
" Maaf saya ingin bertanya, uang sebanyak itu, mau kamu pakai untuk apa? kamu tahu kan, kalau setiap pegawai disini yang akan meminjam uang perusahaan di atas 20 juta, syarat minimum bekerja 2 tahun lebih, dan gaji perbulanya diatas 10 juta."
" Maaf pak, saya tahu, tapi keadaan ini sangat mendesak, saya membutuhkan uang ini untuk operasi penyumbatan pembuluh darah di kepala ayah saya tuan Leon, bukan untuk befoya foya." tanpa Vienna sadari, air mata yang sedari tadi di tahannya, akhirnya jatuh juga.
Vero sangat terkejut, Vienna meminta pinjaman bukan untuk dirinya, melainkan untuk Ayahnya, akhirnya Vero mengangkat tangan, agar kedua asistennya untuk diam.
Dengan perlahan Vero menyodorkan sebuah sapu tangan warna biru pada Vienna, namun dengan acuhnya Vienna mengambilnya tanpa melihat siapakah orang yang memberinya. Disekanya air mata yang mengalir di pipi chubby nya itu tanpa malu.
" Aku akan memberikan uang yang kamu butuhkan, tapi dengan satu Syarat..." seketika Vienna menoleh ke sumber suara. Vienna sangat terkejut Dengan manik mata yang terlihat sangat besar, karena berada dekat dengan matanya.
" Ma- maksud ba- bapak..."Vienna tergagap dengan pertanyaannya.
" Kamu akan mendapatkan uang sebanyak yang kamu inginkan, tapi dengan satu syarat saja, dan itupun kalau kamu mau." Vero melangkah meninggalkan Vienna yang berdiri mematung.
" Maksud bapak sa..saya akan mendapatkan uang pinjaman dari Bapak, dengan satu Syarat?" Vienna memperjelas kata-kata yang diajukan Big Bos nya.
" Pinter banget, hanya satu syarat, dan Akau ingin kamu melakukannya dengan sepenuh hatimu." Vero mulai mendekati Vienna yang sudah berkeringat dingin.
" Kalau boleh tahu, apa Syarat yang harus aku penuhi pak, kalau saya sanggup akan saya lakukan, demi ayah saya, apapun akan aku lakukan.' Vienna mulai menitikkan air matanya, dan sesenggukan.
" Aku tidak akan memaksamu, aku beri waktu 2jam, untuk menjawabnya." Vero sedikit menurunkan suaranya, melihat gadis pujaannya menangis.
" Kalau boleh saya tahu, syarat apa yang harus saya penuhi pak, agar saya bisa memikirkan nya dengan matang." Vienna menyeka air matanya, dan menarik napas nya dalam-dalam, lalu mengeluarkan nya. ( lama banget, ngocehnya, syarat nya apa, dari tadi gak disebut-sebut, jadi makinbete ni) suara hati Vienna.
" Aku ingin kamu menjalankan syarat ini, dengan sepenuh hati, dan tanpa terpaksa, karena aku tak ingin kehidupanmu penuh dengan air mata. Aku berikan waktu 2 jam, dan hanya 1 kali kesempatan kamu, tak ada kesempatan kadua, dan ingat... persyaratan ini hanya berlaku untuk kamu saja, tidak ada yang lainya. Dan... apapun keputusan kamu, aku berharap, jangan pernah merubah kinerja kamu. Aku menghargai apapun itu." Vero memegang pundak Leo dan memegang dadanya. Leo mengusap pundak Big Bos nya, dengan lembut.
" Baiklah, aku akan berusaha, dan katakan apa persyaratannya, agar aku bersiap menghadapinya." Vienna makin penasaran, dengan syarat yang diajukan Big Bos nya.
" Syarat nya adalah.... JADILAH ISTRIKU Vienna."
Vienna terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tanpa sadar, pandangan matanya bertemu dengan sorot mata Vero, disana Vienna melihat adanya kesungguhan dan ketulusan dari Big Bos nya, Vienna hampir saja terjatuh, karena terkejut.
Vero menuntun Vienna untuk duduk, dan memberikan botol air mineral tersebut kepada Vienna. Sedangkan Vienna sendiri masih tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
Vienna mencoba menetralkan jantungnya, setelah Vienna meminum air mineral yang diterima dari Big Bos nya. Raut kekecewaan atau keraguan nampak di wajah Vienna saat ini, berbagai pertanyaan dan kebimbangan dalam hatinya, karena waktu yang di berikan sangat singkat, akhirnya Vienna mencoba mencari tahu arah dan tujuan dari syarat yang diajukan oleh Big Bos nya.
" Sebenarnya Bapak mau melamar saya? atau membeli saya? biar saya bisa lebih paham arah dan tujuan pernikahan yang bapak inginkan, dan saya bisa menempatkan diri dan hati saya kedepannya." Vienna mulai menunduk, tak di pungkiri, sejak awal bekerja, Vienna memang sudah mengagumi sosok Big Bos nya tersebut.
Vero bingung, kalau di jawab karena melamar, apa yang akan ia katakan, dan kalau karena membeli, pasti dia akan kecewa, biarlah, aku turunkan egoku saat ini, daripada kehilangan untuk kedua kalinya.
" Kalau syarat ini dengan alasan yang pertama, apa kamu akan menikah dengan ku? dan kalau alasan yang kedua, kamu akan menolakku?"
" Saat ini aku tak bisa berpikir jernih pak, tapi kalau memang alasan pertama bapak mengajak aku menikah, aku ingin bapak melamar ku dengan romantis, tapi kalau bapak mengajak aku menikah karena membeli aku, aku akan jawab 2 jam lagi. Jadi bapak bisa menyimpulkan nya apa jawaban saya "
Vero terdiam, apa yang harus dia lakukan, akhirnya diapun duduk dan membisu. Vienna yang melihat Big Bos nya diam saja, akhirnya meminta ijin untuk keluar.
" Maaf pak, boleh saya keluar, jam 12 nanti saya akan memberikan jawaban pada bapak." Vienna membungkuk kan badannya dan melangkah pergi, namun, belum sempat Vienna memegang handle pintu, Vero menahan kepergian Vienna dari ruangannya.
" Tunggu... jangan pergi, katakan pada kedua orangtuamu, sekarang juga nenek dan kakek ku akan melamar kamu, dan kamu... setelah pulang kerja, ikutlah Tiger, kemanapun dia membawamu, kamu jangan bertanya dan jangan protes." Vero memandang Vienna yang ada di depan pintu, dan tersenyum manis kepada gadis pujaannya itu.
Vienna yang melihat Big Bos nya tersenyum pun ikut tersenyum, entah mengapa, saat Big Bos nya tersenyum, Vienna merasa bahwa senyuman itu sangat familiar di matanya, namun Vienna tak tahu senyuman siapa, akhirnya Vienna membalas senyuman Big Bos nya dan berlari pergi ke ruang kerjanya.
Setelah duduk di kursinya, Vienna memegang dadanya, merasakan detak jantungnya berdetak kencang tanpa beraturan, bahkan sangat menganggu pernafasan nya, sesaat kemudian, Vienna menelpon kedua orangtuanya, bahwa hari ini akan ada orang yang akan melamarnya, dan Vienna meminta, agar kedua orangtuanya tidak menolak lamaran Big Bos nya hari ini.
Sementara Varo menelpon nenek dan kakeknya untuk melamar Vienna kepada kedua orangtuanya, yang ada di Rumah Sakit miliknya, dan tugas Leon serta Tiger adalah, membuat Restoran yang ada di depan kantornya menjadi tempat yang paling romantis.
Vero sendiri meninggalkan kantor untuk mencari cincin, serta gaun yang akan di berikan kepada gadis pujaannya.
Vienna seperti orang gila, tersenyum-senyum sendiri, dirinya tak menyangka, Dewi Fortuna berpihak padanya. Seorang CEO dingin dan Arogan serta cuek bebek itu akan melamarnya, dalam mimpi pun Vienna tak pernah membayangkan akan menjadi istri nya, atau bahkan menjadi kekasihnya saja Vienna tak akan berani.