
Dira meraba-raba benda padat yang menempel di tubuhnya. Ia merasa aneh dengan apa yang dirasakan oleh tangan kanannya. Biasanya benda empuk yang dipegang Dira adalah guling. Namun, mengapa kali ini berbeda? Seperti kenyal-kenyal gimana gitu?.
"Hoaaaammm...." Dira menguap lebar.
Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi, Dira harus segera bangun untuk bersiap pergi ke kantor. Perlahan, Dira membuka mata dan ia sedikit kaget ketika melihat seseorang sedang tertidur di sampingnya.
Dira berfikir sejenak dan ia ingat jika sudah menikah. Dira terkekeh pelan, menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh polos istrinya.
"Astaga..." seru Dira.
Ia melihat banyak sekali tanda ****** di tubuh Olive. Olive yang nampak kelelahan sepertinya tidak terusik sedikitpun dengan ulah Dira yang membalikkan tubuhnya.
"Satu... Dua...Tiga... Enam belas...Tujuh belas..." Dira menghitung berapa banyak hasil karyanya di tubuh Olive. Sesekali ia menelan ludah melihat kemolekan tubuh istrinya.
Selesai menghitung pada tubuh Olive, Dira melihat tubuhnya sendiri. Ia sedikit kecewa karena tidak ada satupun tanda merah yang tercetak di tubuhnya.
Dira melirik ke arah istrinya. Ia sedikit kecewa karena Olive kurang garang di ranjang. Mungkin Dira harus menyuruh Olive agar belajar pada Lily. Olive terlalu lempeng di ranjang sehingga kurang membuat Dira tersiksa.
"Kerja, Dir! Lu belum cuti" ucap Dira pada dirinya sendiri. Ia segera turun dari ranjang king size miliknya dan bergegas ke kamar mandi.
Dira mengisi bath tube dengan air hangat. Ia berendam sembari bersiul-siul kecil. Setengah jam waktu yang dibutuhkan Dira untuk berendam. Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah segar.
Cekrek...
Cekrek...
Cekrek..
Dira mengambil foto mirror selfie dirinya yang sedang bertelanjang dada. Entah mengapa Dira merasa seperti hot daddy yang baru menemukan sugar baby.
"Emang aura pengantin baru hot banget ngalahin kompor Mamae" Dira terkekeh sendiri. Ia kemudian membuka lemari dan mengambil baju setelan kerjanya.
Setelah rapi dan ganteng, tentulah Dira akan bersiap pergi ke kantor. Ia melirik ke tempat tidur. Tidak ada tanda-tanda jika istrinya akan bangun. Dira berjalan menghampiri ranjang. Ia menatap wajah polos istrinya yang sedang terlelap.
"Maaf, Sayang. Semalem si piton ganas banget. Kamu pasti capek. Tidur yang nyenyak. Nanti malem main lagi sama piton."
Cup.
Dira mengecup singkat kening istrinya. Ia lalu buru-buru meninggalkan mansionnya, tancap gas menuju kantor Sanjaya corp.
"Ehem!."
Baru saja kedua kaki Dira menapaki lantai lobby Sanjaya corp, ia mendengar deheman seseorang. Dira menoleh, nampak Nadhif dan Juna sedang berdiri di belakangnya.
"Apa?" tanya Dira, memasang wajah datar dan sinis.
"Sukses belah durennya, Bos?" bisik Juna sembari tersenyum jahil.
"Berapa ronde, Bos?" tanya Nadhif yang rupanya juga kepo dengan malam pertama Dira.
Plak..
Plak..
Plak..
Dira memukul paha Nadihf dan Juna bergantian. Pagi-pagi sudah kepo dengan urusannya. Dira tidak menjawab. Ia memilih untuk berjalan kembali menuju ruang kerjanya.
"Bossss....." teriak dua laki-laki jomblo itu. Mereka terus berjalan mengekori Dira berharap mendapatkan testimoni malam pertama dari Dira.
"Apa sih??? Kalian kenapa di sini??? Sana! Kerja!" bentak Dira. Ia membuka pintu ruang kerjanya dan masuk tanpa mengetahui jika kedua lelaki bujang itu masih mengekorinya.
"Loh? Kenapa ikutan masuk? Sana kerja!" usir Dira lagi ketika dirinya sudah berada di kursi kebesarannya.
"Testimoninya dong, Bos. Dikit aja! Banyak juga boleh" ucap Nadhif.
"Nggak! Nanti kamu pengen" Dira menyalakan laptopnya. Ia akan memulai harinya dengan mengecek harga saham milik Sanjaya corp.
"Buat motivasi biar cepat nikah, Bos" sahut Nadhif lagi.
Dira melempar pulpennya ke arah Nadhif. Assisten kulkasnya ini mengapa berubah menjadi cerewet ? Dira menatap ke arah Nadhif. Ia memberi tatapan horror agar Nadhif mundur alon-alon.
Dira beralih menatap Juna. Sama seperti Nadhif, Dira juga memberikan tatapan horrornya. Juna bukannya takut, ia malah berjalan mendekati meja kerja Dira.
"Bos, are you OK?" tanya Juna setengah mengecek kemampuan bahasa asingnya.
"Kamu nanyea...?" tanya Dira sebal.
"Jelas, Bos. Bos tidak seperti pengantin baru. Wajahnya suntuk kayak gagal belah duren."
"Begituh?."
"Bener, Bos. Biasanya orang yang habis belah duren tuh bahagia."
"Emang dulu kamu bahagia habis belah duren ama si mantan?" skak mat buat Juna.
Gluk.
Juna menunduk. Bayangan adegan panas dirinya dan sang mantan kembali melintas di hadapannya.
"Saya nggak bahagia, Bos. Saya sedih. Sedih banget. Saya udah nggak perjaka" ucap Juna.
"Saya tidak bayar kamu buat ngedrama. Cepat kembali ke tempatmu dan kerja!" perintah Dira.
Juna mengangguk. Ia berjalan meninggalkan ruang kerja Dira dengan langkah gontai. Ingatan Juna tentang masa lalunya membuat semangat Juna kendor seperti tali kolor. Ia merasa malas untuk menjalani hari kerjanya.
Berbeda dengan Dira, ia langsung gerak cepat agar pekerjaannya cepat selesai dan dia bisa pulang menemui istrinya.
"Bos, jam makan siang! Bos mau makan apa?" tanya Nadhif.
"Nasi goreng seafood nggak pake seafood" ucap Dira.
"Heh? Emang ada nasi goreng seafood g pake seafood? Nasi goreng polos, Bos?" tanya Nadhif.
Dira menghentikan aktifitasnya. Ia menatap heran ke arah Nadhif yang melontarkan pertanyaan seperti itu.
"Emang selama ini nasi goreng pakai baju?."
"Tidak, Bos!."
"Lalu kenapa masih tanya nasi goreng polos?."
"Soalnya tadi kan nggak pakai seafood."
"Ya, kan bisa pakai ayam" jawab Dira ketus.
Nadhif memutar kedua bola matanya dengan malas. Ribet banget Bosnya itu. Bilang aja kalau mau nasi goreng. Tidak usah berputar-putar nasi goreng seafood tanpa seafood.
Nadhif segera undur diri. Ia akan memanggil OB untuk memesankan makan siang untuk Dira. Selagi Dira anteng dengan pekerjaannya, Nadhif bisalah kabur sebentar ke ruangan Juna. Ia akan mengajak Juna ngopi.
***
Di Mansion Dira,
Olive mengerjapkan kedua netranya. Ia bangkit, duduk bersandar di kepala ranjang. Olive menyibak selimutnya, kedua netranya langsung berkaca-kaca ketika melihat tubuhnya polos penuh dengan tanda merah.
Olive mengedarkan pandangannya. Feelingnya mengatakan jika Dira tidak ada di sana. Olive turun dari ranjang. Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi.
"Sakit" rintih Olive. Ia berhasil sampai ke kamar mandi dengan susah payah.
Olive mengisi bath tube dengan air hangat. Ia akan berendam, merelaksasikan tubuhnya yang terasa remuk redam seperti digiling papan penggilasan.
"Aku sudah menikah dengannya? Bagaimana ini?" gumam Olive.
"Aku tidak siap menikah. Aku belum mau menikah apalagi dengan Bos Dira."
Olive menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis, meratapi statusnya yang kini berubah menjadi istri seorang Dira. Olive merasa rendah diri. Ia tidak pantas bersanding dengan Dira.
Olive hanya seorang karyawan. Suaminya adalah CEO perusahaan besar. Sungguh seperti langit dan telur semut. Jauh....! Jauhhhh... sekali.
Selanin itu rasa cinta yang tidak ada juga menjadi salah satu hal yang membuat Olive kepikiran. Entah seperti apa ia akan menjalani rumah tangganya. Apakah akan canggung dan membosankan? Apakah akan bahagia dan menyenangkan?.