
"Aku akan pulang ke Jakarta. Kau, ku beri tugas penting yang harus kau lakukan setiap hari" kata Dira kepada Daniel, salah satu orang kepercayaannya yang memegang Sanjaya corp. di New York.
"Apa itu, Tuan?" tanya Daniel.
"Kirimkan 3 jenis makanan setiap hari ke Penjara Sing Nang. Katakan untuk tahanan wanita nomer 314. Jangan katakan identitasmu, pihak penjara sudah tahu."
***
Kediaman keluarga Sanjaya, Jakarta.
Dira menguap berkali-kali. Perjalanan udara yang dilaluinya benar-benar membuatnya mengantuk. New York-Jakarta, bukan jarak yang dekat. Pesawat yang ditumpangi Dira pun juga membutuhkan waktu lebih dari dua puluh jam untuk tiba di Jakarta.
Namun, entah mengapa selama di perjalanan Dira tidak dapat memejamkan kedua matanya sedikitpun. Otaknya masih memikirkan keadaan Veronica yang mendekam di penjara.
Andai saja tidak ada telepon dari Jakarta yang memberi tahu jika Widya masuk rumah sakit, tentulah Dira tidak akan balik kandang. Ia pasti masih berada di New York, mengunjungi mantan kekasihnya yang mendekam di penjara.
"Selamat datang, Tuan Muda" sapa seorang maid yang bekerja di kediaman Sanjaya.
Seperti biasa, Dira tidak akan menanggapi sapaan ramah dari mereka. Mulutnya sibuk menguap karena mengantuk.
Dira melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak pernah ia hitung. Niatnya ingin tidur terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit.
"Dira....."
Langkah kaki Dira terhenti ketika kedua telinganya mendengar suara seseorang yang tidak asing. Dira menoleh ke belakang. Ia mengucek kedua matanya, khawatir jika efek mengantuk membuatnya salah lihat.
"Om Edo? Om Edo di sini?" tanya Dira heran. Ia memutar badannya dan kembali menuruni anak tangga.
"Yes, dude. I'm here."
"Om, nama saya Dira bukan Dude. Belum juga genap sebulan nggak ketemu udah nggak ingat sama anak sambung" cibir Dira.
Sudur bibir Edo tertarik ke samping. Anak laki-laki Widya ini selalu saja membuatnya ingin tertawa. Edo sampai heran, apakah yang dialami Widya saat hamil Dira? Mengapa produk perdana Widya seunik ini?
"Bengong, Om? Awas, ayam tetangga gantung diri!."
Lagi-lagi ucapan Dira sukses mengocok perut Edo. Namun, karena Edo sedang dalam mode jaim sehingga ia hanya tersenyum lebar si hadapan Dira.
"Kamu dari mana?" tanya Edo.
"Aku? Dari depan, Om, mau ke kamar. Ngantuk. Kalau dari mana?."
"Om? Om dari taman belakang. Habis bantuin tukang."
"Tukang? Tukang apa, Om?."
"Yaa tukang dekor lah, masak tukang santet. Kamu ini ada-ada aja, Dira" balas Edo membuat Dira mengernyit heran.
"Sebenarnya Dira penasaran ama tukang santet eh tukang dekor yang Om bicarakan. Tapi, berhubung Dira ngantuk. Dira mau tidur dulu. Nanti, Dira temui tukang dekor itu" kata Dira lagi-lagi ia menguap, memberi sinyal jika dirinya sudah sangat mengantuk.
"Kamu tidur saja. Om mau menemui Mamamu dulu."
"Eh? Mau ke rumah sakit, Om?."
"Ke rumah sakit? Untuk apa? Om mau ke kamar."
"Katanya tadi mau menemui Mama?" tanya Dira bingung.
"Benar! Mamamu itu di kamar. Jadi, Om mau ke kamar" kata Edo dan hal itu lagi-lagi membuat Dira bingung.
Dira menguap lagi. Kali ini mulutnya terbuka lebar dan panjang. Ah, sudahlah! Sepertinya kedua netranya sudah tidak mau diajak kompromi. Dira pamit ke pada Edo. Ia buru-buru menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Buggg.
Dira menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya. Sedetik, dua detik, Dira langsung terlelap menuju alam mimpi.
***
Empat jam kemudian....
Dira terbangun dari tidur panjangnya. Ia lagi-lagi menguap sembari bergeliat di atas kasur. Dira mengucek kedua matanya, berharap tidak ada lagi perpanjangan waktu untuk tidur. Dira menghitung dari satu sampai delapan, memanggil rohnha agar segera berkumpul dalam raganya.
Krucukk...krucukkk....krucukkk...
Dira memegangi perutnya. Rupanya cacing- cacing di perutnya sudah demo minta diberi makan. Dira bangkit dengan malas. Ia buru-buru mandi, menyelesaikan segala ritualnya sebelum akhirnya ia keluar dari kamar.
Dira berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Cacing-cacing diperutnya sudah semakin berdemo. Ia berjalan menuju dapur, karena di sanalah surganya makanan di kediaman Sanjaya.
"Loh? Kok banyak makanan?" Dira menatap heran jejeran makanan yang berada di atas meja. Makanan-makanan itu persis seperti jamuan acara penting untuk tamu undangan.
Dira sebenarnya ingin bertanya. Namun, tidak ada orang di dapur. Jadilah, Dira mengambil piring dan melahap makanan itu satu-persatu.
"Ayam bakarnya enak" gumam Dira sembari mencuil daging di paha ayam bakar itu.
Dira yang memang sedang dalam kondisi lapar level akut, tidak puas jika hanha mencuil paha ayam bakar saja. Ia mengangkat ayam bakar utuh tadi, meletakkan di atas piringnya, dan melahapnya hingga tersisa tulang belulang.
"Sudah bangun, Dir?."
Dira menghentikan aktifitasnya, menjilati tulang-belulang ayam yang masih berbumbu itu. Keningnya berkerut ketika melihat Edo muncul di hadapannya dengan tampilan yang sudah rapi.
"Om Edo? Om Edo di sini?" tanya Dira.
"Loh? Kok kamu masih bertanya sih? Tadi kan kita sudah ketemu si depan tangga" jawab Edo.
"Oh, jadi itu kenyataann ya? Dira pikir ngimpi. Maap ya, Om" ucap Dira cengengesan.
"Ngomong-ngomong Om Edo rapi begini mau ke mana?" tanya Dira lagi.
"Nggak ke mana-mana. Di sini kan ada acara."
"Acara? Acara apa, Om?" tanya Dira heran.
Edo hendak menjawab. Namun, tiba-tiba muncul Widya yang langsung membekap mulut Edo dari belakang.
"Dira anak Mama! Kamu sudah sampai rupanya" kata Widya basa-basi.
"Mamae? Mamae sudah sehat? Katanya kemarin masuk rumah sakit?" tanya Dira semakin bingung.
"Eh... Mama sudah sehat. Denger kamu buru-buri terbang ke Jakarta membuat tubuh Mama segar kembali. Dira, anak Mama yang paling ganteng. Sekarang ganti baju! akan ada acara di rumah ini."
Widya segera menarik tangan Dira. Ia membawa Dira kembali menuju kamarnya. Widya menyerahkan setelan jas yang mirip dengan pakaian yang dipakai Edo.
Dira ingin bertanya. Namun, Widya buru-buru membungkam mulutnya dan menyuruh agar Dira untuk segera berganti bajum
Tak ingin berdebat lebih lanjut dengan Widya, Dira memilih menurut. Ia segera berganti baju, merapikan dandanannya dan tak lupa berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya.
Ceklek.
Pintu kamar Dira terbuka. Nampak Widya muncul dengan senyum mengembang yang memghiasi wajahnya.
Dira semakin heran melihat penampilan Widya yang memakai kebaya, rambut Widya juga di sanggul. Ada apa ini? Adakah acara penting di rumah ini?
"Anak Mama memang ganteng. Pantas mendapat julukan CEO paling tampan dan rupawan" puji Widya.
"Kita mau ke mana, Ma? Kenapa berpenampilan rapi seperti ini?."
"Kita tidak ke mana-mana. Hanya di rumah, lebih tepatnya ke taman belakang."
"Ada apa di sana, Ma?."
"Ada Mama. Ada Om Edo. Yuk ah, jangan kebanyakan tanya! Mama ini Mama kamu lho, bukan Mbah google" ucapan random Widya sukses membuat Dira gagal paham.
Widya yang terlalu bersemangat hari ini, segera menarik tangan Dira dan menggiringnya ke taman belakang. Widya melangkah sambil bersenandung riang membuat Dira semakin penasaran dengan kondisi kejiwaan Widya.
"Ma...! Mamae...! Mama..." panggil Dira.
"Iya, sayang" jawab Widya.
"Mamae tumben nyanyi. Kesambet di mana?."
Bugg.
Pukulan keras mendarat di bahu Dira. Widya yang tadinya berbunga-bunga, berganti kesal karena ucapan Dira yang tidak pernah disaring.
"Mama.....!!! Dira bertanya baik-baik. Mengapa kau pukul diriku?" drama kolosal seorang Dira dimulai. Hal itu membuat Widya ingin mintah dihadapan Dira.
"Macam mana Mama tak pukul dikau? kau ngomongnya ngelantur je. Sudahlah, jangan banyak cakap! Yuk, ikut Mama ke taman belakang" jawab Widya dengan bahasa campur-campur.
Dira menghela nafas panjang. Ia pasrah, tak ingin lagi mencari tahu jawaban dari pertanyaannya. Ia terus mengekori Widya, berjalan menuju tamna belakang.
Dahinya kembali berkerut ketika melihat penampakan taman belakang yang disulap sedemikian rupa. Banyak bunga mawar di sepanjang jalan, kursi-kursi dan meja yang tertata rapi, kue tart yang menjulang tinggi, serta dekor yang bertuliskan huruf A dan A.
Ah, dekorasinya sebelas dua belas saat pernikahan Kiara. Ada apa ini? Mengapa taman belakang rumahnya disulap seperti itu? Lalu ini inisial huruf A dan A, inisial nama siapa itu?
"Kami duduk di sana! Tunggu sampai teman-teman Mama datang."
Widya segera mendorong tubuh Dira agar duduk di kursi yang sudah dihias sedemikian rupa. Dira menurut saja, toh dirinya juga tidak paham dengan apa yang sedang terjadi.
Dira duduk dengan anteng. Dilihatnya para maid yang berjalan ke sana-ke mari, mengatur segala hal di tempat itu. Ada yang mengecek makanan, ada yang mengecek bunga-bunga, ada pula hang menghitung jumlah kursi dan meja.
Tak lama, terdengar suara hentakan sepatu yang beradu dengan lantai. Jika telinga Dira tidak salah menghitung, ada banyak orang yang sedang menuju ke taman belakang.
Dira bangkit dari tempat duduknya. Ia berniat mencari tahu gerombolan mana yang sudah berani memasuki kediaman Sanjaya. Namun, tubuhnha dibuat mematung tatkala melihat sosok perempuan yang hadir di antara gerombolan itu. Gadis itu memakai kebaya, warnanya sama persis dengan kebaya yang dipakai Widya.
"Mas Dira...." panggil perempuan itu.
"Kau????" Dira tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia terlalu shock melihat banyaknya orang yang datang ke rumahnya.