
Brakkkk
Pintu ruang kerja Dira terbuka lebar. Dira yang saat itu sedang memeriksa laporan keuangan bulan lalu tentu saja kaget. Ia hendak mengamuk. Namun, setelah melihat sosok yang masuk ke dalam ruang kerjanya. Kedua netra Dira langsung melebar.
Kiara datang tanpa mengetuk pintu. Ia yang kesal langsung mendobrak pintu ruang kerja Dira. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun. Ia berjalan menghampiri Dira sembari membawa map cokelat.
"Kiara sarang burung my little pony? Hei, kenapa lu ada di sini? Kapan berangkatnya ? Kapan sampainya? Lu sama siapa? Nginep di mana?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Dira. Ia sengaja melakukan itu untuk menetralisir rasa gugupnya.
"Jangan banyak bacot!."
Kiara melemparkan map cokelat yang di bawanya ke hadapan Dira. Dira menatap amplop cokelat itu dengan heran. Meski ragu, ia tetap saja mengambil amplop itu dan membukanya. Dira langsung membeku ketika melihat isi dari amplop tersebut.
"Eh...! Eh... Ini.....ini... " kata Dira gelagapan.
"Lu nggak bisa ngelak, Kadir! Diem-diem masih aja ya lu nemuin cewek penjahat itu? Apa lu amnesia hah? Lu sendiri yang cerita sama gue kalau cewek itu yang bikin Paman Sam meninggal. Lalu kenapa masih lu sambangi juga? Belum move on hah?" amuk Kiara.
Dira menggerakkan kedua tangannya seolah memberi isyarat jika tuduhan Kiara salah. Bibir Dira langsung kelu mendapati foto-foto dirinya yang sedang mengunjungi Veronica.
Entah dari mana Kiara bisa mendapatkan foto-foto itu. Edward sudah tidak berkerja di Sanjaya sedangkan Olive tidak mungkin memotret dirinya karena jika Dira memgunjungi Veronica, Olive lah yang akan menemui perempuan itu.
Apa mungkin Kiara menyewa jasa FBI untuk menguntitnya? Apa mungkin ini ulah Paman Indra yang diam-diam menjadi informan Kiara? Ah, Dira harus menyelidiki hal ini.
"Gue kan cuma mau mastiin masa hukuman dia kurang berapa hari" jawab Dira.
"Apa urusan lu hah? Lu sendiri yang bilang kalau Edward yang mengurus urusan si bedebah itu. Lu diem aja, nggak usah banyak tingkah. Mau masa tahanan dia kurang 1 hari, 1 bulan, 1 tahun atau dihukum mati sekalian. Lu nggak boleh peduli lagi" teriak Kiara.
Dira meniup telinganya yang panas. Kiara kalau sudah berteriak, volumenya memang tidak ramah lingkungan. Ia menekan interkom yang tersambung ke pantry, meminta salah satu OB untuk membawakan jus jeruk untuk Kiara. Semoga dengan jus itu, amarah Kiara langsung reda.
"Kir, sebagaimana manusia yang hafal pancasila. Gue harus mengamalkan sila ke dua yaitu kemanusiaan yang adil dan berada. Jadi...."
"No....!" teriak Kiara lagi.
"Nggak ada sila kedua dalam kasus Paman Sam. Tangan dibalas dengan tangan. Gigi dibalas dengan gigi. Dan nyawa dibalas dengan nyawa. Lu bisa sebenci itu sama Rio tapi lu lembek ama Veronica. Padahal yang menabrak Paman sam adalah perempuan itu bukan Rio!!!" lanjut Kiara lagi.
Dira diam saja. Ia sadar jika ia menyahut pastilah adiknya itu semakin mengamuk.
"Lu dapet dari mana foto itu, Kir? Jangan langsung percaya, bisa aja itu editan" kilah Dira.
"Editan pala lu peyang? Udah jelas-jelas ini elu lagi berdiri liatin tuh cewek. Masih berkilah aja lu, Kadir. Ingat! Ini teguran pertama dan terakhir. Kalau lu masih nyambangi perempuan itu, kita tukeran warisan. Lu di Indonesia dan gue di sini."
"Apaaa??? Tidakkk....!!!!" teriak Dira.
Dira mengacak rambutnya dengan kesal. Ia tidak mau bertukar warisan dengan Kiara. Jika Dira berada di Indonesia, maka Dira harus siap diteror oleh Widya yang akan selalu memintanya untuk segera menikah. Dira tidak mau. Dira tidak mau.
"Mr. Adirra, ini jus je...." ucapan Olive terhenti ketika melihat Kiara. Ia tersenyum lebar, merasa senang dengan keberadaan mantan bos nya itu.
Berbeda dengan Kiara. Ia malah bingung dengan keberadaan Olive. Setahu Kiara, Olive kembali bekerja di butik Evan. Mengapa ia sekarang berada di kantor Dira? Bawa nampan lagi.
"Olive? Hei, mengapa kau ada di sini?" tanya Kiara heran.
"Nyonya Kiara, senang bertemu dengan Anda. Saya bekerja di sini sebagai assisten Mr. Adirra" jawab Olive jujur.
"APA?????" teriak Kiara. Ia langsung menoleh ke arah Dira dan menatapnya dengan tajam.
Kiara kembali naik darah. Ia melepaskan heels di kedua kakinya dan menenteng benda padat itu. Kaki Kiara pegal, berjalanpun juga lama. Kalau nyeker begitu kan Kiara bisa cepat menghampiri Dira.
Pletak!
Dira mengaduh karena kebiasaan Kiara kumat. Heels yang ditenteng Kiara mendarat di punggungnya. Apa salah dan dosanya sehingga selalu berjodoh dengan heels milik Kiara? Apa perlu Dira mandi kembang lagi agar tidak sial?
"Sakit, Kir" rengek Dira. Ia memasang wajah ngennes di hadapan Kiara.
"Lu apa-apaan, Kadir? Ngapain lu gantiin Edward sama Olive? Lu itu berbahaya, Olive itu polos. Gue nggak mau ya, terjadi apa-apa sama Olive" ngamuk lagi Kiara.
"Eh, gue nggak gitu kok. Tanya si cantik selama gue jadiin dia assisten gue pernah macem-macem nggak?" ucap Dira.
"Nggak usah gue tanya, Olive sudah ketakutan. Itu artinya lu pasti bikin peraturan macem-macem sama Olive. Ini nggak bisa dibiarin."
"Jangan suudon, sayangku! Kakakmu ini bos paling baik lho" kata Dira sembari mengedip-ngedipkan kedua matanya
Glek.
Olive mendapat pertanyaan langsung seperti itu tentu saja gelagapan. Ingin berkata jujur, ia takut pada Dira. Mau berbohong, sama saja ia menyerahkan dirinya kepada Dira.
"Tidak usah dijawab. Saya tahu jika kamu tidak nyaman di sini. Mulai besok, kamu bisa kembali ke butik."
"NGGAK BISA GITU DONG KIR??? KALAU SI CANTIK BALIK KE BUTIK, GUE SAMA SIAPAAAAAA???" kini Dira yang berteriak.
"Gue cariin assisten baru."
"Gue nggak mau. Gue maunya si cantik" ucap Dira merajuk.
"Nggak bisa! Olive balik ke butik. Besok bakalan ada orang baru yang bertugas menjadi assisten lu."
Dira buru-buru bangkit dari kursinya. Ia lalu menghampiri Kiara dan berlutut di hadapan Kiara.
"Wahai Kiara sarang burung my little pony. Janganlah terlalu jahat kepada kakakmu yang tampan dan rupawan ini! Apa salah dan dosaku,sayang? Hingga kau tega melakukan ini padaku?."
Kiara memutar kedua bola matanya dengan malas. Dira mulai berdrama dan sialnya Kiara lupa membawa sapu lidi untuk memukul Dira.
"Dosa lu adalah lu masih dateng buat nemuin perempuan pembunuh itu. Jadi, terima hukuman dari gue" ucap Kiara kemudian ia berlalu sembari menarik tangan Olive untuk keluar dari ruang Dira.
***
Esoknya seorang laki-laki berparas ketimur-timuran datang ke ruangan Dira. Laki-laki itu memperkenalkan dirinya sebagai Nadhif, assisten baru Dira yang ditunjuk Kiara. Dira menghela nafas panjang, dari mana adiknya itu menemukan assisten seperti Nadhif? Laki-laki itu tak kalah dingin dari Edward sehingga membuat Dira sedikit ngeri.
"Kamu kenal Kiara?" tanya Dira setelah membaca CV dari Nadhif.
"Kenal, Tuan. Nyonya Kiara adalah bos kakak saya, Lita."
"Heuh???" Dira terbelalak mendengar jawaban Nadhif.
"Selama ini kamu kerja di California, benar?" tanya Dira memastikan.
"Benar, Tuan."
"Ngapain lu pindah ke sini, hah? Udah, betah-betah aja di sana. Gaji di sini sedikit, lebih banyak di sana" omel Dira.
Nadhif menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung karena diusir oleh Dira tetapi sudah terlanjur meneken kontrak kerja dengan Kiara. Nadhif sudah resign dari perusahaan di California. Atas permintaan Kiara dan Lita, ia menyanggupi untuk bergabung di Sanjaya corp.
"Kadir..." terdengar suara dingin Kiara.
Dira langsung pura-pura duduk dengan manis sembari menyunggingkan senyum menawan untuk adiknya.
"Kiara sarang burung my little pony. Ada apa ?" tanya Dira lembut.
"Dia Nadhif, adik dari Lita assisten gue. Mulai hari ini dia bekerja di Sanjaya corp sebagai assisten pribadi lu."
"Kir...Kir... Lu nggak kasian apa sama gue? Bertahun-tahun gue ama Edward, sekalinya dapat yang bening malah lu ganti? Gue maunya tetap si Cantik. Gue nggak mau yang ini, modelan pangeran Dubai" rengek Dira.
"Gue nggak terima alasan. Nadhif tetap di sini. Dia sudah tanda tangan kontrak" ucap Kiara tegas.
"Nggak bisa gitu dong, Kir! CEOnya kan gue."
"Saham gue lebih banyak dari lu. Lu lupa kemaren gue udah beli saham Sanjaya corp milik lu. Jadi, nggak ada alasan buat gue nggak bisa ngelakuin itu" kata Kiara lagi.
"Tegaaaa....Oh... Tega........" seru Dira dan teriakannya itu langsung mendapat hadiah lemparan tas kecil milik Kiara.
"Nggak usah banyak drama! Kerja yang bener biar cepet nikah. Dan kamu Nadhif, kamu bekerja mulai detik ini. Tugasmu seperti biasa, kamu sudah paham karena sebelumnya kamu juga seorang assisten profesional. Awasi kakak saya! Jangan sampai dia pergi ke penjara sing nang untuk menemui perempuan keparat itu! Kamu paham?."
Nadhif mengangguk.
"Selamat bertugas. Saya mau kembali ke Jakarta."
"Eh, Kir! Nasib gue gimana?" Dira masih merengek.
"Nasib lu akan baik-baik saja selama lu nggak banyak ulah" tutur Kiara kemudian pergi meninggalkan ruang kerja Dira.