
Dira membelokkan mobilnya di sebuah cafe bergaya semi eropa. Setelah berjam-jam dirinya berputar-putar tidak jelas, memecah jalanan padat nan ramai kota New York. Perutnya berdemo kencang. Dira lupa tidak makan siang dan sekarang hari sudah beranjak sore.
Pantas saja cacing di dalam perut Dira berdemo. Si pemilik perut rupanya melewatkan jatah makan mereka selama berjam-jam. Jadi ketika melihat sebuah cafe di pinggir jalan, Dira segera menepi. Ia masuk ke dalam cafe itu guna merapel makan siang dan makan sorenya.
"Saya mau nasi padang" pesan Dira tanpa melihat menu.
Pelayan cafe diam mematung. Ia merasa asing dengan menu yang diucapkan oleh Dira.
"Kenapa diam? Cepat tulis! Saya pesan nasi padang, lauknya ayam sambel ijo. Minumannya teh tubruk" ucap Dira lagi.
Pelayan cafe semakin bingung. Selama ia bekerja di cafe itu, ia belum pernah mendengar menu yang dipesan oleh Dira. Ia sampai membolak-balik buku menu untuk mengecek apakah ada menu yang diucapkan Dira.
Pelayan itu khawatir dirinya yang tidak update sehingga tidak tahu jika ada menu baru. Namun, sudah lima kali ia membolak balik buku menu itu dan tetap saja menu-menu yang diucapkan Dira tidak ada.
"Tuan, maaf menu yang Anda pesan tidak tersedia di cafe ini" kata pelayan itu ramah.
"Tidak tersedia? Bagaimana bisa? Apa cafe ini tidak memiliki chef jebolan ajang pencari bakat?" tanya Dira sembari menampakkan wajah masamnya.
"Maaf, Tuan. Chef di sini semuanya lulusan universitas di Prancis bukan ajang pencarian bakat."
Dira menggelengkan kepalanya. Ia merasa salah masuk cafe. Kalau sudah begitu, Dira pasti kebingungan untuk memesan makanan. Alhasil Dira menyerahkan pilihan menu kepada pelayan. Intinya Dira mau makan daging. Terserah nama makanannya apa.
Pelayan itu berfikir sejenak. Ia kemudian menjatuhkan pilihan pada tunderloin steak, menu andalan di cafe itu. Usai memastikan tidak ada lagi pesanan Dira, pelayan itu pamit undur diri.
Kini tinggallah Dira duduk sendiri di kursi pojokan, menikmati angin semilir yang lewat beberapa detik sekali. Dira menunggu sembari melamun. Apalagi jika bukan melamun tentang Veronica dan Olive.
Dua perempuan itu seperti berdiam di otak Dira dengan persentase yang sama. Sehingga Dira tidak bisa untuk tidak memikirkan keduanya. Di satu sisi, Dira ingin mengunjungi Veronica. Di satu sisi, Dira ingin bermanja-manja pada Olive.
Ah, hati Dira sedang galau. Menggalaukan dua perempuan yang belum jelas statusnya di hati seorang Dira.
"Aku sudah kenyang, cepat bayar!"
Telinga Dira tidak sengaja mendengar percakapan meja di belakangnya.
"Aku lagi? Mengapa setiap kita berkencan selalu saja aku yang bayar" protes si perempuan.
Dira menoleh sedikit. Ia merasa sedikit familiar dengan suara si perempuan. Sudut bibirnya terangkat ketika tebakannya tepat. Ia berpindah tempat duduk, memghadap meja di belakangnya agar bisa memantau pasangan itu yang sedang berdebat.
"Ini hukuman karena kau menghilang" kata si laki-laki.
"Menghilang? Aku tidak menghilang. Aku bekerja."
"Mana ada orang bekerja sampai tidak pulang berhari-hari? Apa yang kau kerjakan? Jual diri hah?."
"Jeremy...!!!"
Plak.
Perempuan itu yang tak lain adalah Olive, menampar Jeremy kekasihnya. Olive tidak terima dengan ucapan Jeremy yang menuduhnya jual beli.
"Hei, kau sudah berani menamparku hah? Apa kau lupa siapa yang merawatmu sampai sekarang? Kau hanya anak yatim piatu. Kalau bukan karena orang tuaku yang memungutmu. Hidupmu tidak akan sebaik sekarang."
"Cukup, Jeremy! Cukup!."
"Kau ini anak pembawa sial! Sejak Papa dan Mama memungutmu, bisnis mereka tidak lancar. Mereka bangkrut dan meninggal. Kau sama seperti ibumu! Menjual diri demi uang."
Buggg
Bogem mentah Dira langsung melayang, mengenai pipi kiri Jeremy. Ia yang sejak tadi diam menguping, lama-lama merasa panas dengan cacian yang diucapkan Jeremy.
Ini tempat umum dan laki-laki itu dengan entengnya mencaci maki Olive. Apakah ia tidak bisa mencaci maki lewat tulisan saja? Atau paling tidak tunggu sampai di rumah jika ingin bertengkar.
"Siapa kau? Mengapa kau ikut campur hah?" tanya Jeremy sembari meringis kesakitan.
Dira menghela nafas panjang. Sudah hampir tahun baru masih saja ada yang tidak mengenalnya? Apa perlu Dira menyebar brosur tentang siapa dirinya? Atau apa perlu dia memasang name tag agar mudah dikenali?
"Mr. Adirra?" ucap Olive kaget.
"Iya, sayang. Ini aku" jawab Dira sembari memasang wajah imutnya.
"Kau? Pasti kekasih gelap Olive. Kau pasti pria hidung belang yang membeli tubuh Olive" tuduh Jeremy.
"APA???? Pria hidung belang katamu?."
"Lihat dengan seksama! Hidungku polos, tidak belang" kata Dira sembari memperlihatkan hasil jepretannya.
Olive menahan tawanya. Tingkah Dira yang seperti itu pasti membuat Jeremy semakin naik darah.
Jeremy bangkit. Ia melayangkan tangannga hendak memberi bogem kepada Dira. Untung Dira bergerak cepat. Ia mendorong kursi di hadapannya sehingga mengenai perut Jeremy. Jeremy kembali tersungkur. Ia kembali meringis karena terkena pojokan kursi.
"Sayang, laki-laki itu yang kau jadikan kekasih? Cih! Lemah dan kere! Tinggalkan dia dan ikut saya sekarang!" ucap Dira sembari menarik tangan Olive untuk pergi meninggalkan cafe itu.
"Mister...mister.. saya belum bayar!" cegah Olive.
"Ah, iya! Saya juga belum makan! Ya sudah kamu suapi saya makan dulu. Nafsu makan saya hilang sejak tidak ada kamu."
"Tapi, Tuan?."
"Tidak ada tapi-tapi."
"Lalu Jeremy?" tanya Olive lagi.
"Biarkan saja! Dia sedang rebahan. Jangan di ganggu!" ucap Dira kemudian ia mengajak Olive untuk duduk di mejanya.
Dira dan Olive berjalan meninggalkan Jeremy yang masih meringis kesakitan. Jeremy tidak terima diperlakukan seperti itu. Ia mengambil pisau kecil di balik saku celananya. Jeremy bangkit, mengambil ancang-ancang untuk melempar pisau itu ke arah Dira.
Satu.
Dua.
Tiga.
"Dorrrrr....."
Dira dan Olive kaget. Mereka menoleh ke belakang. Nampak Jeremy sedang menahan sakit. Paha kananya terkena tembakan.
Beberapa orang berpakaian hitam muncul. Orang-orang itu meringkus Jeremy. Tak lupa mereka menyiksa Jeremy terlebih dahulu. Hitung-hitung sebagai pemanasan.
"Tuan...!" salah satu dari orang berpakaian hitam itu datang menghampiri Dira. Ia membungkuk memberi hormat kepada Dira.
"Kerja bagus! Bonus kalian akan saya kirim" ucap Dira santai.
"Anda akan melakukan apa terhadap lalat itu, Tuan?."
"Lihat saja nanti! Bawa dulu ke tempat biasa! Saya masih ingin makan" ucap Dira.
Laki-laki itu membungkuk lalu pamit undur diri. Mereka pergi meninggalkan cafe itu sembari menyeret tubuh Jeremy yang merintih kesakitan.
Olive bergidik ngeri. Ia menjadi canggung berada di samping Dira. Andai saja ada tali rafia, pastilah Olive akan mengambilnya untuk membantunya kabur. Mungkin Olive akan bergelantungan layaknya tarzan.
"Sayang, ayo duduk! Saya sudah lapar!" ajak Dira membuyarkan lamunan Olive.
Olive menurut saja. Ia duduk dan mulai menyuapi Dira. Meski dirinya masih ketakutan, Olive berusaha tidak menampakkannya di hadapan Dira.
Dan benar saja, Dira makan dengan lahap. Selain lapar, ia juga sedang dalam mode manja. Tiga piring tunderloin steak dihabiskan oleh Dira. Ia mengelus perutnya yang kekenyangan akibat kebanyakan makan.
"Sayang, kamu tidak mau makan?" tanya Dira. Panggilan sayang yang diucapkan Dira membuat Olive canggung. Jika diingat-ingat sejak tadi Dira memang memanggilnya dengan panggilan sayang. Hanya saja Olive tidak sadar akan panggilan itu.
"Tidak, Mister. Saya mau pulang saja" jawab Olive.
"Pulang? Ini hari Sabtu lho, beberapa menit lagi malam minggu. Bukankah sepasang kekasih akan berkencan jika malam minggu tiba?" tanya Dira sembari tersenyum genit kepada Olive.
Olive menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi saya bukan kekasih Anda, Mister."
"Kata siapa? Mulai sekarang kamu adalah kekasih saya dan besok kita akan menikah."
"Ap...apa? Mister, Mister jangan becanda" ucap Olive panik.
"Siapa yang becanda? Sudahlah, sekarang kita pergi saja menikmati detik-detik masa lajang kita berdua. Kau mau jalan-jalan ke mana? Saya akan mengantarmu, sayang" kata Dira seperti biasa menyombongkan diri.
Olive tidak menyahut. Ia masih shock dengan ucapan Dira. Karena terlalu lama menunggu jawaban Olive. Akhirnya Dira yang memutuskan. Dira menarik tangan Olive dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Karena dasarnya Olive anak yang penurut. Jadi, dia tidak memberontak sedikitpun. Hal itulah yang menjadi daya tarik Dira untuk menggoda Olive. Kapan lagi coba menggoda cewek yang imut, manis dan tidak bar-bar?