
Pukul 10 malam, Anggi beserta anak dan suaminya, pamit meninggalkan acara, karena besok Alma harus berangkat ke sekolah, dan Varo sendiri mengajak Vienna meninggalkan acara, besok pagi adalah hari terberat bagi Vienna dan Varo.
Besok pukul 10 siang, Ayah Vienna akan menjalani operasi kepalanya, dan tidak ingin Vienna kelelahan, Varo mengajaknya untuk beristirahat. Pulang ke Mension miiknya.
"Vi, kita juga harus pulang, besok masih ada waktu yang melelahkan, sebaiknya kita istirahat, dan menyiapkan tenaga kita."Varo berbicara dengan sedikit parau, karena memang hari ini, hari yang sangat melelahkan baginya, persiapan pernikahan yang serba mendadak, mencari maskawin, serta menghubungi pegawai KUA, dia lakukan sendiri, walau bukan dia yang menyiapkan, tetapi pikirannya benar-benar terkuras seharian ini.
"Baik, tapi saya belum bawa baju ganti tuan."Vienna memandang wajah Varo yang menoleh pada nya.
"Aku sudah siapkan Semuanya dirumah, bahkan baju kerjamu sudah ada, jangan pernah kau bawa baju-baju mu itu dari kontrak an mu." Perintah Varo dengan tegas.
"Baik tuan." Vienna yang tidak mau berdebat pun hanya menurut saja.
Varo menggandeng tangan Vienna, untuk memasuki lift, bahkan tangannya tak pernah dia lepaskan sampai masuk kedalam mobil, entah apa yang ada dipikiran Vienna, yang Varo tahu, dirinya tak ingin kehilangan Vienna untuk yang kedua kalinya.
Berbeda dengan Varo, justru Vienna semakin bingung, sikap bosnya ini sangat membuat jantungnya berdegup kencang, Vienna akui, sejak awal bertemu dengan Big Bos nya itu, dia sudah menaruh hati bahkan sudah sangat mengaguminya.
Namun di tepisnya perasaan itu, karena sikap bossy nya yang membuat dirinya kadang-kadang ilfil, bahkan sering membingungkan. Tapi hari ini, Vienna dapat melihat sendiri dengan mata kepalanya, bahwa Big Bos nya itu, memiliki sisi manja, dan kasih sayang.
Ingin sekali Vienna memeluk Big Bos nya yang sudah menjadi suaminya, entah mengapa, Vienna semakin mengagumi sosok suaminya saat ini.
Namun raut wajah Vienna berubah seketika, ketika teringat dengan kata-kata kak Anggi, yang mengatakan, bahwa suaminya sudah memiliki orang yang sangat di cintai nya sejak dahulu. Vienna semakin menahan gejolak dalam hatinya, sebenarnya dia ingin egois, karena bagaimanapun, Varo sekarang sudah menjadi suaminya, walau Vienna sendiri tak tahu, bagaimana kisah perjalanan pernikahan mereka nantinya, ketika Varo menemukan cintanya kembali.
Lamunan Vienna terputus, kala tangan Varo menyentuh punggung tangan nya, memberi tahu bahwa mereka telah sampai di rumah milik Big Bos nya.
"Vi, kita sudah sampai, ayo turun, akan aku tunjukkan dimana kamar kita." ucap Varo pada Vienna.
Vienna hanya mengangguk dan mengekor Varo dari belakang.
Sesaat pintu Mension yang berukuran besar, berwarna putih, telah terbuka, disana sudah berjajar para maid yang menyambut kedatangannya.
Pak Wahyu sebagai ketua pelayan pun mengucapkan selamat datang dan selamat menempuh hidup baru bagi pengantin baru, yang hanya di jawab dengan anggukan saja oleh Varo, dan secepat kilat, Varo menyuruh dua Maid untuk membantu kebutuhan Vienna.
"Ayu dan Sofia, bantulah nyonya mu untuk bersih-bersih." perintah Varo kepada Ayu dan Sofia.
"Baik tuan muda." Jawab Ayu dan Sofia.
Varo membuka pintu kamar nya, terlihat disana sebuah ruangan besar, yang memiliki tiga pintu, satu pintu di sebelah kanan dan dua pintu disebelah kiri.
Dalam ruangan tengah tersebut terdapat meja makan dan beberapa sofa serta televisi yang besar, sebesar tembok ruangan, yang bisa dikatakan bioskop mini.
Sesaat setelah sampai di kamar mereka berdua, Varo mempersilahkan Vienna untuk mandi dan berganti pakaian, di dalam kamar mandi yang telah Varo siapkan. "Ini adalah kamar mandi pribadi kamu, kapanpun kamu bisa memanggil mereka untuk membantu kamu untuk merawat tubuhmu, semua pakaian sudah aku siapkan, di dalam pintu itu adalah kamar mandi dan wear drobe untuk kamu, dan pintu sebelah kiri adalah kamar kita, dan pintu yang didepan kamar kita, adalah ruang kerjaku, jika butuh apa-apa, aku ada di sana, sekarang mandi, setelah itu solatlah, di sana sudah ada sajadah dan mukena." Varo menunjukkan tempat solat yang biasa dia gunakan.
Tanpa menunggu lama,Varo berjalan masuk ke pintu ruang kerjanya, di susul oleh pak Wahyu, yang mengekor di belakang Tuan mudanya.
Di ruang kerja Varo memang telah tersedia kamar mandi dan wear drobe untuk dirinya, bukan Varo tidak mau satu kamar mandi dengan Vienna, tapi dirinya sudah mempersiapkan, bila suatu saat nanti, semua sama-sama sibuk, dan hanya satu kamar mandi, akan sangat menyulitkan sekali baginya, akhirnya, Varo mewujudkan impian nya untuk membuat kamarnya memiliki dua kamar mandi, yang memang Varo ketahui, jika para wanita akan berlama lama di kamar mandi.
Vienna memasuki ruangan wear drobe miliknya, di ikuti Ayu dan Sofia, Ayu membantu Vienna membuka baju pengantin milik Vienna, sedangkan Sofia, menyiapkan air hangat untuk Vienna mandi.
Setelah melepas semua perhiasan dan atribut baju pengantin miliknya, Vienna masuk kedalam bath up, yang telah diberi aroma terapi bunga mawar putih kesukaan Vienna, yang membuat Vienna betah berlama-lama didalam bath up.
Setelah selesai berendam, dan membilas di bawah shower, Vienna berjalan keluar kamar mandi, dilihatnya Ayu dan Sofia masih setia menunggu nyonya mudanya.
Dengan perlahan vienna membuka seluruh lemari yang ada, Vienna nampak terpukau dengan semua pakaian yang telah disiapkan oleh suaminya, bahkan selera Varo lebih bagus darinya. Vienna membuka lemari pakaian satu persatu, serta laci yang berisi pakaian dalam miliknya terlihat sangat tertata rapi.
Tampak berjejer sepatu dan tas mahal, seperti warna sepatu yang ada, koleksi jam tangan dan dress, semua warna ada di sana, Vienna benar-benar dibuat takjub dengan semuanya.
Saat menelusuri seluruh isi lemari miliknya, yang Vienna heran kan, dirinya tidak menemukan pakaian lingerie seksi seperti bayangan di benaknya, bahkan yang Vienna temukan, piyama mahal berlengan.
Nampak Vienna menghembuskan nafasnya, bersyukur bahwa. malam ini bukan seperti malam pertama seperti pada pengantin umumnya.
Ayu dan Sofia yang melihat nyonya mudanya tersenyum pun ikut tersenyum. Bahkan ayu dan Sofia faham dengan apa yang di dalam pikiran nyonya mudanya, tak ingin penasaran,Sofia, bertanya dengan sangat pelan.
"Nyonya... apa nona bahagia menikah dengan Tuan muda?" Tanya Sofia yang mendapat cubitan dari Ayu.
"Mengapa kamu bertanya kepadaku seperti itu? Memang terlihat ya aku tidak bahagia?" pertanyaan Sofia di jawab pertanyaan pula oleh Vienna.
"Bukan seperti itu nyonya, bukankah pengantin baru, pasti menginginkan malam pertama?" jawab Sofia memberi alasan.