
Kedua netra Evan mendelik ketika melihat sosok laki-laki berjambang memasuki butiknya. Laki-laki itu seperti biasa mengenakan kaos ketat dan celana jeans sobek-sobek. Rambut yang acak-acakan dan mulut berbau alkohol.
Evan menghela nafas panjang. Andai saja kedua tangannya sedang tidak sibuk menelisik detail gaun pengantin pesanan putri bangsawan Inggris, tentulah ia akan mengambil sapu dan mengusir laki-laki itu.
Laki-laki itu adalah Jeremy, pacar Olive yang dulu menjadi karyawannya. Jeremy baru beberapa bulan menjadi kekasih Olive, tepatnya ketika Olive kembali lagi ke New york setelah ia tidak lagi menjadi sekretaris Kiara.
Evan tidak tahu hal baik apa yang dilihat Olive dari Jeremy. Laki-laki urakan dan pengangguran. Jeremy tak jarang membuat ulah entah itu dengan mengganggu pengguna jalan, balapan di jalan raya, atau mengambil makanan yang dijual oleh pedagang kecil.
"Di mana Olive? Sudah dua hari ini aku tidak bisa menghubunginya" teriak Jeremy.
Evan tak menyahut. Baginya meladeni Jeremy sama seperti meladeni orang gila. Ia sedang sibuk, tak ada waktu untuk meladeni orang tidak penting seperti Jeremy.
Sadar diacuhkan oleh Evan, Jeremy berjalan menghampiri Evan dan dengan sengaja ia menendang patung manequin yang menjadi fokus pekerjaan Evan.
"Astagaaaa....!!! Apa yang kau perbuat dengan hasil karyaku? Jeremy, kau memang sudah gila!!!" teriak Evan.
Ia segera berteriak memanggil karyawannya dan memerintahkan mereka agar mengamankan patung berserta busana yang dikenakannya.
Evan menatap Jeremy dengan tajam. Ia lalu melepas sepatu durinya dan langsung memukuli Jeremy dengan gemas.
Bukk...Bukk...Bukk...
Bukan suara kasur digebuk, melainkan suara tubuh Jeremy yang dipukuli oleh Evan. Evan benar-benar geram. Laki-laki itu perlu tahu sisi monster Evan sehingga Jeremy harus berfikir seribu kali untuk berulah di tempatnya.
"Ampun, Evan! Ampun! Sepatumu berduri, aku bisa terluka karena itu" teriak Jeremy sembari mengaduh kesakitan.
"Aku tidak peduli kau terluka apa tidak. Matipun aku tidak peduli" jawab Evan.
Evan berhenti memukul Jeremy. Ia kembali memakai sepatunya dan berjalan menjauhi Jeremy.
"Tunggu, Evan! Kau belum menjawab pertanyaanku. Kemana Olive? Kau sembunyikan di mana dia?" tanya Jeremy.
Evan menghentikan langkahnya.
"Aku tak tahu. Meskipun tahu aku tidak akan memberi tahu. Asal kau tahu saja. Olive juga sudah dua hari tidak datang ke sini. Jadi percuma kau mencarinya ke sini" ucap Evan sedikit berbohong.
"Tidak mungkin! Kau pasti menyembunyikan kekasihku. Aku tahu jika kau tidak menyukaiku. Kau tidak suka aku menjalin kasih dengan Olive bukan?" tanya Jeremy.
"Sudah tahu, tanya. Sadarlah! Kau ini siapa, Olive itu siapa. Kau hanya pengangguran hang tidak tahu diri. Kau pikir aku tidak tahu jika kau memanfaatkan Olive, menjadikannya sapi perahmu untuk menghasilkan pundi-pundi dollar untukmu. Cih! Laki-laki tak berguna" maki Evan.
"Jaga bicaramu, Evan!" bentak Jeremy.
"Jaga bicaraku? Untuk apa? Kau bukan bangsawan, bukan pelanggan, bukan pula atasanku. Kau hanya sampah yang menumpang hidup pada karyawanku. Pergilah dari sini sebelum aku semakin mengamuk kepadamu" usir Evan kemudian ia berlalu meninggalkan Jeremy yang memegangi pipinya.
***
Jika di butik Evan terjadi keributan akibat ulah Jeremy, lain halnya dengan kondisi di Sanjaya corp. Keributan juga terjadi di sana. Bukan karena demo karyawan, bukan pula karena komplain dari klien. Keributan di kantor Sanjaya corp terjadi karena Dira yang merajuk. Mood bekerjanya kembali rusak setelah mendapat telepon dari Widya.
Widya lagi-lagi menyuruhnya cepat menikah, memintanya untuk kembali mempertimbangkan Athalia sebagai calon istrinya. Berkali-kali Dira memberi pengertian jika dirinya tidak suka dengan Atha. Namun, Widya seperti tidak putus arang. Ia terus mencoba membujuk Dira agar mau menerima Athalia.
"Mamae, sayangku! Bisakah Mama tidak mengganggu jam bekerjaku hanya untuk membahas hal yang sudah expired? Dira lelah, Mama. Pusing, mata berkunang-kunang, mual dan perut kembung. Tolonglah, jangan bebani Dira dengan sesuatu yang tidak akan Dira kabulkan" keluh Dira.
Widya menggelengkan kepalanya. Berbicara dengan putra sulungnya selalu saja tidak menemukan titik temu. Ia ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi Dira seperti tidak bisa membaca niat baiknya.
"Kamu lelah apa hamil? Kenapa sampai mual-mual segala?" cibir Widya.
"Mamaeee..... Anakmu ini bisa jadi hamil lho kalau kau terus-terusa begini. Aku ini bukan pujangga, yang pandai merangkai kata...."
"Dira...!!! Mengapa kamu selalu bernyanyi jika berbicara dengan Mama? Apakah tidak bisa kau serius sedikit?" omel Widya.
"Yo nggak mampu, Mamae. Hatiku terlalu rapuh untuk tidak bersenda gurau denganmu. Apa kabar Lucinta Luna kalau Dira serius?."
Lagi-lagi ucapan Dira membuat Widya mengelus dada.
"Kenapa malah bahas Lucinta Luna? Kamu masih normal kan Dira? Kamu nggak belok kan?" tanya Widya cemas.
"Dira? Belok? Dira kan lagi duduk mana mungkin belok" sahut Dira santai.
Huhhh!!! Ingin sekali Widya melempar mulut Dira dengans sandal. Andai anak itu berada disampingnya, sudah dapat dipastikan jika Widya akan mengamuk.
"Mama tidak mau tahu pokoknya paling lama 3 bulan dari sekarang kamu harus menikah. Kalau tidak, Mama akan bunuh ayam peliharaan kamu" ancam Widya.
Tut..
Widya memutuskan sambungan teleponnya. Seperti biasa, Widya akan merajuk dan mengadu kepada Kiara. Kalau sudah begitu, Kiara dengan cepat akan menghubungi Dira untuk meminta konfirmasi.
Olive yang saat itu sedang menata berkas-berkas yang akan dipakai untuk bahan meeting nanti, tentu saja langsung menjeda pekerjaannya. Ia bergerak cepat menuju ruang kerja Dira. Karena jika ia lelet, Dira pasti akan mengomel seperti nenek-nenek yang kehilangan gigi palsunya.
"Ada apa Mr. Adirra memanggil saya?" tanya Olive sembari membungkuk sesuai SOP yang ditetapkan Dira.
"Masaklah sesuatu! Aku lapar" perintah Dira.
"Lapar? Tapi ini masib pagi mister. Belum masuk jam makan siang" kata Olive heran.
"Lakukanlah! Jangan banyak bertanya. Pikiranku sedang ruwet di segala bidang. Pergilah ke pantry untuk memasak sesuatu. Aku tidak akan tenang jika belum makan" ucap Dira.
Olive menurut. Ia segera bergegas ke pantry. Pantry yang dituju Olive adalah pantry khusus untuk membuatkan makanan dan minuman untuk Dira. Biasanya akan ada chef yang bertugas di sana. Namun, karena chef itu sedang cuti maka tidak ada orang di sana.
Olive mulai berfikir, makanan apa yang akan ia buat. Ia membuka kulkas, mencari tahu bahan-bahan apa yang tersedia di sana.
Olive memutuskan untuk membuat sup ayam. Makanan itu ia ketahui saat dirinya menjadi sekretaris Kiara. Makanan yang mudah menurutnya karena Kiara membuatnya hanya sekitar 30 menit saja. Ralat ! bukan Kiara yang membuatnya tetapi salah satu maid di rumah Kiara.
Olive mulai berkutat di dapur. Ia segera mengambil semua bahan yang ia perlukan untuk membuat sup ayam. Tak tik tuk suara berisik yang terdengar di pantry.
"Astagaaaa...!!!" pekik Olive.
Ia berteriak histeris ketika melihat arlojinya. Olive tidak sadar jika dirinya sudah satu jam lebih berada di pantry. Arhhh! Memasak sup ayam saja lama, apalagi memasak nasi padang? Sepertinya Olive harus meningkatkan skill memasaknya agar ia tidak mendapat masalah dari bos nya.
Sup ayam sudah matang. Olive segera mematikan kompor dan menuangkan sup aham itu di mangkok. Tak lupa, Olive mengambil nasi putih yang tersedia di sana. Dira yang merupakan orang Indonesia asli tidak akan kemyang jika belum makan nasi.
"Mr. Adirra, maaf saya membuat Anda lama menunggu! Saya...saya..." ucap Olive ketakutan. Ia berhenti berucap ketika melihat Dira sedang terlelap di sofa.
Olive menarik nafas panjang, antara merasa lega dan bersalah terhadap Dira. Ia buru-buru meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja Dira lalu ia beralih ke sofa untuk membangunkan Dira.
"Mister Adirra, bangun! Makanan sudap siap" kata Olive sembari menggoyang-goyangkan bahu Dira.
Sedetik, dua detik belum ada tanda-tanda Dira akan bangun. Olive kembali mengoyangkan bahu Dira kali ini lebih keras sehingga Dira sedikit demi sedikit menampakkan tanda-tanda untuk bangun.
"Hoaaammmm..... Mamae, gangu Dira lagi tidur aja" ucap Dira dengan mata yang masih terpejam.
Dira menguap berkali-kali. Ia mencoba membuka matanya perlahan. Betapa terkejutnya Dira ketika melihat Olive di hadapannya.
"Ya ampun!!! Bangun tidur langsung di sambut bidadari. Terima kasih Tuhan!!!" teriak Dira dan dengan spontan ia menarik tangan Olive sehingga tubub Olive jatuh di atas tubuh Dira.
Dira memeluk Olive. Senyumnya mengembang ketika berada di posisi nyaman seperti itu. Berbeda dengan Olive, ia merasa tidak nyaman karena merasa ada sesuatu yang menusuk perutnya. Olive memberontak. Ia meminta Dira u tuk melepaskan pelukannya.
"Maaf, Mister! Makanannya sudah siap" kata Olive buru-buru bangkit dari tubuh Dira.
Dira hanya mengangguk. Ia lalu meminta Olive untuk menyuapinya.
"Aaaaa......" Dira membuka mulutnya.
Olive menyuapkan sup ayam itu ke dalam mulut Dira. Dira mengunyah dengan perlahan. Ia perku meneliti cita rasa makanan yang baru saja ia makan.
"Enak" puji Dira.
Dira kembali membuka mulutnya dan dengan sigap Olive menyuapi Dira. Sesuap demi sesuap, akhirnya sup ayam dan nasi yang di bawa Olive habis.
Olive memyodorkan segelas air putih untuk Dira.
Gluk...gluk..gluk..
Air putih itu tandas dalam hitungan detik.
"Masakanmu enak sekali. Saya suka" puji Dira.
Olive mengangguk sembari mengucapkan terima kasih.
"Apakah sup ini masih ada?" tanya Dira.
"Masih, Mister. Ada di pantry. Apakah Mister ingin makan lagi?."
"Tidak!" jawab Dira.
"Lalu?."
"Tolong bungkuskan! Bawa semua kalau bisa. Ikutlah denganku! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat" perintah Dira yang langsung di balas dengan anggukan kepala oleh Olive.