Mr. Adira

Mr. Adira
37



Dira membawa Olive berjalan-jalan di Times Square. Tempat nongkrong anak muda paling hits di New York itu menjadi pilihan Dira karena dirinya ingin merasakan kencan ala-ala anak muda. Dira sadar diri, umurnya sudah melewati fase remaja. Namun, karena tidak ingin terkesan kampungan di hadapan Olive. Maka Dira membawa Olive ke tempat itu.


Awalnya Olive merasa canggung berjalan berdampingan bersama Dira. Ia memberi jarak sekitar 20 cm dengan Dira. Dira yang paham akan rasa canggung Olive, berinisiatif untuk mencairkan suasana. Ia merangkul Olive selama berjalan-jalan.


"Mister, jangan seperti ini!" tegur Olive.


"Kamu tidak suka saya rangkul? Lalu saya harus gendong begitu?" tanya Dira sembari menampakkan wajah cuek nan dinginnya.


"Bukan begitu, Mister. Di sini banyak orang. Saya malu" kata Olive.


"Apa kau mau kita ke apartemen hah? Di apartemen tidak ada orang jadi kamu tidak akan malu" ucap Dira memberi solusi yang sebenarnya bukan solusi yang diharapkan Olive.


Olive tak menyahut lagi. Rasanya apa yang akan ia katakan akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Olive memilih menikmati saja jalan-jalan mereka.


Kencan seperti ini memang baru pertama kali bagi Olive. Sebelumnya, ia dan Jeremy tidak pernah melakukan hal seperti itu. Biasanya Jeremy hanya mengajak Olive makan di cafe sembari mendengarkan live music. Itupun Olive yang selalu membayar.


Puas berjalan-jalan di Times Squre, Dira kembali mengajak Olive ke tempat lain. Fifth avenue, surganya pecinta shopping. Olive membelalakkan kedua netranya saat mobil Dira memasuki kawasan fifth Avenue. Bukannya ia tidak tahu tempat apa itu. Olive merasa tidak pantas berada di sana.


"Ayo, turun!" ajak Dira.


"Mister, Mengapa kita ke fifth Avenue?."


"Karena kita akan berbelanja" sahut Dira enteng.


"Apakah Mister ada yang mau dibeli?."


"Ada, semua perlengkapanmu. Ayo, cepat turun! Jangan banyak tanya lagi!" kata Dira.


Olivepun menurut. Mereka berjalan beriringan memasuki kawasan itu. Dira langsung kalap. Ia membeli berbagai baju, tas, sepatu dan benda-benda lainnya untuk Olive. Berkali-kali Olive melarangnya. Namun, Dira seakan tuli.


Bukan apa-apa, barang yang dijual di sana semuanya barang branded. Harganya juga tidak kaleng-kaleng. Mungkin harga satu potong baju bisa setara dengan setengah gaji Olive. Olive tidak mau Dira membuang-buang uangnya.


"Mister, sudah! Ini sudah terlalu banyak" tegur Olive.


Dira tak menyahut. Ia kembali mengambil beberapa baju dan sepatu lalu menyerahkan kepada kasir. Dira mengeluarkan kartu saktinya untuk membayar semua barang itu.


"Apa kau lapar?" tanya Dira.


Olive menggeleng. Meskipun Olive merasa lapar, ia tidak mengungkapkannya. Olive tidak ingin berlama-lama bersama Dira. Ia ingin segera pulang untuk rebahan.


"Yasudah kita langsung pulang. Mungkin rasa laparmu masih level satu. Jadi belum terasa begitu lapar" ucap Dira.


Mereka lalu keluar dari fifth avenue. Berjalan beriringan sambil berpegangan tangan. Olive sepertinya sudah terbawa perasaan. Ia sudah kehilangan rasa canggungnya saat bersama Dira.


Benar kata pepatah. Alah bisa karena terbiasa. Awal canggung jadi biasa saja. Mereka segera masuk ke dalam mobil. Tak lupa berbagai macam paperbag turut serta masuk ke dalam mobil Dira. Benda-benda itu langsung memenuhi bagasi mobil Dira.


"Eh?" seru Olive ketika menyadari jika mobil yang dikemudikan Dira berjalan tidak menuju ke kosannya.


"Kenapa, sayang?" tanya Dira, pipinya sedikit memerah ketika memberanikan diri memanggil Olive dengan sebutan sayang.


"Mister, kita mau ke mana?" tanya Olive bingung.


"Pulang."


"Pulang? Tapi jalan ini tidak menuju apartemen saya."


"Siapa bilang kau akan pulang ke apartemenmu?."


"Lalu?" Olive bertanya balik.


"Pulang ke apartemen kita" jawab Dira santai.


"Apartemen kita? Sejak kapan?" tanya Olive kaget.


"Sejak semalam, jam 00.00."


***


Pagi hari, Butik Evan.


Kesibukan terlihat jelas di kantor Evan. Hari ini ada acara pemotretan bertema hari anak Internasional. Ini adalah kali pertama Evan menerima proyek itu. Evan ditunjuk oleh UNICEF untuk membuat seragam bagi anak-anak yang terpilih. Anak-anak itu akan mengadakan pentas dan pihak UNICEF meminta Evan untuk melakukan pemotretan dahulu sebelum anak-anak itu tampil di sore hari.


"Balonnya dihitung! Jumlahnya 120" perintah Evan kepada anak buahnya.


Evan masih sibuk mendandani beberapa anak yang berpakaian putri ala-ala disney. Ia harus memastikan jika tidak ada yang miss dalam baju rancangannya, dandanan, dan tata rambut.


"Jam berapa pemotretannya?" tanya Rio sembari menyiapkan peralatan perangnya.


"Jam sembilan. Aku harap semua bisa selesai tepat waktu" jawab Evan sembari melihat arlojinya.


Waktu terus berjalan dan kini tibalah waktu pemotretan. Evan mengatur anak-anak itu untuk diambil gambarnya. Namanya juga anak-anak, tentu saja dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Beberapa kali Evan harus menjambak rambutnga karena anak-anak itu susah sekali diajak diam.


"Apa perlu kita ikat saja mereka agar diam?" usul Rio. Ia pun lelah berdiri tapi belum sempat mengambil foto satupun.


"Rio, mereka anak-anak bukan rambutan. Ah, andai saja ada Olive. Pastilah aku tidak akan kerepotan mengurus bocah-bocah ini" keluh Evan sembari memijit keningnya.


Evan menarik nafas panjang kemudian kembali mengatur anak-anak itu. Susah payah diatur, rusak lagi. Begitu seterusnya. Akhirnya Evan menyuruh Rio mengambil foto candid. Terserahlah mau bergaya apapun. Kepala Evan sudah pening. Rio dengan sigap langsung menjepret sana sini.


Cekrek...


Cekrek..


Cekrek...


"Mister Adira????" seru Evan dan Rio bersamaan.


"Apa-apaan ini, Evan?" tanya Dira dingin.


Evan dan Rio saling melirik. Ia tidak paham dengan pertanyaan Dira.


"Mak...mak...sud .. Anda?" tanya Evan gugup.


"Kau! Aku menyuruhmu menyiapkan acara pernikahanku bukan acara sunatan. Mana penghulunya? Mengapa malah banyak anak-anak?" tanya Dira kesal.


"Pernikahan?" teriak Rio. Ia menggeser kepalanya ke kanan dan kedua netranya membola ketika melihat Olive yang berdiri di belakang Dira.


"Tu...Tuan... Mau menikah dengan Olive?" tanya Rio.


"Hemm" jawab Dira dengan malas. Ia lalu menatap tajam ke arah Evan.


"Aku menyuruhmu apa hah?" tanya Dira dingin.


"Eh, eh.. Anu... Memangnya itu bukan becanda?" tanya Evan balik.


"AKU SUDAH BILANG SIAPKAN PERNIKAHANKU, MENGAPA KAU MALAH MENYIAPKAN ACARA SUNATAN????" teriak Dira.


Evan langsung mundur, berlindung dibalik tubuh Rio. Kalau melihat Dira semarah itu, tentulah Evan langsung meleyot. Ia meminta pertolongan. Namun, Pria itu langsung berlalu sehingga Evan tidak memiliki tempat berlindung.


"Apa lehermu mau aku potong hah?."


"Jangan, Mister. Lemakku saja kalau ingin dipotong" jawab Evan cepat.


Brakkk.


Evan semakin ketakutan ketika melihat Dira menendang tripod milik Rio. Untung saja Rio sudah mengambil kameranya sehingga tidak ada korban lain selain tripod itu.


"Ma...ma...ap, Mister. Saya pikir Anda becanda kemarin. Lagipula menyiapkan pernikahan tidak se simple menyiapkan makan malam. Banyak berkas yang harus diurus, pakaian pengantin, catering dan keluarga Mister sendiri juga ada di Jakarta" ucap Evan menjelaskan.


"Omong kosong!!! Kau seperti amatiran yang tidak pernah memegang acara pernikahan."


"Tapi itu kenyataan, Mister. Mana mungkin saya menyiapkan pernikahan selama sehari semalam? Saya manusia bukan jin tomang" ucap Evan memelas.


Olive yang sedari tadi diam, langsung menarik tangan Dira. Ia sebenarnya juga tidak mau dan tidak siap untuk menikah sekarang. Olive tidak siap menjadi istri seorang Dira. Ia merasa rendah diri dan tidak pantas akan hal itu.


Selain itu Olive juga tidak yakin jika ada cinta diantara mereka. Tingkah Dira yang absurd dan sering berubah-ubah, membuat Olive ragu akan kelangsungan rumah tangganya dengan Dira.


"Iya, sayang...." nada suara Dira berubah menjadi lembut.


"Mister, jangan memarahi Evan! Benar apa yang diucapkan Evan. Permintaan Mister terlalu mustahil untuk dikerjakan. Pernikahan bukan untuk main-main. Saya hanya ingin menikah satu kali, Mister. Jadi, tolong pikirkan matang-matang" bujuk Olive.


"Sayapun begitu, sayang. Nikah cukup satu kali. Hemat biaya dan waktu. Sudah kamu jangan banyak pikiran. Saya tidak mau kamu banyak pikiran" lagi-lagi nada suara Dira terdengar lembut.


"Dan kauuuuuu....!!!!" tunjuk Dira pada Evan.


"Siapkan acara pernikahanku besok! Tidak usah mengundang banyak orang. 1000 orang saja cukup. Saya tidak mau tahu dan tidak mau mikir" perintah Dira dan itu membuat Evan semakin pucar pasi.


Kriinggggg.


Ponsel Dira berdering.


"Halo, Daniel!"


"Mister, ada masalah."


"Masalah? Ada apa?" tanya Dira panik.


"Pak Mayjuna masuk UGD. Tadi Nona Lily mendatangi kantor dan saya tidak tahu apa yang terjadi lalu tiba-tiba saya mendengar teriakan Pak Mayjuna. Pak Mayjuna tidak sadarkan diri."


"Bodoooohhhhh...!!!" Mengapa kau biarkan ulet keket itu menemui Juna hah??? Daniel! Juna itu phobia cewek sexy. Dia sukanya sama cewek polos" kata Dira memarahi Daniel.


"Ma...maap, Mister. Saya tidak tahu. Tadi Nona Lily memaksa masuk jadi saya biarkan."


"Juna pasti jantungan!!!! Daniel... Kamu harus tanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan Juna!."


Dira menarik nafas panjang. Ia mencoba meredam emosinya. Baru saja mengamuk pada Evan, sekarang ditambah mengamuk kepada Daniel. Sepertinya besok Dira akan meminta perawatan urat-urat di wajahnya. Ia yakin pastilah sekarang urat-uratnya tegang karena kebanyakan mengamuk.


"Mister..." panggil Daniel membuyarkan istirahat Dira.


"Hemm...?."


"Saya harus bagaimana?."


"Diam di situ dan tunggu perintah selanjutnya" ucap Dira kemudian memutuskan sambungan telepon dengan sepihak.


"Evan...!!!" panggil Dira.


"Siap, Mister...! Siaaaapppppp....!!!"teriak Evan.


"Siapkan apa yang saya perintahkan. Saya mau pulang dulu" kata Dira kemudian ia menarik tangan Olive agar pergi meninggalkan kantor milik Evan.