
"Dira, ngomong-ngomong kamu kapan kembali?" tanya Widya.
"Barusan" ucap Dira lalu menggigit paha ayam goreng di tangan kanannya.
Widya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingkah anak sulungnya ini mirip sekali dengan anak TK. Makan belepotan, banyak nasi berceceran. Umur sudah tiga puluh lima tahun, tapi rasanya Widya seperti masih mengasuh Dira yang berumur tiga tahun.
"Dira, apa kamu lapar sekali? Coba pelan-pelan makannya" tegur Widya.
Edo yang berada di samping Widya langsung menoel lengan istrinya. Ia memberi kode agar Widya diam dan tidak mengganggu Dira yang sedang makan. Biarlah Dira seperti itu. Edo berfikir, Dira sedang melampiaskan amarahnya.
Daripada mengamuk tidak jelas, Edo lebih suka melihat Dira mengamuk makan seperti itu. Lebih aman dan ramah lingkungan.
Gluk...gluk...gluk...
Dira meneguk air putih di gelasnya hingga tandas. Ia mengisi kembali gelas kosong miliknya dan meneguk kembali isinya.
"Kenyang....!!!" seru Dira sembari menepuk-nepuk perutnya yang rata.
"Dira, Om Edo boleh bicara?" tanya Edo hati-hati.
"Ngomong aja,Om! Om mau ngomong apa?."
"Masalah acara pertunangan kamu dengan dokter Athalia...."
"Stop! Tidak usah dibahas. Anaknya, dokter tidak terkenal. Bapaknya, mata duitan. Model begitulan mau menjadi bagian dari keluarga Sanjaya? Cih.... Langkahi dulu mayat Papa."
Plak...
Widya memukul mulut Dira. Mode ceplas ceplos putra sulungnya ini sudah kembali. Widya yang semula merasa bersalah, tentu saja kembali pada mode galaknya. Andai saja ada sapu ijuk di dekat Widya, ia sudah menggepuk-gepuk bokong Dira sekarang.
"Mama...." tegur Edo.
Widya melengos. Ia membuang muka ke arah kanan, menghindari wajah Dira yang menatapnya dengan datar.
"Maaf, Dira, Om Edo belum selesai bicara. Om Edo cuma mau minta maaf kepadamu karena ketidaktahuan Om Edo mengenai rencana Mamamu."
"Ayah...!!!" tegur Widya.
"Mama diam dulu. Ayah mau bicara sama Dira."
Widya kembali melengos.
"Lanjutkan, Om Edo yang terhormat!" perintah Dira.
"Om benar-benar merasa malu kepadamu. Om merasa gagal mendidik Mamamu. Om merasa kecolongan, Dira. Seharusnya Om tidak langsung mengiyakan kabar dari Mamamu. Harusnya Om bertanya lagi kepadamu. Tapi, karena Om terlalu bahagia mendengar kabar kau akan bertunangan. Jadinya Om terlalu grasak-grusuk."
Dira mengangguk, menerima penjelasan dari Edo.
"Kamu bisa hukum, Om. Om menerima apapun hukuman darimu."
"Ayah...!!!"
Widya berteriak menegur Edo untuk kedua kalinya. Ia tidak satu pemikiran dengan Edo . Untuk apa Edo meminta maaf? Untuk apa Edo meminta hukuman?
Edo tidak tahu saja jika apa yang ia katakan barusan bisa membuat Dira besar kepala. Widya tidak mau anak sulungnya itu semakin di atas angin.
"Om Edo yang baik hati seperti Bapak Peri. Dira berterima kasih atas perhatian Om kepada Dira meskipun Om Edo bukan Papa kandung Dira. Om Edo tidak perlu malu, karena semuanya sudah berlalu. Sekarang lebih baik Om Edo bawa pulang Mamae ke Pare. Di sana lebih aman buat Mama daripada di Jakarta."
"APA??? Jadi kamu ngusir Mama?" Widya langsung naik darah.
"No, Mamae! Bukan ngusir. Kalau ngusir kan pakai ngomong hush...hush...hush..."
"Kamu nganggep Mama kucing?" Amarah Widya naik satu level.
"Bukan, Mamae. Duh, Om Edo lihat sendiri kan? Mamae keseringan darah tinggi kalau di Jakarta. Lebih baik Om Edo cepat bawa Mamae pulang ke Pare. Di sana lebih adem dan sejuk."
"Dira.... Kamu pikir Mama naik darah terus seperti ini gara-gara siapa? Mama mikirin kamu. Kamu, Dira! Umurmu tidak muda lagi. Sudah tiga puluh lima tahun dan kamu belum menikah."
"Masalahnya di mana, Mamae? Jodoh Dira belum datang juga" sahut Dira santai.
"Bukan belum datang. Kamu saja yang menolak. Mama sudah memilihkan calon yang baik untuk kamu tapi kamu tolak."
Ck!
"Dia bukan calon yang baik. Mama sabar, Dira pasti akan menikah. Tapi tidak sekarang. Karena selain di sini tidak ada penghulu, Dira juga belum daftar ke KUA" ucap Dira lalu ia bangkit dan berlari meninggalkan rumahnya.
"Ayah...lihat kelakuan anak sambung kamu! Dia benar-benar susah diatur" keluh Widya.
"Sudahlah, Mama! Jangan menekan Dira terus. Beri dia kepercayaan. Kalau sudah waktunya Dira pasti menikah. Lebih baik kita bersiap-siap. Kita kembali ke Pare sekarang" ajak Edo lalu ia menarik tangan Widya agar meninggalkan meja makan.
***
Pintu ruang kerja Dira diketuk seseorang. Dira yang sedang mengecek laporan keuangan di perusahaannya tentu saja kesal karena ketukan pintu itu mengganggu konsentrasinya.
Dengan cepat, Dira menyuruh masuk dan muncullah sosok Edward dari balik pintu ruang kerja Dira.
"Kau mengganggu sekali."
Edward membungkuk. Ia paham jika sudah mengganggu bos besarnya.
"Maaf, Tuan! Saya tahu jika saya mengganggu, Tuan. Tapi, di luar ada tamu yang ingin sekali bertemu dengan Anda. Jadi..."
"Usir dia! Saya sedang sibuk" ucap Dira memotong perkataan Edward yang belum selesai.
"Maaf, Tuan! Saya rasa Anda harus menemui orang ini karena jika tidak dia akan terus mengganggu kehidupan Anda" kaya Edward memberi saran.
"Kau ini bukan Mamae tapi cerewetnya sebelas dua belas dengannya. Siapa sih yang ingin bertemu denganku?."
"Saya....." kata Athalia.
Dira langsung membuang nafas dengan kesal. Sosok yang tidak ingin ia temui malah berdiri dengan sempurna di depan pintu ruang kerjanya. Dira benar-benar tidak habis pikir. Apakah dia tidak sibuk sampai ada waktu untuk mendatanginya? Apakah dia memang dokter tidak terkenal sehingga tidak ada pekerjaan untuknya?
Dira memberi kode untuk Edward agar dirinya keluar. Sepertinya Dira akan menuruti saran Edward untuk melayani tamu tak diundang ini. Dira harus menyelesaikan masalah dengan Athalia agar dokter tidak terkenal itu berhenti menemuinya.
"Duduk! Maaf, nggak ada minum di sini! Jadi jangan harap akan disugihi teh atau kopi" ucap Dira ketus.
Atha mengangguk. Ia kemudian menarik kursi dan mendaratkan tubuhnya di sana.
"Lima menit! Saya sibuk sekali" perintah Dira, benar-benar tidak manusiawi.
"Mas Dira...." panggil Atha.
"Haduuhhh. Baru dua kata sudah membuatku mual" gumam Dira lirih.
"Boleh saya bertanya?."
"Silakan!" jawab Dira cepat.
"Apa kekuranganku sehingga Mas Dira menolakku?."
Prok...prok...prok..
Dira bertepuk tangan dengan spontan. Ia tidak menyangka jika wanita di depannya langsung to the point berbicara padanya. Dira pikir akan ada drama menangis meraung-raung terlebih dahulu. Ternyata langsung inti permasalahan yang diucapkan perempuan itu.
"Aku tidak cinta kamu. Udah itu aja" sahut Dira santai.
"Mengapa Mas Dira tidak bisa cinta sama aku?."
"Karena aku mencintai orang lain. Udah itu aja" sahut Dira lagi.
"Apa? Mas Dira memiliki kekasih?" tanya Atha kaget.
"Punya dong. Masak nggak punya? CEO paling tampan dan rupawan sepertiku mana mungkin jomblo" ucap Dira bangga.
"Lalu mengapa Mama Widya memintaku untuk menjadi menantunya?."
"Karena Mama kurang kerjaan. Sudah ya Athalia. Waktu lima menit kamu sudah selesai. Saya masih banyak kerjaan."
"Tapi kita belum selesai bicara, Mas Dira!" tolak Atha.
"Apa lagi hah? Apa lagi yang mau dibahas? Rasanya semua pertanyaan kamu sudah saya jawab dengan cepat dan benar. Andai ini kuis family 100, pastilah saya menang."
"Jawaban Mas Dira terlalu flat."
"Flat? Terus kamu mau jawaban saya yang bergelombang atau bercabang gitu? Maaf ya dokter tidak terkenal. Saya terlalu syibuk untuk berdrama korea denganmu. Saya banyak pekerjaan. Jangan pernah menemui saya lagi karena pembahasan ini sudah selesai. Bahkan saya tidak pernah memulai untuk memunculkan masalah ini ke muka bumi."
"Mas Dira tega sekali. Kamu tega, Massss.....Aku mencintaimu bahkan saat pertama kali kita bertemu. Tidakkah kau melihat kesungguhan cintaku kepadamu?" tanya Atha dan kini bulir-bulir bening mulai berhamburan dari kedua netranya.
"Sayang sekali tidak. Saya rasa sudah cukup waktumu di sini. Tolong angkat kaki sekarang juga karena saya benar-benar harus kembali bekerja" usir Dira.
Atha bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap tajam ke arah Dira. Kedua tangannya mengepal keras.
"Aku pastikan kau akan menyesal karena menolakku."
"Tidak akan dan tidak pernah. Segeralah pergi sebelum aku menyuruh Edward untuk menyeretmu!."
"Tak perlu, Mas. Aku bisa pergi sendiri dari sini" Atha mengusal sudut netranya yang basah.
"Baguslah. Jadi tunggu apa lagi? Silakan angkat kaki dari sini!."