
Penjara Sing Nang
"Tahanan 314...!!! Ada tamu!!!."
Teriakan sipir penjara mengagetkan Veronica. Ia langsung bangkit dan berjalan menghampiri sipir penjara yang memanggilnya. Vero bertanya-tanya dalam hati, siapakah tamu untuknya? Apakah perempuan yang mengaku dari lembaga sosial itu? Ataukah laki-laki yang biasa mengantarkan makanan untuknya?
Sudah beberapa hari bahkan nyaris beberapa minggu Vero tidak menerima kiriman makanan. Ia sebenarnya heran dan penasaran. Mungkinkah mereka sedang sibuk? Atau memang jatah bantuan untuknya sudah habis? Entahlah, Vero juga tidak tahu.
Vero berjalan mengekori Pak sipir. Hatinya dag dig dug dan benar saja ketika Vero tiba di ruang kunjungan, ia dibuat mematung. Vero mengamati sosok laki-laki yang berdiri membelakanginya. Asing, Vero tidak mengenalinya. Laki-laki itu mengenakan setelan jas hitam, menenteng tas hitam ala-ala sekretaris CEO. Sungguh, gayanya perlente sekali.
"Itu tamu untukku?" bisik Veronica.
"Benar" Pak sipir itu lalu menepuk pundak laki-laki yang menjadi tamu Veronica. Laki-laki itu tentu kaget dan langsung menoleh ke belakang.
"Dia yang kau cari?" tanya pak sipir.
Laki-laki itu tak langsung menjawab. Ia diam mematung sembari memindai penampilan Veronica dari atas ke bawah. Vero tidak mengenalinya, meski mereka sudah berhadapan.
Vero merasa sedikit aneh dengan pria itu. Ia dapat melihat jika kedua netra laki-laki itu mengembun. Apakah laki-laki itu hendak menangis? Jika iya, apa yang ia tangisi? Bahkan mereka tidak saling mengenal.
"Anda siapa?" Veronica memberanikan diri memulai pembicaraan.
"Kau tidak mengenalku?."
Vero menggeleng.
"Kau kurus sekali? Apa kau tidak makan dengan baik?" laki-laki itu kembali bertanya.
"Apa urusanmu bertanya seperti itu? Sepertinya kau salah orang. Aku tidak mengenalmu" kata Veronica sebal.
"Kau tidak mengenaliku? Padahal bentuk hidung kita sama" ucap pria itu lagi.
Veronica terdiam sesaat. Ia memperhatikan laki-laki itu. Masih muda, mungkin umurnya tujuh tahun lebih muda dari Veronica. Wajahnya memiliki ciri khas orang asia seperti dirinya.
Laki-laki itu benar, hidung mereka mirip. Tak hanya itu kedua netranya pun mirip dengan Veronica. Vero memiliki satu nama yang ingin ia ucapkan. Namun, dirinya tak yakin jika laki-laki di hadapannya adalah orang itu.
"Kau tidak mengenaliku? Apa aku terlalu tampan sampai kau tidak mengenaliku?" tanya laki-laki itu.
"Ricky? Apakah kau Ricky, adikku?" tanya Vero ragu.
Laki-laki itu mengangguk.
"Ricky...."
Vero segera memeluk tubuh adiknya. Seketika air matanya luruh membasahi kedua pipinya. 10 tahun lebih dirinya tidak bertemu dengan Ricky, adik yang berbeda usia tujuh tahun dengannya.
Pantas saja Vero tidak mengenali Ricky. Tubuh kurus anak itu sudah berkembang menjadi proporsional. Tinggi anak itu juga melebihi dirinya. Wajah kusam Ricky sudah hilang, berganti wajah segar nan tampan. Sudah mirip sekali seperti tipe-tipe eksekutif muda.
"Bagaimana kau bisa ke sini?" tanya Vero.
"Terbanglah."
"Terbang?" tanya Vero lagi tak paham.
"Naik pesawat kakak. Kau ternyata semakin lemot saja" goda Ricky.
"Apa yang membawamu ke sini? Ayah, Ibu bagaimana?" tanya Vero.
"Pertanyaan macam apa itu? Aku ke sini tentu saja akan mengurus kasusmu. Adikmu yang nakal ini sudah menjadi pengacara, salah satu pengacara terbaik di New York" ucap Ricky bangga.
"Apa? Kau menjadi pengacara? Bagaimana bisa?" lagi-lagi Vero dibuat kaget dengan status adiknya.
"Bisa saja. Lulus SMA aku kuliah jurusan hukum. Lalu berkelana ke sana ke sini. Ikut firma sana sini dan see! I'm here. Adikmu yang tampan ini akan mengurus kasusmu" ucap Ricky dengan seringai tipis yang nampak dari bibirnya.
"Apakah bisa? Kasusku sangat berat. Aku tidak yakin bisa bebas dari tuntutan hukuman mati" ucap Vero pasrah.
"Tenang saja. Serahkan semua padaku. Aku sedang mempelajari berkasmu. Kasusmu akan dibuka kembali. Jangan panggil aku Ricky, jika aku tidak bisa membebaskanmu" ucap Ricky yakin.
***
Kantor Sanjaya corp.
Dira berhenti melangkah. Ia menoleh sebentar ke arah assistennya.
"Pulang" sahut Dira pendek.
"Pulang?" Nadhif melihat arloji yang melingkar d pergelangan tangannya.
"Ini masih jam dua siang, Mister" lanjut Nadhif.
"Terus?."
"Belum waktunya pulang. Lagi pula Anda harus bersiap ke Jepang."
"Jepang? Ada apa? Mengapa saya harus ke sana?" tanya Dira kaget.
Nadhif menepuk dahinya. Ia ingin sekali menjitak kepala Dira saat mendengar ucapannya.
"Anda akan menemui Mr. Yamata untuk membahas proyek kerja sama dengan perusahaan Ashasin. Sudah sebulan lalu, sekretaris Mr. Yamata mengagendakan pertemuan Mr. Adirra dengan Mr. Yamata. Tiga hari yang lalu, saya juga sudah mengingatkan Anda."
"Dan saya tidak ingat karena sibuk mau nikah" jawab Dira enteng.
"Jadi, karena saya sudah mengingatkan. Mari, kita segera bersiap-siap! Kapten Jack sudah menunggu dengan pesawat tempurnya" ajak Nadhif.
"Nggak! Saya ini pengantin baru. Baru juga semalem punya istri masak udah mau terbang ke Jepang? Kamu saja yang berangkat. Saya mah kelonan" ucap Dira ngacir.
Nadhif langsung berlari mengejar Dira. Bos nya ini harus segera dikerangkeng agar tidak kabur. Pertemuan dengan Mr. Yamata sangat penting dan bisa berdampak buruk jika Sanjaya corp mangkir.
Nadhif tidak mau keteteran seorang diri. Ia juga tidak mau perusahaan merugi. Biarlah ia akan bertindak kejam sekarang. Demi ribuan karyawan yang mencari nafkah, demi masa depan yang cerah.
Krakkkk.
Kerah baju Dira sobek. Nadhif menariknya terlalu kuat. Wajahnya langsung pucat pasi. Pasalnya baju kemeja milik bos nya itu bukan made in pasar loak. Harganya pasti selangit. Nadhif meneguk ludah. Ia sepertinya akan diamuk oleh atasan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dira dengan wajah dingin.
"Nggak sengaja, Bos."
"Nggak sengaja katamu?" Dira melotot ke arah Nadhif.
"Benar, bos. Ini di luar kuasa saya."
Plak!
Dira memukul paha Nadhif.
Plak!
Dira memukul bahu Nadhif.
Hendak memukul lagi, tapi Dira bingung akan memukul di bagian mana.
"Kamu tahu berapa harga kemeja saya?" tanya Dira lagi.
"Tau, Bos. Pasti di atas satu dollar."
"Gundulmu! Satu dollar itu dapat apa? Bahkan harga tahu yang biasa saya makan lebih dari itu."
Nadhif menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung karena topik pembicaraan mereka berpindah sangat jauh.
"Saya tidak mau tahu. Saya ngambek. Kamu berangkat sendiri ke Jepang saya mau pulang" Dira memanfaatkan situasi agar bisa lolos dari kewajibannya.
"Nggak bisa kayak gitu lah, Bos. Kemeja bisa di beli, kontrak kerja sama nggak bisa dibeli. Kita bisa rugi kalau Mr. Yamata membatalkan kerja sama ini" bujuk Nadhif.
"Nggak. Paling ruginya cuma sepuluh dollar" sahut Dira enteng.
"Sepuluh dollar gundulmu, bos! Ini proyek besar. Untungnya berlipat-lipat. Ruginya pun berlipat-lipat. Ingat, karyawan yang cari nafkah sama kita Bos. Mereka mengais dollar demi keluarga mereka. Kalau Bos mau honeymoon, nanti setelah proyek ini selesai. Saya pastikan bos akan honeymoon seminggu ke Madagaskar" lagi Nadhif mencoba membujuk Dira.
Dira mengacak-acak rambutnya. Apa yang diucapkan assistennya itu memang benar adanya. Dira tidak boleh egois. Ia sebagai pemegang tombak perusahaan harus memikirkan nasib karyawannya.
Tak ada pilihan lain untuk Dira. Ia mengangguk, menyetujui tawaran Nadhif. Mereka langsung bergegas menemui Kapten Jack yang akan mengantarkan mereka ke Jepang.