
"Mis...Mis...ter...Adirra?"
Olive langsung berkeringat dingin ketika melihat Dira sedang duduk di kursi kebesara Evan. Tubuhnya yang sudah memproduksi banyak keringat akibat berlari marathon menuju butik Evan, kini semakin aktif memproduksi bulir-bulir keringat itu.
Olive benar-benar gagal paham, mengapa Dira bisa di sana. Evan menelponnya karena dia sedang dalam bahaya. Olive pikir ada perampok atau begal yang datang ke butik sehingga Evan butuh pertolongan.
Namun, apa yang ada dipikiran Olive ternyata tidak benar. Evan dalam keadaan baik-baik saja. Justru sekarang dirinyalah yang berada dalam bahaya.
"Kenapa diam, hah? Apa kau tidak merindukan Bos besarmu?" tanya Dira tak lupa ia menggerakkan kedua alisnya naik turun untuk menggoda Olive.
"Eh, Eh, Mister Adirra... Selamat datang! Maaf saya tidak menyambut Anda dengan sopan" Olive langsung membungkuk, memberi hormat sesuai SOP yang ditetapkan oleh Dira.
"Kemarilah! Jangan berdiri terlalu jauh! Rasa rinduku ini tidak sampai jika jarak kita sejauh itu."
Hueeekkkk...
Evan ingin muntah rasanya. Mendengar gombalan Dira benar-benar membuat perutnya geli. Evan yang memang tidak ada kerjaan, membetahkan Diri duduk di pojokan sembari berpura-pura mendesain sebuah gaun.
Evan tidak mau ketinggalan hot gossip. Meskipun kedua tangannya sibuk menggambar, kedua telinga Evan sudah stand by mendengarkan pembicaraan Olive dan Dira.
"Maju lagi! Kamu hanya melangkah sekali. Jarak kita hanya berkurang satu inci. Apa kau tidak mau mengikis jarak di antara kita? Bagaimana bisa benih-benih cinta ini bisa kita pupuk jika kau tidak mau mendekat kepadaku."
Sok puitis!
Begitulah Evan memaki Dira dalam hati. Berbeda dengan Olive. Ia seakan tidak bisa bernafas mendengar gombalan-gombalan receh Dira. Jantung Olive tidak aman, ia sepertinya harus memeriksa kesehatan jantungnya ke dokter.
"Kau lama sekali. Aku sudah menyuruhmu mendekat tapi kau tetap saja di sana. Apa kau ingin aku yang menghampirimu, hah?."
Dira berjalan menghampiri Olive. Ia menarik tangan Olive membawa tubuhnya masuk kedalam dekapan Dira.
"Astagaaaa.... Mataku ternoda!!" teriak Evan.
Dira segera melepas sepatunya dan melemparkan ke arah Evan. Manusia gembul ini benar-benar mengganggunya. Apakah ia tidak tahu jika Dira sedang ingin menggoda Olive? Dira bersumpah akan mengempesi perut Evan jika sekali lagi ia mengganggu sesi romantis-romantisan antara dirinya dan Olive.
"Mis...Mis...Mister Adirra, tolong jangan begini!."
"Jangan begini? Begini seperti apa maksudmu?" Dira makin mempererat pelukannya. Tindakan usil Dira itu membuat Olive semakin sesak nafas.
"Ah, sepertinya sudah lama aku tidak menikmati pipi empukmu! Sebentar aku cek, apakah rasanya masih sama."
Cup...!
Dira menempelkan bibirnya di pipi kanan Olive. Sedetik, dua detik, tidak ada tanda-tanda jika Dira akan menjauhkan kedua bibirnya.
Evan yang semula duduk kembali berteriak histeris saat melihat pemandangan itu. Evan yang tahu jika Olive memiliki seorang kekasih, tentu saja risih dengan apa yang baru saja ia lihat.
Kekasih Olive sangat posesif sehingga membuat Evan cemas. Evan takut jika kekasih Olive tiba-tiba muncul dan melihat pemandangan itu.
"Apa kau tidak bisa diam, hah? Teriakanmu sungguh merusak suasana! Enyah kau dari tempat ini! Pergi saja ke perempatan!" usir Dira kesal. Pasalnya ia harus menyudahi adegan encup-mengencup pipi Olive akibat teriakan histeris Evan.
"Ke perempatan? Untuk apa Tuan?" tanya Evan.
"Beli sate keong lima ratus tusuk. Bumbunya di pisah. Heran deh, ganggu aja di sini" gerutu Dira.
"Sate keong? Di sini tidak ada yang menjual sate keong, Tuan."
"Aku tidak peduli! Carikan sate keong sebanyak lima ratus tusuk. Saya sedang ngidam. Apa kau tidak tahu ada calon penerusku di sini?" ucap Dira sembari mengusap-usap perut rata Olive.
"APA??? OLIVE, KAU HAMIL????" Evan semakin berteriak kencang.
"Tidak, Evan! Tidak! Mister Adirra, mengapa Anda selalu berkata jika saya sedang hamil. Saya tidak hamil. Saya masih perawan, Mister" ucap Olive kesal.
"Sungguh? Kau masih perawan? Bagus! Kamu diterima menjadi sekretaris Mr. Adirra lewat jalur prestasi. Mulai besok kamu sudah bekerja. Datanglah ke kantor Sanjaya corp pukul 6 pagi!."
"Hah? Tap...tap..tapi saya tidak melamar pekerjaan di sana, Mister."
"Untuk jalur prestasi tidak ada acara lamar-melamar pekerjaan. Semuanya diseleksi langsung oleh saya sendiri. Baiklah karrna kamu sudah saya terima. Persiapkan dirimu sekarang juga! Besok saya tunggu di kantor Sanjaya corp."
Lagi, Dira mengecup pipi kanan Olive. Lalu dengan santainya ia pergi meninggalkan butik Evan tanpa memperdulikan dua orang yang masih berdiri mematung menatap kepergiannya.
"Evan, apakah aku sudah gila?" tanya Olive.
"Tidak! Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Apakah aku sudah gila sehingga mendengar sayup-sayup suara Mr. Adirra yang menerimamu sebagai sekretarisnya?" ucap Evan.
"Sepertinya aku tidak gila" ucap Olive.
"Dan sepertinya ini bukan mimpi" sambung Evan.
"ITU ARTINYA INI KENYATAAN!!! HUAAAA....."Evan dan Olive berteriak bersama-sama. Mereka menjambak rambut masing-masing untuk menyalurkan rasa kekesalannya.
***
06.00, Sanjaya corp - New York.
Prok...Prok...Prok...
Dira bertepuk tangan ketika melihat kemunculan Olive di ruang kerjanya. Pukul 6 kurang lima menit, gadis berambut pirang itu muncul dengan nafas yang ngos-ngosan.
Semalam, Olive tidak bisa tidur sehingga ia bangun kesiangan. Olive yang tahu jika Dira sangat membenci orang yang ngaret, langsung bererak cepat agar bisa datang ke kantor Sanjaya corp tepat waktu.
"Ternyata aku tidak salah memilihmu menjadi sekretarisku. Kau benar-benar on time, cantik" Dira menoel dagu panjang Olive, seperti biasa ia akan menggoda gadis itu.
"Berhubung kau pernah menjadi sekretaris Kiara, saya rasa kamu sudah tahu seperti apa tugas-tugas kamu. Saya tidak perlu melatih kamu lagi bukan?."
Olive diam.
"Tugas sekretaris di sini tidak jauh berbeda dengan di sana. Kau hanya perlu memastikan jadwalku, mencatatnya, ikut saya rapat, menyerahkan laporan, mewakili saya rapat dan bertemu klien jika saya ingin libur dan mager untuk bekerja."
"Enak banget tuh mulut, nyuruh-nyuruh" batin Olive jika bisa ia ungkapkan kepada Dira.
"Jam kerja kamu dari pukul 6 sampai saya suruh pulang. Ingat, jangan pulang sebelum saya yang menyuruh. Karena bisa saja kamu lembur dan menginap di sini jika saya sedang memegang banyak proyek."
Olive masih diam.
"Apa kau ingin menyampaikan sepatah dua patah kata?."
Olive mengangguk.
"Silakan! Waktu dan tempat saya berikan!" perintah Dira.
Olive menarik nafas panjang. Ia perlu mengumpulkan seluruh keberaniannya sebelum berbicara kepada Dira. Olive sudah paham bagaimana watak Dira. Bos besarnya itu tidak bisa tersinggung sedikit. Bisa tamat nasib butik Evan jika Olive membuat seorang Dira *badmo*od.
"Saya ingin mengundurkan diri. Saya rasa saya tidak pantas untuk menjadi sekretaris Mister."
"APA???!!! Kamu belum saya lantik malah mengundurkan diri. Tidak bisa! Tidak bisa! Kamu saya kontrak seumur hidup menjadi sekretaris pribadi saya" tolak Dira.
"Maaf, Mister. Mengapa Mister memilih saya ? Saya ini hanya tukang rias. Tidak pantas menjadi sekretaris apalagi sekretaris seorang CEO terbaik seperti Anda. Saya tidak mampu, saya masih awam akan hal itu."
"No! No! No! Kamu tidak usah rendah diri. Semua butuh proses. Ulat saja butuh waktu untuk menjadi kupu-kupu. Apalagi kamu? Pastilah butuh waktu untuk menjadi pendampingku."
Blussshhh...
Olive malah merona mendengar gombalan Dira. Ia ingin sekali menabok pipinya yang dengan sengaja bersemu merah muda setelah mendapat gombalan dari Dira.
"Sudah jangan merona seperti itu. Saya tahu kamu tersipu malu. Tapi jangan terlalu di ekspose seperti itu. Sekarang, ambil buku catatan ini! Pelajari baik-baik! Itu adalah buku peninggalan milik Edward. Semoga bermanfaat untukmu dalam bekerja."
Ting...!
Dira mengedipkan sebelah matanya. Hal itu membuat Olive kembali salah tingkah. Ia mengambil buku catatan milik Edward dan buru-buru meninggalkan ruang kerja Dira.
Sepertinya mulai besok Olive harus membawa tabung oksigen. Bekerja di tempat Dira membuatnya sering sesak nafas. Olive harus menyetok oksigen yang banyak agar ia tidak sesak nafas saat digombali oleh Dira.