Mr. Adira

Mr. Adira
20



Dira memasang tampang jutek sejak jet pribadinya lepas landas. Perjalanan yang seharusnya menjadi momen menyenangkan bagi Dira, berubah menjadi momen yang menyebalkan.


Bagaimana tidak? Rencana keberangkatannya terendus oleh Edward. Tangan kanannya itu dengan entengnya ikut bertolak ke Spanyol bersama Dira.


Dira sudah mengusir Edward berkali-kali. Tapi, muka tembok Edward tak mempan diusir. Entah keberanian dari mana yang dimiliki Edward sehingga ia berani membantah Dira.


Bukan tanpa alasan bagi Edward mengikuti Dira kali ini. Kemarin dirinya mendapat kabar dari Daniel jika Dira mengunjungi Penjara Sing Nang. Edward yang paham tujuan Dira ke sana, tentu saja merasa kesal. Ditambah lagi Daniel mengatakan jika Dira memintanya untuk mengirim makanan yang enak untuk tahanan nomer 314.


Sial! Edward langsung mengumpat setelah mendengar aduan dari Daniel. Dugaannya benar-benar tidak meleset sedikitpun. Dira mengunjungi mantan kekasihnya sekaligus pembunuh Samuel.


Ingin sekali Edward memaki Dira dan memasukkannya ke mesin cuci. Hal itu agar otak Dira yang rusak bisa bersih kembali. Entah berapa kali Edward memanggil Dira dengan sebutan "CEO bodoh". Hatinya terlanjur kesal dan marah pada Dira.


Edward tentu saja tidak tinggal diam. Ia meminta Daniel untuk mengabaikan perintah Dira. Toh, Dira tidak akan mengecek ke Penjara Sing Nang secara langsung. Edward akan mencegah Dira kembali ke New York. Hal itu ia lakukan agar Dira tidak menemui mantan kekasihnya itu.


"Ed, wajahmu tenang sekali?" tanya Dira heran.


"Wajah saya memang seperti ini kan, Tuan? Di mana masalahnya?" Edward balik bertanya.


"Masalahnya, wajahmu tidak cocok dengan situasi besok. Saya memotong gajimu 40% karena berani-beraninya ngintilin saya ke Spanyol" ucap Dira tegas.


Edward menarik nafas panjang. Potong gaji 40% bukan hal yang enteng. Edward memang ketar-ketir jika itu terjadi. Namun, untuk saat ini Edward mempunyai Kiara sebagai dekengan. Ia akan mengadu pada Kiara jika Dira benar-benar memotong gajinya sebanyak itu.


"Maaf, Tuan Dira. Saya hanya menjalankan tugas. Saya tidak mau kecolongan lagi."


"Kecolongan? Kau pikir aku mau nyolong di Spanyol? Uangku banyak, Ed. Tak perlu aku nyolong begitu" sungut Dira kesal.


"Bukan masalah uang, Tuan. Tapi, masalah Anda yang diam-diam menemui tahanan nomor 314 di Penjara Sing Nang" ucap Edward tenang.


Deg.


Dira langsung menoleh ke arah Edward. Ia kaget karena Edwar mengetahui tentang dirinya yang menemui Veronica.


"Kau... Kau.. Tahu? Kau tahu dari mana, Ed?" tanya Dira.


"Burung nuri tetangga yang memberi tahu, Tuan."


"Jangan becanda, Ed!" Dira melempar sepatu kanannya ke arah Edward. Untung saja Edward sudah bisa membaca pergerakan Dira sehingga ia bisa menghindar dengan cepat.


"Saya tidak becanda. Saya serius, Tuan. Oh,iya dari pada Tuan marah-marah. Bagaimana jika Tuan tidur saja. Perjalanan menuju Spanyol masih lama. Anda perlu beristirahat karena jadwal Anda sangat padat."


"Sangat padat? Maksudmu apa? Aku ke Spanyol untuk liburan sekaligus kabur dari Mama, Ed" kata Dira kaget.


Edward menggeleng. Ia kemudian mengambil buku agenda kegiatan Dira yang ia simpan di saku jas hitamnya. Edward membaca satu persatu jadwal kegiatan Dira selama berada di Spanyol.


"Apa-apaan ini? Mengapa ada kau membuat agenda sepadat itu? Kau mau membunuhku, hah?" bentak Dira kesal.


"Maaf, Tuan. Sebenarnya itu adalah tugas Mas Juna. Namun, karena Mas Juna masih baru maka saya berinisiatif untuk menempatkan Anda sebagai pendamping Mas Juna."


Brak...


Dira melempar kembali sepatu sebelah kirinya. Lemparan asal itu rupanya mengenai dinding pesawat.


Edward hanya bisa mengelus dada melihat Dira yang mengamuk. Kalau sudah begitu, ingin rasanya Edward menyirami Dira dengan air kembang tujuh rupa.


"Kau merusak rencanaku! Turun kau! Turun sekarang juga! Lama-lama aku bisa stress melihatmu di sini" usir Dira.


"Tuan, kita sedang naik jet pribadi bukan naik angkot. Jadi saya tidak bisa turun sekarang."


Edward lalu bangkit meninggalkan Dira seorang diri. Tak lama, Edward kembali muncul membawa nampan yang berisi sandwich dan jus jeruk.


"Silakan, Tuan! Anda sarapan dulu agar tidak marah-marah terus" kata Edward. Ia meletakkan nampan yang dibawanya di hadapan Dira.


Dira membuang muka. Rasanya enggan untuk menerima makanan dan minuman dari Edward. Namun, karena perutnya berbunyi. Mau tidak mau Dira melahap sandwich dan jus jeruk itu.


"Ed, bawakan lagi! Aku masih lapar" perintah Dira.


Edward mengangguk. Ia mengambil nampan yang sudah kosong dan membawanya kembali. Edward sengaja melangkah dengan perlahan. Ia sesekali menoleh ke arah Dira.


"Hoaaaammmmmm.......!!! Kenapa jadi ngantuk?" ucap Dira sembari menguap berkali-kali.


Dira membenarkan posisi duduknya. Ia mengubah kursi yang didudukinya agar bisa dijadikan tempat untuk rebahan.


Edward tersenyum tipis. Ia memang sengaja memasukkan obat tidur di dalam jus jeruk milik Dira. Edward tidak berniat jahat. Ia hanya ingin Dira terlelap sepanjang perjalanan karena jika Dira terjaga bisa dipastikan perjalanan Jakarta- Spanyol tidak akan tentram dan damai.


***


Dira melempar tumpukan kertas yang sudah ia tanda tangani ke arah Edward. Sudah tiga hari sejak dirinya berada di Spanyol, Dira belum sedikitpun berjalan-jalan menikmati indahnya kota Barcelona.


Edward, lagi-lagi dengan lucknutnya memberikan pekerjaan yang tiada henti hingga membuat Dira mual dan kembung. Entah sudah berapa banyak meeting yang dijalani Dira, sudah berapa banyak klien yang ditemui Dira. Kepala Dira seakan mau pecah. Ia butuh hiburan. Ia ingin bersenang-senang.


"Ini yang terakhir, Ed. Aku tidak mau ada meeting, meeting dan meeting. Aku mau jalan-jalan. Otakku berasap akibat jadwal yang kau buat" gerutu Dira setelah ia melempar kertas-kertas itu pada Edward.


Edward mengangguk. Sebenarnya ia juga kasian kepada Tuannya. Namun, Edward harus tegas karena ini adalah hukuman bagi Dira yang sudah menemui Veronica diam-diam.


"Aku mau tidur" kata Dira.


"Maaf, Tuan! Untuk hari ini masih ada satu jadwal lagi."


Brak.


Dira langsung memukul meja. Emosinya langsung naik mendengar ucapan Edward.


"Kau mau membunuhku, hah? Kau dendam kepadaku? Edward, aku tidak mau meeting atau bertemu klien. Aku mau tidur!!!" ucap Dira dengan nada suara yang sudah meninggi


Edward membungkuk.


"Maaf, Tuan! Ini bukan meeting atau bertemh klien. Tapi agenda terakhir Tuan hari ini adalah bertemu dengan Mr. Carlos untuk menentukan tanggal pertunangan Mas Juna dan Lily."


"Batalkan!" ucap Dira cepat.


"Alasannya?."


"Karena saya mengantuk. Kalau cuma masalah tanggal, besok atau lusa juga boleh. Nggak perlu sampai ketemuan ama si Carlos."


Dira mengibaskan tangannya, memberi kode agar Edward meninggakannya. Edward yang paham segera angkat kaki dari hadapan Dira.


Dira menarik nafas panjang. Ia lalu mengambil ponsel cadangannya dan menelepon Kiara.


"Kiaraaaaaaaa....." Dira langsung berteriak saat panggilan teleponnha di jawab oleh Kiara.


"Kadir, lu kabur lagi ya? Mama nggak berenti nelponin gue, tanya elu ada di mana? Lu ini bener-bener deh, ganggu orang bikin anak" omel Kiara.


"Kiara, my little pony. Makanya cepat pulang! Bikin anaknya di Jakarta aja. Gue nggak mau di Jakarta. Gue mau balik ke New York."


"Nggak bisa! Jatah bulan madu gue belum habis" tolak Kiara dengan cepat.


"Aduh, Kiara...!!! Kalau lu pulang nungguin jatah tuh bulan madu habis, bisa-bisa gue nikah beneran ama dokter tidak terkenal itu."


"Ya, lu tinggal nikah aja ribet banget.".


"Gue nggak suka sama dia" sahut Dira cepat.


"Emang dulu waktu lu nyuruh gue nikah ama Elang, gue suka sama dia. Dih, bisanya cuma maksa orang. Dah lah jangan ganggu gue! Gue mau lanjut bikin anak. Mau bulan madu ada aja gangguannya."


Klik.


Kiara benar-benar menutup sambungan teleponnya. Dira mengacak-acak rambutnya. Adik satu-satunya itu tidak bisa di ajak kerja sama. Kalau sudah begini? Bagaimana Dira bisa secepatnya kembali ke New york?


Tok..tok..tok...


Edward mengetuk pintu ruang kerja Dira. Setelah mendengar perintah dari Dira, ia segera membuka pintu dan melangkah masuk.


"Ada apa lagi?" tanya Dira ketus.


Edward membungkuk.


"Tuan, di depan ada Mr. Carlos dan Nona Lily. Mereka datang ke sini karena ingin membahas tanggal pertunangan Nona Lily dan Mas Juna."


"Suruh pulang! Suruh pulang! Saya mau tidur. Tidak mau bahas tanggal. Kalau kamu mau, kamu saja yang cari tanggal pertunangan Juna dan si dakocan" ucap Dira lalu kembali mengusir Edward agar keluar dari ruangannya.