
Dira menatap kesal keberadaan Juna di dalam pesawat pribadinya. Laki-laki itu dengan tidak tahu dirinya, tertidur pulas setelah beberapa menit pesawat mulai lepas landas dari Barcelona.
Dira sepertinya menyesali keputusannya untuk mengajak Juna ke New York. Harusnya Dira membiarkan saja Juna berada di Spanyol bersama Daniel. Keberadaan Juna di dalam pesawat pribadinya benar-benar berisik. Dira ingin sekali membuang Juna dari pesawat. Namun, mengingat Juna pernah berjasa menyelamatkan Kiara, membuat Dira mengurungkan niatnya.
"Bang..." panggil Juna.
Dira menoleh ke arah Juna. Laki-laki itu masih tidur melungker sembari memeluk guling. Dira mengernyitkan dahi, telinganya belum tuli. Ia jelas-jelas mendengar Juna memanggil namanya tapi makhluk di sampingnya itu sedang tidur.
Mungkinkah Juna sedang mengigau? Entahlah, Dira tidak mau ambil pusing. Ia kembali memutar lehernya, menatap lurus ke depan sembari menunggu pesawatnya tiba di Bandara John. F Kennedy.
"Abang mau nikah?" tanya Juna dan lagi Dira langsung menoleh ke arah Juna.
"Emang udah ada calonnya?"
Plak.
Dira yang kesal akhirnya memukul wajah Juna. Juna langsung membuka mata akibat kaget karena pukulan Dira yang tiba-tiba.
"Lu tidur apa ngingau?" tanya Dira ketus.
"Saya tidak tidur, Bang. Cuma malas saja membuka mata. Pesawat ini terlalu nyaman untuk tidak dinikmati detik tiap detiknya" ucap Juna.
"Sejak kapan aku mengizinkanmu memanggilku dengan sebutan Abang?" tanya Dira sinis.
"Sejak ada isu jika saya mau dijadikan anak angkat. Nona Kiara mengatakan itu kepada saya. Jadi saya harus terbiasa memanggil Abang dan Adek kepada kalian."
Plak!
Lagi-lagi Dira memukul wajah Juna. Dira belum mengiyakan keinginan konyol Kiara dan Juna sudah beranggapan jika hal itu sudah resmi.
"Jangan mimpi! Kartu keluarga Sanjaya sudah tidak bisa direvisi. Tidak ada anak angkat. Jadi jangan ngadi-ngadi" kata Dira tegas.
Juna mengangkat kedua bahunya. Sebenarnya ia juga tidak berharap menjadi saudara angkat Dira dan Kiara. Juna pasti akan pusing tujuh keliling melihat tingkah kedua kakak beradik yang sama-sama absurd.
Juna sudah bahagia menjadi karyawan di Sanjaya corp. Meskipun dirinya juga tidak paham mengenai jobdisknya. Selama di Jakarta maupun di Spanyol, Juna hanya mengikuti training. Mulai dari komputer, bahasa asing, matematika dan statistika.
"Tuan, pertanyaan saya tadi belum dijawab."
"Pertanyaan apa?" Dira balik bertanya.
"Tuan mau menikah? Memangnya sudah ada calonnya?" Juna mengulang pertanyaannya.
Dira mendelik. Ia tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Juna.
"Tidak apa-apa kalau tidak mau jawab. Saya paham bagaimana perasaan seorang jomblo menahun" ucap Juna sembari menepuk bahu Dira.
Plak!
Dira menepis tangan Juna. Apa katanya? Jomblo menahun? Dira bukan jomblo sembarang jomblo. Ia lelaki single yang memiliki kualitas tinggi. Jika Dira mau ia tinggal tunjuk saja perempuan mana yang akan dijadikan istri.
"Jangan samakan saya dengan kamu!."
"Kita jelas tidak sama, Tuan! Saya pernah bertunangan. Mantan saya juga belum bisa move on. Kalau Tuan Dira kan belum ketahuan pacarnya siapa" cibir Juna.
Dira kembali memberikan tatapan lasernya. Entah mengapa mulut Dira yang biasanya cerewet seperti emak-emak, kini seakan merasa malas untuk sekedar berucap. Dira hanya mendelik tanpa mengomel seperti kebiasaannya.
Merasa diabaikan oleh Dira, Juna memilih kembali tidur hingga akhirnya oesawat yang membawa mereka berdua mendarat dengan selamat di Bandara John. F. Kennedy.
Karpet merah langsung tergelar, pintu pesawat terbuka lalu muncullah Dira dengan gaya cool tanpa ekspresi berjalan menuruni anak tangga.
Dibelakangnya, Juna berjalan mengekori Dira. Jun berjalan biasa saja layaknya turun dari angkot. Jelas sekali terlihat perbedaan aura antara Juna dan Dira. Keduanya terlihat jomolang sekali jika disandingkan bersama.
"Tuan, nanti saya tinggal di mana?" tanya Juna.
"Di mess karyawan."
"Apakah saya pindah bekerja di sini?."
"Ya, sebulan ini kau akan di training di New York."
"Apa boleh jika saya di sini saja terus? Saya tidak mau kembali ke Spanyol" pinta Juna.
"Tidak boleh! Habitatmu di Spanyol bukan di sini. Kau harus menghadapi segala rintangan dan tantangan di sana. Jangan menghindar! Hadapi jika kamu lelaki!" ucap Dira kemudian ia masuk ke dalam mobil.
***
"Butik Evan" gumam Dira.
Dira langsung menyambar kunci mobil di atas nakas. Ia berlari keluar dari unit apartemennya. Layaknya orang yang sedang kesetanan.
"Siapkan mobil saya!" perintah Dira kepada seseorang yang bertugas menyiapkan mobilnya.
Dira terus berlari menuju lobby. Kedua entranya langsung menangkap mobil sport abu-abu metalik yang sedang melaju ke arahnya. Mobil itu berhenti di hadapan Dira lalu muncullah seseorang berpostur tinggi besar dari dalam mobil.
"Saya menyetir sendiri" kata Dira.
Laki-laki itu mengangguk dan Dira langsung mengambil alih mobil itu.
Wussshhhhhh....
Dira melajukan mobil sport miliknya dengan kecepatan tinggi.
Ccciiiiiitttt........
Mobil Dira berhenti tepat di depan butik Evan. Ia membuka pintu mobil dan melompat keluar. Tanpa permisi dan salam, Dira langsung nyelonong masuk ke dalam butik Evan.
"Di mana Evan?" tanya Dira pada salah satu karyawan Evan yang berpapasan dengannya.
"Evan sedang di lantai 2. Ada pemotretan gaun rancangan terbarunya."
Dira langsung berlalu. Ia berjalan dengan cepat menapaki anak tangga. Benar saja, ketika Dira sampai di ruang studio. Dira melihat Evan sedang memberi instruksi kepada seorang model. Di samping Evan, Rio membidik model itu dalam lensa kameranya.
"Evannn...!!!" teriak Dira.
Evan dan Rio kompak menoleh ke belakang. Melihat kedatangan Dira membuat Evan memberikan kode kepada Rio. Rio mengangguk. Ia langsung paham dengan kode yang diberikan oleh Evan.
"Mr. Adirra, selamat datang. Ada keperluan apa sehingga....."
Plak!
Dira memukul pipi gembul Evan. Ia langsung memberi tatapan laser kepada Evan dan Rio.
"Di mana Olive?" tanya Dira.
"Olive? Saya tidak tahu, Tuan. Olive sudah tidak bekerja di sini" jawab Evan.
Plak!
Lagi, Dira memukul pipi Evan.
"Di mana Olive?" tanya Dira geram.
"Tuan, saya tidak tahu. Sungguh, saya tidak tahu" jawab Evan sembari memegang pipinya yang perih.
"Aku tidak akan mengulangi lagi pertanyaanku. Jika kau tidak mau menjawabnya, Kau dan kau akan ku buang ke Sungai Amazon" ancam Dira.
Evan dan Rio saling memandang. Mereka langsung pucat mendengar ancaman Dira. Evan tahu jika Dira tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia juga tidak berani berbohong karena sejatinya baik Evan maupun Rio tidak tahu tentang keberadaan Olive.
"Saya berani bersumpah, Tuan. Saya tidak tahu Olive di mana. Kemarin Olive memang sempat ke sini membantu saya. Tapi hari ini dia tidak datang ke sini" ucap Evan ketakutan.
Brakkk!!!
Dira menendang pintu studio pemotretan. Ia melampiaskan amarahnya pada benda padat itu.
"Olive memang tidak ke sini dan kami memang tidak tahu keberadaan Olive. Sejak Anda menariknya menjadi assisten pribadi Anda, Olive sudah jarang ke sini" ucap Rio.
"Aku tidak bertanya padamu."
"Aku hanya memberi informasi padamu, Mr.Adirra. Lihatlah, kau membuat kawanku ketakutan! Aku sebagai bawahannya berkewajiban melindungi atasannya jika dia merasa ketakutan" kata Rio lagi.
"Cih! Sejak kapan kau menjadi bijak seperti ini?" cibir Dira.
"Sejak Anda memberi pelajaran kepadaku" jawab Rio cepat.
Dira semakin kesal. Rasanya mendatangi butik Evan adalah sesuatu yang sia-sia. Dira memutar tubuhnya dan langsung angkat kaki meninggalkan butik Evan. Tangan kanannya mengambil ponsel, menghubungi seseorang yang othor sendiri tak tahu itu siapa.
"Ada kerjaan untuk kalian!" ucap Dira sembari masuk ke dalam mobilnya.
"Saya akan mengirim foto seseorang. Temukan gadis itu dengan cepat! Saya tidak mau nanti malam tidak bisa tidur nyenyak jika tidak ada dia" perintah Dira lalu ia memutuskan panggilan secara sepihak.