MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
BAHAGIA VERSI KAMU



Varo yang memang sejak subuh, belum tidur pun terkapar lelah, niat hati ingin jahili suaminya, namun Vienna terkejut, mendengar suara dengkuran halus dari suaminya yang tertidur pulas.


Ibu yang melihat Vienna seperti sedang ingin menjahili suaminya, dengan secepatnya menepuk pundak Vienna.


Plak... " Suami tidur mbok ya jangan di ganggu, nggak kasian apa?" tanya Ibu dengan suara lirih.


"Nggak kok Bunda, Vienna lagi perhatiin si Bos, ternyata kalau tidur ngorok juga, hihihi."


"Dosa Lo Vi, gitu gitu juga suami kamu, semua yang kamu pakai, dari kerja keras suami kamu, jangan menghina, ingat! secapek capeknya suami, bila melihat istri bahagia, sudah lebih dari bahagia, karena ada suatu kebanggaan tersendiri, bila melihat orang yang kita cintai bahagia dan tersenyum." Nasehat bunda pada Vienna.


"Vienna akan selalu tersenyum Bunda, agar dia bahagia, ternyata bahagia itu sederhana, tidak perlu harta melimpah, tapi cukup kita merasa nyaman dan aman berada dalam dekapan orang yang kita sayangi." ungkapan rasa hati Vienna yang memang sangat bahagia, dengan melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua orangtuanya.


"Raihlah kebahagiaan mu, dan selalu ingat, carilah kebahagiaan yang sesuai dengan caramu sendiri, jangan melihat atas, bawah dan menengok kanan ataupun kiri, tapi bahagia versi kamu, itulah yang namanya kebahagiaan yang hakiki." terang Ibu pada Vienna.


"Sebenarnya kebahagiaan Vienna cukup sederhana Bunda, dengan melihat ayah dan Bunda bahagia dan tersenyum, disanalah Vienna bahagia, karena bahagia Vienna adalah kebahagiaan kalian, jadi Vivi harap, Ayah dan Ibu juga bahagia." harapan Vienna pada sang Ibu.


"Tentu saja Bunda sangat bahagia." Bunda memeluk Vienna dan mengecup ubun-ubun Vienna.


Terdengar sayup-sayup adzan asar, Bunda dan Vienna tersentak, sembari melihat jam tangannya, mendengar suara azan, namun Vienna merebahkan tubuhnya di sofa.


"Denger suara adzan kok malah tidur Vi? bukanya solat?" Ibu memperingatkan Vienna.


"Vi lagi dapet Bunda, sejak tadi pagi." jawab Vienna


" Suami kamu gak kamu bangunin untuk solat? tugas seorang istri, jika suaminya sedang tidur, dan sudah masuk solat, apapun alasanya wajib membangun kannya. Karena solat itu wajib."


" Hust, kamu itu sama suami panggilannya mbok jangan si Bos, Bunda kan sudah bilang, hormati suami kamu, panggil dia dengan sopan, ya sudah lah biar Bunda saja yang bangunkan suami kamu." terlihat Vienna menutup matanya dengan bantal sofa.


Sebenarnya Vienna masih malu untuk memanggil Hqbibi pada suaminya, debaran jantung Vienna sangat tidak karuan, mungkin Vienna harus pergi ke Dokter jantung untuk menetralkan nya.


Perlahan Bunda menepuk bahu menantunya, Varo yang tertidur lelap pu sangat terkejut, kala mertuanya yang membangun kan dirinya, walau bagaimana pun Varo sanagt menghormati mertuanya.


"Ah... Bunda, maaf Varo ketiduran, Vivi di mana Bunda?" tanya Varo.


"Itu tiduran di sofa, aku suruh dia bangunin kamu untuk solat, kok malah gak mau." Ungkap Bunda.


"Ah iya Bunda, Varo ambil wudhu dulu.” Varo berjalan ke dalam kamar mandi, dan mengambil air wudhu, setelah itu, duduk di depan Vienna, membangunkan nya agar ambil air wudhu juga.


"Vi... bangun ambil air wudhu sana, solat asar, sudah adzan, Vi... cepet aku tunggu ya." Ucap Varo membangunkan Vienna.


Vienna yang malu, tetap berpura pura tidur, namun Varo yang gemes karena Vienna tak kunjung bangun pun semakin mendekat, bahkan bantal yang menutupi wajahnya sudah di ambilnya, dan menggoda nya.


"Vienna sayang... ayo solat, mau aku gendong ni ke kamar mandi?" Goda Varo pada Vienna.


Vienna sungguh terkejut dengan panggilan sayang dari Varo, hatinya sungguh berdesir, perasaan apa ini, mengapa seperti tersengat lebah yang menyakitkan, tapi menyenangkan.


"Kok diam saja sayang? ayodong solat berjamaah, biar lebih banyak pahala nya." Ajak Varo.