Mr. Adira

Mr. Adira
26



Dira menghempaskan tubuhya di atas sofa panjang. Ia baru saja pulang dari hotel Sixty Two, tempat berlangsungnya pernikahan Edward dan Lily.


Banyak drama yang terjadi saat pernikahan Lily dan Edward. Mulai Lily yang pura-pura pingsan, Edward yang pura-pura mules, dan Carlos yang menghilang.


Bukan hanya orang-orang di sana yang berbuat ulah. Benda-benda di hotel Sixty Two sepertinya juga ikut usil. Tak ada angin tak ada hujan, listrik di ballroom Hotel Sixty Two padam. Lalu muncullah bayangan-bayangan aneh serta suara-suara mengerikan.


Sungguh Dira benar-benar geram. Ia yang sudah terbiasa berfikir absurd pastinya merasa aneh sekali. Dira menarik sudut bibirnya. Apa mereka tidak tahu siapa dirinya? Apa mereka punya 9 nyawa sehingga bermain-main dengan perintahnya?


Dira yang kesal segera memberi ultimatum melalui speaker yang ia ambil dari lobby hotel. Jika dalam waktu sepuluh menit Edward dan Lily belum menikah juga, maka Dira akan menghujani perusahaan dan restoran milik Lily dengan bom molotov.


Mendengar hal itu, tentu saja membuat Carlos dan Lily ketakutan. Carlos segera muncul dan memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan kekacauan itu. Tepat sepuluh menit setelah ultimatum Dira, akhirnya pernikahan Edward dan Lily terlaksana dengan hikmat dan penuh air mata.


Setelah memastikan kedua manusia itu resmi menikah. Dira mengajak Elang dan Kiara untuk pulang. Ia merasa lelah. Fisik dan batinnya sekaligus. Kejadian dua hari terakhir benar-benar menguras emosinya.


Dira tidak menyangka akan melepas Edward secepat ini. Meski mereka sering bertengkar, tetaplah Dira menyayangi Edward. Edward banyak berjasa dalam hidupnya. Apalagi setelah kematian Samuel. Edward berperan multifungsi dalam kehidupan Dira.


Dira sendiri tidak mau memecat Edward secara sepihak. Namun, ia tidak punya pilihan. Edward tidak boleh ikut lagi dengannya. Edward harus menetap di Spanyol, membangun rumah tangga bersama Lily. Meskipun Edward sudah memohon kepada Dira agar tetap menjadi assistennya, Dira tetap menolaknya.


"Kadir, minum dulu! Sejak tadi lu nggak minum apa-apa" Kiara menyodorkan susu cokelat singin kepada Dira. Ia kemudian beralih duduk di hadapan Dira bersama suaminya.


"Kita pulang sekarang" ucap Dira setelah menghabiskan susu cokelat dingin pemberian Kiara.


"Kita? Lu aja kali bukan kita" kata Kiara mengoreksi ucapan Dira.


"Kalau gue bilang kita ya kita. Lu, gue, Elang, pulang semua ke Jakarta!!!" teriak Dira.


Elang langsung menutup mulut Kiara. Ia mencegah Kiara untuk membantah ucapan Dira karena saat ini iparnya itu sedang emosi level tinggi.


Namanya juga Kiara, meski sudah ditutup mulutnya tetap saja punya akal. Ia menghempaskan tangan Elang dan memberinya tatapan laser. Nyali Elang langsung menciut. Ia berbisik kepada Kiara agar berbicara dengan hati-hati. Elang tidak mau ada acara jambak-menjambak antara kakak-beradik itu.


"Kadir, kakakku yang baik. Kenapa gue harus balik juga? Sesuai izin cuti yang lu beri, gue cuti honeymoon sebulan..."


"Gue tarik izin cuti lu! Kita pulang sekarang dan besok lu udah masuk kerja" potong Dira cepat.


"Tapi gue belum selesai belanja...."


"Gue kan udah bilang. Gue bakalan bikinin mall di belakang rumah. Gue nggak terima bantahan lagi. Cepat bersiap-siap karena kita akan pulang sekarang."


Dira kemudian bangkit menuju kamar mandi. Ia langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Dira tidak membuka pakaiannya. Tubuhnya sudah terlalu panas dan minta segera didinginkan.


'Kau bodoh sekali, Ed! Bagaimana bisa kau terjebak dengan permainan licik dakocan' gumam Dira sembari memukul-mukul dinding kamar mandi.


'Bagaimana nasibku tanpa dirimu, Ed? Tidak ada lagi yang bisa ku andalkan. Aku pasti akan sering lembur, jatah liburanku juga akan berkurang' gumam Dira lagi.


Dira lalu tersadar jika ia tidak membawa handuk. Alhasil ia membuka pintu kamar mandi, memanggil Kiara agar membawakan handuk dan baju ganti miliknya.


"Kebiasaan!" gerutu Kiara. Ia melempar begitu saja handuk dan baju milik Dira.


Dira kembali masuk ke kamar mandi. Menyelesaikan ritual mandinya dan berpakaian. Selesai dengan sekali ini itu, Dira keluar kembali dari kamar mandi. Ia melihat adik dan adik iparnya sedang duduk di sofa sembari menekuk wajahnya.


"Kenapa?" tanya Dira.


"Gue belum mau pulang" rengek Kiara.


"Nggak bisa! Kita pulang sekarang."


"Lu jangan egois dong, Kadir. Gue belum selesai honeymoon" rengek Kiara lagi.


"Lu yang jangan egois! Lu mau Sanjaya corp bangkrut gara-gara nggak ada pemimpinnya? Lu mikir nggak sih? Dengan lepasnya Edward dari gue artinya gue harus balik secepatnya ke New York."


"Bukannya ada Daniel?" potong Kiara cepat.


"Daniel tentu saja gue over ke sini. Lu mau si Juna gagigugego ngurus perusahaan di sini? Keputusan gue sudah bulat. Kita pulang sekarang dan segera mengatur struktur jabatan yang baru."


***


Sesuai rencana Dira, Daniel yang memegang perusahaan Sanjaya di New York dimutasi ke Spanyol untuk mendampingi Juna. Hal itu mengakibatkan kekosongan pada jabatan assisten pribadi Dira.


Hari pertama tanpa Daniel dan Edward, hidup Dira benar-benar berantakan. Banyak jadwal meetingnya yang tidak Dira hadiri. Hal itu dikarenakan Dira yang lupa sehingga para klien dibuat menunggu oleh Dira.


Dira menjambak rambutnya dengan kesal. Cukup sehari pekerjaannya berantakan seperti ini. Dira harus bergerak cepat. Dia harus segera memiliki sekretaris pengganti Daniel dan Edward.


"Aha...!!!" seru Dira mendapatkan ide.


Ia segera bangkit dari kursi kebesarannya. Di ambilnya kunci mobil mikik Dira yang tergeletak di atas meja dan...


Wussshhhhh....


Secelat kilat Dira berlari, keluar dari ruang kerjanya. Dalam waktu sepuluh menit, Dira sudah sampai di basemen tempat mobilnya ngadem.


Tit..tit...tit..


Dira membuka kunci mobil. Ia membuka linta dan segera duduk di belakang kemudi. Mobil Dira melaju perlahan meninggalkan kantor Sanjaya.


Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Dira berhenti di depan sebuah butik. Apalagi jika bukan butik milik Evan. Dira langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam butik tanpa permisi.


"Astagaaaa.....Mr. Adirra! Anda selalu mengagetkan saya" teriak Evan ketika kedua netranya melihat Dira yang sedang duduk di kursi kebesarannya sembari melahap cookies milik Evan.


"Berisik!!! Mana yang lainnya? Mengapa tiap saya ke sini hanya bertemu kamu, kamu, dan kamu? Bosan sekali melihat wajahmu."


Evan menyebikkan mulutnya. Andai saja bukan bos nya sudah pastilah Evan akan membanting Dira hingga remuk.


"Mr. Adira cari siapa? Manusia sebanyak ini masih bertanya mana yang lain? Tuh! Tuh! Tuh!" Evan menunjuk beberapa karyawannya yang berjalan ke sana ke sini.


"Aku mencari si Cantik. Ke mana dia?."


"Cantik? Siapa yang Mister maksud?" tanya Evan tak mengerti.


"Olive, satu-satunya karyawanmu yang enak dipandang."


"Olive? Dia sedang makan siang dengan pacarnya" jawab Evan enteng.


"Telepon dia sekarang. Suruh menghadap saya! Karena saya ada tugas untuknya."


"Tap...tap...tapi..."


"Lakukan se-ka-rang!!!"


Evan langsung berlari mencari ponselnya. Jika netra Dira sudah mengeluarkan kilat laser seperti itu artinya Evan sedang dalam bahaya. Evan memanggil semua karyawannya, menyuruh mereka untuk mencari ponsel milik Evan.


Efek panik, Evan tidak melihat jika ponsel miliknya tergeletak di atas meja. Evan tidak kepikiran untuk menelepon ponsel miliknya melalui ponsel karyawannya.


Dira menghela nafasnya. Melihat huru-hara yang dibuat oleh Evan membuat kepalanya semakin sakit. Dira menyuruh Evan untuk diam lalu dengan kekuatan bulan Dira melempar ponsel Evan dengan kesal.


Hap!


Evan berhasil menangkap ponsel miliknya. Ia berteriak kegirangan dan langsung menghubunhi Olive.


"Cepat pulanggggg.....!!!! Aku dalam bahayaaaa....!!!!" teriak Evan ketika Olive menjawab panggilannya.


Saat itu Olive sedang makan siang bersama pacarnya di sebuah cafe yang tidak jauh dari butik Evan. Ia langsung menyudahi acara makan siangnya dan berlari tunggang langgang menuju butik.


Keringat mengucur deras di dahi Olive. Ia yang sudah terbiasa bergerak cepat tentu saja bisa dengan segera tiba di butik Evan.


"Evan....!!! Are you Ok???" teriak Olive.


Olive mengedarkan pandangannya, mencari sosok Evan yang tadi menelponnya. Namun, dahinya berkerut ketika melihat sosok yang sedang duduk di kursi kebesaran Evan.


"Haiii Cantik! How are you?" tanya Dira sembari menampakkan senyum konyolnya.