Mr. Adira

Mr. Adira
11-flashback



Langit Jingga di pemakaman San Diamond menjadi saksi menyatunya jasad anak manusia dengan bumi. Upacara pemakaman Samuel baru saja selesai. Banyak pelayat yang mulai meninggalkan area pemakaman.


Kecuali laki-laki itu. Sejak awal peti jenazah keluar dari ambulans, tangisnya tak kunjung reda. Laki-laki itu berkali-kali berteriak, meminta jasad itu untuk bangun kembali. Tangisnya terdengar menyayat hati. Tak heran jika beberapa dari pelayat juga meneteskan air mata. Melihat pemuda itu meraung-raung di samping pusara Samuel.


"Tuan, sebaiknya kita segera pulang. Langit mulai gelap dan cuaca di sini juga tidak bagus" ajak Edward. Ia sedari tadi menemani Dira yang sedang berduka.


"Aku masih ingin di sini, Ed. Aku masih ingin bersama Paman" sahut Dira. Tangannya mengusap batu nisan pusara Samuel.


"Tuan Samuel sudah tenang. Beliau pasti sedih melihat Anda seperti ini. Tuan Adira, Anda tidak boleh hancur. Perusahaan sekarang berada di tangan Anda. Anda harus kuat" ucap Edward menguatkan Dira.


"Enak sekali mulutmu berkata kuat. Aku sedang berduka, Ed. Kekasihku bermain api di belakangku, Paman Sam meninggal. Aku punya hati, pantaslah jika aku sedih" ucap Dira dengan nada suara meninggi.


Edward diam. Tuan besarnya sedang berada dalam samudra emosi. Ia harus berhati-hati agar tidak terkena cipratan emosi Dira.


"Apa polisi sudah berhasil menangkap orang yang menabrak Pam Sam?" tanya Dira dingin.


"Sudah, Tuan. Pasangan mabuk itu sudah diamankan oleh pihak kepolisian."


"Pastikan mereka mendapat hukuman seberat-beratnya. Hukum mati kalau perlu. Gigi dibalas dengan gigi, mata dibalas dengan mata, dan nyawa harus dibalas dengan nyawa" ucap Dira geram.


Edward hanya mengangguk. Rasanya ia tidak boleh membantah apapun perintah Dira u tuk saat ini. Dia harus cari aman. Malaikat pelindungnya sudah tidak ada.


"Apakah Tuan ingin melihat orang yang menabrak Tuan Samuel?" tanya Edward.


"Tentu saja. Setidaknya mereka harus mendapat bogem mentah dariku dulu."


***


Kantor polisi New York.


"Selamat malam, Pak. Kami dari pihak korban tabrak lari atas nama Bapak Samuel. Ini adalah Mr. Adirra, keponakan almarhum Bapak Samuel. Beliau ke sini untuk bertemu pelaku tabrak lari itu" ucap Edward kepada petugas kepolisian yang sedang berjaga.


Polisi itu mengangguk. Ia kemudian meminta Dira dan Edward untuk duduk sejenak sembari meminta keterangan dari pihak korban.


Dira yang sedang malas melimpahkan tugas itu kepada Edward. Dira hanya diam saja, tak menyahuti pertanyaan dari pihak kepolisian.


Prosedur yang tidak cepat itu membuat Dira naik darah. Ia yang semula diam kini bangkit dan memukul meja dengan keras. Polisi itu tentu saja kaget dengan ulah Dira.


"Jangan banyak bertanya, Pak! Saya mau melihat tampang manusia yang sudah membunuh Pamanku. Cepat bawa dia ke sini karena aku sudah tidak sabar untuk membogemnya" ucap Dira.


"Mr. Adirra, sabar! Kami masih membutuhkan beberapa keterangan."


"Keterangan apa? Pamanku sudah meninggal. Kami juga tidak ada di tempat kejadian. Aku ke sini hanya untuk melihat wajah pembunuh itu. Aku ingi memberinya bogem mentah sebelum mereka dikirim ke neraka" ucap Dira geram.


Polisi itu berdecih! Ia kemudian memanggil rekannya dan meminta membawa tahanan yang dimaksud Dira. Rekan polisi itu mengangguk dan dalam hitungan menit rekan polisi itu kembali bersama dua orang tersangka yang ingin ditemui Dira.


"Dira...!!! Sayang...!!! Kau di sini?."


Glek


Dira membatu. Nafasnya seakan terhenti. Ia mengerjapkan kedua netranya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Veronica, calon mantan kekasihnya itu muncul dengan tangan diborgol. Ia memakai baju tahanan bersama Rio.


Lagi-lagi Dira seperti dihantam oleh paku bumi. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Calon mantan kekasihnya itu adalah pembunuh Paman Samuel. Katakan jika Dira sedang bermimpi! Katakan jika Dira sedang bermimpi! Dira harus bangun. Dira harus bangun. Ia tidak akan sanggup menerima kenyataan jika apa yang dilihatnya bukanlah mimpi.


Dira membalikkan tubuhnya. Ia membelakangi Veronica dan Rio. Emosi dalam dirinya sudah mencapai ke ubun-ubun. Sebentar lagi, Dira akan pecah jika terus menahan emosinya.


"Pak Polisi, apakah mereka pelaku tabrak lari itu?" tanya Dira dingin.


"Benar Tuan. Mereka berkendara saat mabuk."


"Siapakah yang mengemudi mobilnya?" tanya Dira lagi.


"Nona Veronica, dialah yang berada di balik kemudi setir.


Duaarrrr


Dira seperti dilempar oleh jutaan bom nuklir. Calon mantan kekasihnya adalah pembunuh. Veronica adalah pembunub Samuel.


Dira membalikkan lagi tubuhnya. Ia berjalan menghampiri Ve yang sedang berpura-pura menangis untuk mendapatkan simpati Dira.


"Dira, maaf aku semalam mabuk. Aku tidak sengaja menabrak orang itu. Kau akan membebaskanku bukan? Kau akan...."


Plak


Belum selesai Ve berkata-kata, Dira sudah mendaratkan tamparan kerasnya di pipi kanan Ve. Ia tak hanya sekali menampar Veronica, tangannya seperti tidak puas jika hanya menampar sekali.


Dira menarik dagu Vero dengan kasar. Lalu tanpa Dira sadari ia mencekik leher Vero dengan kencang.


"Dasar Jaalaangg!!!! Setelah kau hianati aku! Kau bunuh Pamanku. Wanita keparat! Wanita sialan! Kau sudah menghancurkan hidupku! Matilah kau! Pergi ke neraka bersama selingkuhanmu."


Para polisi segera bertindak. Mereka berusaha menjauhkan Dira dari Vero. Edward yang berada di sana juga ikut serta. Dia membantu tiga orang polisi yang sedang mencoba menjauhkan Dira dari Ve.


Untung saja mereka berhasil. Dira berhasil melepas cekikannya. Ia langsung memberontak, menginginkan untuk menghabisi Vero lagi. Berbagai umpatan diteriakkan oleh Dira. Ia persis seperti monster yang sedang mengamuk.


"Hukum mereka seberat-beratnya! Lemparkan mereka ke neraka! Saya akan menuntut kalian semua jika dua bedebah ini mendapat hukuman yang ringan" teriak Dira.


"Dira...!!! Sayang...!!! Aku tidak sengaja. Aku tidak sengaja" teriak Vero, masih berusaha membujuk Dira.


"Jangan memanggilku lagi wanita jaallaang! Namaku terlalu suci untuk mulutmu yang beracun itu. Kau bukan lagi kekasihku! Kau ini pembunuh! Pembunuh pamanku!" teriak Dira.


Dira kembali memberontak. Ia ingin mencakar Vero dan Rio sekaligus. Dira belum puas jika hanya menampar Vero. Ia belum sedikitpun menyentuh Rio.


Edward yang paham akan situasi yang sudah tidak kondusif, segera mengambil tindakan. Ia segera menarik Dira meninggalkan kantor polisi.


Dira terus memberontak. Edward yang kewalahan akhirnya mengambil jalan pintas. Edward memberi kode kepada bodyguardnya. Mereka yang paham segera datang menghampiri Edward.


"Maaf, saya sudah menyerah! Ini demi kebaikan Anda, Tuan."


Hmmmppffhhh


Edward menutup hidung Dira dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Perlahan, Dira yang memberontak mulai melemah.


Edward bisa bernafas lega karena Tuannya sudah tenang. Ia menyuruh para bodyguard itu untuk membawa Dira ke dalam mobil.


"Saya akan mengutus pengacara untuk mengurus kasus ini. Seperti permintaan Tuan Dira. Hukum mereka seberat-beratnya. Karena nyawa harus dibayar dengan nyawa" ucap Edward kemudian ia pergi meninggalkan kantor polisi.