
Varo, tanggung jawabmu sekarang bukan hanya masalah Perusahaan, namun tanggung jawab terbesar kamu saat ini adalah istri mu, kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban mu di akhirat nanti. Dan jadikanlah Vienna tempat pulang mu, rumah mu, dan sekaligus istri mu" Nasehat kakek pada Varo.
"Untukmu cucuku Vienna, Jadilah istri yang Sholeha, yang selalu siap menunggu suami pulang bekerja, memasak dan merawat anak-anak kalian tentunya, hormati keputusan suami mu dan setiap ada masalah, jangan pernah lari, dan keluar dari rumah."
"Pesan kakek untuk kalian berdua, jangan pernah menunda menyelesaikan masalah, setiap ada masalah yang datang, selesaikan saat itu juga, dan jangan pernah salah satu dari kalian pergi meninggalkan kamar, sebelum masalah selesai, dan satu pesan terpenting adalah JANGAN CURHAT MASALAH KELUARGA KEPADA ORANG LAIN, siapapun itu, dan apabila Varo melakukan kesalahan yang sangat fatal Vienna, dan kamu sudah tidak sanggup menahannya, katakan pada kakek, begitupun sebaliknya, kalau Vienna melakukan kesalahan yang fatal, Varo boleh mengadu kepada Ayah dan ibu Vienna, dan ingat, jangan ke orang lain, kerena itu sangat rentan terjadinya perceraian."
"Baik kek, terima kasih atas nasehat dan wejangan buat kami berdua, doakan kami semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, selalu di berikan keberkahan dan cepat di berikan momongan, amiin." ungkapan Varo dari lubuk hatinya.
Sedangkan Vienna yang mendapatkan wejangan yang sangat dalam pun sangat terharu, dan pasrah, kedepannya keluarga kecilnya akan seperti apa, Vienna tidak tahu.
Pedoman Vienna sekarang adalah mengikuti kemanapun nahkoda akan membawanya berlayar, dari pada melawan arus, dan bersimpangan jalan, semuanya juga demi kedua orang tuanya, dan sekarang, demi kedua kakek dan nenek Varo, entah mengapa, melihat mereka berdua tersenyum bahagia, membuat jiwa kepedulian Vienna tercubit, di umurnya yang sudah renta ini, tentu ingin melihat cucunya bahagia, apapun alasan Vienna sekarang hanyalah pasrah kepada Allah.
🌹
Vienna dan varo berjalan berkeliling, karena memang tidak di siapkan kursi untuk pengantin, sehingga mereka berdua berbincang dengan para tamu dengan berdiri saja, Varo menggandeng tangan Vienna kemanapun dia berjalan, dan Vienna sendiri menyadari, status nya saat ini pun, hanya ikut kemana Varo membawa nya.
Varo mendekati Bu Anggi sahabatnya, juga putri kecilnya, beserta suaminya.
" Hai cantik nya om Varo, sudah besar juga ya?" Sapa Varo pada Salma putri sahabatnya yang berumur 5 tahun.
"Om, sudah tahu Alma cantik, tapi kenapa Om nikah sama Tante itu" jawab Salma yang marah sambil menunjuk Vienna.
Vienna yang tahu ada gadis kecil yang cemburu pun sangat faham, akhirnya Vienna berjongkok, dan mensejajarkan dirinya dengan Salma.
"Maaf kalau boleh Tante tahu? Nama adek siapa? dan apakah adek kekasih dari suami Tante ya?" Tanya Vienna pada gadis kecil di hadapannya, dengan suara selembut mungkin.
"Namaku Salma Tante, tapi aku lebih suka di panggil Alma, dan benar, aku kekasih dari orang itu, dia berbohong, katanya mau nunggu aku besar dan cantik seperti Tante?" Jawab Alma dengan muka cemberut.
"Tuan Varo terhormat, kalau saya tahu anda sudah memiliki seorang kekasih, tentu saja saya tidak akan mau menikah dengan anda, jadi aku mohon mintalah maaf pada kekasih mu ini, aku tak mau bila menyakiti hatinya." Vienna berdiri, dan berpura-pura menangis serta memukuli dada Varo, sambil mengedipkan matanya.
Varo yang melihat kerlingan mata Vienna pun tak luput membuat jantung Varo semakin berdetak kencang, namun dengan segera Varo menguasai dirinya, diapun mensejajarkan tubuhnya mengahadap putri kecil sahabatnya itu.
"Sayang... katanya Alma pengen punya teman bermain, jadi om pengen kasih Alma adek nantinya, biar bisa main sama Alma, kalau om nunggu Alma, Alma gak ada teman dong, jadi maafkan om ya? maukan Alma di kasih adek dari om dan Tante?" tanya Varo pada gadis kecil yang ada di hadapannya.
Tanpa menunggu lama, Alma pun mengangguk dan berkata, " Alma maafin om deh, tapi harus cepet kasih dedeknya, kalau nggak nanti Alma marah sama om, baiklah... sekarang Alma main nya sama Tante aja, yuk Tante, jangan dekat-dekat sama om, suka bohong soalnya." jawab Alma dan menggenggam tangan Vienna meninggalkan Ayah dan bundanya, dan juga om nya.
"Yah.... om gak di anggap sekarang, nasib nasib, Alma, tunggu om sayang." Varo masih melanjutkan dramanya.
"Nggak mau, om suka bohong, Tante ingat ya, jangan pernah percaya sama om, dia suka bohong, katanya mau beliin boneka Teddy, tapi sampai sekarang belum di beliin juga."Adu Alma pada Vienna.
"Ya sudah, sebagai tanda pertemanan kita, bagaimana kalau Tante yang beliin Alma boneka Teddy?" tawar Vienna pada Alma.
"Baiklah, aku tunggu ya, jangan bohong ya Tante." ucap Alma dengan penuh sayang.
"Insya Allah,Tante akan menepati janji, karena Tante juga tidak suka di bohongi." Vienna tersenyum pada gadis kecil itu.
" Alma sayang... banget sama Tante cantik." Alma memeluk vienna. Vienna pun membalas pelukan Alma.
Bu Anggi menepuk bahu Varo, dan membarinya nasehat. "Bro... kode keras, kalau istrimu juga tidak mau kamu berbohong, maka dari itu, katakan semuanya, sebelum terlambat, biarkan dia memilih jalan hidup nya, untuk tetap ada di sisimu atau pergi darimu." tegas Anggi pada Varo.
"Untuk pergi dariku mungkin sudah tidak ada lagi dalam pikirannya, namun untuk mencintai aku yang mungkin susah untuknya, aku akan menunggu hari itu, dimana dia sendiri yang akan menyatakan cintanya padaku,dan menjadi istriku seutuhnya." Tutur Varo dengan segenap hati.
"Kalau itu lama, apa kau akan sanggup menunggu nya?" Selidik Bu Anggi pada Varo.
"Aku akan menunggu nya, kamu meragukan aku Anggi, bukankah sudah lima belas tahun aku menunggu dia?" Varo menatap lekat Sabahat nya itu.
"Itu dulu bro, dan dia tidak ada di dekatmu, sekarang kamu selalu melihat Vienna, setiap hari setiap saat, di rumah dan di kantor, apa kamu akan tahan?" Ledek Anggi kepada sahabat bodohnya itu.
"Arrgh... kamu jadi merusak otak ku saja, kumohon Anggi, jangan di teruskan, terus terang, aku sudah tak sanggup bila memandang wajahnya, dekat dengannya, bahkan melihat senyuman yang masih sama seperti lima belas tahun yang lalu." Varo menahan tawanya, karena merasa malu melihat Anggi sahabatnya itu tahu kegelisahan dirinya selama 5 bulan lebih ini.
"Hah... sudah kuduga, kamu pasti akan BUCIN banget sama Vienna, dan akan over protective padanya, aku harap kamu bisa menentukan langkah apa yang akan kamu ambil nantinya." Anggi menepuk pundak sahabatnya.