MR. VARO ABRAHAM

MR. VARO ABRAHAM
GAK MAU LEPAS?



" Baiklah... " Vienna berjalan dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut yang menempel di tubuhnya


Sofia menyuruh 4 orang maid untuk mengganti sprei dengan warna sesuai dengan pijama yang di pakai Vienna dan Varo.


Dalam waktu kurang dari 5 menit, semua sprei dan bantal sudah di ganti dengan yang baru.


Di bawah siraman air shower, Vienna bertanya-tanya, rahasia besar apakah yang Ayah dan suaminya sembunyikan selama ini.


Sungguh kehidupan seperti apa yang akan Vienna hadapi sekarang, sangat sulit di tebak oleh Vienna, siapa sebenarnya keluarga besar mereka.


Vienna yang sedang melamun, tak mendengar kalau Ayu dan Sofia mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali, Varo yang melihat dari layar CCTV tidak ada balasan dari Vienna pun berjalan keluar kamarnya, melihat masih saja tidak ada jawaban, Varo yang masih menggunakan handuk, membuka pintu kamar mandi Vienna, sebelum masuk, Varo menyuruh Ayu dan Sofia untuk pergi.


Varo melihat Vienna yang hanya berdiri tanpa pergerakan di bawah guyuran air shower pun perlahan membuka handuk yang melingkar di pinggangnya, ikut masuk dalam shower, dan memeluk Vienna, Varo ikut mandi bersama Vienna, tanpa adanya gerakan yang aneh-aneh.


Vienna yang mengetahui Varo sudah memeluknya dari belakang, awalnya hanya terdiam, namun lama-kelamaan, sesak di dalam dadanya membawanya menangis sesenggukan.


Varo membalikkan tubuh Vienna untuk menghadap dirinya, diangkatnya wajah cantik dan imut yang selalu membuat dirinya mabuk kepayang. Varo menelisik mata Vienna, terlihat disana kesedihan yang sangat mendalam. Rasa cintanya terhadap Ayahnya, semakin di uji, dengan adanya musibah ini. Varo membelai lembut pipi Vienna, Varo melihat air mata yang jatuh bersamaan dengan air shower, membuat dirinya mendekap dan memeluk gadis cantik yang sudah menjadi miliknya.


"Jangan pernah ragu untuk melangkah bersamaku, ayah akan baik-baik saja, kita hanya bersandiwara, dan aku harap kamu selau ada di sisiku, jangan pernah jauh, karena aku sudah berjanji pada Ayah,akan selalu menjagamu, dalam keadaaan apapun."bisik Varo pada Vienna di bawah guyuran ai shower.


Vienna hanya mengangguk, Varo mematika air shower,di lepasnya pelukannya, namun Vienna enggan melepas pelukannya.


"Aku malu, kamu selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan."jawab Vienna yang masih memeluk Varo.


"Jangan kencang kencang, nanti yang di bawah on, sama siapa dia mengadu." Vienna sontak melepaskan pelukannya, dan berbalik arah, karena malu.


" hahahaha... Vivi... kenapa harus malu, bukankah aku sudah melihat semua, dan jangan pernah melamun, aku tidak suka, ayok keluar, aku pakaikan pakaian mu." Vienna hanya terdiam saat Varo membawa nya keluar dari kamar mandi.


Varo melihat ada kejanggalan pada Vienna. Bahwa dia mengatakan kalau dia sedang kedatangan tamu, tapi dia sendiri dari tadi tidak melihat, adanya pembalut atau apapun yang menempel di tubuh Vienna.


Setelah memakai kan pakaian Vienna, Varo berjalan keluar, dan menghubungi ayu dan Sofia, menanyakan apakah hari ini Vienna benar-benar datang bulan, dan ternyata tebakan Varo benar.


Vienna berpura-pura sedang datang bulan, padahal saat ibunya menyuruh Vienna solat, dia pura-pura tidur, dan saat yang lain solat di masjid Rumah Sakit, Vienna solat di dalam kamar. begitupun dengan Maghrib, seperti kucing kucing an dengan Varo.


Varo masuk kedalam kamar, di belainya rambut istrinya yang panjang, di ambilnya hair dryer dari tangan Vienna, Varo membantu Vienna mengeringkan rambut nya yang basah.


Vienna yang tidak tahu dengan maksud Varo saat ini, hanyalah diam dan menurut. Setelah selesai, Varo menaruh hair dryer, dan memeluk Vienna dari belakang di tempelkan pipinya dengan pipi Vienna.


Jantung Vienna berdetak lebih cepat dari biasanya, Vienna terpaku, saat Varo mencium pipinya berkali-kali, disibakknya rambut Vienna, sehingga terpampang kulit putih leher Vienna, Varo mencium leher Vienna, dan naik keatas ke telinga Vienna, sungguh Vienna tak bisa bergerak, seluruh tubuhnya meremang, rasanya panas dan penuh gelenyar aneh. Varo mencoba berbisik pada Vienna.