Mr. Adira

Mr. Adira
12



"Paman....!!! Paman...!!! Pamannnnnnnnnn...." Dira berteriak seperti orang kesetanan.


Jam menunjukkan pukul dua dini hari waktu setempat. Teriakan Dira yang bervolume tinggi itu tentu saja mengagetkan sepasang insan yang hendak melanjutkan ronde ke tiganya.


Kiara dan Elang buru-buru menyudahi permainan mereka. Mereka langsung bangkit dari tempat tidur, memakai pakaian dengan cepat dan bergegas keluar.


"Abang kenapa?" tanya Elang pada Kiara.


Kiara tak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu. Diamatinya wajah Dira yang berkeringat dingin. Fix! Kakak laki-lakinya itu pasti sedang bermimpi buruk.


"Mau kemana?" tanya Elang lagi ketika melihat Kiara kembali masuk ke kamar mereka.


Dua kali pertanyaan Elang tidak mendapat respon dari Kiara. Akhirnya ia memilih untuk menyusul Kiara. Namun, baru saja akan membuka pintu kamar. Kiara muncul dengan membawa seember air.


Elang hanya melongo ketika Kiara melewatinya begitu saja. Tersadar, Elang buru-buru kembali mengekori Kiara. Ia khawatir istrinya itu akan melakukan tindakan yang aneh.


Byuuuurrr


'Baru saja dibatin' gumam Elang.


Dira langsung terbangun. Ia semakin berteriak tidak karuan.


"Kiara sarang burung..!!! Lu ngapain gue hah?"


Kiara menyerahkan ember yang ia bawa kepada Elang. Lalu buru-buru beranjak ke dapur. Kiara mengacuhkan teriakan Dira yang mengumpat kepadanya. Terserah, Kiara lapar. Ia tidak ingin nafsu makannya berkurang karena melihat Dira.


"Gue lagi marah, kenapa lu malah makan??" teriak Dira.


Kiara menunjuk ke arah kamar mandi, memberi kode agar Dira berganti baju. Mulutnya sudah terisi sandwich, susah rasanya untuk berkata-kata lagi.


"Hihhhhh..."


Dira tidak jadi mengamuk pada Kiara. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Badannya basah kuyup, terkena hujan lokal buatan adiknya. Andai saja mereka di Jakarta, pastilah Dira akan mengulek adiknya itu seperti sambal ijo. Sayangnya di tempat tinggal Kiara sekarang tidak ada cobek dan ulekan sehingga Dira tidak bisa menjalankan niatnya.


Byurrrr


Dira mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Meskipun terdapat shower di kamar mandi itu, Dira memilih mandi dengan cara tradisonal yaitu menggunakan gayung.


Bukan apa-apa, menurut Dira jika menggunakan shower ia tidak dapat menghitung berapa banyak air yang ia pakai. Ia selalu mengatur takaran air yang ia pakai untuk mandi. Tidak boleh kurang tidak boleh lebih. Sehingga menggunakan gayung lebih tepat untuk Dira daripada shower.


"Goblok!!!" Dira menepuk dahinya dengan kesal. Ia membuka pintu kamar sedikit dan memunculkan kepalanya.


"Kirrrr....!!! Elang....!!! Bantuin gue!!!" teriak Dira.


Kiara menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak berminat menghampiri Dira. Melihat istrinya sedang dalam mode mager alias malas gerak, Elang mengambil inisiatif untuk menghampiri Dira.


"Ya, Abang. Apa yang bisa Elang bantu?" tanya Elang sopan.


"Kiara mana?."


"Lagi makan dan sepertinya tidak mau diganggu" jawab Elang.


Ck!


Dira berdecak sebal.


"Lu tahu koper gue?" bisik Dira.


"Tahu. Ada di ruang tengah kan?" jawab Elang.


Dira menyipitkan kedua matanya. Koper berharga miliknya malah belum diamankan oleh Kiara dan Elang. Sejak kedatangan Dira di apartemen Kiara, Dira sudah mewanti-wanti agar koper miliknya disimpan saja di kamar Kiara. Ia takut akan ada maling yang mencuri baju-bajunya.


Namanya juga Kiara, ia tidak mau Dira memasuki daerah teritorialnya. Koper Dira dibiarkan tergeletak begitu saja di ruang tengah. Biarkan saja si empunya di luar. Kiara tidak mengundang Dira ke Milan. Kakaknya itu hanya mengganggu bulan madunya saja.


"Bisa ambilkan Abang baju?" bisik Dira lagi


"Baju yang mana, Abang?."


"Sekarang hari apa?" Dira bertanya terus.


"Senin, Abang."


"Berarti baju warna cokelat, celananya cokelat, tapi sem paknya warna putih."


Elang memilih beranjak dari hadapan Dira menuju ruang tengah. Tak lama ia kembali membawa pakaian yang diminta Dira.


"Tadi pakai sarung tangan nggak?" tanya Dira ketika Elang hendak menyodorkan pakaian yang Dira pesan.


"Tidak, Abang. Untuk apa saya memakai sarung tangan?" tanya Elang heran.


"Pakaianku semuanya mahal. Untuk memegangnya harus suci dari berbagai noda dan kuman" ucap Dira.


"Emmh... Elang tidak memakai sarung tangan. Bagaimana jika pakaian ini Elang kembalikan ke koper lalu Abang Dira yang mengambilnya" tawar Elang.


Brakk


"Gue nggak bawa handuk. Masak iya mau keluar polosan begitu?" lagi-lagi Dira naik darah.


"Handuk Abang kan ada di kamar mandi. Tadi Kiara sudah meletakkan di gantungan. Nggak keliatan, Bang?" tanya Elang heran.


Dira tak menyahut. Ia mengambil pakaiannya yang berada di tangan Elang. Raut wajahnya kesal. Entah apa yang membuatnya kesal.


Usai berpakaian, Dira keluar dari kamar mandi. Tampilan wajahnya segar. Dari jarak jauh tercium aroma tubuh Dira yang wanginya semriwing, sehingga membuat orang-orang yang berpapasan bisa klenger bahkan terbatuk-batuk.


"Bau apaan ini? Gue mau pingsan" teriak Kiara ketika mencium aroma tubuh Dira.


Dira berjalan dengan bangganya. Mendengar celotehan Kiara mengenai wangi yang melekat di tubuhnya membuat Dira semakin ingin menggoda Kiara. Ia mengibas-ngibaskan tangannya sehingga wangi semriwing itu langsung tercium oleh Kiara.


"Kadir...!!! Pergi!!! Pergi...!!! Gue mau pingsan nyium bau lu. Pakai parfum apa sih kok kayak ******" teriak Kiara seraya menutup hidungnya rapat-rapat.


Dira tidak bergeming. Ia malah menarik kursi di samping Kiara dan ikut bergabung sarapan bersama.


Sontak saja, Kiara langsung mual. Ia melempar kain serbet ke wajah Dira dan langsung kabur meninggalkan Dira.


Dira tertawa cekikikan melihat tingkah adiknya. Ia tertawa puas karena bisa menguasai meja makan. Dira mengambil sandwich yang tersaji di atas meja lalu melahapnya dengan cepat.


"Bang..." panggil Elang, ia juga menutup hidungnya rapat-rapat.


"Hemmm....?" sahut Dira cuek.


"Apa ada tikus mati? Kenapa bau sekali?" tanya Elang.


Dira tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu dan melanjutkan meneguk segelas susu milik Elang.


Elang melipir. Berada di ruang makan membuatnya mual. Sepertinya ia akan memanggil jasa bersih-bersih apartemen. Ia harus segera menemukan penyebab bau busuk di apartemennya.


"Haiii, every body!!! Gue keluar dulu ya! Mau cari angin" teriak Dira, tapi tak ada satupun yang menyahut.


Dira bergegas meninggalkan apartemen Kiara. Hari ini dia akan berjalan kaki, mencari udara segar di sekitar apartemen Kiara. Ia berjalan lurus, sesekali menengok ke kiri dan ke kanan dengan harapan ada orang yang mengenalnya.


"Aku kan CEO paling tampan dan rupawan. Masak tidak ada satupun yang menyapaku? Apa perlu aku membawa baliho yang besar di sini?" gumam Dira.


Dira terus berjalan sembari bersenandung. Kedua netranya menangkap sebuah kedai kopi yang berada di seberang jalan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah merasa aman, Dira melangkahkan kakinya hendak menyeberang.


Namun, baru saja dua langkah berjalan. Tiba-tiba tubuh Dira terjungkal akibat seseorang menabraknya. Wajah Dira langsung merah padam. Ia segera bangkit dan siap mengamuk kepada orang yang menabraknya.


"Hei, you!! Where is your eyes hah???" umpat Dira dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Sorry, Mister! Sorry! I am in a hurry" kata orang yang menabrak Dira dan ia langsung membungkuk, merasa bersalah karena telah menabrak Dira.


"Hari..., hari..., My name is Dira not Hari" ucap Dira lagi. Dira mengira orang itu memanggil namanya dengan nama Hari padahal orang itu sedang terburu-buru.


"Sorry, Mister. I am so sorry. My name is laras, Larasati" orang itu menyodorkan sebuah kartu nama. Ia pikir laki-laki di hadapannya akan meminta ganti rugi. Berhubung dia sedang buru-buru, Laras tidak bisa meladeni Dira lebih lama.


"Lu pikir gue peduli? Mau nama lu Laras, Keras, Saras, Waras, nggak peduli gue", teriak Dira. Ia kelepasan menggunakan bahasa Indonesia.


Perempuan itu mengernyitkan dahi mendengar ucapan Dira. Ia paham dengan ucapan Dira yang menggelitik hatinya.


"Anda orang Indonesia? Maaf, saya tidak sengaja menabrak Anda. Saya buru-buru. Ini kartu nama saya. Jika Anda ingin meminta ganti rugi, silakan hubungi nomor saya" ucap Laras sopan.


Ck!


Dira mendengus kesal. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Larasati. Hatinya yang semula berbunga-bunga berubah menjadi kesal tak karuan.


Dira sampai lupa untuk membeli kopi di kedai yang dilihatnya. Dira malah berjalan lurus tanpa tahu tujuan yang jelas.