
Vienna sungguh terkejut dengan panggilan sayang dari Varo, hatinya sungguh berdesir, perasaan apa ini, mengapa seperti tersengat lebah yang menyakitkan, tapi menyenangkan.
"Kok diam saja sayang? ayo dong solat berjamaah, biar lebih banyak pahala nya." Ajak Varo.
Ibu yang melihat Varo membangunkan Vienna, langsung mencegahnya.
" Biarkan saja Vienna tidur nak Varo, lagi dapet soalnya." tutur Bunda.
"Oh .. ya sudah, Bunda mau kemana?" tanya Varo pada ibu mertua nya.
"Mau ke musholla, dekat sini, kamu mau ikut? mumpung belum iqomah, Deket kok, Nelly aja sudah di sana sejak tadi." jelas Bunda pada Varo.
"Baiklah Bunda, Varo ikut ke Mushola saja, Vi saya ke Mushola, jaga Ayah ya!." ungkap Varo.
Varo pun ikut berjalan, mengekor di belakang ibu mertua nya, menuju Mushola di Rumah Sakit.
15 menit sudah mereka bertiga meninggalkan ruangan ayah Vienna di rawat, Vienna yang awalnya hanya pura-pura tidur, ternyata tertidur pula.
Sesaat setelah Hunda, Varo, dan Nelly kembali ke ruangan ayah, nampak ayah sedang menggerakkan jari-jari nya, bahkan kelopak matanya pun sedang mengerjap, Bunda menghampiri sang suami tercinta, dan dengan secepat kilat, Bunda memencet tombol darurat memanggil para Dokter.
Tak beberapa lama, Dokter Aldo yang menangani operasi ayah pun datang, memastikan keadaan ayah, dan memeriksa kembali, apakah ada komplikasi atau kegagalan, namun saat ini, kondisi ayah sungguh stabil, sehingga Dokter pun bernafas lega.
"Bagaimana Ayah kami Dok? apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Varo pada Dokter Aldo.
"Alhamdulillah, tuan Sam sangat hebat, rasa ingin sembuhnya sangat kuat, bahkan kekebalan tubuh nya, membentuk anti body, yang membantu penyembuhan luka dalam tubuhnya." Penjelasan dokter Aldo.
"Alhamdulillah, semoga saja cepat sembuh." ucap syukur Bunda di depan Varo, Nelly serta Dokter Aldo.
Setelah selesai memeriksa kembali ayah Vienna, Dokter pun meninggalkan ruangan ayah Vienna, karena harus kembali ke meja prkatik nya.
Ayah tersenyum memandang ketiga orang yang ada di sana, mengerti apa yang di cari ayah Vienna, Bunda pun memberitahu suaminya, bahwa Vienna sedang tertidur di spring bed yang ada di ujung ruangan.
"Vienna ketiduran Ayah, lihat... dari pagi nangis terus, mau aku panggilin Vienna sekarang Ayah?" tawar Varo pada ayah mertuanya.
"Nggak usah nak Varo, biar saja dia istirahat, nanti juga bangun, betul tidak Bunda?" jawab Ayah pada Varo.
"Iya, anak itu kalau kecapekan dimanapun bisa tidur, nggak melihat tempat." Terang Bunda.
Yang di jawab dengan anggukan oleh Nelly.
Seperti biasanya, setiap orang yang melakukan operasi, tidak diperbolehkan minum ataupun makan terlebih dahulu, menunggu sampai keluar angin.
Sudah hampir 2 jam Vienna tertidur, sedangkan Varo meninggalkan ruangan ayah mertuanya, karena pukul 7 malam nanti Varo ada meeting di sebuah cafe, sehingga membuat Varo bergegas pergi setelah memastikan kondisi ayah mertuanya baik-baik saja.
Tepat pukul 5 sore, Vienna terbangun dari tidurnya, dia sungguh merasa lebih fresh, badannya yang sakit karena awal datang bulan, membuatnya nyenyak tidur selama 2 jam.
Vienna melihat ayah dan Bundanya sedang berbincang serius, Vienna bangkit dan menuju kamar mandi, untuk membasuh mukanya, setelah selesai, Vienna bergegas menuju brankar milik sang ayah.
"Ayah... Bunda... kenapa nggak bangunin Vivi, maaf Ayah nggak lihat Ayah siuman tadi, Vivi ketiduran."
"Vivi sangat kecapekan, di tambah lagi badan sakit karena baru dapat Bunda, jadi gini... ketiduran deh" ungkap Vienna.
Melihat Nelly yang menemani Vienna sedari pagi, Bunda merasa kasihan, sehingga Bunda merasa tidak enak dan sangat merasa kasihan.
"Nak Nelly, kamu pulang saja, terima kasih sudah membantu dan menemani kami, biar di antar sama pak Leo."Ucap Bunda kepada Nelly.
"Nggak apa apa Bunda, nanti Nelly naik taxi online saja, biar gk ribet bolak balik." jawab Nelly.
"Nggak apa-apa kok Nelly, aku juga minta tolong, bawain baju-baju aku yang ada di kosan aku ya, mungkin aku gak pulang deh, kasihan Bunda sendirian, sudah 2 hari gak tidur, aku juga akan ijin cuti kok, jangan khawatir." ungkap Vienna.
"Yasudah, kalau begitu Nelly pamit dulu Ayah, Bunda, Vi." pamit Nelly pada mereka.
"Hati-hati ya Nell" ucap mereka serempak, yang di balas anggukan oleh Nelly, Nelly pun meninggalkan ruangan Ayah, yang di ikuti oleh Leo.
Sebenarnya Varo sendiri mengerti, bahwa Vienna pasti tidak akan pulang ke rumah sebelum ayahnya sehat dan diperbolehkan pulang. Sehingga Varo sudah menyiapkan satu kamar lagi di sebelah ruangan ayah mertuanya. Vienna tidak menyadari perhatian yang Varo berikan, bahkan seluruh kebutuhan Vienna saat ini, sudah Varo siapkan, hanya saja memang belum adanya komunikasi yang intens diantara mereka.
Disaat mengantar Nelly, Leo yang mendapat perintah dari Vienna untuk mengambil pakaian Vienna dari kos-kosan Nelly pun memberi tahu kepada Big Bos nya, apakah di ijinkan atau tidak. Dengan tegas Varo melarang nya, karena semua kebutuhan Vienna sudah disediakan di kamar sebelah.
Varo yang merasa gemas pun menelpon Vienna.
"Halo sayang... apa kabar, maaf gak pamit sama kamu, kamu tidur nyenyak sekali."
"Waalaikum salam, kabar Vivi baik-baik saja, iya tadi sedikit nggak enak badan, maaf nggak antar Bibi ke kantor tadi." ucap Vienna malu.
"Tidak apa-apa, asal kamu sehat saja, aku sudah bahagia." ucap Varo.
"Terima kasih atas..." Belum sempat Vienna menyelesaikan kalimatnya, Varo sudah memarahinya.
"Sudah aku bilang, jangan mengambil pakaian yang ada di kos-kosan kamu, aku sudah siapkan kebutuhan kamu di kamar sebelah, disana ada baju-baju aku juga, jadi nanti aku nggak pulang kerumah, melainkqn langsung pulang ke sana juga, nanti aku kabari ya." Ucap Varo yqng terdengar sedikit marah, baulan telepon di tutup sepihak oleh Varo.
"Huff.. SULTAN MAH BEBAS" Gumam Vienna dalam hati.
Vienna menutup sambungan teleponnya, dan meletakkan di dalam tas kecilnya.
Seumur hidup Vienna, baru sekarang ini dirinya merasa sangat di manja kan, bahkan sanga Ayah pun tak pernah memanjakannya, bukan tak mau, namun karena sikap kedisilinan Ayahnya, membuat Vienna tumbuh menjadi gadis yang kuat, tangguh dan bertanggung jawab.
Dalam kamus hidu Vienna, kehidupan ini sangatlah keras, banyak orang belomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, bahkan mereka bisa saja menempuh jalan pintas, yang membahayakan dirinya, asal semua keinginan dan cita-cita nya terwujud.
Namun mereka melupakan bahwa diatas semua itu, Takdir Tuhan tidak bisa di ubah kecuali dengan usaha dan doa, bukan jalan pintas yang menyesatkan.
Vienna selalu berdoa, semoga suaminya bukan termasuk orang yang serakah dan menghalalkan segaa cara untuk keberhasilan dan kejayaanya.
Baca juga Demi ayahku aku menikah