MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
PLEASE MARRY ME RIGHT NOW



Pada kenyataannya hari ini memang sangatlah panjang, bukan hanya bagi Vienna, ternyata Varo juga merasakan nya, setelah berbincang dengan sahabatnya Anggi, Varo melihat jam di pergelangan tangan kiri nya, disana masih menunjukkan pukul empat sore, masih tiga jam lagi untuk Varo melihat kekasih hati nya, bahkan sedetik saja, rasanya satu tahun baginya.


Varo meraih handphone nya, menanyakan apakah Vienna baik-baik saja, dan juga menyuruh Leo untuk mengganti dress yang akan di pakai Vienna dalam acara nanti malam.


Awalnya Varo memilih kan Vienna dengan dress di bawah lutut, dengan dada terbuka, namun karena adanya perubahan rencana, Varo menggantinya dengan baju pengantin modern, dress berlengan panjang, dan Dengan manik manik, serta hiasan kepala yang indah, sudah Varo siapkan, dan siap dikirimkan menuju alamat yang Varo berikan, tepatnya di salon dan spa CLINIC CANTIKA.


Varo terlihat sangat bahagia, karena rencananya segera akan terrealisasikan, dirinya bahkan sudah tidak sabar lagi untuk melihat bagaiman reaksi gadis kecil nya itu, marah atau diam, atau bahkan berteriak.


Berbanding terbalik dengan Varo, Vienna yang awalnya merasa berkecil hati, sekarang merasa lebih baik, saat ini Vienna sedang menikmati perawatan yang komplit di tempat yang rekomended, benar kata Big Bos nya, dia harus memanfaatkan waktunya disini, rasa nyaman dan rileks, membawanya terlupa akan tujuan dan kenyataan yang akan terjadi nanti.


Selesai melakukan Spa di seluruh tubuhnya, Vienna diajak untuk berendam di bak mandi yang berisikan rempah rempah yang sangat membuat tubuhnya rileks dan aroma terapi yang sangat membuat nya merasa nyaman, dengan sedikit pijatan di kepala Vienna, Vienna merasakan yang namanya menjaga keindaha tubuh memanglah membutuhkan uang yang banyak, dan tak di pungkiri pula, ada harga ada rupa, disini Vienna mengerti, mengapa banyak artis yang bersedia mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk menjaga keindahan tubuhnya.


Disaat Vienna sedang berhayal, datang seorang petugas, yang mengingat kan bahwa sudah pukul 5 sore, dan meminta untuk segera mandi, agar tepat pukul 7 malam nanti Vienna sudah selesai dengan ritual yang di lakukan.


" Maaf nona, sudah jam 5 sore, sebentar lagi akan Maghrib, lebih baik nona untuk mandi sekarang, dan saya sudah menyiapkan semua keperluan anda nona, silahkan masuk shower."Pinta mbak Kia pelayan Spa, sembari mengulurkan tangannya kepada Vienna.


"Maaf ya mbak Kia, saya keenakan, terimakasih." Vienna menerima uluran tangan mbak Kia, untuk keluar dari buth up.


Setelah mandi di bawah guyuran air hangat dari shower, Vienna berjalan menuju tempat make up, disaat azan magrib berkumandang, Vienna meminta ijin untuk melakukan solat terlebih dahulu. Setelah selesai solat, Vienna kembali melakukan make up yang tertunda.


Tepat pukul 6.45 Vienna sudah selesai di make up, dan bertepatan pula telepon dari Big Bos masuk.


"Halo, assalamualaikum..." Vienna mengucapkan salam pada Varo.


"Waalaikum salam, Vi, apa kah kamu sudah selesai?" Tanya Varo dengan tegas.


"Sudah pak, saya akan berangkat sekarang." Jawab Vienna.


" Ya sudah, keluarlah, Leo masih setia menunggu mu." Varo pun memutuskan sambungan telepon nya.


Vienna yang memang sudah selesai pun bangkit, berjalan keluar, menuju mobil yang sudah menunggu di depan salon.


Tepat pukul 7 malam Vienna masuk ke ruangan yang telah di tuju. Vienna tidak tahu, gedung apa yang di datanginya, karena akses jalan yang di lewati tak seperti biasanya.


Sesaat setelah Leo membuka pintu ruangan, Vienna terkejut, karena lampu semuanya padam, namun, beberapa detik kemudian, terdengar suara derap langkah kaki, perlahan namun pasti, Vienna tahu, bahwa ada seseorang yang telah mendekat padanya.


Vienna mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya, bila saja kejadian yang tidak di inginkan terjadi, namun saat seluruh keberanian dan kekuatan terkumpul, lampu dalam ruangan menyala.


Pandangan Vienna tertuju kepada seseorang yang membawa nya jauh dari kehidupan normalnya, Vienna juga tertegun dengan penampilan Big Bos nya, memakai tuxedo berwarna putih, sama persis dengan warna baju yang dipakainya.


Melihat tidak adanya pergerakan diantara keduanya, Ayah Vienna pun memanggil nya.


"Vivi... apa kabar nak... sehari ini kamu gak kangen sama ayah ya?" Vienna sangat terkejut, terlihat ayah dan ibunya sudah berada di sana, di sebelah brankar Sang ayah,sudah ada nenek dan kakek dari Big Bos nya.


Vienna berjalan menghampiri mereka, Vienna mencium tangan dan memeluk ayahnya dengan sedikit terisak, berganti memeluk sang Ibunda yang selalu ada di sisinya, dalam suka maupun duka.


Vienna menumpahkan seluruh keresahan hatinya sejak 2 hari lalu, setelah puas, akhirnya Vienna melepaskan pelukannya dari sang Ibunda, dan menatap manik mata keduanya, terlihat sorot mata kebahagiaan di sana, bahkan sang ayah terlihat sangat ceria dari sebelumnya.


Ibu menuntun Vienna untuk menyalami kakek dan nenek dari Calon suaminya. Perlahan Vienna mencium dan memeluk sang nenek, dan begitu pula kepada sang kakek. Kakek tersenyum, sedangkan nenek sudah pasti menangis, bahkan keduanya tak mampu berkata apa-apa. Keheningan tercipta kembali di ruangan yang penuh dengan bunga mawar putih kesukaan Vienna, nampak indah bak ruangan yang pantas menjadi tempat akad nikah, bukanlah untuk lamaran.


Setelah drama salam menyalam berakhir, Varo mengambil alih acara. Varo membawa satu buah kotak beludru yang berwarna hitam, Varo mendekati Vienna, dan menggandengnya, agar berdiri tegak di depannya, Saat ini, Varo sudah mengumpulkan seluruh tenaganya, agar mampu menguasai dirinya yang sangat nervous.


Dengan suara terbata-bata, Varo melamar Vienna untuk menjadi istrinya saat ini juga.


"Vienna... aku bukanlah lelaki yang romantis, dan pandai berkata manis, dengan segenap kekuatan di hati, aku ingin bertanya padamu do... you... Will... to... marry... me... now?" tutur Varo dengan terbata bata.


Vienna yang sedikit terkejut bertanya"What you say?


"PLEASE MARRY ME RIGHT NOW"


Vienna menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ternyata Big Bos nya yang gila dan super sengklek ini, mengajaknya menikah saat ini juga, memangnya menikah itu gampang? pikir Vienna.


Sesaat kesadaran Vienna kembali, dan menoleh kepada kedua orangtuanya yang ada di sebelahnya, nampak Vienna mencari dukungan dari keluarga yang sangat disayanginya.


Terlihat senyuman dari kedua orang tuanya, yang menambah kecurigaan Vienna, karena tampak di matanya, sang Ayah dan Ibu, sangat merasa bahagia, bukan Merasakan keterpaksaan ataupun ancaman


Setelah mendapat persetujuan dari kedua orangtuanya, Vienna menatap kembali laki-laki yang benar-benar membuat dirinya jungkir balik dalam sehari ini, entah apa yang ada di dalam benak sang Big Bos nya saat ini.


Hilang sudah rencana Vienna, untuk kembali ke desa, setelah kesembuhan sang ayah, dan membayar lunas hutang-hutangnya pada big Bos nya, dalam benak Vienna, ternyata uang lebih berbicara dari pada cintanya.


Sebenarnya Vienna ingin menawarkan pernikahan ini dengan pernikahan kontrak, tapi semuanya berubah,karena memang Varo tidak pernah bercanda dalam memutuskan sesuatu, sehingga Vienna pun sedikit banyak faham dengan karakter dari Varo.


Varo membuyarkan lamunan Vienna, dengan sentuhan lembut di tangan Vienna.


Dengan reflek Vienna menatap Varo dan......