Mr. Adira

Mr. Adira
21



Widya tak henti menangis tersedu-sedu. Sudah beberapa putra sulungnya tidak pulang. Sejak acara pertunangan dadakan yang diadakan oleh Widya, Dira benar-benar kabur.


Widya sudah berkali-kali menelpon Dira, mendatangi kantor Sanjaya corp, serta meminta Kiara untuk membantu mencari Dira. Namun, sampai detik ini berbagai usaha yang dilakukan Widya belum membuahkan hasil. Anak laki-lakinya belum juga pulang. Setidaknya Widya ingin melihat Dira pulang untuk minta makan.


"Mama, berhentilah menangis. Matamu sudah bengkak. Dira pasti pulang. Mama, jangan khawatir" bujuk Edo yang kini duduk di samping istrinya.


"Mana mungkin Mama berhenti menangis, Ayah? Dira belum ada kabar. Bahkan Edward yang biasanya menjadi mata-mata Mama juga tidak ada kabar. Bagaimana kalau Dira diculik? Bagaimana kalau Dira dijual oleh mafia? Ayah... Mama benar-benar tidak bisa memaafkan diri ini jika itu terjadi" tangis Widya kembali pecah.


Edo menarik nafas panjang. Ia menepuk-nepuk bahu Widya untuk menenangkan istrinya. Widya memang terlalu over thinking. Pikirannya terlalu jauh. Tak heran jika kedua anaknya juga seperti itu. Ternyata sifat Dira dan Kiara yang kadang nyeleneh merupakan warisan dari Widya.


Edo tidak menyalahkan Dira. Ia juga tidak bisa menyalahkan Widya. Edo tentu menyalahkan diri sendiri karena dirinya tidak tahu menahu tentang rencana Widya.


Andai saja Edo tahu dari awal. Andai saja Edo tahu jika Dira memang tidak ingin bertunangan. Pastilah dirinya akan menolak tegas keinginan Widya.


Edo sebagai kepala keluarga tentunya merasa malu berkali-kali lipat. Dirinya dengan tingkat kepedean yang tinggi, maju ke atas panggung untuk memberi sambutan. Saat itu ia merasa menjadi Ayah sambung yang paling berbahagia karena bisa menjadi tombak jalinan kasih antara Dira dan Atha.


Namun, sayang rupanya bukan rasa bahagia yang ia dapat. Melainkan rasa malu berkali-kali lipat. Anak sambungnya mengamuk, mengusir lara tamu dan kabur entah kemana. Ditambah lagi tingkah Dira yang menyuruh semua pembantu di kediaman Sanjaya untuk membungkus semua makanan yang tersaji di meja dan membawanya pergi.


Edo benar-benar mengelus dada. Ia tidak punya muka di hadapan keluarga Athalia. Kalau sudah begini, Edo pun tidak bisa memarahi Widya karena peraturan di rumahnya. Wanita selalu benar.


"Apa Mama bikin sayembara saja ya?" kata Widya tiba-tiba dan itu tentu saja membuyarkan lamunan Edo.


"Sayur bayam? sayur bayam untuk apa, Mama?" tanya Edo bingung.


"Ayah!!! Sayembara, bukan sayur bayam. Mama mau bikin sayembara. Barang siapa yang menemukan anak Mama yang paling tampan dan rupawan itu akan mendapatkan hadiah sebesar 100 juta."


"Tidak!" tolak Edo tegas.


"Mama, berhentilah bertingkah yang aneh-aneh! Anakmu tidak hilang. Mungkin dia sedang healing. Wajar jika Dira kabur. Ia pasti ingin menenangkan pikirannya yang kalut."


"Ayah salah! Mama yang mengandung Dira. Mama yang lebih tahu Dira. Dira pasti sedang bahaya. Ia tidak mungkin sedang jalan-jalan."


Kruesss.


Edo meremas kerupuk yang ia ambil ditoples. Niat hati ingin meremas istrinya. Tapi apa daya, Edo tak berani.


"Mama, coba pikirkan ucapan Mama barusan. Jika Mama memang tahu tentang Dira. Mama pasti tidak akan memaksa Dira untuk bertunangan dengan Atha" skak mat Edo untuk Widya.


"Dira tidak menyukai Atha. Jangankan bertunangan, menjalin hubungan saja tidak. Mama tidak memahami perasaan Dira. Mama terlalu memaksakan kehendak Mama" skak mat kedua dari Edo untuk Widya.


"Ayah, kalau Mama tidak bergerak cepat. Nanti Dira bisa jadi bujang lapuk. Apa sih kurangnya dokter Athalia? Dia cantik, pintar, sopan, manis, memang kurang semok sedikit. Tapi cocoklah menjadi menantu keluarga Sanjaya."


Edo kembali mengelus dada. Ia tidak habis pikir dengan cara berfikir Widya yang terlalu instan.


"Kurangnya hanya satu."


"Apa?."


"Dira tidak mencintainya dan cinta tidak bisa dipaksakan" skak mat ketiga dari Edo untuk Widya .


Widya langsung bungkam. Ia kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Edo.


"Mama pasti menyamakan kisah Kiara dengan Dira. Kiara yang dipaksa bertunangan dengan Elang dan akhirnya menikah. Mama, ini berbeda. Dira dan Kiara memiliki kisah yang tak sama."


"Jika Kiara dulu masih sempat menjalin kasih dengan Elang. Sempat putus kemudian datanglah Dira yang menjadi jembatan penyambung hubungan mereka. Sedangkan Dira, ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Athalia. Tidak terbesit rasa suka sedikitpun pada gadis itu. Jadi, jangan heran jika Dira mengamuk seperti kemarin karena ulah Mama itu."


Krueeessss.


Lagi-lagi Edo mengambil kerupuk dan meremasnya. Sebenarnya Edo sudah lapar sejak tadi. Ia tidak berani makan terlebih dahulu karena melihat istrinya yang masih bersedih. Untung saja di hadapannya ada banyak toples berisi berbagai kerupuk. Setidaknya kerupuk-kerupuk itu bisa sedikit mengganjal perutnya yang kelaparan.


"Mama jahat ya, Ayah?" tanya Widya, membuat Edo berhenti mengunyah kerupuk.


"Mama jahat sama Dira. Mama... Mama... hanya bingung menghadapi Dira. Di usianya yang aidah matang, Dira belum juga menikah. Bagaimana kalau Dira tidak suka perempuan? Bagaimana kalau Dira jadi perjaka tua? Ayah, Mama tidak bisa membayangkan hal itu" ucap Widya kembali menangis tersedu-sedu.


"Mama...! Mama...! Mama...! Mama berfikir terlalu jauh. Dira masih suka perempuan. Buktinya kemarin dia main nyosor saja sama asistennya Kiara yang bule itu. Berhenti berfikir negatif tentang Dira. Anak Mama yang paling tampan dan rupawan itu normal dan baik-baik saja. Mama doakan saja supaya Dira cepat bertemu jodohnya."


"Kalau nggak ketemu juga, Ayah?."


"Usaha lagi. Daripada Mama sibuk memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Dira, alangkah baiknya jika kita memikirkan bagaimana menghadapi keluarga Athalia. Jujur, Ayah merasa malu sekali. Kita juga belum ke sana untuk meminta maaf" ucap Edo mulai mengeluarkan uneg-unegnya.


Widya menunduk. Ia sebenarnya ingin membabas hal itu. Namun, selalu lupa karena terlalu memikirkan hilangnya Dira.


"Kita harus bawa Dira ke sana, Ayah. Dira harus minta maaf."


"No!" tolak Edo cepat.


"Kalau nanti kita di usir?" tanya Widya takut.


"Ya, pulang lah. Masak iya mau nginep? Tapi semoga saja tidak. Semoga keluarga Athalia bisa memafkan kita dan berlapang dada" ucap Edo yang langsung diamini oleh Widya.


"Mama cepat bersiap-siap. Ayah mau ke depan untuk memberitahu supir jika kita akan keluar."


Widya mengangguk. Ia segera bangkit dan bergegas ke kamarnya.


***


Kediaman keluarga Athalia.


Widya menatap wajah kedua orang tua Athalia dengan takut. Sejak dirinya menginjakkan kaki di rumah Athalia, Widya tak henti-hentinya mencengkram ujung baju Edo. Widya benar-benar takut. Ia takut diamuk oleh orang tua Athalia. Meski mereka menampakkan wajah datar tanpa amarah, tapi bagi Widya ekspresi mereka benar-benar membuatnya takut.


Sudah setengah jam, mereka duduk di ruang tamu. Namun, tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Entah, sudah berapa banyak air mineral yang diteguk Widya untuk menenangkan hatinya. Namun, mulutnya belum juga mengeluarkan sepatah kata pun.


"Ehemm..." Edo pura-pura batuk.


"Ada keperluan apa kalian ke sini?" tanya Pak Fajar selaku Ayah dari Athalia.


Edo menampakkan senyum manisnya. Ia kemudian menyampaikan maksud kedatangan mereka, mewakili Widya yang masih merasa takut. Edo menyampaikan permintaan maafnya atas kegagalan acara pertunangan Dira dan Atha.


"Ma-af? Kalian meminta ma-af? Ah, lucu sekali. Setelah keluarga kami dipermalukan seperti itu, kalian hanya meminta maaf?."


Brakkk


Pak Fajar memukul meja di hadapannya. Tak ayal, berbagai macam kudapan yang tersaji di atas meja ikut berterbangan akibat ulah Pak Fajar.


Untung saja Edo memiliki daya tanggap yang tinggi. Tangannya dengan cepat mengambil piring dan menangkap kue-kue yang berterbangan. Alhasil, sebagian kue masih bisa ia selamatkan.


"Ayah, jangan emosi!" ucap Athalia menenangkan Pak Fajar.


"Apa katamu? Jangan emosi? Bagaimana Ayah tidak emosi jika keluarga mereka mempermalukan Ayah? Atha, apa kau tidak malu hah? Dimaki dan dicampakkan di hadapan orang banyak seperti itu?."


"Ayah, Atha tahu! Tapi Ayah tidak boleh emosi. Tekanan darah Ayah bisa tinggi."


"Bagaimana tekanan darah Ayah tidak tinggi hah? Kejadian kemarin benar-benar mencoreng muka Ayah. Ayah benar-benar malu. Malu dengan keluarga besar kita."


"Maaf, Pak Fajar. Mungkin hanya kata maaf yang bisa kami ucapkan. Saya selaku tuan rumah dan Ayah sambung dari Dira benar-benar merasa malu atas insiden kemarin. Andai waktu bisa diputar, pastilah saya akan melarang istri saya untuk mengadakan acara itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Hanya kata maaf yang bisa saya ucapkan kepada keluarga Pak Fajar."


"Lho, kok enak? Asal Anda tahu seribu kata maaf yang Anda ucapkan tidak bisa menghapus rasa malu di wajah kami."


"Kami tahu diri, Pak Fajar. Kami tahu jika kami salah. Lalu apa yang harus saya lakukan agar Pak Fajar mau memaafkan kami?" tanya Edo.


"Tidak perlu, Om."


Semua orang langsung menoleh ke arah pintu. Di sana, Dira dengan santainya berdiri sembari menyantap snack yang baru ia beli dari indoapril. Di belakangnya, nampak Edward sedang memegang koper. Entah, apa isi dari koper itu.


"Diraaaa....." Widya berteriak histeris. Ia hendak bangkit untuk memeluk anaknya. Namun siapa sangka jika Dira memberinya kode untuk tetap duduk dengan anteng.


Dira berjalan dengan angkuhnya. Tak lupa kedua tangannya masih sibuk memilah snack yang akan ia makan.


"Mas Dira..." panggil Atha lirih.


"Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu, wahai dokter tidak terkenal."


Srettt.


Atha langsung kicep melihat tatapan laser dari kedua netra Dira.


"Bapak Fajar, Anda tadi bilang apa? Seribu maaf tidak menghapus rasa malu di wajah kalian. Ha ha ha, saya ingin tertawa tapi itu tidak lucu."


Edward melirik bosnya. Sudah tahu tidak lucu, mengapa pula masih diucapkan.


"Pak Fajar memang tidak butuh maaf dari saya. Tapi butuh kenaikan pangkat. Mulai besok, Anda saya angkat menjadi GM di perusahaan XX-men dan saya harap masalah ini selesai."


"GM? General Manager? Haruskan saya percaya dengan omong kosongmu itu hah? Kau pikir kamu siapa dengan mudahnya menaikkan jabatan saya" kata Fajar kesal.


Ck! Dira berdecak.


"Anda kurang menonton televisi. Coba cari di Mbah google siapakah Adirra Marcel Putra Sanjaya. Kalau sudah ketemu, segera temui saya besok jam tujuh pagi" ucap Dira dengan senyum sinisnya.


"Dan Mamae beserta Om Edo. Ayo, kita pulang! Anakmu yang tampan dan rupawan ini sudah lapar. Tak mungkinlah diriku makan di rumah orang karena diriku merindukan masakan Mama" ucap Dira kemudia ia meninggalkan kediaman Athalia tanpa pamit.