
Setelah 15 menit berpelukan, Perlahan terdengar suara dengkuran kecil dari Vienna, ternyata, setelah lelah menangis Vienna terlelap, mungkin karena beban pikiran dan perubahan kehidupan yang danagt drastis, membuat dirinya lebih cepat lelah.
Varo mengangkat tubuh Vienna dan menidurkan Vienna kembali keatas ranjang, lalu menyelimuti tubuh Vienna.
Varo pergi ke kamar mandi, dan menyelesaikan masalahnya, setelah selesai mandi, Varo memakai pakaian kerjanya, dan menuruni tangga, menuju ruang makan, disana sudah berdiri Pak Wahyu, Ayu dan Sofia.
"Ayu, jam 7 nanti, bangunkan nyonya mu, untuk sarapan, dan bersiap siap untuk ke Rumah Sakit.
Dan satu lagi, nanti akan datang sahabatnya, Nelly yang akan menemaninya ke rumah sakit." perintah Varo pada Maid Ayu.
"Baik tuan muda." Jawb Ayu pada tuan muda.
"Bagaimana pakaian nyonya tuan muda, bolehkah Kami menyiapkan untuk nyonya?" Sofia bertanya.
"Tidak perlu, dia pasti belum terbiasa, biarkan dia memilih yang di inginkan nya."
Terlihat Varo menelpon Nelly, mengatakan padanya agar Nelly berangkat ke kantor lebih cepat, dan harus sampai pukul 6.50, yang berarti 10 menit sebelum Varo sampai di kantor, dan mulai meeting pagi hari.
pukul 6.30, terlihat Varo berangkat ke kantor, tanpa berpamitan pada Vienna.
🌹
Di kosan Nelly, sangat terkejut dengan telepon dari Big Bos nya, yang menyuruh nya berangkat pagi, dan sampai sebelum pukul 7.
"Di kira anak sekolah apa? sebelum jam 7 harus sudah sampai kantor, mau upacara 17 an X si bos." saking marahnya Nelly.
Nelly sampai di kantor tepat pukul 6.45, saat memasuki ruangan big bos nya, Nelly tertegun dengan keberadaan kedua asisten Big Bos nya, yang sangat disiplin dan perfeksionis.
"Gila banget mereka, pagi-pagi gini sudah sampai di kantor, apa mereka gak pernah tidur ya?" Gumam Nelly melihat kedua asisten Big Bos nya sudah di kantor. Dengan semangat, Nelly menyapa kedua asisten bosnya, yang terkenal sangat angkuh dan disiplin.
"Assalamualaikum pak Leo, pak Tiger, apa kabar hari ini? Ucap Nelly pada mereka berdua.
"Waalaikum salam Nelly, mau ketemu pak Varo? sebentar lagi mungkin akan sampai, tunggu saja ya, dan duduk saja di ruangannya." perintah Leo pada Nelly.
"Baik pak, saya tunggu di sini saja." jawab Nelly untuk memilih duduk diruang tunggu depan ruangan Big Bos nya.
Sungguh orang perfeksionis, tepat pukul 6.50, Varo sampai di kursi kebesarannya.Varo memanggil Nelly untuk masuk.
"Selamat pagi Nelly, maaf pagi-pagi sudah mengganggu kegiatan anda."
"Pagi juga pak, tidak apa-apa, lagian saya gak sibuk kok pak."
"Begini Nelly, hari ini kan Ayah Vienna akan di operasi, dan saya tidak dapat menemaninya, karena meeting pagi ini tak bisa di tunda lagi, jadi aku mohon agar kamu menemani Vienna dan ibu di Rumah Sakit."
Nelly sangat terkejut, sebegitu perhatian Big Bos nya pada sahabatnya Vienna.
"Dan satu lagi, Leo akan mengantar kalian ke rumah sakit nanti, kalau ada waktu aku kesana nanti."
"Apa kamu sudah siap? Sekarang pergilah, karena pukul 7 nanti dia baru akan bangun, pergilah, dan lakukan tugas kamu dengan sebaik mungkin, jangan khawatir, kamu akan mendapatkan bonus dari ku." terang Varo pada Nelly tanpa memberikan Nelly kesempatan untuk berbicara.
"Baik pak, selamat pagi, saya pamit dulu, assalamualaikum" pamit Nelly pada Varo.
"Waalaikum salam." jawab Varo.
🌹🌹
Hanya butuh 20 menit untuk sampai ke Mension milik Big Bos Varo, dari gerbang masuk, sudah berdiri 2 orang bodyguard yang menjaga pintu masuk, terlihat di sana, bunga mawar putih yang sedang mekar.
Setelah mobil berhenti di depan pintu utama, Nelly sangat terkejut, disana sudah berdiri seorang pria yang sangat sopan, dan dua wanita cantik dengan pakaian rapi, mereka menyambut kedatangan Nelly sahabat dari nyonya muda nya.
"Selamat pagi nona, Apakah anda nona Nelly?" tanya pak Wahyu.
"Selamat pagi, benar saya Nelly, dan tolong jangan panggil saya nona, saya hanya gadis biasa saja."Sanggah Nelly Karen tak ingin di panggil dengan nona.
"Nyonya muda sedang mandi, silahkan masuk, dan tunggulah di ruang tamu, silahkan nona."
"Baiklah, saya akan menunggunya di sini." ucap Nelly.
Pak Wahyu menyuruh Dewi untuk naik keatas, untuk memberi tahu kepada Sofia dan Ayu, bahwa sahabat dari nyonya muda telah sampai, dan sekarang ada di ruang tamu.
Tak menunggu lama Dewi pun naik menuju lantai atas, dan mengetuk pintu kamar nyonya muda, dan menyampaikan bahwa sahabat Vienna sudah sampai.
Mendengar hal itu, membuat Vienna manjadi bahagia, dengan sedikit cepat, Vienna menyelesaikan ritual mandinya, dan bergegas memakai pakaian, dan turun ke bawah, sementara Ayu membersihkan kamar mandi, Sofia yang sudah menyiapkan semua kebutuhan Vienna pun membawa tas dan sepatunya, turun ke bawah, namun Vienna mencegah nya, karena masih banyak pekerjaan yang menunggu nya.
"Sofia, tak perlu kau bawakan keperluan ku, aku bisa bawa sendiri, kerjakan saja pekerjaan kalian, kalau aku belum pulang, istirahat lah, nanti aku kabari bila aku akan pulang, jangan menunggu ku di depan kamar ok." Vienna menepuk pundak Sofia, dan mengambil alih tas dan sepatunya, dan membawanya tangannya sendiri.
" Baik nyonya, tapi kami mohon, sebelum nyonya pulang, kabari kami, agar kami siap melayani anda."
" Baiklah, nanti aku akan meminta nomer kalian dari Leo." Vienna beralasan.
Ayu dan Sofia hanya bisa masuk WALKING CLOSET dan bathroom milik Vienna, yang lainya, tidak.mungkin, karena setiap pintu memiliki kode tersendiri. Sehingga memudahkan untuk mengecek tugas dan tanggung jawab setiap Maid.
Bahkan, Pak Wahyu yang sudah terbiasa keluar masuk kamar tuan muda nya, sekarang lebih berhati-hati, karena sang tuan muda sudah menikah, dan tak mungkin lagi seperti dulu. Pak Wahyu hanya bisa masuk ke ruang kerja tuan muda saja, pak Wahyu sendiri tak akan bisa masuk ke kamar tuanya, karena kamar Varo sudah berubah kata sandinya. dengan sidik jari Vienna dan Varo, dapat dari mana sidik jari Vienna? tentunya Leo dan Tiger yang menanganinya.
Vienna yang sudah sangat cantik, di tambah dengan pakaian yang serba bermerek, membuat dirinya tambah anggun dan elegan. Terlihat Vienna keluar dari kamar utama, dan menuju Tangga, untuk turun, semalam Vienna sendiri belum begitu melihat rumah besar suaminya, sehingga pagi ini, Vienna bergumam takjub, dengan keindahan rumah, dan semua lukisan yang tampak mahal, bahkan vas bunga dan guci antik, dari yang terkecil hingga yang terbesar, mempercantik setiap sudut dan ruangan yang ada.
Disambut Dewi dan Rini, Vienna tersenyum kepada kedua Maid suaminya, yang sepertinya Kaka beradik ini.
Dewi mengambil tas dan sepatu yang sedang di tenteng Vienna, sedangkan Rini mengajak Vienna menuju ruang tamu yang sudah ada sang sahabat yang selalu ada untuk Vienna.