Mr. Adira

Mr. Adira
44



Dira langsung berjingkrak-jingkrak setelah sukses mengucapkan janji suci di depan penghulu. Berbeda dengan Olive, air matanya langsung mengalir deras setelah kedua telinganya mendengar kata Sah dari orang-irang yang menjadi saksi pernikahannya.


Nadhif memberikan kotak berisi cincin pernikahan. Dia mengambil dan membuka cincin itu dengan semangat 45. Disematkan cincin berlian itu di jari manis Olive, lalu berganti Olive yang melakukan hal yang serupa pada jari manis Dira.


Dira langsung memeluk tubuh Olive dengan erat. Ia mendaratkan ciuman ke wajah Olive dengan bertubi-tubi. Dira bukannya tak melihat wajah Olive yang penuh dengan air mata. Ia menganggapnya sebagai air mata suka cinta karena terlalu bahagia menjadi istrinya.


Acara dilanjutkan dengan sesi foto-foto. Kedua netra Olive seperti akan lepas ketika melihat Rio sedang membidik kamera ke arahnya. Ia melihat ke sekitarnya, ternyata ia juga melihat Evan sedang sibuk menyantap makanan di pojokan.


Jika Rio dan Evan berada di tempat itu juga. Lalu siapakah yang ia lihat di foto tadi? Olive belum rabun, kedua netranya masih normal. Jelas-jelas ia melihat foto Evan dan Rio dengan wajah babak belur dan sekarang ia melihat juga kedua orang itu nampak sehat, beraktifitas seperti biasa.


"Eh... Mau kemana?" tegur Dira ketika melihat Olive yang hendak turun dari pelaminan.


"Saya mau menghampiri Evan."


"Evan? Untuk apa? Dia sedang sibuk perbaikan gizi. Jangan diganggu!" cegah Dira.


"Ehem...! Pengantin jangan mengobrol. Lihat kamera dan senyum!" perintah Rio dengan nada suara yang terdengar dingin.


Dira buru-buru menarik tangan Olive. Ia memeluk Olive dari belakang.


"Olive, senyum!" teriak Rio lagi.


Cekrek..


Cekrek...


Cekrek...


Rio menatap hasil jepretannya. Ia menggelengkan kepala karena merasa kurang puas dengan hasil jepretannya.


Rio berjalan menghampiri Olive. Ia tidak mau hasil jepretannya kembali mengecewakan. Olive harus dibriefing, setidaknya Rio harus memberi arahan secara langsung kepada Olive.


"Aku tahu kau tidak bahagia. Tapi bisakah kau pura-pura bahagia untuk saat ini?" bisik Rio dan tingkahnya itu langsung mendapat delikan tajam dari Dira.


Dira langsung memisahkan Rio dari Olive. Ia merentangkan kedua tangannya sebagai jarak antara Rio dan Olive.


"Ngapain bisik-bisik tetangga? Tempatmu di bawah, bukan di sini" ucap Dira sinis.


Rio langsung melipir. Ia kembali ke tempat semula untuk memotret kedua pengantin. Baru juga mengambil dua foto. Rio kembali menghentikan aktifitasnya. Ia melihat dua orang laki-laki yang tiba-tiba naik ke atas pekaminan, memepet kedua mempelai.


"Kalian mau apa?" tanya Dira sebal.


"Mau foto bareng, Bos. Siapa tahu ketularan" jawab Nadhif santai.


"Eh, sesi foto dengan tamu undangan nanti ya. Setelah saya selesai foto 100 kali."


"Kita bukan tamu undangan, Bos. Kita panitia sekaligus saksi pernikahan. Jadi kita mah bebasssssss..." ucap Juna kemudian ia segera berpose mengikuti gaya Nadhif.


Dira menghela nafas. Ia membiarkan kedua manusia itu untuk berfoto dengannya. Sebenarnya Dira memberi jatah foto untuk para tamu undangan sebanyak 1x. Namun, berhubung Nadhif dan Juna tidak merasa sebagai tamu undangan. Mereka dengan entengnya meminta berfoto sebanyak 5x.


"Nyonya Olive, nanti bunganya lempar ke saya ya? Biar cepat nyusul" pinta Juna dengan wajah memelas.


"Nggak ada! Bunganya mau saya lempar tahun depan" jawab Dira ketus.


Juna turun dari pelaminan dengan wajah ditekuk. Tamu undangan mulai naik ke pelaminan untuk bersalaman dengan pengantin dan berfoto bersama.


Lagi-lagi Dira mendengus sebal. Sesi foto dengan para tamu belum saatnya. Gara-gara Juna dan Nadhif mencuri start terlebih dahulu membuat para tamu yang lain ikut-ikutan.


Mau tidak mau, Dira mengikuti alur yang sudah ada. Tamu undangan yang berjumlah kurang lebib 50 orang itu mulai mengantre untuk bersalaman dan berfoto.


Dira baru tersadar mengapa tamu yang hadir kurang banyak. Apakah Nadhif hanya mengundang segelintir orang ini? Atau orang-orang yang diundang Nadhif tidak tahu tempat acara pernikahan?


Ah, sudahlah! Dira tidak perlu memikirkan hal itu. Pernikahannya sudah sah. Mau sedikit atau banyak yang datang, Dira tidak masalah. Lagi pula jika sedikit tamu yang hadir, makanan akan banyak tersisa. Dira bisa menyimpannya di kulkas untuk jatah satu minggu ke depan.


Malam hari, usai acara pernikahan Dira dan Olive. Olive duduk menatap wajahnya di depan meja rias. Ia telah berganti pakaian, mengenakan piyama satin yang tersedia di lemari.


Olive menarik nafas panjang. Ia benar-benar bingung akan menjalani rumah tangganya seperti apa. Diliriknya jarum jam dinding yang sejak tadi berbunyi. Pukul sebelas malam dan itu artinya waktunya Olive untuk tidur.


Jika Olive sedang gelisah di kamar, berbeda dengan Dira. Sejak acara pernikahannya selesai, Dira langsung mengurung diri di ruang kerjanya. Meja kerja Dira penuh dengan kertas berisi coretan nama-nama. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Dira sehingga ia sampai lupa dengan istrinya.


"Aduh, sulit sekali mencari nama kesayangan! Kemana otak cerdasku yang seperti Albert Einstein?" gumam Dira sembari memukul-mukul meja kerjanya.


"Aku tidak mungkin memanggilnya Cantik, terlalu biaaassaaaahhhh. Tidak mungkin memanggilnya sayang, terlalu pasaran. Lalu nama apa yang harus aku sematkan kepada istriku itu?" gumam Dira seraya terus berfikir.


Deng dong..deng...dong...


Bunyi jam dinding sebanyak sebelas kaki menyadarkan Dira jika ia sudah terlalu lama bertapa. Ia buru-buru keluar dari ruang kerjanya, berjalan menuju kamar pengantin miliknya.


Dira membuka pintu kamar dengan perlahan. Ia langsung kecewa melihat Olive sudah terlelap sembari memeluk guling dengan erat.


"Ah, sial! Gara-gara terlalu serius cari nama panggilan sampai lupa malam pertama" gerutu Dira.


Dira kemudian beranjak ke kamar mandi, membersihkan badannya dengan air hangat. Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Dira untuk menghilangkan berbagai kuman di badannya. Ia keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk sepinggang.


"Ah, biasanya di novel-novelkan nggak sepi gini kalau malam pertama!" gerutu Dira lagi.


Otaknya yang sudah membayangkan Olive akan berteriak dan menutup wajah ketika melihat Dira yang hanya bertelanjang dada. Wajah Olive akan bersemu merah dan Dira langsung menggoda istrinya dengan serangan kecil menuju malam pertama.


"Bangunin, nggak. Bangunin, nggak" Dira mencoba mengundi dengan mencabut kelopak mawar yang di tergeletak di atas meja.


"Harusnya gue bisa jadi bayi sekarang. Tapi emaknya udah tidur" gerutu Dira sebal. Ia menjadi berjalan mondar-mandir sembari berfikir untuk membangunkan Olive atau tidak.


Dira berjalan menuju lemari. Ia mengambil semvak unlimited miliknya dan segera memakainya. Dira akan berfikir sembari rebahan. Siapa tahu dengan rebahan, Dira akan mendapat petunjuk malam pertama.


Plok.


Tangan Olive tidak sengaja menampol ular piton milik Dira. Dira cekikikan melihat hal itu karena menurutnya itu adalah petunjuk dari Tuhan untuk segera memulai malam pertamanya.


Dira menggeser guling yang dipeluk Olive dan mengganti dengan tubuhnya. Tangan Olive yang semula tidak sengaja menampol ular piton milik Dira, rupanya meneruskan ketidaksengajaannya. Tangan Olive malah mengusap lembut ular piton Dira sehingga membuat Dira keenakan.


"Nggak usah disuruh udah kerja sendiri" ucap Dira sembari menikmati permainan istrinya.


"Gue hitung sampai 200. Kalau tambah enak, gue garap juga nih cewek" gumam Dira mulai merem merem nggak melek-melek.


"Ah....!" suara laknat itu keluar juga dari mulut Dira. Ia baru saja menghitung sampai sepuluh dan rasanya sudah sangat-sangat enak.


Dira sudah tidak tahan. Ia segera membangunkan Olive agar bisa bermain lebih aktif lagi.


"Mister...." teriak Olive.


Olive berusaha menjauhkan tubuhnya. Ia benar-benar kaget melihat Dira tidur di sampingnya.


"Mau ke mana?" tanya Dira.


"Sa...sa..ya...mau ke kamar mandi" ucap Olive takut.


"Tidak bisa! Kamu tetap di sini. Tanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan."


"Saya? Tanggung jawab? Memangnya saya ngapain?" tanya Olive.


Dira menunjukkan ular piton yang sudah bangun dari tidurnya. Olive langsung menutup mata ketika melihat benda pusaka milik Dira.


"Jangan di tutup. Dia nggak gigit kok. Yuk, kenalan dulu sama si pipit! Biar jinak sama kamu" bisik Dira sembari tertawa cekikikan