Mr. Adira

Mr. Adira
30



Sesuai perintah Dira, Olive segera mengemas sup ayam yang tadi ia buat. Olive melihat ada lunch box bersusun di meja pantry. Ia mengambil tempat itu, mencucinya dan menjadikan wadah untuk sup ayam dan nasi putih.


Usai semua siap. Olive keluar dari pantry menuju ruang kerja Dira. Rupanya Dira sudah menunggu di depan pintu ruang kerjanya. Ia langsung tersenyum melihat kemunculan Olive dengan menenteng rantang (Dira ngomongnya rantang gaes, kalau Olive ngomongnya lunch box).


"Ayo!" ajak Dira.


Ia berjalan menuju lift yang akan mengantarkan mereka menuju lobby. Dira juga sudah menghubungi sopirnya untuk bersiap-siap. Kali ini dia sedang mager, malas nyetir. Biarlah si sopir mengantarnya, jika tidak begitu ia akan makan gaji buta.


"Silakan, Mr. Adirra!."


Si sopir membuka pintu untuk Dira. Dira langsung masuk, duduk di kursi belakang. Dilihatnya Olive yang malah membuka pintu mobil depan. Ia memanggilnya dan menyuruh Olive untuk pindah ke belakang.


"Bukankah seharusnya saya duduk di sini, Mister? Duduk di samping pak sopir?" tanya Olive.


"No! Kau selalu duduk di sampingku bukan Pak sopir. Cepat pindah karena saya sudah mengantuk" perintah Dira.


Olive hanya bisa pasrah. Mau tidak mau ia pindah ke kursi belakang. Baru saja Olive mendaratkan bokongnya di kursi. Dira sudah menjatuhkan kepalanya di paha Olive. Olive yang kaget hampir saja memukul pipi Dira.


Untung saja ia langsung sadar. Tangan Olive yang sudah melayang itu kemudian berbelok, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Penjara Sing Nang, Pak!" perintah Dira kepada sopir pribadinya.


Laki-laki itu mengangguk. Ia kemudian menjalankan mobil tanpa memperdulikan aktifitas bos besarnya di kursi belakang.


"Mampir beli buah dan kue. Kamu saja yang turun, Pak. Beli buah apel, anggur dan jeruk. Untuk kuenya, belilah cheesecake dan red velvelt. Puding juga" kata Dira kemudian ia menyodorkan kartu saktinya.


Si sopir mengambil kartu sakti itu. Ia lalu kembali fokus menyetir, memecah jalanan kota New York yang padat merayap.


"Puk-puk dong, cantik! Bos mu ini mau bobok siang" ucap Dira dengan suara manjanya seperti anak kecil.


Olive menarik nafas panjang. Ia langsung melakukan perintah atasannya itu, menepuk punggung Dira dengan perlahan. Hanya butuh dua puluh tepukan bagi Dira untuk terlelap dalam tidurnya. Olive bisa mendengar dengkuran halus keluar dari mulut Dira.


"Anda hebat sekali, Nona. Mr. Adirra bisa seperti itu kepada Anda" kata si sopir sembari terkekeh melihat tingkah lucu atasannya.


"Ah, maksud Anda apa?."


"Mr. Adirra seperti bayi koala jika bersama Anda. Dia berubah dari manusia dingin menjadi manusia yang manja dan menggemaskan" lagi-lagi sopir itu tertawa.


Olive tidak menyahut lagi. Ia sudah terlalu malu untuk berucap.


"Oh, iya Pak. Mengapa kita pergi ke Penjara Sing Nang? Siapakah yang akan ditemui Mr. Adirra di sana?" tanya Olive berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Hmm... Saya tidak tahu. Hanya saja memang akhir-akhir ini Mr.Adirra sering ke sana. Biasanya jika ketahuan Pak Edward mereka akan bertengkar."


"Bertengkar?" tanya Olive.


"Ya, Pak Edward akan mengamuk dan mereka akan bertengka, saling tidak berbicara selama beberapa hari. Saat Mr. Adirra di Indonesia, tugas ke penjara Sing Nang dilakukan oleh Daniel. Namun, lagi-lagi Pak Edward tahu. Daniel diamuk dan diberi surat peringatan oleh Pak Edward. Sejak saat itu tidak ada lagi orang yang pergi ke Penjara Sing Nang. Ini adalah kunjungan pertama Mr. Adirra ke sana setelah Pak Edward tidak bekerja lagi di Sanjaha corp" kata sopir itu bercerita panjang kali lebar.


Olive tak memberi tanggapan atas penjelasan sang sopir. Ia memilih diam karena memang ia tidak tahu harus berkomentar apa.


Mobil berhenti. Si sopir mematikan mesin. Ia menoleh ke arah belakang untuk meminta izin kepada Olive.


"Saya akan keluar sebentar untuk membeli pesanan Mr. Adirra. Tidak akan lama" ucap sopir itu kemudian ia keluar dan berlari menuju area pertokoan yang Olive sendiri tidak tahu di mana.


"Ini di mana? Mengapa banyak sekali pedagang di sini? Sepertinya aku terlalu banyak bekerja sehingga tempat seindah ini aku tidak tahu" gumam Olive.


Selang beberapa menit, sopir pribadi Dira sudah kembali. Ia meletakkan barang-barang yang tadi ia beli di kursi sebelahnya. Sopir itu kembali menyalakan mesin mobil. Mobilpun kembali melaju perlahan.


Dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di Penjara Sing Nang. Olive segera membangunkan Dira. Bukannya bangun, Dia malah memeluk pinggang Olive dengan erat. Ia seakan enggan untuk beranjak dari tempat nyaman itu.


"Mr. Adirra, kita sudah sampai. Ayo, bangun! Nanti Penjaranya tutup" ucap Olive sembari menepuk bahu Dira dengan keras.


"Eeeuughhhhh" Dira menggeliat ke kanan dan ke kiri. Tak lupa ia menguap beberapa kali.


"Kita sudah sampai?" tanya Dira.


"Sudah Mister" jawab Olive.


"Ayo, keluar! Ikut aku untuk menemui seseorang" perintah Dira.


Dira dan Olive keluar dari mobil. Mereka lalu berjalan beriringan menuju Penjara Sing Nang. Jangan lupakan sopir pribadi Dira. Laki-laki itu turut serta masuk ke dalam penjara karena ia harus membawa berbagai makanan yang ada di mobil.


Sopir itu mengangguk. Ia meletakkan semua makanan yang dipegangnya di atas meja. Setelah itu ia membungkuk dan langsung meninggalkan Dira dan Olive.


"Mister, kita mau menjenguk siapa?" tanya Olive.


"Seseorang."


"Seseorang?."


Dira hendak menjawab pertanyaan Olive. Tapi urung ia lakukan karena tiba-tiba muncul seorang sipir penjara yang menghampiri mereka.


"Whooo...!!! Mr. Adirra, lama sekali Anda tidak ke sini" seru sipir penjara itu.


"Saya bukan pengangguran. Jadi tidak bisa sering-sering ke sini."


"Biasanya assistenmu datang untuk mewakili."


"Dia sudah saya mutasi ke Spanyol. Sekarang dialah assistenku" jawab Dira dembari menunjuk Olive.


Sipir penjara itu memindai penampilan Olive. Jauh dari ekspektasinya. Ia pikir Dira akan memilih assisten perempuan hang semok dan sexy bukan yang standart rata-rata layaknya mahasiswa semester satu.


"Kenapa? Kenapa kau melihatnya sepeti itu?" tanya Dira dengan tatapan tak suka.


"Ah, tidak! Saya hanya heran saja karena Mr. Adirra memilih assisten perempuan. Biasanya kan laki-laki" kata sipir itu berkilah.


"Apakah akan menemui tahanan 314?" tanya sipir itu lagi.


"Ya, tapi dia yang masuk. Saya akan menunggu di tempat biasa" kata Dira.


"Kenapa saya, Mister?" tanya Olive heran.


"Karena kamu adalah assisten saya. Pergilah! Temui tahanan nomor 314. Kau boleh berbicara dengannya tetapi tidak boleh membahas tentang diriku."


Olive menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedikit bingung denhan perintah hang diberikan Dira.


"Kalau tahanan itu bertanya saya siapa?" tanya Olive.


"Jawab saja dari lembaga sosial. Mengaranglah yang bagus! Tapi jangan katakan apapun tentang aku!."


Olive mengangguk. Ia segera mengikuti sipir untuk menemui tahanan nomor 314. Tak lupa Olive membawa berbagai makanan yang tadi diletakkan oleh sopir Dira.


"Itu tahanan nomor 314" tunjuk si sipir kepada Veronica yang sedang menjahit.


"Pak sipir, siapa dia?" tanya Olive.


"Dia tahanan kasus tabrakan yang menewaskan seorang laki-laki bernama Samuel. Saat itu ia sedang menyetir dalam kondisi mabuk sehingga tidak sadar dan menabrak seseorang yang sedang menyeberang."


"Kapan kejadian itu?."


"Kira-kira lebih dari sepuluh tahun yang lalu."


"APA???" teriak Olive kaget.


"Lalu, apa hubungannya dengan Mr. Adirra?" tanya Olive lagi.


"Saya tidak tahu. Selama ini tidak ada yang mengunjunginya. Baru beberapa bulan terakhir ia mendapat kunjungan. Itupun Mr. Adirra tidak mau menemuinya. Beliau hanya melihat perempuan itu dari jauh. Entah hubungan apa yang dimiliki keduanya. Saya juga tidak tahu" kata sipir penjara itu lagi.


Olive tidak bertanya lagi. Ia kemudian berjalan menghampiri Veronica. Hatinya berdebar-debar, khawatir jika sesuatu yang buruk akan terjadi.


Vero yang saat itu sedang menjahit, seketika menghentikan aktifitasnya. Ia mengangkat wajahnya dan sedikit kaget ketika mendapati seorang perempuan berdiri di hadapannya dengan menenteng banyak makanan.


"Anda siapa?" tanya Vero.


"Perkenalkan! Saya...saya....saya Olive."


"Olive?."


"Ya, Olive dari lembaga kemanusiaan" ucap Olive. Ia mengumpat dalam hati karena ucapannya mengarang terlalu bebas.