
Dira berkali-kali memaki-maki Kapten Jack karena pesawat pribadi yang membawanya dari New York belum juga sampai di Swiss. Berkali-kali Dira melihat jam di pergelangan tangannya, baginya jarum jam arlojinya berjalan sangat lambat.
Kapten Jack yang harus berkonsentrasi mengemudikan pesawat pribadi milik Dira tentu saja sebal. Dira tak henti-hentinya mengomel, mendatangi ruang khusus miliknya hanya untuk bertanya apakah sudah sampai atau belum.
Pesawat baru lepas landas sekitar 10 menit yang lalu dan Dira sudah lebih dari 20 kali menemui Kapten Jack guna menanyakan apakah mereka sudah tiba di Swiss apa belum.
Hilang stok sabar. Kapten Jack memanggil pramugari dan memintanya untuk membuatkan minuman khusus Dira. Kapten Jack juga memberi misi penting kepada pramugari itu. Ia menyuruh untuk melarutkan obat tidur agar Dira tidak terus mengoceh dan mengomel selama di perjalanan.
Sukses. Jus jeruk yang dibuatkan oleh Mbak pramugari langsung tandas diminum Dira. Tak butuh waktu lama, Dira menguap beberapa kali dan tertidur.
Kapten Jack bisa bernafas lega. Akhirnya ia bisa berkonsentrasi menjalankan pesawat. Omelan Dira membuatnya pusing tujuh keliling.
"Hoooooaaaammm..." Dira merasakan perutnya bergerak ke atas dan ke bawah. Pesawat yang ia naiki mengalami turbulensi.
Dira bukannya diam. Dia malah semakin menggerakkan kepala dan pinggulnya mengikuti irama guncangan yang ia rasakan.
"Apa salah dan dosaku sayang. Cinta suci kau buang-buang. Ingat jurus yang kan ku berikan...."
"Jaran goyanggg....jaran goyangggggg" sambung Mbak pramugari yang sudah hapal diluar kepala tentang lagu kesukaan Dira.
Dira mendengus kesal. Ia tidak suka ada orang lain yang mengikutinya dalam bernyanyi. Pramugari itu rupanya tidak menuadari raut wajah Dira yang tidak ramah. Ia meneruskan bernyanyi lagu jaran goyang tanpa memberikan kesempatan pada Dira untuk ambil bagian.
"Stooopppppp!!!!" teriak Dira.
Mbak pramugari langsung menutup mulut. Dalam hati ia menyayangkan teriakan Dira yang mengganggu aktifitasnya. Lagu yang ia nyanyikan tinggal sedikit dan dengan seenaknya Dira berteriak seperti itu.
Andai Mbak pramugari adalah bos nya. Pastilah ia akan melempari Dira dengan gulungan tisu yang sedang dipegangnya saat ini.
"Jangan ngimpi bakalan gantiin saya jadi Bos! Kamu tetaplah kamu. Nikah dulu sama saya baru bisa jadi bos" cibir Dira dan Mbak pramugari itu langsung terkejut mendengar ucapan Dira.
"Bos Dira melamar saya? Saya terima Bos! Beneran saya terima" ucap Mbak pramugari itu dengan wajah berbinar-binar.
"Ngimpiiii....!!! Ngimpiii....!!!" cibir Dira membuat mbak pramugari itu merengut.
Dira menyuruh pramugari itu pergi. Ia ingin melanjutkan tidurnya sembari bernyanyi pelan-pelan. Belum juga terpejam, Terdengar suara dari Kapten Jack yang memberi tahu jika pesawat bersiap-siap akan mendarat.
Dira langsung membuang selimutnya. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap turun dari pesawat.
"Haloooo..... Saya datangggg" teriak Dira ketika pintu pesawat dibuka.
Dira mengernyitkan dahi ketika melihat tidak ada satu orang pun yang menyambutnya. Dira menoleh ke belakang hendak memanggil Nadhif. Namun, setelah tiga kali memanggil tidak ada jawaban barulah Dira sadar jika Nadhif tidak ikut bersamanya.
"Sepi banget, sama kayak hatiku" gumam Dira. Ia lalu menuruni anak tangga pesawat.
"Mister, kopernya ketinggalan!" teriak Mbak pramugari.
Dira menoleh ke belakang.
"Bawakan sampai ke hotel. Saya mau keliling dulu cari teman" perintah Dira membuat si pramugari kebingungan.
"Kamu bingung?" tanya Kapten Jack.
Mbak pramugari mengangguk.
"Sama. Hahahahahahha" dan pecahlah tawa antara Kapten Jack dan Mbak pramugari.
***
Amora de florist.
Olive terlihat sibuk merangkai bunga-bunga di hadapannya. Sudah beberapa hari ini Olive ikut sibuk membantu temannya yang membuka toko bunga di Swiss. Pilihannya untuk pergi ke Swiss dirasa tepat. Olive bisa menjauh dari Dira.
Sejak Evan menceritakan tentang wanita di masa lalu Dira, Olive menjadi sering melamun. Ia berfikir tentang posisi dirinya yang seperti pelampiasan dan boneka seorang Dira.
Olive tidak mau terus-menerus seperti itu. Evan benar, ia pantas bahagia. Olive juga ingin merajut kasih dengan seseorang yang ia cintai dan mencintainya bukan dengan orang yang menjadikan pelampiasan.
Lama merenung membuat Olive yakin akan keputusannya. Ia pergi diam-diam ke Swiss untuk menemui temannya. Temannya memiliki toko bunga di Swiss dan Olive meminta izin agar bekerja di sana.
"Apa kau bisa merangkainya?" tanya Marina, teman Olive sekaligus pemilik toko bunga itu.
Hari ini ada pesanan sebuah buket mawar tiga warna dengan ukuran yang besar. Pesanan mendadak yang entahlah Olive sendiri tidak tahu siapa.
Orang yang memesan buket itu hanya menuliskan inisial AMPS dan langsung membayar lunas harga buket meski buket yang ia pesan belum jadi.
"Sedikit sulit, tapi aku akan mencobanya" kata Olive bersemangat.
Olive melanjutkan pekerjaannya. Buket bunga mawar ini akan diambil nanti sore. Ia harus bekerja cepat agar bisa mengerjakan pesanan yang lain.
Dua jam kemudian, Olive bersorak senang karena buket yang ia rancang sudah jadi. Bau bunga mawar tercium segar di indra penciuman Olive. Ia benar-benar tidak menyangka jika dirinya mampu menyelesaikan pesanan itu meskipun beberapa kali Marina harus membantunya.
Olive mengambil ponsel miliknya. Ponsel itu sudah berganti nomor karena Olive memang sengaja menggantinya untuk menghilangkan jejak. Olive memotret buket bunga itu dan menatapnya dengan wajah penuh suka cita. Rasanya ia belum percaya jika buket bunga besar di hadapannya adalah hasil karyanya.
"Cantik sekali" seseorang tiba-tiba berbisik di telinga kanan Olive. Kedua tangan kekarnya langsung memeluk pinggang Olive dengan erat.
Olive tersentak kaget. Indra penciumannya mendeteksi aroma tubuh seseorang yang sudah tidak asing baginya. Olive menoleh ke belakang. Ia ingin memastikan sosok yang tiba-tiba datang memeluknya itu.
Cup.
Rupanya Olive melakukan kesalahan dengan menoleh ke belakang. Sosok itu ternyata sudah bisa membaca gerak tubuh Olive sehingga langsung memposisikan diri.
Olive mencoba melepaskan diri dari ciuman orang itu. Tapi sia-sia karena kedua tangan kekar itu malah mengunci pergerakannya
"Misssterrrr...." teriak Olive ketika ia berhasil leoas dari ciuman Dira. Olive mengambil oksigen banyak-banyak untuk menetralkan pernafasannya.
"I miss you so bad" ucap Dira, sosok laki-laki yang sejak tadi memeluk Olive.
Olive mencoba menghempaskan tangan Dira. Namun, ia sebagai perempuan kecil dan mungil tentu saja kalah tenaga dengan Dira.
Dira memutar tubuh Olive sehingga mereka berhadapan. Kedua netra mereka saling menatap dan denfan cepat Olive menundukkan kepalanya karena ia tidak kuat jika terus saling tatap dengan Dira.
"Kenapa? Apa kau tidak rindu padaku?" bisik Dira.
Olive tak menjawab. Ia sibuk menetralkan degup jantungnya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Aku menyuruhmu untuk tetap di apartemen. Mengapa kau malah pergi ke sini? Aku kebingungan mencarimu" bisik Dira lagi.
"Mister... Tolong lepaskan!" ucap Olive.
"Lepas? Susah payah aku menemukanmu dan kau memintaku untuk melepasmu? Tidak akan" seringai licik muncul dari wajah Dira.
"Kau bisa memilih kita pra honeymoon di sini atau pulang dulu ke New York untuk menikah."
"Tidakkk....!!!!" Olive tanpa sadar berteriak dan memghempaskan tangan Dira. Ia langsung mundur, memberi jaraknagar tidak terlalu dekat dengan Dira.
"Hei, ada apa denganmu? Kemarin sebelum aku berangkat ke Spanyol, kau jinak dan manis sekali. Sekarang, mengapa seperti ini? Kesambet di mana?" tanya Dira heran.
Olive hanya menggeleng.
"Ayo, kita pulang saja! Juna dan Nadhif sedang mempersiapkan pernikahan kita. Jika kamu ingin kembali ke Swiss, tak apa. Kita akan bulan madu di sini."
Olive lagi-lagi menggeleng.
"Tuan, tolong jangan jadikan saya pelampiasan!" ucap Olive.
"Pelampiasan? Maksudmu apa Olive?" tanya Dira kaget.
"Tuan, saya tidak mau menjadi pelampiasan Anda terhadap mantan kekasih Anda. Saya juga punya impian. Saya tidak mau menikah dengan orang yang tidak mencintai saya. Saya tidak mau tersiksa dalam membina rumah tangga. Saya....." ucapan Olive terhenti karena hatinya sudah tidak kuat menahan emosinya lagi.
Dira terdiam. Ia mencoba mencerna ucapan Olive.
"Menikah bukan untuk mainan. Saya hanya ingin menikah sekali. Saya ingin menikah dengan orang yang saya cintai dan juga mencintai saya. Saya tidak mau menikah dengan Anda, karena memang tidak ada cinta di antara kita."
Dira menarik sudut bibirnya.
"Kau mau ada cinta di antara kita kan? Maka teruslah bersamaku agar cinta itu tumbuh seperti bunga sepatu" ucap Dira.
Dira menarik tangan Olive. Ia menggendong Olive ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam mobil. Olive berteriak sekencang mungkin. Namun, tak ada satupun orang yang membantunya agar terlepas dari gendongan Dira.
"Ambil buket mawar itu! Masukkan ke dalam bagasi!" perintah Dira kepada sopir yang bertugas mendampinginya selama di Swiss.
Sopir itu membuka pintu dan berjalan setengah berlari untuk mengambil buket bunga pesanan Dira. Dengan seorang diri, laki-laki itu menyeret buket pesanan Dira yang memang ukurannya agak besar.
"Jadi itu pesanan Anda?" tanya olive kaget.
"Kau tidak mengenalinya? Padahal saya sudah memberi inisial nama saya" ucap Dira.
"Tuan, tolong jangan bawa saya! Saya tidak mau menikah dengan Anda" pinta Olive.
"Kau harusnya tahu jika saya tidak menerima penolakan. Jika kamu ingin cinta diantara kita, maka hiduplah denganku. Dijamin, cinta itu kan tumbuh subur seperti sawah Pak tani yang kebanyakan pupuk."