MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
MAAAH TANYA DONG.... IYA DONG



Kak Nelly... aku kangen, bagaimana kabar kamu kak?" Tanya Vienna pada Nelly.


"Aku baik-baik saja Vi, bagaiman dengan kamu sendiri, Ya Allah Vi, aku gak nyangka, dalam waktu sehari saja, kamu bisa menjadi cantik seperti ini, dan bagaimana kamu bisa berada di sini?" tanya Nelly kepada Vienna, yang merasa kepo dengan semua yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Ceritanya panjang, aku janji, aku bakal ceritain sama kakak tapi tidak sekarang, aku pengen sarapan, dari semalam aku belum makan kak." Vienna beralasan.


"Ehemmm.... emang kamu semalam ngapain Vi? apalagi kamu bisa tinggal satu atap dengan Big Bos?" dengan suara lirih Nelly bertanya.


"Aku benar-benar penasaran Lo Vi?


"Aku janji deh, setelah sarapan aku ceritain ke kak Nelly." Jawab Vienna tegas.


Nelly yang sewot, akhirnya menyadari, ternyata yang di katakan Vienna ada benarnya. Melihat sahabatnya terdiam Vienna pun berinisiatif untuk mengajak nya sarapan.


"Ayuk kak, sarapan dulu, laper banget tau..." ajak Vienna pada Nelly.


"Kalau makan makan, gak nolak lah aku, apalagi gratis, senengnya punya sahabat sebaik kamu Vi" Nelly memeluk Vienna dengan erat.


"Vivi juga terimakasih, karena sudah menemani Vivi selama ini, kakak... kalau suatu hari aku kasih hadiah buat kakak, aku harap kakak jangan nolak ya, aku mohon... please... " pinta Vienna.


"Aku lihat dulu, kalau mahal pasti aku tolak... hahahaha... kapan ni sarapannya, aku dah laper ngomong terus sama kamu."


"Ayuk... let's go... kita sarapan sepuasnya... " ajak Vienna.


"Siapa takut..." Nelly menerima tantangan dari Vienna.


Vienna dan Nelly sarapan dengan bahagia, yang diselingi dengan candaan dan suara tawa yang menggelegar di seluruh ruangan, sejenak Vienna dapat melupakan beban dan keresahan yang ada di dadanya.


Suara tawa dari nyonya muda dengan sahabatnya, sampai terdengar di paviliun para maid beristirahat, membuat pak Wahyu dan para Maid yang bekerja di Mension suaminya sangat terkejut, perbedaan sikap dan tingkah laku istri dari Bos mereka, sangat bertolak belakang ketika sedang bersama suaminya..


Setelah Vienna dan Nelly menyelesaikan sarapan, mereka berdua berangkat ke Rumah Sakit, yang diantar oleh Leo, tangan kanan dari Alvaro.


Dalam perjalanan, tak lupa Vienna menceritakan semuanya pada Nelly sahabatnya, Nelly sendiri pun tak menyangka, dalam waktu sehari saja, itik buruk rupa, berubah menjadi angsa yang sangat cantik.


" Vi, apapun alasan pernikahan kalian berdua, aku harap kamu bisa menjadi istri yang baik, dan Sholeha, jadilah istri yang selalu ada untuk suami kamu, terlepas bagaimanapun kalian di pertemukan, namun semuanya sudah TAKDIR ALLAH, jadi jangan pernah menyesalinya. Dan satu lagi, bukalah pintu hatimu untuk suami kamu, cobalah isi hatimu dengan namanya." Pesan Nelly pada sahabatnya.


"Insya Allah kak, Vienna akan menjadi istri yang baik dan Solehah." Jawab Vienna tegas.


Mereka berdua tidak mengetahui, bahwa sebenarnya, leo sudah menelpon Big Bos nya, agar mendengar percakapan mereka berdua dalam mobil, saat melihat CCTV yang terpasang di mobilnya.


" Kakak bisa aja, niru kayak di tv." Vienna dan Nelly tertawa bersama, Leo yang sedang menyetir pun terkekeh mendengar cerita Nelly.


"Mah saya mau tanya, bagaimana caranya menambah kadar mencintai suami, yang sudah lama menikah, kadang-kadang setalah berpuluh-puluh tahun menikah, tidak di pungkiri akan merasa bosan mah." Gaya Nelly menirukan seorang ibu yang sedang bertanya pada mamah Dede.


"Terus jawaban nya apa kak, aku pengen tahu." tanya Vienna yang sangat kepo.


" Kamu tahu jawaban Mamah apa Vi?" Vienna mengerucutkan bibirnya." Di tanya kok malah nanya si kak, hadeeh... jadi males deh." Jawab Vienna melemas.


"Eit.... Jangan marah dong sayang, ternyata jawaban nya sangat mudah Vi, gak perlu berlibur,gak perlu candle light dinner, gak perlu keluar uang, cukup hanya satu, begitu sikata Mamah Dede."


"La bagaimana jawabanya? Nelly membuat Vienna sangat geram.


Sementara Varo di kantor tersenyum sendiri, mendengar dan melihat tingkah, dan percakapan istrinya dengan sahabatnya.


" Tunggu, jangan marah dulu, jawabannya adalah, pandanglah suamimu saat tidur, dari ujung kaki sampai ujung kepala, lihatlah wajahnya yang lelah, karena kecapaian, lihatlah kedua tangannya, tangan itulah yang bergerak, semuanya demi kebahagian kalian, dan lihatlah kakinya, kaki itulah yang melangkah untuk mengais rezeki demi anak dan istrinya." Nelly bergidik ngeri, mengingat bagaiman kehidupan berumahtangga.


"Vi, kenapa kamu tak mencoba nya, saat suami kamu terlelap, pandanglah wajahnya, tangannya, dan kedua kakinya, lakukanlah selama seminggu, aku yakin kamu akan benar-benar mencintai suamimu." Nelly memberi saran pada Vienna.


"Boleh juga tu di coba, tapi aku takut kalau suamiku tidak mencintai aku kak." Terang Vienna pada Nelly.


" Aku rasa, kamu yang gila Vi, mana ada orang yang tidak mencintai kamu, selain cantik, body mu yang bak gitar spanyol, serta kepandaian kamu, membuat semua laki-laki bertekuk lutut padamu" Ucap Nelly


Varo di seberang sana merasa geram, ternyata banyak karyawan di kantornya memiliki perasaan terhadap istri kecilnya.


Vienna sangat terkejut dengan jawaban Nelly." Dari mana kakak tahu? kan Vivi gak pernah berinteraksi sama karyawan yang lain."Vienna sedikit penasaran dengan cerita Nelly, sahabatnya yang selama ini memang suka bar bar.


" Ya Taulah, Wong tiap hari pasti dapat titipan salam dari cowok di kantor, dan satu lagi, ada sebagian dari mereka yang berani bertaruh demi kamu Vi?" Nelly sedikit berteriak.


"Masak kak, kapan? ih.... kakak jangan mengada-ada deh, lagian kan Vivi gak pernah keluar dari ruangan." Vienna sangat penasaran dengan cerita Nelly.


"Kamu mah gak pernah tengok kanan kiri,yang ada di otak kamu itu ya cuma kerjaan dan kertas, masak kamu gak bisa merasakan nya Vi?"tanya Nelly balik.


"Karena yang ada di hatiku, hanya dia, sejak pandangan pertama, aku sudah kagum dan ngefans berat padanya, Kaka kan tahu, bagaimana aku, tak ada yang sempurna selain dia, bahkan saat dia memintaku menjadi istrinya, aku sangat bahagia, aku seperti terbang melayang di atas awan." Vienna masih membayangkan awal mula dia masuk dan diterima di kantor tersebut.


Varo tersenyum sendiri, melihat tingkah istrinya.


"Hahahaha, kamu masih ingat juga, saat pertama kali kamu datang Vi? Kamu benar benar cewek pertama yang di perhatikan oleh Bos langsung, bahkan si bos sendiri yang meminta HRD untuk merekrut kamu menjadi sekertaris nya, aku salut sama kamu, kamu tahu gak Vi? Si Bos itu gak pernah yang namanya melihat wanita, bahkan melirik pun tak pernah, percaya padaku, kamu cewek satu-satunya yang bisa membuat si Bos jatuh cinta."