Mr. Adira

Mr. Adira
23



Hari berganti hari, seorang Adira Marcel Putra Sanjaya tidak pernah terlihat bersantai ria. Ia selalu sibuk dengan meeting, mengecek laporan dan lain sebagainya. Hidup Dira terasa semakin tenang karena Widya sudah kembali ke Pare. Tak ada lagi yang akan menyuruhnya segera menikah. Tak ada lagi yang akan mendatangkan calon istri untuk Dira.


Dira senang, Dira benar-benar senang. Apalagi setelah pertemuan terakhir dirinya dengan Athalia. Gadis itu tidak lagi menampakkan batang hidungnya. Hal itu membuat Dira semakin fokus dalam menyelesaikan pekerjaannya.


"Mr. Adirra, ada undangan untuk Anda" ucap Edward sembari memberikan undangan kepada Dira.


"Undangan? Undangan apa?."


"Undangan ulang tahun Nona Lily."


"Lily? Dakocan?" tanya Dira memastikan dan Edward langsung menjawab dengan amggukan kepala.


"Berapa umur si dakocan? Dia bukan anak TK yang perlu dirayakan ulang tahunnya. Lagi pula harusnya dia memberiku undangan pernikahan bukan undangan ulang tahun. Menyebalkan sekali" omel Dira panjang seperti kereta.


"Apakah Tuan akan hadir?" tanya Edward.


"Sebenarnya aku malas. Tapi mengingat Kiara sudah berada di Spanyol, sepertinya boleh saja kita datang."


"Kapan Tuan akan berangkat?."


"Hm... Besok saja. Sekarang aku ingin pulang dulu. Bantal dan guling di rumah sudah menunggu."


***


"Spadaaaaa.... Kiara sarang burung my little pony. Aku datanggggg....."


Dira langsung berteriak saat dirinya tiba di depan pintu apartemen milik Elang. Diketuknya benda persegi panjang itu berkali-kali dengan harapan adik kesayangannya segera muncul dan berlari memeluknya.


Ceklek.


"Abang?"


Raut bahagia Dira langsung masam ketika melihat Elang yang membukakan pintu. Dira langsung melengos melihat penampakan Elang yang hanya memakai kolor dan berkaos singlet.


"Kiara mana?" tanya Dira dengan wajah datarnya.


"Ara.... sedang mandi, Abang" jawab Elang gugup.


"Mandi? Malam-malam begini?" tanya Dira sembari memperlihatkan jarum jam di arlojinya yang menunjukkan pukul sembilan malam.


Elang menahan senyum. Ia ingin menertawai kakak iparnya itu tapi takut dosa.


"Arloji Abang belum disetting Waktu Bagian Barcelona. Di sini kan lima jam lebih lama dari Jakarta, Bang" kata Elang menjelaskan.


Ck! Dira merutuki kebodohannya. Ia segera melepas arloji berwarna silver itu dari pergelangan tangannya dan...


Prangg


Dira melemparnya dengan asal.


"Kadir...!!!" Kiara langsung berteriak ketika mendengar suara ribut dari luar unit apartemennya. Ia langsung berjalan keluar dan menjewer telinga Dira dengan gemas.


"Bisa nggak sih kalau datang ke sini nggak usah bikin huru hara? Kucing tetangga gue jantungan kalau lu mainnya begituan" Kiara menarik Dira agar masuk ke dalam unit apartemennya. Tak lupa ia mengajak Edward yang sedari tadi hanya berdiri mematung di belakang Dira.


"Lepas, Kir...!!! Duh, nggak Mama Widya, nggak anaknya, sama aja! Suka banget nyiksa gue" gerutu Dira.


"Apa kata lu? Lu kalau nggak suka gue jewer, silakan angkat kaki dari sini! Gue mau menjalani hari-hari tenang tanpa dirimu" usir Kiara.


"Hush... Gue itu Abang lu. Nggak boleh ngusir begitu. Ayo sini salim dulu sama Abang!" suara Dira mulai melunak. Ia menjulurkan tangan kanannya agar Kiara mencium punggung tangannya.


Dengan sebal, Kiara meraih tangan Dira. Meski hatinya sedang dongkol. Kiara tetap melakukan permintaan Dira. Mumpung nggak aneh-aneh.


"Pinter sekali adik akuh. Bangga deh sama kamu" goda Dira dan Kiara langsung menyebikkan bibirnya ke arah Dira.


Dira menggerakkan tangan kanannya sehingga kini berada di hadapan Elang. Elang yang langsung paham, segera meraih tangan kanan Dira dan mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Sholeh sekali ipar Abang. Ah, kalau begini adem sekali hatikuhhh..." ucap Dira lagi.


"Kamu belum mandi?" tanya Dira kaget.


"Be...belum, Abang, kan tadi Ara yang mandi duluan" ucap Elang terbata-bata.


"Oh, yasudah cepetan mandi. Habis itu tolong pijetin Abang. Leher ama kaki rasanya cekat-cekot semua."


Elang mengangguk. Ia kemudian mengambil ponselnya untuk memesan makanan secara online. Setelah selesai barulah ia pamit lagi untuk membersihkan diri.


***


Dira langsung melahap dengan ganas makanan-makanan yang tersaji di meja makan. Ia berkali-kali mengisi piringnya dengan nasi, mengambil berbagai lauk yang terhidang di meja.


Elang memang sengaja memesan makanan yang banyak. Ia memesan berbagai makanan padang dari restoran milik Lily. Lidah Dira yang Indonesia banget pasti akan protes jika Elang memesan makanan western. Meskipun Dira memang bisa makan-makan western. Tapi tetap saja Dira akan mengomel. Hal itulah yang dihindari oleh Elang. Ia memilih bermain aman.


"Kadir, pelan-pelan makannya! Ini masih banyak lho, nggak bakalan habis juga sama kita bertiga" tegur Kiara.


Dira tak menyahut. Ia masih sibuk melahap gulai cumi isi telor asin dipiringnya. Melihat keganasan Dira melahap makanan membuat yang lainnya langsung merasa kenyang. Mereka memilih menyudahi acara makan sore itu dan beralih duduk di ruang tengah.


"Kalian jahat sekali. Mengapa meninggalkanku sendiriiiiii...???" protes Dira ketika ia sudah menyelesaikan makan sorenya.


"Lu makan nggak tolah-toleh. Kita-kita jadi nggak nafsu makan liat lu makan" tutur Kiara.


"Ah, alasan klise!" ucap Dira lalu duduk diantara Elang dan Kiara.


"Ngomong-ngomong lu ngapain ke sini?" tanya Kiara.


"Gue? Diundang dakocan."


"Lily maksudnya?."


"Ho'oh" sahut Dira cepat.


"Dia sepertinya niat sekali merayakan ulang tahunnya sampai-sampai ngundang lu segala, Kadir" kata Kiara.


"Si Dakocan lebih mirip kayak anak TK."


"Ehem...!!!" Elang berdehem.


"Opooo...???" tanya Dira.


"Bolone nggak trimo, Kadir. Wis talah ojok bahas Lily maneh" kata Kiara cekikikan.


Edward menatap Kiara dan Dira bergantian. Ia yang memang tidak paham dengan bahasa daerah, hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Hei, Elang! Ojok Satru. Satru ae iparku... du..du...du..." Dira malah semakin jadi menggoda Elang.


"Hem, Abang, Ara, Elang hanya merasa tidak nyaman dengan tenggorokan saja. Kenapa malah mengejek Elang sih?."


"Gue cuma nyanyi, bukan ngejek. Betewe gimana kabar Juna? Apa si dakocan sudah jinak ama dia?."


Kiara menghela nafas panjang. Dira yang tiba-tiba menanyakan Juna membuatnya kembali teringat tentang keadaan Juna. Kiara menceritakan kejadian saat Juna bertunangan dengan Lily. Ia juga memberi tahu kondisi Juna sekarang.


Namun, namanya juga Dira. Bukan rasa kasian dan iba yang ia tunjukkan kepada Juna. Dira malah tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Kiara.


"Lu kenapa ketawa?" tanya Kiara sewot.


"Juna itu bener-bener ya. Hahahahaha" Dira memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.


"Dasar! Malah tertawa di atas penderitaan orang lain" gerutu Kiara.


"Terus acaranya besok di mana?."


"Hotel Sixty Two" sahut Kiara.


"Besok, jangan lupa bangunin gue pagi-pagi! Gue harus ke salon dulu" ucap Dira yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Kiara.