
Juna dan Nadhif sedang sibuk membuat dekorasi untuk acara pernikahan Dira. Mereka dibantu beberapa orang karyawan Sanjaya corp yang sengaja ditunjuk oleh Nadhif agar membantunya dalam membuat hiasan sesederhana mungkin.
Acara pernikahan Dira akan dilangsungkan di belakang mansion milik Dira. Mansion itu baru dibeli oleh Dira sebulan yang lalu. Ia memang sengaja membeli mansion untuk berjaga-jaga jika Kiara tiba-tiba datang ke New York dan mencarinya. Dira butuh tempat untuk bersembunyi. Bersembunyi dari keluarganya yang selalu menagih kesiapannya untuk menikah.
"Bang Nadhif" panggil Juna.
"Hem...?."
"Bang Nadhif tahu siapa calon istri Mr. Adirra?" tanya Juna penasaran.
"Tak tahu" jawab Nadhif singkat.
"Lalu kapan mereka akan menikah?" tanya Juna lagi.
"Entah. Tuan Dira masih di Swiss untuk menjemput calon istrinya."
"Swiss? Di mana lagi itu?" tanya Juna kaget.
Nadhif menggelengkan kepalanya. Ia mengambil ponsel dan membuka aplikasi google maps. Nadhif mengetikkan kata Swiss dan memberikan ponsel itu kepada Juna setelah muncul rute perjalanan menuju Swiss.
"Oh... tinggal lurus belok kanan" ucap Juna.
"Apakah Nyonya Kiara akan datang?" tanya Juna lagi.
Nadhif mengangkat kedua bahunya kemudian ia menggelengkan kepalanya. Jawaban Nadhif itu tentu membuat Juna sedikit kaget.
"Kenapa, Bang? Bukankah pernikahan itu adalah acara yang sakral dan sangat penting? Nyonya Kiara pasti akan mengamuk jika tahu Tuan Dira menikah tanpa memberi tahu mereka."
"Saya tak tahu Mas Juna. Saya hanya disuruh mengirim mengurus pernikahan sederhana ini. Ini kemauan Bos kita, saya tidak berani membantah. Gaji saya bisa dipotong 95% kalau banyak bertanya dan banyak ikut campur" ucap Nadhif membuat Juna meringis sedih mendengar ucapannya.
Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa sedikit heran dengan pernikahan yang sedang ia urus. Bagaimana bisa pernikahan ini akan berlangsung tanpa keluarga? Tanggal dan waktunya juga tidak jelas?
"Sudah, jangan banyak mikir! Kita harus segera menyelesaikan dekorasi dan tata ruang taman ini. Apa kau tidak tahu kalau Mr. Adirra itu seperti jailangkung?" tegur Nadhif.
"Ta...ta...tahu kok, Bang. Beliau datang nggak di jemput, pulang nggak dianterin" jawab Juna.
"Nah, itu dia! Mr. Adirra bisa muncul kapan saja, bisa bikin kita jantungan. Jadi, ayo segera selesaikan. Saya tidak mau nanti beliau datang disaat kita belum selesai menyiapkan semuanya" ajak Nadhif.
Ponsel Nadhif berdering. Ia segera merogoh benda pipih itu di saku celananya. Nadhif sedikit kaget ketika melihat nama Dira di layar ponselnya. Ia memperlihatkan benda pipih miliknya pada Juna.
"See! Baru juga diomongin, sudah telepon" ucap Nadhif kemudian ia segera menggulir tombol hijau untuk menjawab panggilan Dira.
"Halo, Tuan."
"Nadhif! Apakah tugasmu sudah selesai?" tanya Dira.
"Be..be...belum, Tuan. Saya masih mengerjakan dekorasi panggung dan tata letak kursi-kursi di taman" ucap Nadhif gugup.
"Ck! Lelet sekali! Makanya jangan ghibahin saya! Pekerjaanmu tidak akan selesai jika kamu terus bergosip dengan Juna."
Tit...
Sambungan telepon dimatikan sepihak. Nadhif kembali kaget dan langsung mengelus dada.
"Kenapa, Bang?" tanya Juna.
"Bos mu mengomel. Dia tahu kalau kita sedang bergosip. Ayo, cepat selesaikan sebelum dia datang dan kembali mengomel" ajak Nadhif yang langsung diiyakan oleh Juna.
Sedangkan di Swiss. Olive sedang mencari cara agar bisa kabur dari Dira. Sejak kemarin, Dira mengurungnya di hotel. Olive tidak dapat bergerak bebas, kemana pun kakinya melangkah pastilah Dira akan mengekorinya.
"Mister, tolong jangan terus mengikuti saya!" pinta Olive memelas.
"Tidak bisa, sayang. Nanti kamu kabur lagi" ucap Dira sembari menampakkan senyum konyolnya.
"Saya hanya ingin ke kamar mandi, Mister. Tidak mau ke mana-mana" ucap Olive.
"Ke mana pun kamu pergi, aku akan selalu mendampingimu. Yuk, kita mandi bareng! Eh?" Dira langsung menutup mulutnya. Melihat Dira lengah, Olive segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu dengan cepat.
"Baaa....."
"Misterrr....!!!" teriak Olive kaget.
Olive benar-benar kaget ketika melihat Dira yang tiba-tiba mengagetkannya. Olive baru saja membuka pintu kamar mandi dan Dira langsung mengagetkannya. Untung saja Olive tidak mempunyai riwayat penyakit jantung sehingga refleksnya hanya memukul Dira berkali-kali.
"Kamu sudah selesai, sayangku" Dira langsung memeluk Olive dengan erat. Ia terlihat sangat senang dengan kemunculan Olive dari kamar mandi seakan-akan Olive sudah pergi jauh dan baru kembali.
"Mister, tolong jangan begini! Saya tidak enak dengan posisi seperti ini" pinta Olive memelas.
Dira mengurai pelukannya.
"Kamu tidak nyaman kalau begini? Terus kamu mau posisi seperti apa sayang?" goda Dira sembari menaik turunkan kedua alisnya.
Olive menghempaskan kedua tangan Dira. Ia lelah terus berdebat dengan Dira. Olive memilih berjalan menuju kasur. Ia ingin tidur sembari memikirkan cara agar bisa lepas dari Dira.
"Oh, jadi dia minta disayang-sayang sambil tiduran?" gumam Dira ketika melihat Olive merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Dira tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung berjalan menuju kasur dan ikut merebahkan diri di samping Olive. Dira mengambil guling yang dipeluk Olive. Ia menggantikan peran guling itu sebagai benda layak peluk.
"Mister..." rengek Olive.
"Sudah, jangan banyak bergerak! Pelukanmu nyaman sekali" ucap Dira sembari mendusel-dusel hidungnya pada leher Olive.
"Sabar ya anak kancil! Besok setelah sah, kamu bisa bermain ke dalam kandangmu" gumam Dira bermonolog seorang diri.
"Kamu pakai sabun apa, sayang? Baunya enak sekali seperti es cendol dicampur ketan ireng."
"Cukup, Mister! Cukup! Jangan menggoda saya lagi" ucap Olive.
"Menggoda? Siapa yang menggoda. Saya berkata-kata yang sebenarnya" ucap Dira.
"Besok kita pulang lalu langsung menikah. Rasanya saya sudah tidak sadar bisa bobok bareng seperti ini. Dua puluh empat jam kali seminggu, kita akan bobok begini. Pasti indah sekali" kata Dira mulai berandai-andai.
"Saya tidak mau menikah dengan Anda! Saya tidak mau, Mister. Tolong jangan jadikan saya pelampiasan. Saya tahu Anda memiliki kekasih di luar sana. Tahanan 314 itu adalah kekasih Anda. Saya tidak mau menjadi pelampiasan. Saya tidak mau! Tidak ma... Mmmmpppfffttt..."
Dira langsung membungkam mulut Olive dengan bibirnya. Ia benar-benar tidak suka jika Olive banyak bicara. Apa tadi yang ia bahas ? Tahanan 314? Itu artinya Olive membicarakan Veronica.
Dira tidak suka membicarakan wanita itu. Ia tidak mau pikirannya yang mulai terisi dengan Olive akan kembali teralihkan pada Veronica. Sepertinya Dira akan menyunat orang yang sudah bercerita hal yang tidak-tidak kepada Olive. Mulutnya perlu disekolahkan agar tidak sembarangan berucap
"Saya nggak bisa nafasssssss" teriak Olive dan ia berhasil mendorong tubuh Dira menjauh dari dirinya.
"Bibirmu manis sekali. Tapi saya tidak suka jika kamu banyak bicara" ucap Dira sembari menyeringai kepada Olive.
"Apa yang kau bahas, sayang? Tahanan 314? Mulut siapa yang sudah meracuni otakmu sehingga membahas dia?."
Olive membuang muka. Rasanya ia tidak kiat jika terus beradu pandangan dengan Dira.
"Aku melihatnya sendiri. Kau sangat merindukan perempuan itu" ucap Olive.
"Oh ya? Bagaimana kau bisa melihatnya sedangkan aku berada di toilet saat kau mengunjunginya? " pertanyaan Dira membuat Olive bingung untuk menjawab.
"Kau sudah terhasut dan aku pastikan bahwa orang yang menghasutmu akan kempes dalam waktu kurang dari 24 jam" ancam Dira.
"Jangan, Mister! Jangan!" cegah Olive.
"Kenapa? Kau mengkhawatirkan orang itu?."
Olive tak lekas menjawab. Ia menggigir bibir bawanya sembari mencari jawaban yang tepat.
"Tidak usah dijawab. Kita tidur saja karena besok kita akan segera bertolak ke New York dan menikah. Aku tidak mau besok kamu kecapean dan pingsan ketika menyalami ribuan tamu undangan yang datang" ucap Dira kemudian kembali ******* bibir mungil milik Olive.
Olive memilih tidak memberontak lagi. Ia menikmati permainan Dira yang mulai disukainya. Perlahan, Dira membuka kancing piyama Olive. Ia menatap lapar kedua benda kenyal di hadapannya.
"Sabar! Nanti setelah sah bisa minum sepuasnya" ucap Dira kemudian ia mengecup dua bukit milik Olive dengan cepat.