Mr. Adira

Mr. Adira
25



Dira merasa ada yang kurang lengkap ketika dirinya tiba di apartemen Kiara. Ia mencoba mengingat-ingat tapi tetap tidak ingat. Hingga pagi menjelang, Dira masih saja lupa. Ia baru ingat jika Edward tidak bersamanya ketika dirinya sedang mandi.


"Edward...!!!"


Dira segera menyelesaikan ritual mandinya. Ia buru-buru menyambar handuk dan mengeringkan badannya lalu berpakaian dengan cepat.


"Mana lagi ponsel gue?" tanya Dira pada angin yang berhembus.


Untung saja kedua netra Dira belum rabun sehingga dirinya bisa menemukan ponsel itu dengan cepat.


Tak tik tuk, tak tik tuk.


Terdengar suara berisik jemari Dira yang beradu dengan layar ponselnya. Nampak Dira berulang kali menempelkan ponselnya di telinga sembari mengumpat dengan bahasa kalbu yang tak jelas apa itu maknanya.


Sudah tiga puluh menit berlalu, nomor yang dihubungi Dira selalu tidak aktif. Tidak biasanya si empunya nomor tidak tanggap seperti itu. Dia biasanya akan langsung menjawab panggilan Dira sejak dering pertama terdengar dari ponselnya.


Aneh! Edward, si pemilik nomor ponsel tidak biasanya membiarkan ponselnya mati. Setahu Dira stok power bank milik Edward tak kurang dari sepuluh buah. Mustahil bukan jika kejadian seperti ini terjadi?


"Nelponin sapa sih, Kadir? Daritadi gue liat nggak kelar-kelar" ucap Kiara yang muncul dengan nampan berisi empat piring roti bakar.


"Edward" jawab Dira pendek.


"Edward? Apa dia nggak bisa dihubungi?."


"Ho'oh. Sejak tadi gue telpon belum dijawab."


"Semalam dia datang kan ke pesta ulang tahun Lily?" tanya Kiara lagi.


"Datanglah. Dia kan bareng gue. Terakhir kali gue lihat Edward pas kita makan bertiga. Dia pamit mau ambil teh. Tapi sampai kita pulang, gue belum lihat dia lagi."


Kiara mengernyitkan dahi. Dirinya pun merasa aneh dengan cerita kakaknya itu. Tidak mungkin kan seorang Edward akan ketinggalan di hotel Sixty two? Edward bukan orang bodoh yang tidak bisa pulang sendiri tanpa bantuan Dira. Edward juga bukan orang kere yang tidak mampu membayar ongkos taksi untuk menyusul Dira.


Aneh. Jikalau Edward diculik, pasti penculiknya yang akan babak belur. Karena kemampuan bela diri Edward yang mumpuni. Kemana Edward? Apa mungkin ketiduran? Alasan itu pun tidak bisa Kiara pakai karena setahu dirinya Edward bukan tipe manusia ***** yang ketika menempel langsung molor.


"Apa lu udah bilang kalau nginep di tempat gue?" tanya Kiara.


"Ya belum sih. Rencananya gue kan mau balik ke Jakarta. Berhubung gue sudah ngantuk dan masih kangen ama lu. Jadi gue batalin deh" jawab Dira.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka. Juna muncul dengan wajah segar khas manusia habis mandi. Semalam Kiara memang meminta Juna agar ikut pulang ke tempatnya. Kiara khawatir Juna akan kembali tidur di kamar mandi jika dibiarkan sendiri. Setidaknya hari ini Kiara akan membawa Juna ke psikiater untuk therapy agar Juna bisa melawan rasa takutnya.


"Selamat pagi, Tuan Adira, Nona Kiara dan..." Juna mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok Elang yang tidak nampak di ruang makan.


"Elang masih tidur. Mas Juna duduk sini. Ayo sarapan bersama-sama!" ajak Kiara yang langsung menarik kursi kosong di sebelah Dira.


Juna mengangguk. Ia segera duduk di kursi itu. Kiara menyodorkan roti bakar untuk Juna dan menyuruhnya untuk segera sarapan.


"Tuan Adira tidak makan?" tanya Juna sungkan. Melihat Dira yang sibuk dengan ponselnya membuat Juna tak enak hati jika sarapan terlebih dahulu.


"Nggak! Gue masih sibuk nelponin Edward" jawab Dira ketus. Hatinya sudah dongkol setengah liter menunggu jawaban dari Edward.


"Pak Edward tidak bisa dihubungi, Tuan?" tanya Juna.


"Ya, sejak semalam gue belum ketemu Edward. Mana jadwal meeting ada sama dia lagi. Addoohhhh....!!! Addooohhhh....!!!" gerutu Dira.


"Semalam saya minta tolong Pak Edward untuk mengantarkan minuman pesanan Lily, Tuan."


Ting!


"Minuman?" tanya Dira dan Kiara bersamaan.


Juna mengangguk.


"Lily meminta saya mengambil jamu di salah satu pelayan yang bertugas semalam. Saat saya akan mengambil minuman itu, saya sakit perut. Untung saja ada Pak Edward mau menolong saya untuk mengantarkan minuman itu ke kamar Lily" ucap Juna menjelaskan panjang kali lebar.


"Tunggu! Apa jangan-jangan Edward disekap oleh Lily?" ucap Kiara membuat hipotesis awal.


"Mana mungkin. Edward bisa bela diri kali. Lagi pula yang dilawan si dakocan bukan rambo. Jangan membuat hipotesa ngawur" tegur Dira.


"Tapi kalau dari cerita Mas Juna. Si Edward memiliki potensi seperti itu. Lu kayak nggak tahu kayak apa si tralala trilili. Diam-diam menghanyutkan" ucap Kiara membuat Dira berfikir sejenak.


"Juna, kamu masih ingat Edward mengantarkan minuman ke kamar nomor berapa?" tanya Dira.


"Ingat, Tuan. Kamar nomor 1521."


"APA???!!!" teriak Dira. Teriakan Dira yang disertai gebrakan meja itu sukses membangunkan Elang yang tertidur. Elang langsung melompat dan keluar dari kamar karena kaget dan menyangka jika sedang ada gempa yang melanda apartemennya.


"Kenapa, Kadir?" tanya Kiara heran.


"Lu yakin kamar nomor 1521?" tanya Dira lagi.


"Benar, Tuan. Karena sebelumnya saya juga mengantarkan Lily ke kamar itu. Lalu saya kembali lagi ke tempat pesta untuk mengambil minuman pesanan Lily."


Brak!


Dira kembali memukul meja makan. Wajahnya langsung merah padam setelah mendengar ucapan Juna.


"Kembali ke hotel? Untuk apa?" tanya Kiara.


"Untuk memastikan keberadaan Edward di kamar 1521. Kamar itu adalah kamar rahasia. Jauh dari kamar-kamar yang lain. Akses kesana pun hanya sebagian orang yang tahu. Kamar 1521 disewakan khusus untuk orang yang tidak mau diganggu apalagi urusan ranjang."


Deg!


Kedua netra Kiara dan Juna langsung melebar. Mereka tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun untuk menimpali ucapan Dira. Berbeda dengan Elang. Ia yang baru bangun tidur, masih berada di fase sedang mengumpulkan rohnya. Pembicaraan ketiga orang itu belum masuk ke dalam otaknya sehingga respon yang ditampakkan Elang adalah wajah kusut layaknya baju yang belum disetrika.


Dira langsung bangkit dari kursinya. Ia menarik Kiara dan Juna untuk mengekorinya. Dira tidak mengajak Elang karena tangannya hanya bisa menarik dua orang saja. Toh, Elang juga baru bangun tidur. Belum mandi, cuci muka dan gosok gigi. Dira tidak mungkin mengajak iparnya yang kusut seperti itu. Menunggu agar Elang bersiap-siap juga memakan waktu. Jadi, tidak mengajak Elang adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.


"Cepat masuk! Pasang sabuk pengaman karena gue mau tancap gas!" perintah Dira yang langsung dilaksanakan oleh Kiara dan Juna.


Dalam hitungan lima detik, Dira benar-benar melakukan sesuai ucapannya. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam dan...


Cusss......


Mobil melesat dengan cepat. Dira tidak peduli sepadat apa jalanan kota Barcelona saat ini. Di dalam otaknya hanya ada satu tujuan, yaitu menemukan Edward.


Dira sebenarnya ketar-ketir. Ia khawatir jika nanti dirinya akan menemukan Edward di kamar 1521. Berbagai pikiran negatif bermunculan di dalan otaknya. Ingin menyangkal, tapi... Ah, sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata!


Ckiiiiittttt....


Mobil yang dikendarai Dira tiba di depan lobby Hotel Sixty Two. Dira langsung keluar dan melemparkan kunci mobilnya kepada pihak security. Dira langsung berlari menuju meja resepsionis. Tak lupa ada Kiara dan Juna yang ikut berlari, mengejar Dira dari belakang.


"Mr. Adirra, CEO paling tampan dan rupawan. Saya mau ke kamar 1521. Tolong berikan kunci cadangannya!" ucap Dira sembari memperlihatkan tanda pengenalnya.


Mbak-mbak resepsionis langsung pucat pasi ketika melihat tanda pengenal Dira. Ia segera menelpon salah satu room boy untuk mengantar Dira ke kamar 1521.


"Mari, ikut saya!" kata room boy yang ternyata adalah orang yang juga mengantar Edward semalam.


Mungkin saja room boy itu termasuk salah satu orang yang mengetahui tentang kamar 1521 sehingga lagi-lagi dirinyalah yang bertugas mengantarkan tamu ke kamar 1521.


Room boy itu menempelkan kartu pada pintu. Lalu ia membuka perlahan sembari mempersilakan rombongan Dira untuk masuk.


"Kau boleh pergi!" usir Dira. Tak lupa ia menyelipkan beberapa lembar euro ke saku room boy itu.


Kamar 1521 masih gelap. Dira menarik nafas panjang sebelum melanjutkan melangkah. Siap, tidak siap. Dira harus siap dengan apa yang akan ia lihat di kamar itu. Semoga saja dugaannya salah.


Ceklek.


Lampu kamar itu menyala. Ketiga manusia itu langsung mematung. Pemandangan di hadapan mereka benar-benar panas. Mereka dengan jelas bagaimana Lily dan Edward tidur dalam keadaan sama-sama polos dengan posisi tubuh Lily berada di atas Edward.


Mereka bisa melihat bagaimana kacaunya kamar 1521. Banyak pakaian berceceran, posisi ranjang yang semrawut serta aroma khas yang berasal dari Lily dan Edward.


Kiara langsung menutup kedua matanya dan memutar badan sejauh 180 derajat. Sedangkan Juna hanya bisa menutup mulutnya yang menganga.


"Sialan!" umpat Dira.


Dira langsung bergerak cepat. Ia menutup tubuh Lily dengan selimut dan mendorongnya. Dira menarik tangan Edward dan menampar pipi kanannya dengan keras.


Plak


Plak


Plak


"Bangun, Ed! Bangun!" teriak Dira. Tamparan bertubi-tubi mendarat di pipi Edward.


Lily dan Edward langsung membuka mata. Mereka kaget mendengar suara teriakan Dira yang keras dan fals. Pening, baik Lily maupun Edward masih merasakan sakit di kepala mereka. Mereka belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.


Lily yang jatuh tersungkur segera menutup tubuhnya dengan selimut. Badannya terasa remuk tak bertenaga. Sedangkan Edward, ia hanya diam membeku menerima tamparan demi tamparan dari tangan Dira.


"Kau membuatku malu. Bisa-bisanya kau menghabiskan waktumu di sini sedangkan aku kebingungan dengan jadwal meetingku."


Buggg


Dira melayangkan bogem mentah ke pipi kanan Edward. Ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi. Teriakan Lily menyadarkan Edward jika ia berada di tempat yang salah dengan orang yang salah juga.


"Tu... tuan. Sa...sa...sa.."


"Sapiiiii!" potong Dira cepat. Ia kembali memberi bogem mentah di pipi kiri Edward.


"Hentikan, Kadir! Hentikan!" teriak Kiara. Ia menutup telinga dengan telapak tangannya.


"Aku tidak menyangka jika tanganku bisa melakukan hal se hina ini. Edward, Aku beri waktu sepuluh menit. Cepat temui kami di apartemen Kiara!."


"Eh, gila lu! Dari hotel ke apartemen gue aja butuh waktu 30 menit. Lu malah minta 10 menit. Emangnya Edward jailangkung, bisa ngilang gitu aja" protes Kiara.


Dira memutar tubuhnya. Ia langsung membungkam mulut Kiara dengan tangannya.


"Lu tuh diem aja! Gue lagi emosi malah protes! Diem! Ini urusan gue sama Edward. Lu nggak ada urusan" ucap Dira lalu kembali memutar tubuhnya menghadap Edward.


"Kau dengar, Ed! Ini perintah! Sepuluh menit dari sekarang kau harus sampai di apartemen Kiara" teriak Dira tepat di wajah Edward. Tak lupa Dira menendang kaki Edward sebelum akhirnya ia pergi dari kamar itu.