
"Paman dengar kau memiliki kekasih, Dira?" tanya Samuel ketika mereka duduk santai di ruang kerja Dira.
Tiga puluh menit yang lalu, Dira dan Samuel baru selesai meeting bersama klien mereka yang berasal dari Jepang. Mereka memutuskan rehat sejenak sebelum melanjutkan aktifitas kembali.
Awalnya Dira dan Samuel membahas tentang hasil meeting barusan. Namun, entah mengapa tiba-tiba saja Samuel teringat dengan ucapan orang suruhannya tentang Dira.
Ya, Samuel memang menempatkan beberapa orang untuk menjaga Dira. Memantau kegiatannya sekaligus melindunginya. Samuel khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada keponakannya itu jika ia lepas dari pengawasannya.
Selain itu, Samuel ingin memastikan jika Dira benar-benar serius kuliah di jurusannya sekarang mengingat Dira mengambil jurusan ini dengan terpaksa. Samuel tidak ingin usahanya sia-sia untuk membentuk pewaris tahta Sanjaya yang kuat dan cerdas.
"Paman dengar dari siapa?" tanya Dira santai.
"Dari orang suruhan Paman" jawab Samuel.
"Ya, aku memang sudah memiliki kekasih. Dia orang Indonesia juga, kakak kelasku di jurusan ekonomi tapi tetap dia lebih muda dariku" kata Dira menjelaskan.
"Paman tidak peduli siapa kekasihmu. Paman hanya mengingatkan kau harus menjaga fokusmu dulu. Ingat! Kau adalah pewaris tahta Sanjaya. Perusahaan ini menunggumu. Fokuslah belajar, Dira!" kata Samuel menasehati keponakannya.
"Aduh, Paman!!! Apa masih kurang fokusku dalam kuliah? Paman lihat sendiri nilai-nilaiku semuanya B...."
"B itu tidak cukup, Dira..!!!" Samuel memotong ucapan Dira dengan cepat.
"Kau sudah hampir lima tahun di sini dan kau hanya memberiku nilai B di semua nilai mata kuliahmu. Oh tidak!!! kau jangan bercanda" lanjut Samuel. Ia tertawa mengejek Dira.
"Paman tidak keberatan jika kau punya kekasih. Tapi untuk saat ini fokuslah dulu dengan studymu. Apalagi kau sekarang sedang mengambil gelas Master. Paman tidak mau lagi kau beri nilai B. Kau harus mendapatkan nilai A disemua mata kuliahmu. A+ kalau perlu. Pewaris tahta Sanjaya harus cerdas dan kuat. Bagaimana kau bisa mengusai dunia bisnis jika nilaimu B saja? kentang, Dira! Kentang!" tambah Samuel semakin berapi-api.
"Kentang? Paman mau menyuruhku memasak kentang goreng? atau membeli perkedel kentang? Bukannya tadi kita membahas masalah nilai? Kenapa malah pindah ke kentang?" tanya Dira tak paham.
Samuel menepuk wajahnya sendiri. Ia selalu saja naik darah jika berbicara dengan keponakannya ini.
"Kentang itu nanggung, kurang cetar, kurang spesial. Seorang pewaris tahta Sanjaya harus memiliki nilai plus, aktif, agresif, tampan, cerdas dan banyak akal. Paman belum melihat itu semua darimu, Dira" kata Samuel.
Dira menunduk. Ia mengiyakan apa yang diucapkan pamannya dalam hati. Benar, memang benar jika Dira kurang expert dalam dunia bisnis. Ia cenderung pasif saat bertemu klien. Dira lebih mirip sebagai sekretari Samuel daripada atasan Samuel. Hal inilah yang membuat Dira terkadang ingin kabur saja dan kembali ke Indonesia.
"Paman..." panggil Dira lirih.
"Ya? Ada apa?" jawab Samuel.
"Apa Dira harus menanggung tugas ini?" tanya Dira pelan.
"Jujur saja, Paman. Dira lebih ingin menjadi dokter daripada menjadi pewaris tahta Sanjaya" lanjut Dira lagi.
Brakkk....
Samuel memukul meja dengan keras.
"Kalau bukan kau, lalu siapa? Kiara? Dia masih lima belas tahun, Dira. Kau ini anak laki-laki, anak pertama pula. Sudah sepantasnya tugas ini kamu yang memikulnya"
"Siapa tahu Papa punya anak sebelum aku, Paman. Jadi sebenarnya aku ini anak kedua, Kiara anak ketiga. Kakakku, anak pertama Papa, ternyata sedang berada di negara lain..."
"Hentikan khayalan konyolmu itu, Dira!!! Arman hanya punya dua anak, Adira Putra Sanjaya dan Kiara Putri Sanjaya. Jangan berharap kau punya kakak karena faktanya kaulah anak pertama Arman dan Widya" ucap Samuel kesal.
Dira menghela nafas panjang.
"Dan satu lagi. Paman sedikit kecewa denganmu, memungut gelandangan dan memberikannya modal"
Dira memgernyitkan dahi mendengar ucapan Samuel. Gelandangan? Apakah yang dimaksud oleh Samuel adalah Evan? Dira memang menolong seseorang yang nyaris dibunuh oleh preman. Untunglah pada saat itu Dira lewat dan tanpa sengaja Dira melemparkan suntikan yang berisi obat bius pada salah satu preman itu.
Ambruk dan Dira langsung membawa Evan kabur, memberi tumpangan di apartemennya dan tentu saja setelah mengetahui bakat Evan, Dira memberinya pinjaman modal agar Evan bisa mendirikan butik.
Dira tidak percaya jika hal yang sudah ia sembunyikan selama dua tahun ini juga diketahui oleh Pamannya. Apa mungkin Samuel meletakkan cctv di tubuh Dira sehingga apa yang dilakukannya terlihat oleh Samuel?
"Kenapa diam?" tanya Samuel.
"Tak perlu heran anak muda. Untuk menjadi seorang pebisnis hebat kau butuh banyak mata yang untuk mengawasi lawan bisnismu. Lengah sedikit saja, kau yang akan tumbang"
"Tapi aku bukan lawanmu, Paman"
"Kau anak didikku. Jadi aku harus memantaumu agar kau tidak salah langkah dan merusak rencanaku dan mengenai kekasihmu. Jangan sampai dia tahu jika kau pemegang tahta Sanjaya"
"Kenapa, paman?" tanya Dira tak mengerti.
"Pebisnis hebat harus misterius. Karena kau akan melakukan banyak sekali pekerjaan rahasia yang hanya dirimu dan Tuhan yang tahu"
"Tapi dia akan ku jadikan istri, Paman. Dia harus tahu siapa aku sebenarnya. Karena dalam sebuah hubungan, kejujuran adalah hal yang paling utama" protes Dira.
"Cihhhh... bahasamu membuatku geli. Kau bahkan harus menahan keinginan menikah sebelum Kiara menikah" kata Samuel membuat kedua mata Dira membola.
"Ap... ap... apa maksud Paman?"
"Sesuai isi surat wasiat Arman. Kau baru boleh menikah paling cepat satu bulan setelah Kiara menikah dan paling lama satu tahun setelah Kiara menikah. Kiara harus menikah ketika usia mencapai dua puluh tahun lagi dan itu artinya paling cepat kau akan menikah lima tahun lagi" kata Samuel membuat wajah Dira mengkerut.
"Tapi itu tidak adil, Paman? Kenapa harus menunggu Kiara menikah dulu? aku bahkan berencana melamar Veronica minggu depan" protes Dira lagi.
Plakkk
Samuel memukul bahu Dira dengan map berkas meeting tadi. Ia sangat kesal karena keponaannya ini selalu saja bertingkah tanpa bertanya dulu kepadanya.
"Kalau kau bukan pewaris tahta Sanjaya, mau menikah besok juga silakan, Dira!!! Kau benar-benar gegabah. Bicarakan dulu denganku! Jangan bertindak sendiri! Arman.... Arman... bagaimana bisa kau punya anak laki-laki seceroboh ini?" keluh Samuel sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Lah? Paman kan bukan waliku. Aku ini laki-laki berhak memutuskan sendiri apalagi urusan jodoh. Aku manusia normal, Paman. Ingin menikah dan punya anak" sungut Dira kesal.
Plak...
Samuel kembali memukul bahu Dira. Kadar kekesalannya kepada anak laki-laki almarhum kakaknya itu semakin meningkat. Samuel heran bagaimana dulu Arman mendidik Dira hingga Dira terbentuk dengan karakter seperti ini?
"Paman bukannya melarang kau menikah. Tapi waktunya itu Dira. Papamu sudah membuat surat wasiat yang harus kau lakukan. Paman memang bukan walimu. Tapi selama kau belum resmi menjadi CEO dari Sanjaya group, Paman tetap memiliki tanggung jawab atas hidupmu"
"Alah... tanggung jawab tapi nggak pernah kasih uang jajan. Masak Dira mau jajan pancake aja harus kerja dulu jadi tukang cuci mobil" cibir Dira yang langsung mendapat pukulan kembali di tengkuknya.
"Kau ini bodoh!!! Paman sudah memberimu dua black card bahkan sejak pertama kali kau berada di sini. Mengapa kau tidak memakainya?" tanya Samuel gusar.
"Black card? kartu hitam? buat apa kartu itu? Dira sudah menitipkannya kepada sopir buat jaga-jaga kalau lewat tol" ucap Dira tanpa dosa.
Buggg
Samuel semakin murka pada keponakannya. Bagaimana bisa Dira mengira kalau black card yang ia berikan adalah kartu e-toll? Pantas saja tidak pernah ada transaksi pada kartu itu sejak lima tahun lalu. Rupanya keponakannya benar-benar perlu di update pengetahuannya tentang New York.
Untung saja sopir yang ditugaskan mengantar jemput Dira adalah orang yang jujur sehingga tidak sekalipun sopir itu menggunakan black card yang dititipkan Dira.
Samuel mengambil ponsel dan menelpon seseorang. Tak lama muncullah seorang laki-laki berkaca mata hitam, masuk ke dalam ruangan mereka. Laki-laki itu membungkuk, memberi hormat kepada Samuel dan Dira.
"Edward, kau benar adik dari Alisa, sekretarisku?" tanya Samuel.
"Benar, Boss" sahut Edward tegas.
"Sudah berapa lama kau bergabung dengan perusahaan ini?" tanya Samuel lagi.
"Sudah lima belas tahun, Boss" jawab Edward lagi.
"Baguslah! Artinya kau sudah mengetahui seluk beluk tentang perusahaan ini dan...." ucapan Samuel terhenti.
"Saya paham apa maksud Anda, Boss"
"Bagus... sekarang kau mendapat tugas baru sebagai asisten Dira. Permak calon pewaris tahta Sanjaya ini agar tidak kampungan dan bodoh" ucap Samuel kemudian bangkit meninggalkan Dira yang hanya bisa melongo mendengar ucapan pamannya.