Mr. Adira

Mr. Adira
28



Olive mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Baru hari pertama ia menjadi sekretaris Dira, jarinya sudah hampir keriting. Jadwal Dira benar-benar rapat. Kalah rapat dengan pintu lemarinya. Olive sampai telat makan, telat kencan dan yang lebih membuatnya kesal ia telat bernafas.


Olive benar-benar tidak habis seperti apa kehidupan sekretaris Dira sebelumnya? Apakah ia masih bisa bernafas? Apakah ia masih bisa berkencan?


Ah, mengingat kata berkencan membuat rasa kesal Olive semakin menjadi. Hari ini seharusnya ia sedang makan malam romantis bersama kekasihnya. Seharusnya malam ini ia menghabiskan waktu berdua bersama kekasihnya, menikmati indahnya kote New York bukan malah berperang dengan kertas-kertas yang masih menggunung.


Olive tidak kuat. Ia ingin resign saja. Meski Dira mengatakan jika gajinya lima kali lipat dibandingkan saat menjadi karyawan Evan. Namun, sepertinya itu tak menjadi daya tarik bagi Olive. Ia lebib memeilih kembali bekerja di tempat awal meski gajinya tidak sebesar saat bekerja dengan Dira.


"Wajahmu semakin cantik jika cemberut seperti itu. Hai cantik! apakah kamu lapar sehingga mulutmu mengerucut seperti itu?" tanya Dira sembari meneguk susu cokelatnya.


'Dasar bos sialan. Bukannya dia sudah tahu jika aku belum makan sejak siang tadi. Mengapa harus bertanya juga? Dasar tidak peka!" maki Olive dalam hati.


"Kau itu sekretarisku. Tidak mungkin aku yang memesankan makanan untukku. Jika kau lapar, pesanlah makanan. Apapun, berapapun. Ponsel di sebelahmu itu bukan benda titut-titut yang tidak berguna. Ada saldo untuk membeli makanan secara online" omel Dira panjang kali lebar membuat Olive sedikit kaget karena Dira bisa membaca pikirannya.


"Cepat pesan makanan! Tidak usah terpesona dengan ketampananku. Saya juga lapar. Saya juga tidak mau dibilang kejam dan tidak peka" perintah Dira lagi.


Olive mengangguk. Ia segera mengambil ponsel yang tergeletak di sampingnya. Olive pikir ponsel itu milik Dira yang sengaja diletakkan di meja. Tapi ketika melihat Dira mengeluarkan ponsel dari saku jas nya, Olive langsung beranggapan jika ponsel itu milik sekretaris Dira yang lama. Oleh sebab itu Olive tidak menyentuh dan tidak pernah bertanya mengenai ponsel itu.


Klik.


Olive meletakkan ponsel itu kembali. Ia sudah memesan empat jenis makanan dan 2 minuman untuk dirinya dan Dira. Olive tidak tahu makanan seperti apa yang disukai oleh Dira. Ia hanha memesan secara random. Dimakan syukur, nggak dimakan nanti bisa Olive bawa pulang.


Ia kembali berjibaku dengan kertas-kertas di hadapannha sembari menunggu makanan yang ia pesan datang.


Cup!


Olive tersentak kaget ketika Dira mengecup pipinya secara tiba-tiba. Ia langsung memasang tampang cemas karena takut dengan tingkah Dira yang mirip Doraemon, bisa berpindah-pindah tanpa ada suaranya.


Cup!


Lagi, Olive dibuat kaget. Merasa tidak nyaman karena Dira semakin mendekatkan tubuhnya membuat Olive menggeser kursi yang ia duduki secara perlahan. Bukannya menjauh, Dira semakin gencar menempelinya.


"Mister... Boleh agak menjauh dulu? Saya tidak bisa fokus jika Anda menempel begini" kata Olive.


"Tidak bisa! Sepertinya saya sedang kangen mendusel-dusel seperti ini" sahut Dira santai.


Olive diam tak berkutik. Ia langsung berkeringat dingin melihat tingkah Dira seperti itu. Dira tidak berhenti mendaratkan kecupan di pipi kanannya. Ingin menampol mulut Dira, ia tidak berani. Olive memilih berdoa semoga bantuan segera datang. Karena dengan begitu dirinya bisa terlepas dari gangguan seorang Dira.


Kriiingggg.


Ponsel Dira berdering. Olive menghembuskan nafas lega karena merasa mendapat bantuan. Olive segera bangkit dari tempat duduknya. Ia mengambil ponsel milik meja yang tergeletak di atas meja Dira.


"Maaf, cantik! Acara bermanja-manjanya terganggu. Kamu duduk di situ sambil menungguku menjawab panggilan dari Daniel" perintah Dira yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Olive.


"Makanannya sudah hampir tiba. Saya akan turun dulu untuk mengambilnya" ucap Olive kemudian ia buru-buru bangkit dan berlari keluar dari ruang kerja Dira.


Dira mengedikkan bahu. Ia lalu menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari Daniel.


"Ada apa, Daniel? Apakah ada masalah?" tanya Dira.


"Maaf mengganggu, Tuan! Saya hanya mau melaporkan tentang insiden barusan."


"Insiden? Insiden apa?" tanya Dira kaget.


"Nyonya Lily datang dan menyeret Pak Mayjuna. Pak Mayjuna kaget lalu pingsan. Kemudian datanglah Pak Edward menyeret Nyonya Lily dan terjadilah pertengkaran suami-istri itu di sini" lapor Daniel.


"Ck! Terlalu sinetron. Perketat penjagaan di luar. Halangi dakocan untuk masuk ke kantor! Wanita itu bener-bener minta dipreteli. Bagaimana keadaan Juna sekarang?."


"Pak Mayjuna belum sadar. Tadi sudah ada dokter yang datang untuk memeriksa Pak Mayjuna."


"Lalu dokternya pulang?."


"Benar, Tuan!."


"Bodoh! Kenapa dibiarkan pulang? Harusnya dokter itu tetap di sana sampai Juna bangun. Kalau ada apa-apa dengan Juna, siapa yang akan menjadi pawangnya. Aduh, Daniel! Kau ini bagaimana?" omel Dira.


"Maaf, Tuan! Saya melakukan kesalahan" kata Daniel.


"Tunggu lebaran kalau minta maaf. Sekarang kamu temani Juna! Buat dia bangun secepat mungkin! Saya tidak mau Juna terlalu nyaman dalam pingsannya."


"Ba...ba...bagaimana caranya?" tanya Daniel.


Daniel kembali meminta maaf. Ia buru-buru mengakhiri pembicaraannya karena ia khawatir akan semakin membuat Dira naik darah.


Ceklek.


Pintu ruang kerja terbuka. Olive muncul dengan menenteng paperbag berisi makanan. Ia letakkan makanan itu di atas meja, membuka dan menyiapkan untuk Dira.


Dira tersenyum geli melihat pemandangan di hadapannya. Seperti seorang istri yang sedang menyiapkan makanan untuk suaminya. Andai itu Veronica, pastilah Dira akan sangat senang.


"Mister, makanannya sudah siap. Saya tidak tahu makanan apa yang Anda suka. Jadi saya membeli secara random saja" kata Olive kemudian ia mempersilakan Dira untuk duduk.


"Kamu makanlah terlebih dahulu" perintah Dira.


"Hah? Mengapa begitu, Tuan? Tidak! Tidak! Tidak! Itu tidak sopan" tolak Olive.


"Sopan, jika saya yang menyuruh. Cepat makan. Saya beri waktu lima belas menit dari sekarang."


Olive tidak bisa membantah lagi. Ia mengambil box makanan berisi nasi goreng. Ia melahap makanan itu dengan cepat karena Dira hanya memberi waktu selama lima belas menit.


"Lucu sekali" gumam Dira.


Sebenarnya Dira merasa bersalah juga sudah memberikan waktu sesingkat itu kepada Olive. Ia hanya mengerjainha saja. Ketika Olive hendak menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya yang penuh, Dira segera mencekal tangan Olive.


"Makanlah dengan perlahan! Saya hanya bercanda tadi" kata Dira yang langsung mendapat delikan tajam dari Olive.


Olive hendak menyuapkan nasi goreng lagi ke dalam mulutnya. Namun, Dira dengan cepat merebut sendok yang dipegang Olive.


"Buka mulutnya! Aaaa......" ternyata Dira ingin menyuapi Olive.


Olive tak bergeming. Ia sungkan mendapat perlakuan seperti itu dari Dira.


"Kenapa tidak buka mulut? Ayo buka mulutnya! Aaaaaa........." perintah Dira lagi.


"Mister, saya makan sendiri saja."


"Tidak bisa! Saya mau menyuapimu. Kalau kamu tidak mau disuapi dengan tanganku, aku akan memyuapimu dengan mulutku" ancam Dira.


Deg.


Olive langsung gemetar. Ia membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari tangan Dira. Usai menghabiskan nasi goreng di box pertama, Dira mengambil box yang lain. Rupanya makanan olahan ayam.


Dira kembali menyuapi Olive. Olive semula menolak dengan alasan sudah kenyang. Namun, namanya juga Dira. Ia tidak menerima penolakan. Mau tidak mau, Olive kembali makan disuapi Dira hingga isi makanan di box kedua juga habis.


"Makan yang banyak! Menjadi sekretaris seorang Mr.Adirra membutuhkan energi yang sangat banyak" ucap Dira kemudian ia menyerahkan gelas berisi air mineral kepada Olive.


Olive menerima air itu dan langsung meneguknya. Perutnya benar-benar kenyang. Kalau sudah begini pastilah Olive akan mengantuk.


"Cantik, sekarang gantian! Suapi bos mu yang tampan dan rupawan ini!" perintah Dira.


Olive tidak membantah. Ia langsung mengambil box ketiga yang berisi lamb steak. Olive memotong-motong daging steak itu dan menyuapkan ke mulut Dira. Ia bergerak dengan cepat agar tugasnya menyuapi Dira segera selesai.


"Sepertinya nafsu makanku naik berkali-lipat jika kau suapi. Jadi mulai besok tugasmu bertambah yaitu menyuapiku sehari 4x."


"APA????" teriak Olive dan tanpa sadar ia menjatuhkan sendok yang dipegangnya.


"Kenapa berteriak? Apa kau tidak cukup jika hanya menyuapiku? Baiklah sekalian dengan memandikanku."


"Tidak...!!! Tidak, Tuan! Saya tidak mau! Saya tidak mau!" teriak Olive lagi.


Dira memasang wajah datarnya. Wajah datar itu seolah sedang mengintimidasi Olive.


"Aku tidak menerima penolakan. Semua ucapan yang keluar dari mulutku adalah perintah."


"Tapi...! Ah, Mr. Adirra! Anda benar-bena membuat saya gila" pekik Olive.


"Sungguh? Kau tergila-gila padaku? Pesonaku memang luar biasa. Wanita mana yang tidak akan terpikat padaku."


Olive serasa ingin menghilang saja dari bumi ini. Ia tidak kuat dengan sikap Dira yang kepedean.


"Sepertinya saya sudah kenyang. Segera berkemas sekarang dan pulanglah! Besok tugas pertamamu adalah menyuapiku. Selamat malam!" ucap Dira kemudian mengecup kening Olive dengan cepat.