
Sementara Varo menelpon nenek dan kakeknya untuk melamar Vienna kepada kedua orangtuanya, yang ada di Rumah Sakit miliknya, dan tugas Leon serta Tiger adalah, membuat Restoran yang ada di depan kantornya menjadi tempat yang paling romantis.
Vero sendiri meninggalkan kantor untuk mencari cincin, serta gaun yang akan di berikan kepada gadis pujaannya.
Vienna sendiri seperti orang gila, tersenyum-senyum sendiri,dirinya tak menyangka, Dewi Fortuna berpihak padanya. Seorang CEO dingin dan Arogan serta cuek bebek itu akan melamarnya, dalam mimpi pun Vienna tak pernah membayangkan akan menjadi istri nya, atau bahkan menjadi kekasihnya saja Vienna tak akan berani.
Kepergian sang Big Bos, pada jam kerja, dengan senyuman yang selalu mengembang, suatu hal yang langka, dan satu hal yang membuat penasaran seluruh karyawan adalah, Big Bos setiap bertemu dengan karyawannya selalu tersenyum, siapapun orangnya, kejadian aneh pada hari ini, membuat seluruh karyawan yang berpapasan dengan Big Bos, seakan-akan mendapatkan undian berhadiah.
Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Nelly yang biasanya tidak menunggu kedatangan seniornya, sekaligus teman sekamarnya, namun berbeda dengan hari ini, Nelly berniat untuk menemui sahabatnya di ruangannya. Nelly mengetuk pintu ruangan sekertaris, dan asisten pribadi big bos.
Tok
Tok
Tok
Karena tak ada suara yang menyuruhnya masuk, dengan terpaksa Nelly membuka pintu, seketika itu pula, Nelly terkejut, karena gadis yang di carinya saat ini, sedang tersenyum-senyum sendiri, bahkan Vienna tak menyadari kehadiran sahabatnya itu. Nelly akhirnya menyentuh bahu milki sahabatnya itu. Karena terkejut, Vienna menjerit.
" Auuu.... hah hah hah..."
" Makanya... jangan ngelamun, pintu di ketuk dari tadi gak nyahut sama sekali, giliran di panggil dari tadi gak noleh, kamu kenapa si dek? sudah dapat pinjaman uang dari perusahaan?"Nelly sedikit tertawa dengan sahabatnya itu, karena Vienna masih bisa tertawa dengan masalah yang dihadapi nya saat ini.
" Entahlah, aku bingung kak, apakah keputusan ku ini benar atau tidak?" Vienna menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat.
" Mau berbagi kesedihan atau kesedihan padaku? kalau boleh si, tapi kalau enggak ya... gak apa-apa kok." Nelly menepuk pundak Vienna sahabatnya.
" Baiklah, tapi kakak jangan mentertawakan aku ya? aku malu, dan jangan bilang sama siapapun, janji..." Vienna menyodorkan jari kelingkingnya untuk di kaitkan dengan kelingking Nelly sahabatnya.
" Iya... aku janji... Ayuk kita makan siang, kita ke cafe depan ya?" Nelly mengajak Vienna ke cafe ABRAHAM yang ada di depan Kantor.
" Baiklah, kita cari yang pojokan aja ya kak, yang sepi, biar aku gak malu saat bercerita." Vienna menggandeng tangan Nelly dengan lembut.
" Ok, buat adikku yang satu ini, apa sih yang enggak." Keduanya tertawa bersama.
hanya dalam waktu 5 menit saja mereka berdua sudah sampai di restoran yang ada di depan kantor, karena akses jalan layang yang dibuat oleh kantor
untuk menghubungkan antara kantor dan restoran, sangat memudahkan para karyawan kantor yang ingin makan siang ke restoran, tanpa harus turun dan menyebrang jalan raya, sehingga menghemat waktu dan tenaga mereka.
Setelah sampai di restoran, mereka berdua duduk di pojok kanan, yang menghadap gedung sebelah, sehingga tak banyak orang yang berada di sebelah mereka, berbeda dengan sebelah kiri, berhadapan langsung dengan taman anak anak, yang di bangun oleh Perusahaan ABRAHAM, untuk masyarakat umum yang membutuhkan refreshing.
" Vie, kamu sangat beruntung sekali, baru 2bulan bekerja sudah di ajak nikah sama Big Bos, sedangkan banyak para karyawan cantik lainya yang mengharap dilirik sama Big Bos, tapi tak pernah mendapatkan."
Nelly menggoda Vienna.
" Terima kasih, dan aku juga sangat terkejut, padahal Big Bos tak pernah menampakkan perasaannya saat aku di depan dia." Vienna memandang jauh kearah meja paling depan, dilihatnya Big Bos berjalan bersama kedua asistennya. Nelly yang melihat Vienna tertunduk pun menoleh ke arah mata Vienna saat ini.
Nelly terkejut, Tiga orang yang sama sekali tak pernah makan di restoran nya sendiri ini, membuat heboh para pengunjung restoran, selama mereka bekerja, belum pernah mereka melihat, Big Bos nya makan siang di sini.
" Dek... kayaknya Big Bos memang sudah bucin sama kamu, bahkan dia datang kemari hanya untuk menemui kamu dek, kamu benar benar-benar istimewa di hatinya dek." Nelly menyenggol sahabatnya yang sedang menunduk.
" Kak, jangan bercanda, kalau benar dia datang untuk aku, biar aku saja yang mentraktir kakak." Vienna masih menunduk dan tak mau memandang Big Bos nya.
Saat berada dekat dengan Vienna, Vero tersenyum manis padanya, bahkan Nelly sendiri tak percaya, bos nya yang pendiam dan Arogan itu bisa bertekuk lutut pada Vienna.
Ketiga orang tersebut berjalan menuju ruang VVIP yang ada di gedung sebelah.Tak beberapa lama, seorang winters memberikan sepucuk kertas, yang berisi tulisan Vero.
"Aku tunggu di ruang VVIP NO 12"
"Pergilah, aku menunggu kamu disini." Sembari mengusap punggung tangan Vienna.
" Aku nggak mau, aku takut, kakak temani aku ya, maaf, katakan pada bos mu, bagaimana kalau Aku mengajak sahabatku?" Vienna menggenggam tangan Nelly sahabatnya.
" Baik nona, saya akan menelpon beliau." Sembari menelpon ke ruang 12. Selang 2 menit sang waiters mengajak mereka berdua ke ruangan VVIP.
" Mari nona ikut dengan saya, dan hanya dompet dan tas saja yang boleh di bawa, untuk makanan, jangan khawatir, di sana sudah di sediakan, jadi tinggal makan saja." panjang lebar penjelasan Waiters kepada kedua gadis tersebut.
Akhirnya, Vienna dan Nelly mengikuti langkah kaki Waiters yang diutus oleh Big Bos nya.
Sampai di ruang VVIP 12, Vienna dan Nelly di suruh masuk,dan menunggu mereka bertiga datang.
Setelah Lima menit Vienna dan Nelly menunggu kedatangan Vero, akhirnya orang yang ditunggu tunggu pun telah tiba. Vienna dan Nelly pun berdiri dan membungkuk kan badannya.
" Maaf menunggu lama, baru saja selesai meeting di restoran ini, oh ya Vie, apa kamu bersahabat dengan Nelly? dari divisi mana kmu Nelly?" Vienna hanya mengangguk, sedangkan Nelly sangat terkejut, Big Bos nya yang Arogan dan cuek, bisa bisanya selembut ini pada Vienna.
" Saya dari divisi keuangan pak." sembari menundukkan kepalanya.
" Vie, apa kamu sudah bercerita kepada Nelly?"Vienna yang merasa bersalah pun hanya mampu mengangguk anggukkan kepalanya.