
Olive buru-buru masuk ke dalam butik Evan. Pintu butik yang baru saja ia buka, langsung Olive tutup kembali. Olive menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Dapat terdengar jelas jika deru nafas gadis cantik itu masih terengah-engah.
Olive masih kaget, jantungnya belum aman. Tragedi ciuman spontan yang dilakukan oleh Dira benar-benar membuatnya seperti kehilangan roh.
Olive merutuki kebodohannya. Mengapa ia malah ikut berbaring di samping Dira? Bukankah Olive bisa tidur di sofa? Andai saja ia tidak ikut terlelap bersama Dira, pastilah tragedi itu tidak akan terjadi.
Kalau sudah begini bagaimana besok Olive akan bekerja? Mau ditaruk di mana muka Olive? Olive yang pemalu tentu saja merasa takut bertemu Dira. Mungkin resign atau menghilang dari bumi itu lebih baik dari pada bertemu Dira lagi.
"Eh?"
Evan langsung kaget ketika tidak sengaja melintas di hadapan Olive. Ia yang hendak memanggil Rio, tentu saja mengurungkan niatnya.
Evan memindai penampilan Olive. Rasa penasaran langsung menyeruak di dalam otaknya. Ada apa dengan mantan karyawannya itu? Mengapa datang ke sini hanya memakai piyama tidur?
"Olive..." panggil Evan.
"Awww..." Olive yang kaget langsung berteriak. Teriakan itu tentu saja membuat Evan semakin heran.
"Aku hanya memanggilmu mengapa kau seheboh itu? Bukankah biasanya aku yang heboh dan kau yang kalem?" protes Evan.
Olive menghela nafas lega. Akibat ketakutan bertemu Dira membuatnya berfikir jika tadi yang memanggilnya adalah Dira. Olive menarik nagas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Ia melakukan itu berkali-kali agar hatinya segera tenang.
"Kau kenapa? Ada masalah? Apakah si buluk Jeremy melakukan hal buruk kepadamu?" tanya Evan.
Olive menggeleng.
"Jujur, Olive! Aku mengenalmu bukan sehari dua hari, bukan seminggu dua minggu. Tapi sudah tiga tahun belakangan ini. Kau benar-benar tampak kacau. Lihatlah penampilanmu! Persis seperti wanita yang sedang kabur dari tawanan mafia" celoteh Evan yang sedikit banyak memang benar adanya.
"Aku...aku..."
"Duduk dulu! Jika kau di situ bagaimana para pembeli bisa masuk ke dalam butikku? Ayo, kita ke ruanganku! Berceritalah di sana!"
Evan langsung menarik tangan Olive. Mereka berjalan menuju ruang kerja Evan layaknya truk gandeng. Sesampainya di ruang kerja Evan, Olive dituntun duduk di sofa. Evan juga mengambilkan segelas air mineral untuk Olive untuk meredakan kecemasannya.
"Sudah agak tenang?" tanya Evan.
Olive mengangguk dan di saat itulah Rio tiba-tiba masuk ke ruang kerja Evan.
"Hei? Olive? Dia di sini?" tanya Rio heran, sama persis dengan apa yang dilakukan Evan. Rio juga memindai penampilan Olive yang datang hanya dengan mengenakan piyama tidur.
"Apa yang terjadi? Apakah Jeremy melakukan hal buruk kepadamu?" tuduhan Rio pun sama persis dengan Evan.
Olive segera menggelengkan kepala.
"Kalau bukan karena Jeremy, lalu mengapa kau datang mengenakan piyama tidur? Kamu ngelindur? Atau bagaimana?" tanya Rio lagi.
Olive menepuk wajahnya dengan kesal. Ia baru menyadari jika dirinya masih memakai piyama tidur. Harusnya ia berganti pakaian dulu. Tapi mana sempat jika Olive langsung kabur setelah dicium Dira?
"Aku...aku...."
"Ceritalah! Kita ini sudah seperti keluarga. Dengar! Baik ataupun buruk yang kau alami jangan sungkan untuk bercerita kepada kami" kata Evan.
"Aku dari apartemen Mr. Adirra."
"APA????!!!" sontak Evan dan Rio berteriak bersamaan.
"Kau tidur dengannya? Kalian ONS?" tuduh Evan yang langsung mendapat pukulan keras dimulutnya.
"Aku tidak ONS. Mr. Adirra memintaku untuk mengeloninya. Aku juga ikut tertidur dan ketika bangun...." ucap Olive menggantung.
"Towernya Mr. Adirra ikut bangun?" celetuk Evan.
"Bukan! Mr. Adirra mencium bibirku. Evan, Rio... Aku benar-benar malu" ucap Olive kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Rio dan Evan saling memandang. Sedetik kemudian tawa keduanya pecah. Mereka tidak menyangka jika Olive ketakutan seperti itu hanya gara-gara dicium Dira. Beberapa kali Evan sampai mengusap sudut matanya karena terlalu asyik tertawa.
"Kau ini polos sekali. Dasar perawan!" cibir Evan di sela - sela tawanya yang belum usai.
"Baru dicium Tuan Dira saja sudah panik. Bagaimana jika dilibas Jeremy? Hei Olive! Pacarmu itu badboy. Dia bisa lebih ganas dari Mr. Adirra" kata Evan menambahi.
"Apa nanti kau akan pingsan? Please Olive jangan terlalu polos. Kau terlalu lugu untuk menjadi kekasih Jeremy" ucap Rio menimpali.
"Apa maksud kalian? Mengapa kalian mengatakan hal buruk mengenai Jeremy?" tanya Olive tak terima.
"Jadi Jeremy ke sini?" tanya Olive tak percaya.
"Ya, dan aku berhasil mengusirnya. Aku yakin dia tidak akan berani datang lagi ke sini karena kedua tangannya sudah aku injak" sahut Evan.
"Kau jahat, Evan! Mengapa kau setega itu kepadanya?."
"Aku? Jahat? Lebih jahat mana dirinya yang hampir merusak gaunku? Kau harus tahu gaun rancanganku adalah pesanan orang-orang penting. Jika rusak sedikit saja, tamatlah riwayatku" jawab Evan.
"Tapi kan...."
Ucapan Olive terhenti ketika melihat sosok laki-laki yang berdiri di depan pintu ruang kerja Evan. Ia buru-buru bangkit dan berlari untuk bersembunyi di belakang tubuh tambun Evan.
"OMG...!!! Mr. Adirra, selamat datang! Anda selalu saja memberi kejutan kepada saya. Ngomong-ngomong ada perlu apa datang ke sini?" tanya Evan dengan wajah yang dibuat seceria mungkin.
Dira tak langsung menjawab Ia menarik sudut bibir kanannya sembari menatap tajam ke arah Rio. Lagi-lagi, Dira memberikan tatapan intimidasi kepada Rio. Ia menyalurkan energi negatif melalui sorot matanya yang tajam.
"Mister! Mister...! Hellow! Mister megapa melamun?" panggil Evan.
Dira mengacuhkan Evan. Ia berjalan menghampiri Rio yang masih menatapnya dengan kebingungan. Posisi mereka saling berhadapan dengan jarak 5 cm jika diukur dengan penggaris.
"Aku tidak tahu mengapa Tuhan memberimu nasib yang baik. Di saat orang lain harus mendekam di balik jeruji besi selama lebih dari sepuluh tahun. Kau, bisa dengan mudahnya kembali menjalani hidupmu diluaran sana" ucap Dira penug sindiran.
"Emmh... Maaf, saya tidak mengerti."
"Kau? Kau tidak mengerti? Rupanya kau sudah melupakan dirinya yang sudah berkorban untukmu. Apa perlu kau ku seret juga ke Penjara Sing Nang agar kau tidak amnesia?" bentak Dira dan itu benar-benar membuat semua orang di sana kaget.
"Kau harusnya juga mendekam di sana! Kau harusnya tidak berada di sini! Ini tidak adil! Ini tidak adil" teriak Dira.
Merasa situasi sudah tidak kondusif, Evan segera menghampiri Dira. Ia mencoba menarik tubuh Dira agar menjauh dari Rio. Setidaknya jarak 5 cm itu bisa diperpanjang menjadi 50 cm atau 500 cm.
"Tuan, Oh Tuan! Aduh mengapa suasana menjadi panas begini? Mr. Adirra, mari duduk dulu! Anda pasti banyak pikiran makanya panas begini" Evan berhasil mendudukkan Dira di sofa. Ia segera berlari menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin.
"Tuan, minum dulu! Hati yang panas sangat cocok dengan minuman dingin."
Dira mengambil minuman yang disodorkan Evan. Bukannya di minum, Dira malah melemparnya begitu saja.
"Tuan...!!!" teriak Evan dan Olive secara bersamaan.
Evan yang entah kesambet dari mana langsung berlari menghampiri Olive. Ia menarik tangan Olive dan menyeretnya ke hadapan Dira. Evan langsung membuka kedua tangan Olive dan menempelkan ke tubuh Dira seolah-olah Olive sedang memeluk Dira.
"Evan..." gumam Olive lirih.
"Ssttt... Mr. Adirra sedang marah. Saat ini obat yang paling ampuh adalah sebuah pelukan" bisik Evan.
"Ayo, kita pulang!" kata Dira tiba-tiba.
"Kita? Kita siapa?" tanya Olive bingung
"Aku dan kamu. Saya ke sini memang hendak menyusulmu dan membawamu pulang."
"Pulang? Mr. Adirra mau membawa Olive pulang?" tanya Evan tak percaya.
"Tentu saja aku akan membawanya pulang. Dia sekretarisku. Tidak mungkin aku membawamu, Evan."
"Tap...tapi....Mister" kata Olive hendak menolak.
"Saya tidak menerima penolakan. Ayo, pulang karena saya sudah lapar!" kata Dira kemudian ia bangkit dan menarik tangan Olive agar mengikuti langkahnya.
"Boy!" panggil Evan setelah Olive dan Dira pergi dari hadapan mereka.
"Hmm?."
"Kau berbuat ulah apa sehingga Tuan Dira kembali naik darah?" tanya Evan.
"Tidak ada. Aku bahkan bingung dengan apa yang ia bicarakan."
"Apa kau tidak ingat tentang Penjara Sing Nang? Apakah ini ada kaitannya dengan Vero?" tanya Evan lagi?.
"Vero? Aku bahkan tidak tahu kabarnya setelah peristiwa itu" kata Rio membela diri.
"Sepertinya luka lama Tuan Dira kembali terbuka dan kau bersiaplah jika akan menjadi pelampiasan amarahnya. Tapi setidaknya kita harus bersyukur ada Olive yang bisa menjadi pawang Tuan Dira meskipun aku juga tidak yakin ia bisa sehebat dan segalak Nyonya Kiara" ucap Evan.