Mr. Adira

Mr. Adira
38



Dira langsung terbang ke Spanyol untuk mengecek kondisi Juna. Ia bertolak seorang diri meninggalkan Nadhif yang ia minta untuk mengurus perusahaan dan Olive yang ia minta untuk bersabar menjadi istrinya.


Dira benar-benar khawatir dengan keadaan Juna. Ia pun merasa kesal karena Juna yang pingsan tidak pada waktu yang tepat. Apakah tidak bisa pingsannya setelah Dira menikah? Apakah Juna tidak tahu tanggal dan waktu sehingga pingsan di waktu penting bagi Dira?


Sesampainya di Rumah sakit tempat Juna di rawat, Daniel menyambut Dira dengan wajah tegang. Daniel tidak menyangka jika Bos besarnya akan langsung terbang ke Spanyol untuk melihat kondisi Juna.


Daniel belum menyiapkan karpet merah. Tim sorak soraipun tidak ada. Dira pasti akan mengamuk jika tidak ada yang menyambut kedatangannya. Daniel yakin gajinya akan dipotong setelah ini.


"Juna sudah sadar?" tanya Dira dengan wjaah dingin dan datar sedatar tripleks.


"Be...be...lum, Mister" jawab Daniel.


Dira menghela nafas kasar. Rasanya ia ingin menjambak rambut Juna agar Juna segera sadar. Setakut itukah Juna kepada Lily sampai Juna pingsan lebih dari sehari?


"Dokter memberinya obat tidur?" tanya Dira lagi.


"Tidak, Mister."


"Kalau tidak diberi obat tidur, lalu mengapa Juna belum sadar juga?" kali ini nada suara Dira lebih tinggi dari sebelumnya.


"Sa..sa..ya..tidak tahu, Mister" jawab Daniel ketakutan.


Dira mengibaskan tangan kanannya. Ia tidak menerima jawaban Daniel yang menurutnya tidak berkelas. Daniel segera membuka pintu kamar rawat Juna dan betapa terkejutnya Daniel ketika melihat Juna sedang dudu bersandar di dinding sembari bermain ponsel.


"Pak Juna??? Anda sudah sadar???" tanpa sadar Daniel berteriak. Ia bergegas menghampiri Juna guna mengecek kondisi Juna.


"Sadar? Memangnya saya pingsan?" Juna balik bertanya sembari menampakkan wajah polosnya.


"Pak Juna pingsan setelah Nona Lily masuk ke ruangan Pak Juna."


Ck! Dira berdecak sebal. Melihat dua orang menyebalkan yang menyebabkan pernikahannya batal, membuat Dira kesal. Ia melepas sepatu kanannya lalu memukul Daniel dan Juna bergantian. Kedua orang itu mengaduh kesakitan sembari meminta ampun agar Dira menghentikan pukulannya.


"Kalian keterlaluan. Kau, Mayjuna July Agustino! Bisa-bisanya pingsan di waktu yang tidak tepat. Apa kau tidak tahu kalau seharusnya hari ini saya menikah?" Dira menjambak rambut Juna, melampiaskan kekesalannya.


"Tuan....!!! Sakiiiiittttt!!!" teriak Juna.


"Saya mana tahu kalau Tuan Dira mau menikah?? Tidak ada info maupun undangan" ucap Juna polos.


Ucapan polos Juna membuat Dira semakin gemas. Ia hendak menjambak rambut Juna lagi. Namun, Daniel dengan cepat melempar bantal kepada Juna agar melindungi kepalanya dengan bantal itu.


Alhasil, Dira beralih mangsa. Ia melepas sepatu kirinya, memukul Daniel layaknya drum dengan stick drum berupa kedua sepatunya.


Daniel hanya bisa pasrah. Ia tidak berani menghindar karena itu sia-sia saja. Puas memukul Daniel, Dira memakai sepatunya lagi. Ia menatap kedua pria jomblo itu dengan tatapan tajam.


"Aku tidak menyangka kau sebodoh itu, Daniel? Mengurus dakocan Lily saja tidak bisa. Dan kau, Juna! Tolong hapus hobi pingsanmu! Saya capek liat kamu pingsan terus menerus. Kamu ini laki-laki. Masak pingsan terus-terusan? Kayak cewek datang bulan saja" cibir Dira dan itu membuat Daniel harus menggigit bibir bawahnya karena menahan tawa.


"Ma...ma...af, Tuan. Saya hanya kaget saja dengan serangan Lily" ucap Juna menunduk.


"Kalau hanya di serang seperti itu tidak perlu kaget. Kenapa tidak kamu tabok saja bibirnya dakocan biar dower hah? Dia akan berhenti menyerangmu kalau bibirnya dower seperti roll rambut tante-tante salon."


Dira kemudian menelisik wajah Juna. Ia juga menempelkan telapak tangan kanannya di dahi Juna. Juna dan Daniel yang melihat tingkah Dira tentu saja keheranan. Apakah yang sedanf dilakukan oleh Dira?


"Kamu tidak panas. Wajahnya juga masih lengkap, tidak ada lecet" ucap Dira tanpa ditanya.


"Lalu?."


"Pulang sana ke apartemen! Jangan tidur di rumah sakit! Kamu pikir biaya rumah sakit di sini murah hah?" teriak Dira.


Juna mengangguk. Begitupun juga Daniel. Daniel segera pamit untuk memanggil perawat. Ia juga akan mengurus kepulangan Juna. Ada benarnya juga, kondisi Juna sudah stabil. Tidak perlu memginap kembali di rumah sakit karena hal itu sia-sia saja.


"Tuan..." panggil Juna dengan wajah memelas.


"Apa, hah?" jawab Dira ketus.


"Sebenarnya saya tidak mau pulang. Saya takut Lily kembali menemui saya."


"Lalu??? Lo mau di sini??? Ngabisin duit gue gitu??? Hellow, Mayjuna! Gue kerja keras pagi, siang, malam sampai jomblo menahun seperti ini ngumpulin dollar. Terus lo mau enak-enakan ngabisin dollar itu? Jangan ngimpi, Agustino! Pulang sekarang, karena besok kamu kembali ikut training" kata Dira tegas.


Ceklek.


Seorang dokter laki-laki berkacamata masuk ke kamar rawat Juna. Dokter itu tersenyum sekilas ke arah Dira lalu bergegas menghampiri Juna untuk mengecek kondisinya.


"Semua stabil...."


"Sudah dok, cabut saja infus dan selang-selang lainnya! Pasien mau saya bawa pulang" kata Dira memotong ucapan dokter itu.


Dokter itu menampakkan raut tidak suka pada Dira. Baginya sangatlah tidak sopan memotong pembicaraan yang belum selesai.


"Saya bos nya."


Dokter itu manggut-manggut dalam hatinya ia berkata pantas saja songong, ternyata bos nya.


"Apa Juna bisa pulang sekarang?" tanya Dira membuyarkan lamunan sang dokter.


"Silakan bawa pulang! Urus dulu administrasinya!" kata dokter itu kemudian berlalu dari hadapan mereka.


Juna menatap Dira dengan tatapan memelas. Ia sangat berharap agar Dira tidak menyuruhnya pulang ke apartemen. Entah kesambet mahkluk dari mana pula, Dira yang biasanya kokoh tidak mudah digoyahkan malah luluh dengan tatapan memelas Juna. Ia menghela nafas kasar sembari mengacak-acak rambutnya.


"Mister, kenapa?" tanya Daniel yang tiba-tiba datang ke kamar rawat Juna.


"Pusing! Pusssiiingggggggg!!!" teriak Dira.


Dira memijat pelipisnya.


"Daniel, kamu urus perusahan di sini! Jangan buat kesalahan sedikitpun!" perintah Juna yang lamgsung dijawab Daniel dengan anggukan kepala.


"Dan kamu! Ikut saya pulang ke New York. Training di New York dulu sebulan" kata Dira membuat seulas senyum terbit dari bibir Juna.


***


New York, Butik milik Evan.


Evan mengernyitkan dahi ketika melihat Olive sedang membantu karyawan yang lain merapikan make up beberapa model yang akan melakukan pemotretan. Seperti hari biasa, Olive melakukan tugasnya dengan senang hati sehingga membuat Evan semakin heran.


"Olive, kau di sini?" tanya Evan.


Olive menghentikan aktifitasnya. Ia menoleh ke arah Evan sembari tersenyum.


"Hai, Evan! Mengapa kau bertanya seperti itu? Bukankah hari ini hari Senin? Itu artinya waktunya aku bekerja bukan?" tanya Olive.


"Bukan!" jawab Evan tegas.


Evan lalu menarik tangan Olive dan membawanga masuk ke dalam ruang kerjanya. Evan ingin berbicara empat mata dengan Olive. Hal penting yang membuatnha naik darah sejak kemarin.


"Ada apa, Evan? Mengapa kau mengajakku ke sini?" tanya Olive bingung.


Evan membuka kipas kebesarannya. Seperti biasa ia akan mengipasi wajahnya jika sedang cemas ataupun panik.


"Kau! Pelet apa yang kau pakai sehingga Mr. Adirra sangat ngotot ingin menikahimu? Setahuku ia masih belum bisa move on dari mantan kekasihnya yang berselingkuh dengan Rio. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Mr. Adirra menyuruhku mempersiapkan pernikahan kalian. Satu hari lagi? Memangnya aku superman?" omel Evan.


Olive menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jujur dirinya juga tidak tahu harus menjawab apa. Olive juga menyangka jika Dira sedang becanda sehingga ia membiarkan saja Dira mengoceh tentang pernikahan.


"Ah, sudahlah! Aku juga tahu kau bingung. Gadis polos sepertimu mana mungkin main pelet. Beda dengan mantan Mister Adirra" cibir Evan.


"Mantan? Siapa yang kamu maksud?" tanya Olive tidak mengerti.


"Kau tidak tahu siapa mantan kekasih Mr. Adirra? Perempuan binal itu yang membuat Mr. Adirra membenci Rio. Ah, kau belum bekerja di sini! Sehingga kau tidak tahu kisah kelam mereka."


Olive sedikit merasa tergelitik untuk mengetahui kisah masa lalu Dira. Ia kemudian meminta Evan untuk bercerita.


Namanya juga Evan, ratu gosip titisan admin hangpong jadul. Ia langsung bercerita panjang kali lebar, menambahi bumbu-bumbu pedas agar semakin mantap.


"Veronica? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu" kata Olive setelah Evan menyelesaikan ceritanya.


"Oh ya? Kau tidak mungkin mengenalnya karena dia sekarang di penjara Sing Nang."


Glek.


Olive langsung teringat dengan tahanan 314 yang ia besuk di penjara Sing Nang. Jika Olive tidak salah, nama tahanan itu adalah Veronica.


"Apa mungkin tahanan itu?" gumam Olive yang masih bisa didengar oleh Evan.


"Tahanan? Tahanan apa maksudmu?" tanya Evan.


"Ah, tidak! Aku hanya salah bicara" sangkal Olive.


"Saranku, menjauhlah dari Mr. Adirra! Aku tidak mau kau sebagai pelampiasannya saja. Aku ingin kau bahagia, Olive. Pernikahan bukan untuk main-main."


Olive mengangguk, membenarkan ucapan Evan.


"Maaf, jika aku ikut campur dengan urusanmu. Kau sudah aku anggap sebagai adikku dan aku tidak rela jika kau dijadikan pelampiasan Mr. Adirra. Kau sudah menderita sejak kecil. Aku tidak mau kau juga menderita dalam pernikahan tanpa cinta dan kasih sayang" kata Evan sembari memeluk tubuh Olive dengan erat.