
Dira tersenyum getir melihat Olive yang sedang berbincang dengan Veronica. Tawa itu kembali dilihatnya, senyum itu kembali dilihatnya. Dira benar-benar melihat Veronica yang dulu, ketika masih menjadi seniornya di bangku kuliah.
Entah apa yang dibicarakan oleh dua wanita itu. Dira tidak dapat mendengarnya karena letaknya yang cukup jauh dari mereka. Meskipun Dira tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bahas. Dira bisa melihat jika Vero merasa nyaman berbincang dengan Olive. Dira bisa melihat jika Vero merasa memiliki teman di dalam penjara.
Andai saja Dira memiliki keberanian untuk menghampiri Vero, pastilah dirinya akan menjadi teman kedua untuk Vero. Meskipun saat ini tidak ada Edward yang akan mengomelinya saat ketahuan mengunjungi Vero, Dira tetaplah Dira. Manusia kulkas yang sulit untuk bergerak.
"Mr. Adirra, mengapa hanya diam melihat mereka? Apakah tidak ada sedikit keinginan di hati Anda untuk menghampiri wanita itu?" tanya seorang sipir penjara Sing Nang bernama Roxy.
Dira menggeleng. Baginya melihat Vero seceria itu sudah membuat hatinya bahagia. Meski di sisi lain, ada luka yang timbul mengingat status Vero sebagai tahanan. Pembunuh paman kebanggaannya, yaitu Samuel.
"Selama lebih dari sepuluh tahun tidak ada yang mengunjungi wanita itu dan sekarang Anda datang memberi perhatian kepadanya. Kalau boleh saya tahu, apakah Anda memiliki hubungan khusus dengan tahanan nomor 314?" tanya Roxy lagi.
"Nggak usah kepo!" sahut Dira ketus. Ia memang tidak suka jika seseorang mengulik-ulik tentang kehidupannya. Wajahnya yang semula cerah berubah menjadi jutek setelah Roxy bertanya seperti itu.
"Maaf, jika Anda tidak suka dengan pertanyaan saya."
"Dan saya lebih tidak suka keberadaanmu di sini. Pergilah! Jangan menggangguku! Apakah kau tidak ada tugas sehingga bisa nongkrong di sini hah?" Dira memotong ucapan Roxy.
Roxy ingin tertawa. Amarah Dira terdengar seperti lelucon di telinganya.
"Tugas saya mendampingi pengunjung, Pak. Jadi maklum jika saya berada di sini. Hal itu dikarenakan Mr. Adirra tidak mau bertemu dengan tahanan di ruang besuk. Jadilah saya harus menunggui di sini" kata Roxy memberi pengertian kepada Dira.
"Berapa lama lagi Ve mendekam di penjara?" tanya Dira.
"Ve? Jadi Anda tahu jika namanya adalah Veronica?" tanya Roxy lagi.
"Sudah saya katakan untuk tidak kepo! Jawab saja pertanyaan saya dan tugasmu selesai!" Dira mulai naik darah.
"Maaf, Mr. Adirra. Lagi-lagi saya melakukan kesalahan. Saya sendiri kurang tahu berapa lama wanita itu menjalani hukuman. Karena saya juga orang baru di sini."
Dira mengumpat dalam hati. Rupanya dia salah mencari informasi. Sepertinya besok Dira akan memanggil kepala penjara Sing Nang. Ia ingin agar semua sipir di briefing sehingga bisa menjawab pertanyaan tamu yang datang.
"Apa yang bisa meringankan hukumannya?."
"Tuntutan dari pihak korban, dan tentu saja jika ada campur tangan pengacara. Selama saya berada di sini. Saya tidak pernah melihat wanita itu didampingi seorang pengacara. Saya tidak pernah melihat wanita itu dijenguk oleh keluarganya. Sidangnya berjalan lurus-lurus saja seakan-akan dia sudah pasrah dengan takdir yang akan membawanya."
Dira terdiam. Hatinya bergemuruh setelah mendengar penuturan Roxy. Dira mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi Olive untuk menyudahi acara bincang-bincangnya dengan Veronica. Dira menyuruh Olive segera keluar karena Dira akan menunggunya di mobil.
"Mr. Adirra lama menunggu saya?" tanya Olive saat dirinya sudah duduk di bangku belakang, di samping Dira.
"Tidak!."
"Apakah ada tugas lagi untuk saya?" tanya Olive.
"Ada!."
"Apa itu, Mister?."
"Temani saya tidur di apartemen. Saya ingin melanjutkan tidur siang."
***
Olive yang semula memakai setelan kerja diminta berganti pakaian oleh Dira. Ia menyuruh Olive memakai piyama milik Kiara yang tersimpan di lemarinya.
Awalnya Olive menolak karena menurutnya itu tidak sopan dan juga berbahaya. Tapi bukan Dira namanya jika menerima penolakan. Ia segera mengancam Olive akan menggantikan baju Olive jika Olive tidak mau berganti baju sendiri.
Olive tentu saja takut dan memilih aman. Ia buru-buru berganti baju di kamar mandi dan secepat mungkin keluar dengan memakai setelan piyama milik Kiara.
"Kau bisa bernyanyi? Sepertinya aku akan lebih cepat tidur jika ada yang bernyanyi untukku" perintah Dira.
Olive memutar kedua bola matanya dengan malas. Ada saja perintah dari Dira yang di luar nalarnya. Tidak mau berdebat lagi, Olive segera bersenandung. Menyanhikan lagi twinkle-teinkle little star sembari mengusap bahu Dira.
Dira tertawa cekikikan mendengar pilihan lagu Olive. Apakah ia tidak punya stok lagu lain sehingga memilih lagu anak-anak? Setidaknya Dira sudah memberi tahu lagu jaran goyang yang bisa Olive nyanyikan saat ini.
Perlahan, tawa Dira mereda. Perasaan nyaman dalam hatinya membuatnya langsung terbang ke alam mimpi. Sedangkan Olive yang lelah bernyanyi sedikit demi sedikit memundurkan tubuhnya. Ia merebahkan diri di samping Dira dan ikut terlelap. Mereka tidur saling berpelukan dalam kedamaian tanpa adanya gangguan dari siapapun.
Kringggg.....
Ponsel Dira berdering dengan sangat keras sehingga kedua insan itu terbangun dalam keadaan kaget.
Cup
Olive langsung melebarkan kedua matanya ketika bibir Dira menempel di bibirnya. Olive hendak menjauhkan kepalanya. Namun, Dira menahan tengkuk Olive dan ******* bibir mungil itu denhan perlahan.
"Mister.....!!!! No...!!!!" Olive segera bangkit dan bergerak mundur menjauhi Dira.
Ia buru-buru mengambil tas nya dan berlari keluar dari apartemen Dira.
Dira menghela nafas. Sekretarisnya itu malah kabur dengan memakai piyama. Mengapa pula Olive harus kaget dan kabur seperti itu? Toh Dira hanya mendaratkan bibirnya bukan bokongnya.
Ponsel Dira kembali berdering. Ia segera memutar tubuhnya dan mencari keberadaan ponsel itu. Efek baru bangun tidur, ponsel di sebelahnya saja tidak kelihatan. Butuh waktu sekitar satu menit untuk Dira agar bisa menemukan ponselnya. Nampak nama Kiara sarang burung muncul di layar ponselnya.
"Halo, di sini pizza hut mau order apa kakak?" tanya Dira ngasal. Ia juga mengubah suaranya sehingga terdengar asing di telinga Kiara
Kiara tak langsung menjawab. Ia melihat kembali layar ponselnya, khawatir jika ia salah memencet nomor.
"Ini bener deh nomornya si Kadir" gumam Kiara.
"Hari ini kami ada promo beli 1 gratis 5, mungkin kakak mau coba" ucap Dira lagi.
"Beli 1 gratis 5? Apa nggak rugi?" gumam Kiara lagi yang masih terdengar di telinga Dira.
"Tidak kakak. Tidak ada kata rugi untuk kami karena kepuasan pelanggan nomor satu. Yuk mari di order mau paket apa?."
"Kayaknya saya salah sambung deh. Maaf ya, saya nggak jadi order. Saya mau nelpon Abang saya tapi kenapa nyasar ke pizza hut? Maaf mengganggu dan saya tutup teleponnya lagi."
Tuutttt.
Kiara menutup teleponnya. Bersamaan itu Dira membuang ponselnya dan kembali merebahkan tubuhnya. Ia memeluk guling. Namun, rasanya tidak senyaman tadi ketika memeluk Olive.
"Ah, kayaknya si cantik harus tinggal di sini! Gue nggak bisa tidur kalau nggak dikelonin" gumam Dira dan ia kembali mencoba memejamkan mata siapa tahu bisa tidur lagi.