau dalam berbisnis pasti banyak cewek cewek cantik, kaya pula. " tanya Vienna pada Nelly.
"Ihh... dibilangin gak mau, kamu mau tahu, sebelum ada kamu, resepsionis selalu cowok, dan hampir semua karyawan disini adalah cowok, hampir 90 persen malah, dan cewek pertama berkerja satu lantai di kantor ini adalah Bu Anggi, karena beliau adalah sahabat si Bos sejak SMP, selain bu Anggi nggak ada. ." terang Nelly pada Vienna.
"Tau ah, cuma aku juga lagi kepikiran perkataan kak Anggi, beliau bilang, si Bos itu sudah punya cinta pertama, aku jadi bingung, sebenarnya dia benar cinta sama aku atau tidak, yang aku takutkan, ketika cinta pertamanya datang kembali, apakah dia akan meninggalkan aku kak?aku takut dia akan merebut suamiku dan meninggalkan aku sendirian. " Vienna semakin bingung.
Sementara Varo tidak melihat aksi kocak istrinya saat ini, karena Varo sekarang berada di ruang rapat, sehingga tak bisa memantau istrinyq lewat CCTV di mobil pribadinya.
Karena Percakapan mereka berdua yang tiada henti, tanpa terasa mereka sudah sampai di Rumah Sakit.
Vienna dan Nelly masuk, kedalam ruangan ayahnya, yang akan dioperasi.
Sesaat setelah Vienna masuk, tampak 2 Dokter masuk, dan berbincang, bahwa operasi akan segera di lakukan. Setelah 2 Dokter meninggalkan ruangan, Vienna memegang kedua tangan Ayah nya, menciumnya, dan memberikan kekuatan dengan penuh, Vienna mencoba untuk tidak menetes kan air mata nya, ayah yang melihat Vienna berkaca-kaca pun tersenyum, dan mengucapkan, doakan ayah, semoga Allah masih memberikan kesempatan Ayah untuk melihat cucu-cucu Ayah.
"Vi... doakan Ayah, jangan menangis, Ayah masih ingin melihat cucu-cucu Ayah, jadi ayah akan bersemangat untuk kesehatan dan kesembuhan Ayah ." ucap Ayah Vienna.
"Semangat Ayah, kamu semua selalu mendoakqn Ayah, dan kami semua menunggu saat itu Ayah. " jawab Vienna.
Vienna semakin terisak, apapun semuanya akan Vienna lakukan demi kebahagian kedua orangtuanya.
Tepat pukul 9 pagi, Ayah Vienna masuk kedalam ruang operasi, sudah satu jam, Vienna, ibu dan Nelly, masih setia menunggu operasi berakhir.
"Nggak bisa kak, aku semakin resah kalau harus duduk."jawab Vienna tegas.
Bunda hanya bisa berdoa dan menahan tangis, semoga semuanya berjalan dengan lancar, tak ada halangan suatu apapun, bunda yang melihat Vienna mondar mandir didepan nya pun hanya bisa diam, karena bunda tahu sikap keras kepala Vienna sama seperti suaminya, semua sifat yang ada pada suaminya menurun pada Vienna.
Pukul 10.30, Varo datang menemui keluarga Vienna.
"Assalamualaikum bunda, masih lama operqsinya?" tanya Varo pada ibu mertuanya.
"Sudah 1 setengah jam nak, doakan saja ayah baik baik, lihatlah Vienna mondar mandir didepan ruang operasi, sejak tadi, sudah Nelly kasih tahu untuk duduk, tapi Vienna tidak mau." ungkap bunda Vienna.
"Apa nggak capek yq jalan mondar mandir kayak gitu Vienna." Sapa Varo pada Vienna.
Namun Vienna tak mendengar Varo berbicara kepadanya, bahkan Vienna sendiri tak melihat kedatangan sang suami, sehingga dirinya masih saja mondar mandir bak setrikaan baju, yang membuat Varo pusing. Akhirnya Varo menarik tubuh Vienna untuk duduk di sampingnya, karena tak ada persiapan, akhirnya Vienna duduk di atas pangkuan Varo.
"Kenapa nggak duduk si sayang, hemm... pengen banget ya begini?"goda Varo pada Vienna dengan suara lembut di telinga Vienna.
Vienna yang terkejut pun menutup mulutnya, tak mau teriakan nya akan mengganggu jalannya proses operasi. Dengan lembut Varo memeluk Vienna, saat inilah Vienna merasakan ketulusan hati yang terdalam dari suaminya.
Bukanya berdiri, Vienna malah berbalik memeluk suaminya, Vienna mulai terisak dalam pelukan hangat Varo, bahkan semua yang ada di dalam hatinya, dia tumpahkan semua, seluruh kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan dan kebingungan, membuatnya semakin terisak dalam pangkuan Varo sang suami.
"Jangan menangis sendiri, sekarang ada aku yang akan selalu menjaga dan menemanimu, tapi aku mohon kepadamu, jagalah kesehatan, karena dengan kamu sehat, kami semua akan bahagia, ingat sayang, bukan hanya kamu yang sedih dan gelisah, lihatlqh bunda disebelah kamu, lihat pula sahabat kamu Nelly,jangan egois, harusnya kamu lebih bisa menenangkan bunda, bukan menambah beban beliau." ucap Varo.
"Maaf, Vienna sangat khawatir pada Ayah,maaf Vivi sangat egois, dan tidak memikirkan yang lain di sekitar Vivi,maaf sudah membuat Bibi marah."ungkap Vienna dengan suara lemah.
"Sudah saya maafkan, tapi setelah ini, bagi kesedihan dan kebahagiaan kamu padaku, karena aku adalah suamimu, apapun itu kamu adalqb tanggung jawab ku." ucap Varo.
Ungkapan hati dari Varo hanya di balas dengan anggukan dari Vienna ,Semakin lama Isak tangis dari Vienna semakin reda, Ibu yang melihat Vienna bisa menerima Varo pun merasa sangat bahagia, Varo benar-benar mampu mencegah Vienna untuk menangis, rasa cinta Varo pada Vienna memang tqk pernah luntur walau sudah berpisah 15 tahun lamanya.
SAHABAT, JANGAN LUPA BACA KARYA AUTHOR YANG LAIN YAH