
Nadhif terlihat bingung melihat penampakan kacau bos nya. Sejak kepulangan Dira dari Spanyol, bosnya itu lebih banyak diam daripada mengomel. Nadhif sudah berusaha mengajak berbicara. Namun, Dira seakan enggan menanggapi.
Jadwal Dira yang sudah tertata rapi pun kembali berantakan. Dira tidak nerminat untuk meeting ataupun bertemu klien. Ia menghabiskan waktunya dengan duduk melamun sembari mencorat-coret kertas.
"Permisi...." Juna menyembulkan kepalanya di balik pintu. Ia lalu masuk ke dalam ruangan Dira meskipun belum ada perintah untuk masuk.
"Pak Nadhif, saya sudah selesai mengecek laporan ini" kata Juna sembari menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Nadhif.
Nadhif menerima berkas-berkas itu dan meneliti kembali. Sudut bibirnya terangkat tatkala melihat hasil pekerjaan Juna.
"Pak Mayjuna baru sehari di sini sudah ada kemajuan. Saya akan beri berkas baru untuk diperiksa dan tolong lakukan dengan teliti" kata Nadhif lalu mengambil tumpukan berkas yang tergeletak di meja Dira.
Juna sedikit mengernyitkan dahi melihat penampilan Dira. Kusut seperti baju yang tidak disetrika. Juna berjalan menghampiri Dira. Ia meraba kening laki-laki itu dan merasakan suhu badan dari seorang Dira.
"Kenapa Pak Mayjuna?" tanya Nadhif heran.
"Bos besar kenapa? Kenapa dia belum mengomel sejak saya datang ke sini?" tanya Juna dengan tingkat keheranan yang sama dengan Nadhif.
Nadhif hanya mengangkat bahu. Ia juga bingung untuk menjawab apa.
"Bos...! Bos...! Makan siang yuk! Jangan melamun, nanti jauh dari jodoh" bisik Juna.
Plak!
Dira langsung merespon. Ia memukul bahu Juna dengan tumpukan berkas di hadapannya. Juna tersenyum senang. Dira sudah kembali pada mode setelan pabrik meskipun belum 100%.
"Jodohku siapa?" tanya Dira lesu.
"Heuh?" Nadhif dan Juna saling pandang. Mereka tidak menyangka jika kalimat itu yang akan keluar dari mulut Dira.
"Tuan Dira sedang galau? Apa Tuan masih memikirkan tentang Veronica?" tanya Nadhif. Ia mengetahui tentang Veronica dari Kiara. Kiara menceritakan secara garis besar tentang Veronica, perempuan yang tidak boleh didekati oleh Dira.
Berbeda dengan Juna, ia memang tidak tahu tentang Veronica sehingga dirinya hanya diam tidak menanggapi.
"Veronica siapa?" bisik Juna pada Nadhif.
"Pacarnya si Bos, tapi dulu. Sekarang sudah nggak karena dia menabrak paman si Bos sampai meninggal" Nadhif balas berbisik kepada Juna.
"Hah?" Juna menganga akibat terkejut.
"Bisakah kalian berhenti bergosip tentangku? Duduk dan dengarkan! Aku mau berkeluh kesah" perintah Dira dan hal itu lagi-lagi membuat Nadhif dan Juna saling pandang.
Meski bingung, mereka berdua menuruti perintah Dira. Tangan kanan Nadhif dan Juna dengan kompak menarik kursi di hadapan Dira. Mereka duduk sembari menunggu kalimat apa yang akan dilontarkan oleh bos nya.
"Apakah kau bisa tutup mulut?" tanya Dira sembari menatap tajam ke arah Nadhif.
Nadhif mengangguk.
"Dan kau, Juna! Bisakah kau tutup mulut?."
Juna menoleh ke arah Nadhif sebentar kemudian ia menganggukkan kepala.
"Aku pegang janji kalian berdua" kata Dira.
"Bos, sebenarnya ada apa? Mengapa Anda murung seperti itu?" tanya Nadhif.
Dira menarik nafas panjang.
"Saya galau."
"Galau?" ulang Nadhif dan Juna bersamaan.
"Hati saya gelisah. Mainan saya menghilang entah kemana."
Nadhif dan Juna kembali saling tatap.
"Bos, Anda kan orang kaya. Kalau cuma mainan yang hilang, Anda bisa membelinya lagi" ucap Juna.
"Mainan seperti apa, Bos? Biar saya carikan baik offline maupun online" kata Nadhif menawari.
Dira menggeleng sehingga membuat Nadhif dan Juna semakin bingung.
"Apa saya boleh menemui Veronica?" tanya Dira.
"Tidak boleh, bos! Sesuai perintah Nyonya Kiara. Gaji saya akan dipotong 80% jika saya lalai dalam mengawasi Anda bertemu perempuan itu. Saya tidak mau makan mie instan tiap hari, Bos. Tolong mengerti!" kata Nadhif mulai tegas.
"Saya hanya ingin melihatnya dari jauh" kata Dira lirih.
"Bos belum bisa move on? Wah, CEO yang satu ini setia sekali rupanya" ejek Juna membuat Dira menatap tajam kepadanya.
"Saya pikir Bos sekuat itu. Memperlakukan saya sangat disiplin dan tegas tapi lemah memperlakukan hati sendiri. Bos, saha tidak tahu kisah apa yang terjadi antara Anda dan Veronica. Tapi, mendengar ancaman Nyonya Kiara kepada Nadhif membuat saya yakin jika perempuan itu tidak baik untukmu" kata Juna yang entah sejak kapan menjadi bijak seperti ini.
"Lalu saya harus bagaimana???? Ketemu Veronica nggak boleh, mainanku hilang. Stresss...!!! Stress...!!! Stress...!!!" teriak Dira sembari menjambak rambutnya.
"Bos...bos.... Sudah, Bos!" Juna dan Nadhif bangkit. Mereka berusaha melepaskan tangan Dira agar berhenti menjambak rambutnya.
"Tolong temukan mainan saya!" ucap Dira lirih.
"Saya akan mencarinya, Bos. Tolong katakan seperti apa mainan yang Anda cari!" kata Nadhif.
Nadhif langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat foto Dira dan Olive yang saling berpelukan membuat wajahnya merona. Ia malu melihat foto itu.
Juna yang penasaran dengan foto yang dilihat Nadhif segera mengambil ponsel Dira. Kedua netranya membulat sempurna ketika melihat foto yang terpampang di layar ponsel Dira.
Rupanya tangan Juna tidak sengaja menggeser slide foto ke kanan sehingga nampak foto yang berbeda. Foto yang dilihat Juna adalah foto Dira yang dengan sengaja mengecup kening Olive yang sedang tidur.
Juna langsung menganga. Ia tidak menyangka jika Dira sudah pernah tidur sekasur dengan perempuan.
"Bos...! I... I...ni siapa?" tanya Juna gugup.
"Obat hatiku. Aku selalu gelisah kalau tidak ada dia" jawab Dira.
"Bos, kalian tinggal bersama?" tanya Juna.
Dira dengan polosnya mengangguk.
"APA???!!!" Juna berteriak layaknya emak-emak yang mendengar kabar buruk tentang sesuatu.
"Bos, kalian belum resmi menikah. Mengapa sudah tidur dalam satu kasur? Dosa, bos! Dosa" ucap Juna.
Dira melirik ke arah Juna.
"Andai kau tidak pingsan saat bertemu dengan si dakocan, pastilah saya sudah menikah dengan dia! Kau menggagalkan acara pernikahanku dan dia."
"Loh?" Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Olive kabur! Dan sampai sekarang orang-orangku belum menemukannya" ucap Dira frustasi.
"Bos, sebenarnya siapa yang Anda sukai? Veronica atau wanita ini?" tanya Nadhif bingung.
Dira menghela nafas panjang.
"Entahlah! Aku tidak tahu hatiku maunya apa. Aku sangat nyaman bersama Olive. Tapi aku tetap tidak bisa melupakan Veronica. Aku bisa sedikit melupakan Veronica jika bersama Olive. Pikiranku teralihkan padanya, menggodanya, mengusilinya sungguh sangat menyengkan."
"Tettt....!!! Anda jatuh cinta kepada Olive" kata Juna berpura-pura memencet bel seperti sedang ikut kuis family 1000.
"Anda benar....!!!" teriak Nadhif kemudian ia bertepuk tangan dan bersalaman dengan Juna.
"Ternyata Bos Dira bisa jatuh cinta juga" ejek Juna.
Dira tidak menanggapi ejekan Juna. Mood mengamuknya seakan hilang setelah Olive menghilang.
"Apa Nyonya Kiara tahu?" tanya Juna.
Dira menggeleng.
"Apakah itu tidak akan menimbulkan masalah, Bos? Bagaimana jika ternyata Nyonya Kiara tidak setuju dengan Olive?" tanya Nadhif.
"Aku tidak peduli. Meski dunia tidak setuju, aku tidak akan peduli. Tugasmu, cari Olive! Aku tidak akan bisa bekerja dan hidup dengan tenang jika tidak ada dia" ucap Dira.
Nadhif dan Juna saling pandang. Mereka juga saling mengangkat kedua bahunya. Melihat Dira yang kusut seperti itu membuat Nadhif tidak tega. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Satu jam kemudian.
Ting!
Ponsel Nadhif berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Wajahnya langsung sumringah ketika membaca pesan di layar ponselnya.
"Bos, ada kabar baik" kata Nadhif.
Dira tak menyahut. Ia hanya mengangkat wajahnya.
"Apakah wanita ini yang Anda cari?" tanya Nadhif sembari memperlihatkan sebuah foto di layar ponselnya.
Kedua netra Dira langsung berbinar-binar melihat foto Olive yang sedang makan di restoran. Energinya kembali terisi hanya dengan melihat foto gadis itu.
"Di mana dia sekarang?" tanya Dira.
"Dia di Swiss."
"APA??? Swiss?? Mengapa dia sampaj nyasar ke sana?" tanya Dira heran.
Nadhif hanya mengangkat bahu.
"Hubungi Kapten Jack dan katakan padanya untuk mempersiapkan pesawat. Saya akan bertolak ke Swiss sekarang juga" perintah Dira.
"Bos, saya ikut dong!" pinta Juna.
"Tidak! Kamu di sini bersama Nadhif. Kalian berdua saya tugaskan untuk mempersiapkan pernikahan saya. Saya mau ketika saya kembali ke New York, saya langsung menikah dengan Olive."
"Ap...ap..apa? Serius, Bos?" tanya Nadhif.
"Sepuluh rius! Dan kalian harus tutup mulut sesuai perjanjian tadi. Saya tidak mau keluarga saya tahu jika saya menikah dengan Olive. Hanya kita bertiga, paham?" tanya Dira.
"Paham, Bos!" jawab Nadhif dan Juna bersamaan.