
“Reservasi atas nama Veronica” kata Dira kepada seorang perempuan yang bertugas sebagai resepsionis di Jack resto.
Perempuan itu mengangguk, lalu mengotak-atik komputernya untuk mencari nama pelanggan yang disebutkan oleh Dira. Perempuan itu mengerutkan keningnya ketika layar komputer di hadapannya tidak menunjukkan hasil apa-apa.
“Maaf, Tuan! Tidak ada reservasi meja atas nama Veronica untuk malam ini" kata resepsionis itu sembari tersenyum.
Bahu Dira langsung terangkat. Ucapan perempuan itu tentu saja membuat Dira kaget. Mana mungkin hal itu terjadi? Sudah jelas-jelas kemarin Veronica mengatakan kepada dirinya jika ia sudah memesan meja VIP di Jack resto sebagai tempat untuk merayakan anniversary mereka. Lalu mengapa resepsionis itu mengatakan tidak ada?
Apakah Dira salah tempat? Atau Dira salah hari? Dira mengambil ponselnya. Ia mengecek tanggal dan tempat yang menjadi kesepakatan antara dirinya dan Ve.
Satu bulan sebelumnya, Dira dan Ve sudah mendiskusikan tempat untuk merayakan hari bahagia mereka. Jack resto dipilih mereka karena restauran itu baru saja meluncurkan menu baru yang membuat Ve penasaran untuk mencicipinya. Dira setuju-setuju saja dengan syarat jika segala urusan mengenai reservasi tempat dan menu diurus oleh Ve.
Kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi. Selama lima tahun berhubungan dengan Ve, baru kali ini kejadian miss communication muncul saat hari anniversary mereka. Dira benar-benar bingung. Mau marah, tidak ada orang yang bisa dijadikan pelampiasan amarahnya. Kemana Ve? Apa yang terjadi kepadanya?
“Coba cek lagi. Tidak mungkin Veronica lupa memesan tempat di sini” perintah Dira yang langsung dilakukan oleh perempuan itu.
Perempuan itu mencoba tersenyum. Ia kembali mengotak-atik komputer untuk mencari nama Veronica. Namun, berkali-kali perempuan itu mencoba. Hasilnya tetap sama. Tidak ada nama pelanggan bernama Veronica yang memesan meja untuk malam ini. Perempuan itu mengucapkan permintaan maafnya karena tidak bisa membantu Dira lebih jauh.
“Aneh” gumam Dira.
Dira mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi nomor Veronica. Dira harus meminta pertanggung jawaban kekasihnya itu. Apa mungkin Ve sedang mengerjainya? Apa mungkin Ve akan memberikan kejutan untuknya.
Sayangnya, dugaan Dira salah. Sudah berkali-kali panggilan telepon dari Dira belum tersambung. Dira mulai gelisah. Ke mana Veronica? Apakah sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya?
Dira langsung angkat kaki dari Jack resto. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan meluncur ke apartemen milik Veronica. Hati Dira gelisah tak karuan. Pikirannya sudah bercabang entah ke mana. Pasalnya ini adalah pertama kali kekasihnya itu seperti ini. Tidak ada kabar, tidak dapat dihubungi.
Apakah Veronica sedang merajuk karena Dira terlambat datang? Apakah Veronica kesal karena Dira belum menghubunginya sejak tadi pagi? Arrgghhhh.... memikirkan hal itu membuat Dira sakit kepala.
Untung saja mobil yang ia kemudi sudah tiba di area apartemen Veronica. Dira langsung saja berlari, meninggalkan mobilnya di depan lobby. Pikirannya hanya satu, mengecek keberadaan kekasihnya sekarang. Namun, lagi-lagi Dira harus menelan kekecewaan ketika melihat apartemen milik Veronica kosong.
Dira langsung menjatuhkan dirinya ke lantai. Ke mana kekasihnya itu? Apakah sesuatu yang buruk benar-benar telah terjadi padanya? Dira duduk lemas sembari memeluk kedua lututnya.
'Selamat hari jadi kita yang ke lima, Ve. Kamu di mana sekarang?" guman Dira.
***
Evan Scandz, 30 tahun. Keturunan Kanada blaster Prancis. Laki-laki itu memiliki manik mata berwarna biru, bertubuh tinggi besar dan sedikit gemulai.
Evan segera menunduk ketika melihat kedatangan Dira di kantornya. Evan adalah seorang desainer, pemilik butik dan agency model terkenal di New York. Namanya sudah tidak asing di dunia fashion Internasional. Karya ciptaan Evan selalu membuat decak kagum banyak orang. Tak heran jika sudah banyak penghargaan yang diterima oleh Evan.
Lalu bagaimana Evan bisa mengenal Dira? Dira adalah orang yang mempunyai andil besar dalam hidup Evan. Tak banyak yang tahu jika dulunya Evan adalah seorang pengemis. Dira yang baik hati mengajak Evan tinggal di apartemennya. Entah mengapa Dira merasa jika Evan sebenarnya memiliki bakat terpendam. Namun, tidak nampak karena keterbatasan ekonomi.
Insting seorang Dira memang tepat. Beberapa hari Evan menginap di apartemen Dira, ia melihat banyak sekali sketsa baju berserakan di kamar Evan. Sketsa-sketsa itu langsung menarik perhatian Dira.
Dira langsung meminta Evan membuat rencana proyek. Ia juga menyuruh Evan memaparkan secara detail bisnis seperti apa yang akan digelutinya. Dira bekerja dalam diam, tanpa sepengetahuan Samuel.
Dira memang tidak mengizinkan Evan ikut agency lain. Dira menginginkan Evan membangun sendiri kerajaan bisnisnya tetapi tetap di bawah naungan Sanjaya corp.
Evan yang memang pekerja keras, tentu saja tidak menyia-nyiakan hal itu. Meskipun pada awalnya ia banyak diremehkan, Evan tidak patah semangat. Dalam waktu lima tahun, ia dapat membuktikan pada dunia jika dirinya bisa sukses.
Kesuksesan Evan tentu saja tidak membuatnya lupa diri. Ia tetaplah memposisikan dirinya sebagai anak buah dari seorang Mr. Adira. Bagaimanapun semua bisnisnya dibiayai oleh Dira sehingga Evan tidak ada niatan sedikit pun untuk berdiri sendiri dan keluar dari naungan Sanjaya corp.
“Kenapa sepi?” tanya Dira.
Dira yang jarang berada di kantor Evan tentu saja merasa aneh dengan situasi sekarang. Biasanya banyak sekali model yang berkeliaran di sana. Entah untuk pemotretan atau sekedar memesan baju kepada Evan.
Kantor Evan memang tidak pernah sepi karena setiap hari ada saja proyek yang harus diselesaikan. Model asuhan Evan yang berjumlah ratusan memang laris manis. Ada banyak pemotretan yang harus dilakukan baik di dalam studio maupun di luar.
"Kau melamun? Mengapa tidak menjawab pertanyaanku?" tegur Dira. Ia segera menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Maaf, Tuan. Saya tadi sedang menghitung jumlah mutiara yang akan digunakan sebagai mahkota. Di sini memang sepi karena sebagian orang sudah berangkat ke Miami” jawab Evan.
“Miami? Memangnya ada apa?” tanya Dira terkejut.
“Saya akan mengadakan fashion show di sana. Selain itu salah satu model saya akan melakukan shooting. Dia didapuk menjadi brand ambassador salah satu produk, Tuan” kata Evan menjelaskan.
“Produk kecantikan?.”
“Tidak, Tuan. Bikini, maksud saya swimsuit.”
Dira mengernyitkan dahi mendengar ucapan Evan. Swimsuit? Sejak kapan? Setahu Dira model-model Evan hanya diterjunkan untuk produk kosmetik. Evan tidak pernah mengizinkan mereka menjadi model di bidang fashion karena itu akan mengganggu bisnis Evan.
Mungkin saja karena produk itu swimsuit dan Evan memang tidak memproduksinya sehingga ia mengizinkan modelnya untuk menjadi brand ambassador produk itu. Entahlah, Dira hanya menduga.
“Saya mendapatkan model baru yang sangat berbakat. Baru pemotretan saja, sudah dilirik banyak brand terkenal. Entah saya juga heran dari banyaknya produk yang menawarkan kerja sama dengannya, dia malah memilih menjadi brand ambassador swimsuit. Mungkin dia ingin memamerkan lekuk tubuhnya yang memang menggoda itu” cerita Evan tanpa diminta.
“Apa kau tidak akan pergi ke sana?.”
“Tentu saja, Tuan. Nanti sore saya akan berangkat. Apakah Tuan Adira mau ikut? Siapa tahu Anda ingin berkenalan dengan model baru itu” goda Evan yang langsung di balas dengan pukulan keras di pahanya.
"Aku tidak punya waktu untuk melirik model-model asuhanmu. Kekasihku sudah cukup memenuhi hati dan mataku. Tak ada yang lebih cantik darinya. Sekalipun itu model berbakat seperti yang kau katakan" ucap Dira bangga.
"Terserahlah, tapi sepertinya Anda akan rugi jika tidak berkenalan dengannya. Vero sangat cantik, body nya benar-benar menggoda. Ah...! Saya yakin Anda pasti tidak berkedip saat bertemu Vero."
"Tutup mulutmu, Evan! Wanita tercantik di dunia ini hanyalah kekasihku" ucap Dira kemudian ia pergi meninggalkan Evan dengan wajah kesal.